Pukul 06.45 pagi. Cahaya matahari pagi Jakarta mulai menyusup lewat kaca jendela ruang CEO yang lebar. Ruangan masih berantakan parah. Bau sex, keringat, sperma, dan parfum Melda bercampur jadi satu. Lantai marmer dan karpet penuh noda cairan kering yang lengket. Sofa besar sudah basah di banyak tempat. Meja kerjaku penuh bekas tangan dan ludah.
Aku bangun dari kursi kebesaranku sambil menguap. Kontolku masih setengah keras meski sudah semalaman ngentot. Di lantai karpet, Melda tidur meringkuk telanjang bulat. Tubuhnya penuh “medali” malam tadi: bekas tamparan merah di pantat dan payudara, gigitan ungu di leher dan paha dalam, rambut acak-acakan lengket keringat dan sperma. Memeknya yang dulu rapet sekarang masih menganga sedikit, sperma putih kentalku mengalir pelan ke lantai tiap kali dia bernapas.
Rian masih terikat di kursi. Matanya merah bengkak, wajah pucat seperti mayat. Celananya basah kering di selangkangan — dia sudah crot berkali-kali tanpa disentuh hanya karena melihat istrinya jadi pelacur gue.
Aku berdiri, regangkan badan, lalu tendang pelan kaki Melda.
“Bangun, jalang. Pagi sudah. Kerja kantor mulai jam 8.”
Melda menggeliat pelan. Matanya terbuka sayu. Begitu sadar di mana dia dan apa yang terjadi semalaman, wajahnya langsung merah campur malu dan… nafsu yang belum hilang. Dia mencoba duduk, tapi memeknya sakit. Dia meringis sambil pegang selangkangan.
“Pak Bayu… sakit sekali… memek aku bengkak… Bapak crot terlalu banyak semalam…”
Aku tertawa sambil pegang kontolku yang mulai mengeras lagi.
“Bagus. Biar lo ingat seharian siapa yang punya memek lo sekarang.” Aku pandang Rian. “Rian, lo lihat istri lo pagi ini? Masih bocor sperma gue. Bangun, gue lepas ikatan lo. Tapi ingat aturan baru.”
Aku buka tali dasi di tangan dan kaki Rian. Dia langsung ambruk ke lantai, kakinya kesemutan. Dia cuma bisa merangkak mendekati Melda.
“Sayang… kamu… kamu baik-baik aja?” suaranya pecah.
Melda menunduk, air mata jatuh lagi. Tapi saat dia lihat kontolku yang sudah berdiri tegak di depannya, matanya berubah. Ada kerinduan di sana.
“Mas… aku… aku nggak tahu lagi…” bisiknya lemah.
Aku duduk di sofa, buka kaki lebar.
“Melda, sini. Bersihin kontol bos lo dengan mulut sebelum karyawan lain datang.”
Melda ragu sebentar, tapi tubuhnya sudah patuh. Dia merangkak ke depanku, pegang kontolku yang masih berbau campuran memek dan sperma semalam, lalu buka mulutnya. Dia hisap pelan dulu, lalu semakin dalam.
“Gluk… gluk… gluk…” suara pagi yang mesum.
Rian cuma bisa duduk di lantai sambil menonton istrinya ngisep kontol gue dengan semangat.
“Enak ya, Melda? Kontol bos pagi-pagi begini?” tanyaku sambil pegang rambutnya.
Melda mengangguk tanpa melepas kontol. “Mmm… enak Pak… kontol Bapak… bikin ketagihan…”
Aku biarkan dia ngisep selama sepuluh menit sambil ngobrol santai sama Rian.
“Mulai hari ini, aturan baru di kantor. Tiap kali gue panggil ‘overtime’, Melda harus datang. Kalau lo berani tolak, video semalam langsung gue sebar ke grup keluarga besar lo berdua. Mengerti?”
Rian mengangguk lemah. “Iya… Pak…”
Aku tarik Melda naik ke pangkuanku. Memeknya yang masih penuh sisa sperma semalam langsung kujepit dengan kontolku. Aku dorong pelan masuk.
“Ahhh… lagi… Pak… pagi-pagi sudah masuk lagi…” erang Melda sambil memeluk leherku.
Aku genjot pelan tapi dalam di posisi cowgirl pagi itu. Payudaranya bergoyang lembut di depan wajahku. Aku hisap putingnya bergantian, gigit pelan.
Rian dipaksa duduk di kursi lagi, kali ini nggak diikat, tapi dia tahu kalau berani gerak, semuanya hancur.
Melda semakin liar. Pinggulnya mulai goyang sendiri.
“Pak Bayu… kontol Bapak… masih keras banget… aaahh… meski semalam sudah crot berkali-kali… aaahhh… memek aku penuh lagi…”
Aku tampar pantatnya pelan. “Bilang ke suami lo apa yang lo rasain pagi ini.”
Melda menoleh ke Rian, matanya sayu penuh kenikmatan.
“Mas… maaf… pagi ini… memek aku masih penuh sperma Pak Bayu… dan aku… aku minta lagi… kontolnya enak banget Mas… lebih gede… lebih dalam… lebih kuat dari kontol kamu… aaahhh… aku cum lagi… Pak Bayu!!!”
Tubuh Melda kejang di pangkuanku. Orgasme pagi pertamanya datang cepat. Memeknya menyemprot kecil ke pangkuanku.
Aku angkat dia, balik badannya menghadap Rian, lalu genjot dari belakang sambil berdiri. Payudaranya bergoyang liar tepat di depan suaminya.
Plak! Plak! Plak! Plak!
“Rian, lo lihat pagi ini istri lo sudah minta sendiri. Semalam dia nangis ‘jangan’, pagi ini dia goyang pinggulnya sendiri.”
Melda menjerit kenikmatan. “Iya Mas… aku minta… kontol Pak Bayu bikin aku gila… maaf Mas… tapi aku nggak bisa bohong lagi… aaahhh… crot lagi di dalam ya Pak… isi memek aku pagi ini…”
Aku crot ketujuh kalinya di dalam memek Melda tepat pukul 07.20. Sperma segar panas menyembur deras ke rahimnya yang sudah penuh.
Setelah itu aku suruh Melda bersihkan kontolku lagi dengan mulutnya sampai bersih. Dia lakukan dengan patuh, bahkan menjilat bola-bolaku.
“Bagus, jalang. Sekarang lo berdua bersihkan ruangan ini sebelum karyawan datang jam 8. Melda, lo pakai rok dan kemeja cadangan yang ada di lemari gue. Tapi jangan pakai celana dalam. Biar seharian sperma gue bocor di memek lo.”
Melda mengangguk. “Iya Pak…”
Saat mereka berdua membersihkan ruangan (Rian menyapu lantai yang penuh noda sperma, Melda menyeka sofa), aku duduk santai sambil minum kopi.
Pukul 07.50, Melda sudah rapi lagi. Tapi wajahnya glowing, langkahnya agak pincang karena memeknya bengkak. Tiap kali dia jongkok membersihkan, roknya naik dan aku bisa lihat memeknya yang masih mengkilap.
Sebelum mereka keluar ruangan, aku panggil Melda mendekat.
“Malam ini lagi. Jam 9 malam lo datang ke sini. Bawa baju ganti yang seksi. Gue mau coba lubang belakang lo yang masih perawan itu.”
Melda menggigit bibir, wajahnya merah, tapi dia mengangguk. “Iya Pak… saya datang…”
Rian cuma bisa diam.
Aku tepuk pantat Melda keras sekali sebelum mereka keluar. “Bagus. Kerja yang rajin hari ini. Kalau lo basah di meeting nanti karena ingat kontol gue, fotoin memek lo dan kirim ke gue.”
Siang Harinya di Kantor
Sepanjang hari, Melda kerja seperti biasa di divisi admin. Tapi aku tahu dia kesusahan. Tiap kali dia berdiri, sperma gue yang masih tersisa di dalam memeknya bocor sedikit ke paha dalamnya. Aku kirim chat ke dia:
Bayu: “Buka kaki di bawah meja. Foto memek lo sekarang.”
Lima menit kemudian dia kirim foto. Memeknya merah bengkak, masih basah, ada sisa sperma kering di bibirnya.
Aku balas: “Bagus. Malam ini pantat lo gue buka.”
Rian seharian kerja dengan wajah kosong. Beberapa karyawan bertanya kenapa dia kelihatan sakit. Dia cuma bilang “kurang tidur”.
Malam Harinya
Pukul 21.00, Melda datang lagi ke ruanganku. Kali ini dia pakai dress hitam pendek yang seksi, tanpa bra, tanpa celana dalam seperti perintah.
Begitu pintu tertutup, dia langsung berlutut di depanku.
“Pak Bayu… seharian aku mikirin kontol Bapak… memek aku basah terus… tolong… entot aku lagi…”
Rian duduk di kursi yang sama, sudah pasrah.
Malam itu aku buka pantat Melda untuk pertama kali. Aku lumuri kontolku dengan minyak dari laci, lalu tusuk pelan lubang pantatnya yang sempit.
“AAAAAHHH!!! SAKIT PAK!!! PANTAT AKU ROBEK!!!” jerit Melda.
Tapi setelah sepuluh menit, dia mulai menikmati. “Dalam… Pak… pantat aku penuh kontol Bapak… aaahhh… lebih enak dari yang aku bayangkan…”
Aku genjot pantatnya brutal sambil Rian nonton, lalu crot di dalam lubang belakangnya.
Melda orgasme hebat, muncrat dari memeknya meski pantat yang digenjot.
Versi PDF: lynk.id/bande41/zkjxorkrgo3n/checkout10759Please respect copyright.PENANAGB5V7T7kuW


