Malam itu pukul 22.17 WIB. Gedung perkantoran di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, sudah sepi total. Lampu-lampu koridor lantai 12 hanya menyisakan cahaya emergency merah jingga yang redup. Hanya satu ruangan yang masih terang benderang: ruang CEO PT. Multi Jaya Group. Aku, Bayu Pramudya, pemilik sekaligus direktur utama perusahaan itu, duduk santai di kursi kebesaran kulit hitam di belakang meja mahoni besar. Di tanganku ada gelas whiskey single malt yang sudah separuh kosong. Aku memutar-mutar gelas itu pelan, es batu beradu dengan kaca, suaranya seperti denting kecil di tengah keheningan.
Aku sudah merencanakan ini selama dua minggu penuh. Semua data sudah kusiapkan. Semua jebakan sudah terpasang rapi.
Di depanku berdiri dua orang yang malam ini akan jadi hiburan pribadiku: Rian, karyawan divisi keuangan yang sudah lima tahun bekerja di bawahku, dan istrinya, Melda.
Rian. Laki-laki 32 tahun, tinggi 172 cm, tubuh kurus, wajah biasa saja, rambut acak-acakan, kacamata tebal. Dia selalu kelihatan gugup setiap kali dipanggil ke ruanganku. Kontolnya? Pasti kecil dan lempeng, mengingat Melda selalu kelihatan kesepian tiap kali jemput suaminya di lobby.
Melda. Ini dia bintang malam ini. Wanita 28 tahun, kulit kuning langsat yang mulus seperti susu, rambut hitam lurus panjang sampai pinggang, mata sipit khas Jawa yang selalu kelihatan genit meski dia berusaha sopan. Tubuhnya gila. Tinggi 165 cm, pinggul lebar, pantat bulat montok yang selalu bergoyang saat dia berjalan pakai rok pensil kantor. Payudaranya D-cup, selalu ketat menekan kemeja putihnya sampai kancingnya hampir copot. Aku sudah lama memperhatikannya. Tiap kali dia datang ke kantor, kontolku langsung ngaceng di balik meja. Aku tahu dia istri Rian yang malang, tapi malam ini… malam ini aku akan ambil semua yang dia punya.
Melda malam ini memakai kemeja putih lengan pendek yang ketat, rok pensil hitam selutut, dan sepatu high heels yang membuat betisnya kelihatan semakin jenjang. Bra hitamnya samar terlihat dari balik kain tipis. Dia memegang lengan suaminya erat, wajahnya pucat.
“Mas… kamu bilang ini cuma meeting biasa…” suara Melda pelan, hampir bergetar. “Kenapa aku harus ikut? Aku kan cuma jemput kamu…”
Aku tersenyum sinis, berdiri perlahan. Badanku 185 cm, kekar, dada bidang, lengan berotot karena rutin gym. Kemeja hitam lengan digulung sampai siku. Aku mendekat, aroma parfum Melda yang manis langsung menyerbu hidungku.
“Meeting biasa? Enggak, Melda sayang,” kataku dengan suara dalam dan dingin. “Malam ini meeting spesial buat bayar utang suami lo.”
Rian langsung pucat pasi. Keringat dingin muncul di dahinya.
“Pak Bayu… tolong… jangan bilang ke Melda…” suaranya gemetar.
Aku tertawa pelan sambil mengeluarkan tablet dari laci meja. Aku buka file yang sudah kusiapkan. Semua bukti terpampang jelas: cicilan rumah yang telat tiga bulan, pinjaman mobil yang hampir disita, plus utang judi online Rian di tiga situs berbeda yang totalnya sudah mencapai 180 juta. Screenshot chat Rian yang minta tambahan pinjaman ke teman-temannya. Bahkan video pendek Rian yang lagi main judi online sambil mabuk.
“Lo lihat ini, Melda?” Aku serahkan tablet ke tangan Melda. “Suami lo ini bukan cuma lembek di kantor. Dia juga lembek di kasur dan di dompet. Kalau besok pagi gue tekan tombol ini, rumah lo disita, mobil lo hilang, dan keluarga lo di kampung bakal tahu anak mereka suaminya penjudi yang bangkrut.”
Melda membaca cepat. Matanya membelalak. Air mata langsung menggenang.
“Mas Rian… ini beneran? Kamu sembunyiin ini dari aku? Kita baru beli rumah… kita baru nikah dua tahun…”
Rian menunduk, tangannya gemetar. “Sayang… aku… aku cuma mau kasih yang terbaik buat kamu… tapi…”
Aku potong ucapannya dengan meletakkan pisau lipat mahal di atas meja. Pisau itu mengkilap di bawah lampu.
“Malam ini lo bayar utang dengan cara lain, Rian. Lo akan duduk manis di kursi itu,” aku tunjuk kursi tamu kulit di depan sofa besar. “Lo akan nonton gue ngentot istri lo sampe memeknya rusak dan penuh sperma gue. Kalau lo berani gerak, teriak, atau coba lawan, besok pagi lo dipecat tanpa pesangon, rumah lo disita, dan semua video lo gue sebar ke keluarga besar lo. Mengerti?”
Rian gemetar hebat. Dia mundur dua langkah lalu duduk di kursi seperti mayat hidup. Aku ambil dua dasi sutra mahal dari laci, ikat tangannya ke belakang kursi dengan kuat, lalu ikat kakinya ke kaki kursi. Jarak kursi itu hanya tiga meter dari sofa besar di tengah ruangan. Dia bisa lihat semuanya dengan jelas. Bahkan bisa lihat wajah istrinya saat orgasme.
Melda mundur sampai punggungnya menabrak dinding kaca yang menghadap kota malam. Matanya penuh ketakutan.
“Pak Bayu… tolong… saya istri orang… saya nggak mau… ini salah… Mas Rian… tolongin aku…” suaranya pecah, air mata mulai jatuh.
Aku mendekat cepat. Tangan kananku langsung mencengkeram rambutnya yang panjang dan tebal, tarik keras ke belakang sampai lehernya melengkung.
“Diam, jalang kantor,” bisikku di telinganya. Napasku panas menyapu cuping telinganya. “Lo pikir gue nggak tahu lo suka pamer foto-foto body di sosmed sambil bilang ‘suami paling terbaik’? Malam ini lo akan rasain kontol bos yang beneran bisa bikin lo lupa nama suami lo yang payah itu.”
Dengan satu gerakan kasar, aku robek kemeja putih Melda dari atas sampai bawah. Kancing berhamburan ke lantai marmer. Bra hitam push-up-nya langsung terpapar. Payudaranya yang D-cup hampir meluap, puting coklat mudanya sudah mengeras karena dingin AC kantor dan ketakutan.
“Tidak… Pak… jangan…” Melda menangis, kedua tangannya mencoba menutupi dada montoknya.
Aku tampar payudaranya keras sekali. PLAK! Suara tamparan menggema.
“Tutup mulut lo! Lepas rok lo sekarang, atau gue robek juga pakai pisau ini.”
Tangan Melda gemetar hebat. Dia buka resleting rok pensilnya. Rok itu jatuh ke lantai. Celana dalam hitam tipisnya sudah agak basah di tengah, membentuk noda kecil. Bulu kemaluannya dirapikan rapi, pasti buat suaminya yang jarang puasin dia.
Aku dorong Melda ke sofa besar, buka kakinya lebar-lebar tepat menghadap Rian. Aku tarik celana dalamnya ke samping dengan kasar. Memeknya terpapar sempurna: bibir pink tebal, klitoris kecil yang sudah sedikit membengkak, lubang memeknya mengkilap cairan bening tipis.
“Rian, lo lihat ini?” Aku buka memek Melda dengan dua jari, tarik bibirnya sampai lubangnya menganga. “Memek istri lo masih cantik banget. Masih pink, masih rapet. Pasti lo jarang ngentot dia ya, makanya dia selalu kelihatan kesepian tiap jemput lo.”
Rian menangis diam-diam. “Pak Bayu… lepaskan istri saya… please… dia nggak tahu apa-apa…”
Aku buka resleting celana kantorku. Kontolku langsung melompat keluar — 19 cm panjang, tebal seperti botol kecil, urat-urat menonjol, kepala merah mengkilap penuh precum. Melda melihatnya dan langsung menggeleng ketakutan.
“Pak… terlalu besar… Andi… tolong… aku takut… kontol Bapak… nggak muat…”
Aku pegang kepala Melda dengan dua tangan, paksa dia berlutut di depan sofa. Kontolku menyentuh bibir tipisnya yang merah.
“Buka mulut lo, Melda. Hisap kontol bos lo seperti jalang profesional.”
Melda menggeleng, air mata mengalir deras. “Tidak… aku nggak mau… Mas Rian… panggil polisi…”
Aku cubit hidungnya keras sampai dia terpaksa membuka mulut untuk bernapas. Begitu mulutnya terbuka, aku dorong kontolku masuk sampai tenggorokan.
“Gghh… mmmppphhh!!!” Melda tersedak hebat. Matanya melotot, air liurnya langsung meleleh deras dari sudut mulutnya yang meregang.
Aku pegang rambutnya seperti tali kekang dan mulai menggenjot mulutnya brutal. “Hisap, Melda! Hisap kontol bos lo yang gede ini! Lo dulu pasti mimpi diginiin sama atasan suami lo yang lembek itu, kan? Tiap kali lo jemput Rian, lo pasti basah bayangin kontol yang beneran bisa isi memek lo!”
Suara basah “gluk gluk gluk gluk” menggema di ruangan kantor. Air liur Melda menetes ke payudaranya yang montok, membuat putingnya semakin mengkilap. Aku genjot tanpa ampun, dorong sampai pangkal, kepala kontolku menghantam tenggorokannya berulang kali. Melda batuk-batuk, tapi aku nggak kasih kesempatan bernapas lama.
Rian menangis tersedu di kursi. “Pak… hentikan… istri gue nggak suka… dia baik-baik…”
Aku pandang Rian sambil terus mengentot mulut Melda. “Lihat ini, Rian. Lihat istri lo yang suci itu sekarang jadi pelacur mulut gue. Kontol gue lebih gede dari punya lo, kan? Lo nggak pernah bisa bikin dia tersedak kayak gini.”
Lima belas menit kemudian aku tarik kontolku keluar. Melda batuk-batuk hebat, ludah panjang menetes dari dagunya ke payudaranya. Wajahnya merah, matanya bengkak karena nangis, bibirnya bengkak karena digenjot kasar.
“Pak… cukup… aku mohon… aku akan lakuin apa saja… tapi jangan di depan Mas Rian…” suaranya parau.
Aku angkat tubuh Melda yang lemas, dorong dia telentang di sofa besar. Aku angkat kedua kakinya ke pundakku, posisi missionary sempurna. Kontolku sudah licin penuh ludah. Aku gesek-gesek kepala kontol di bibir memeknya yang sudah agak basah.
“Lo lihat ini, Rian?” Aku buka memek Melda lebar-lebar. “Memek istri lo mulai basah. Dia nolak mulutnya, tapi memeknya jujur.”
Melda menggeliat. “Jangan masuk… Pak… sakit… aku nggak basah… tolong jangan…”
Aku tampar paha dalamnya keras. PLAK! Bekas merah langsung muncul.
“Diam, jalang! Lo akan basah juga nanti.” Lalu dengan satu dorongan keras dan dalam, aku tusuk kontolku masuk sampai pangkal.
“AAAAAHHHHH!!! SAKIT PAK!!! KELUARIN!!! KONTOL BAPAK TERLALU BESAR!!! MEMEK AKU ROBEK!!!” jerit Melda menggema keras di seluruh lantai kantor yang sepi.
Memeknya panas, ketat, dan menggigit kontolku seperti vakum. Aku rasakan dinding memeknya yang halus dan berkerut mengelus setiap inci kontolku.
“Enak banget memek lo, Melda. Masih rapet meski sudah dua tahun kawin sama si lempeng Rian ini.” Aku mulai menggenjot dengan ritme brutal — cepat, dalam, dan tanpa ampun.
Plak! Plak! Plak! Plak! Plak!
Setiap hantaman membuat payudara D-cup Melda bergoyang liar seperti jelly. Sofa besar bergoyang ikut ritme. Suara tabrakan pangkal kontolku dengan memeknya basah dan keras.
Melda menjerit tanpa henti. “Aaaahh… sakit… pelan Pak… aaahhh… dalam banget… kontol Bapak… nyampe rahim aku… aaahhh!!! Mas Rian… maafkan aku… aku dipaksa…”
Rian hanya bisa menangis tersedu. Tali dasi menggigit pergelangan tangannya sampai memerah. “Melda… tahan sayang… dia gila… polisi akan datang…”
Aku tertawa sambil terus genjot. “Polisi? Kantor ini lantai 12, Rian. Security udah gue suruh pulang lebih awal. Hujan deras di luar. Jeritan istri lo nggak akan kedengeran siapa pun. Nikmati pertunjukan gratis ini, lo cuma bisa ngaceng doang di celana.”
Sepuluh menit pertama Melda masih menjerit “sakit”, tapi perlahan erangannya berubah. Memeknya semakin basah. Cairan beningnya keluar banyak, membuat kontolku licin dan suara “plok plok plok plok” semakin mesum.
“Ahh… ahh… Pak… pelan… aaahhh… kontol Bapak… menggesek titik G aku… aaahhh… jangan bilang gitu di depan Mas…”
Aku tampar payudaranya lagi. PLAK! PLAK!
“Bilang ke suami lo, Melda! Bilang kontol gue lebih enak dari kontol Rian!”
Melda menggeleng lemah, tapi aku genjot lebih kasar, angkat pinggulnya lebih tinggi. Akhirnya dia menjerit dengan suara pecah,
“Kontol… Pak Bayu… lebih enak… dari kontol Mas Rian… aaahhh!!! Maafkan aku Mas… kontolnya gede banget… mengisi memek aku penuh… aku nggak tahan… aaahhh!!!”
Rian menunduk, air mata jatuh ke lantai.
Aku percepat genjotan. Memek Melda mulai kejang. Orgasme pertamanya datang keras.
“Aaaaahhhhh!!! Aku keluar… Pak… aku cum… kontol Bapak bikin aku gila!!! Aku muncrat… aaahhhh!!!”
Memeknya menyemprot cairan bening yang membasahi perutku dan sofa. Tubuhnya kejang hebat, kakinya menendang-nendang di pundakku.
Aku nggak berhenti. Malah aku tarik kontolku keluar sebentar, balik posisi Melda jadi doggy style di sofa, menghadap Rian. Aku tarik rambutnya keras seperti tali kekang kuda, lalu tusuk lagi dari belakang dengan satu hantaman keras.
Plak! Plak! Plak! Plak!
Pantat montok Melda bergoyang liar setiap hantaman. Payudaranya bergantung dan bergoyang di depan wajah Rian yang cuma dua meter jauhnya.
“Lo lihat ini, Rian? Pantat istri lo sekarang jadi milik kontol gue. Lihat pantatnya yang bulat ini kena tampar gue.” Aku tampar pantat Melda keras berkali-kali sampai merah bekas tangan.
Melda sekarang erang tanpa malu lagi. “Ahh… ahh… Pak Bayu… dalam banget… kontol Bapak nyampe dasar… aaahhh… Mas Rian… maaf… aku nggak kuat… kontol dia terlalu enak…”
Aku tarik rambutnya lebih keras supaya kepalanya mendongak, matanya bertemu mata suaminya.
“Bilang lagi, Melda! Bilang ‘kontol Pak Bayu lebih enak dari kontol kamu, Mas’!”
Dengan suara gemetar penuh kenikmatan, Melda menjerit,
“Kontol Pak Bayu… lebih enak… dari kontol kamu, Mas Rian… aaahhh… maafkan aku… aku sudah jadi jalang bos… memek aku cuma buat kontol Pak Bayu yang gede ini…”
Aku crot pertama kali di dalam memeknya yang dalam. Sperma panas menyembur deras, banjiri rahimnya.
“Nggghhh!!! Terima sperma bos lo, Melda! Isi memek lo sampai penuh!”
Melda orgasme kedua saat merasakan sperma panas membanjiri dalam-dalam. “Aaaaahhhh!!! Lagi… aku cum lagi… sperma Bapak panas banget… aaahhhh!!!”
Sperma putih tebal keluar dari pinggir memeknya yang menganga saat aku tarik kontolku sebentar.
Tapi aku belum puas. Malam masih panjang.
Aku istirahat sebentar, minum whiskey lagi, lalu tarik Melda ke meja kerjaku. Aku duduk di kursi bos, suruh dia naik ke pangkuanku — cowgirl position.
“Naik sendiri, Melda. Masukin kontol gue yang penuh sperma ke memek lo yang sudah penuh juga.”
Melda sudah lemas tapi patuh. Matanya sayu karena kenikmatan. Dia pegang kontolku yang masih keras, arahkan ke memeknya yang licin penuh sperma, lalu turun pelan.
“Ahhh… penuh lagi… Pak… kontol Bapak masih gede banget… aaahhh… memek aku penuh sperma Bapak…”
Aku pegang pinggulnya yang lebar dan mulai menggerakkan tubuhnya naik turun dengan kasar. Payudaranya bergoyang-goyang tepat di depan wajahku. Aku hisap putingnya keras, gigit pelan, tampar payudaranya.
“Gerak sendiri, jalang! Goyang pinggul lo kayak pelacur! Biar suami lo lihat gimana istri dia naik kontol bos!”
Melda mulai gerak naik turun semakin cepat. Erangannya semakin mesum.
“Ahh… ahh… ahh… Pak Bayu… kontol Bapak… menggesek dinding memek aku… aaahhh… nyampe mentok terus… kontol Bapak bikin aku gila…”
Rian terpaksa nonton istrinya naik turun kontolku dengan liar. “Melda… lo… lo menikmati ini?”
Melda menoleh ke suaminya dengan mata sayu penuh kenikmatan.
“Mas Rian… maaf… tapi kontol Pak Bayu… enak banget… aaahhh… kontolnya bikin memek aku penuh… aku nggak bisa berhenti… aaahhh!!! Aku cum lagi… Pak Bayu!!!”
Orgasme ketiganya datang. Memeknya menyemprot lagi, membasahi pangkuanku.
Aku balik posisi, sekarang aku genjot dari bawah dengan brutal. Pinggulku naik turun cepat, kontolku menghantam memeknya dari bawah. Suara “plok plok plok plok” sangat keras dan basah.
Aku terus genjot tanpa henti. Ronde ketiga, keempat, kelima. Aku pindah posisi berkali-kali: standing fuck sambil angkat satu kaki Melda tinggi-tinggi, spooning di lantai karpet ruang tamu kantor, bahkan aku angkat tubuh Melda sepenuhnya dan entot sambil berdiri sambil dia memeluk leherku seperti koala.
Setiap kali aku crot, aku crot di dalam memeknya dalam-dalam. Sudah enam kali creampie. Memek Melda sudah penuh banget, sperma putihku mengalir deras seperti air mancur kecil tiap kali kontolku keluar masuk.
Pukul 02.30 pagi, Melda sudah hancur total. Tubuhnya penuh bekas tamparan merah, gigitan di leher dan payudara, rambut acak-acakan, make-up luntur karena air mata dan ludah. Dia berbaring di lantai karpet, memeknya menganga lebar, sperma putih tebal mengalir deras ke lantai.
Aku duduk di kursi bos, kontol masih setengah keras. Melda merangkak lemas ke pangkuanku, memeluk leherku erat, dan bisik di telingaku dengan suara lemah tapi penuh nafsu,
“Pak Bayu… besok malam… saya mau lagi… kontol Bapak… bikin saya ketagihan… memek saya sudah rusak… tapi saya mau rusak lagi…”
Rian cuma bisa menunduk, wajahnya pucat pasi, air mata jatuh ke lantai. Celananya basah di selangkangan — dia crot tanpa disentuh hanya karena nonton istrinya dihancurkan.
Aku tersenyum ke Rian sambil mengelus rambut Melda yang masih di pangkuanku.
“Mulai besok, tiap malam overtime istri lo harus ikut, Rian. Kalau enggak, lo tahu konsekuensinya. Dan Melda… lo sekarang milik gue. Memek lo, pantat lo, mulut lo — semua milik kontol gue.”
Melda mengangguk lemah, mencium leherku. “Iya Pak… saya milik Bapak sekarang… Mas Rian… maaf… tapi tubuh aku sudah nggak bisa bohong lagi…”
Malam itu baru permulaan. Besok malam, dan malam-malam berikutnya, akan lebih brutal lagi.
ns216.73.216.253da2


