Pagi di Hotel Campus View masih gelap oleh sisa hujan semalam. Jam menunjukkan pukul 07.15. Ratna terbangun dengan tubuh yang terasa hancur. Memeknya berdenyut-denyut, bengkak dan lengket penuh sisa sperma kering Nando. Payudaranya penuh memar ungu, lehernya sakit karena cengkeraman semalam. Ia mencoba bangkit, tapi tangan Nando yang berat masih melingkar di pinggangnya, kontolnya yang setengah tegang menempel di celah pantat Ratna.
Ratna menggigit bibir, air mata menggenang lagi.
“Brengsek… lepaskan aku…” bisiknya pelan, takut membangunkan monster di belakangnya. Tapi gerakannya malah membuat Nando bergeser, kontolnya menggesek bibir memek Ratna yang masih sensitif. Tubuh Ratna refleks mengejang, dan untuk sepersekian detik, ada sensasi aneh yang bukan hanya sakit—hangat, penuh, yang membuatnya jijik pada dirinya sendiri.
Nando terbangun. Senyumnya langsung muncul.
“Pagi, Bu Ratna. Tidur nyenyak setelah dua ronde semalam?”
Ratna mencoba mendorong lengan Nando.
“Jangan sentuh aku lagi. Aku mau pulang. Kamu sudah dapat yang kamu mau. Kasih video itu sekarang.”
Nando tertawa pelan, tangannya malah merayap ke payudara Ratna, meremas pelan. Puting Ratna langsung mengeras meski ia berusaha menahan.
“Video? Belum, Bu. Hari ini kita lanjut. Aku sudah booking kamar sampai sore. Dan lihat… memek Ibu sudah basah lagi pagi-pagi.”
“Itu bukan basah karena suka! Itu karena… karena trauma!” Ratna membantah keras, tapi suaranya agak gemetar. Nando membalik tubuhnya, menindihnya lagi. Ratna masih memberontak, memukul dada Nando, tapi tenaganya sudah jauh lebih lemah dari malam sebelumnya.
Nando mencium leher Ratna, gigit pelan, lalu turun ke payudara. Lidahnya menari di puting yang sudah sensitif. Ratna menggeliat, “Jangan… ah… stop…” Tapi kali ini jeritannya tidak sekeras kemarin. Ada hembusan napas yang lebih panjang saat Nando menghisap kuat.
Nando meraba memek Ratna dengan jari. Masih lengket, tapi lebih licin.
“Lihat? Tubuh Bu Ratna mulai mengkhianati mulut Ibu yang sombong itu.”
Ratna menggeleng keras. “Tidak… aku benci ini… aku benci kamu…” Tapi saat dua jari Nando masuk pelan dan mengaduk, pinggul Ratna secara refleks mendesak maju sedikit. Ia langsung sadar dan berhenti, malu sendiri.
Sepanjang pagi itu, Nando tidak buru-buru. Ia foreplay lebih lama, menjilat memek Ratna dengan sabar, menghisap klitoris hingga Ratna menggigit bantal untuk menahan suara. “Ngg… jangan di situ… ahh… sakit…” tapi suara “sakit”-nya mulai bercampur dengan desahan kecil yang tak sengaja lolos.
Pukul 10.00, Nando masuk lagi dalam posisi misionaris pelan. Ratna masih menolak, tangannya mendorong bahu Nando.
“Keluarin… aku gak mau lagi…”
Tapi setiap hantaman dalam, kontol tebal itu menggesek dinding memeknya yang sudah mulai terbiasa, menyentuh titik yang membuat lututnya lemas. Ratna menggigit bibir hingga berdarah, berusaha menahan gelombang aneh yang naik pelan di perutnya.
“Bilang jujur, Bu Ratna… enak gak?” bisik Nando sambil genjot ritmis.
“Tidak enak… ahh… kamu pemerkosa…” jawab Ratna, tapi matanya mulai berkaca-kaca bukan hanya karena sakit, tapi karena sensasi yang mulai menumpuk.
Nando percepat sedikit.
Plok… plok… plok…
suara basah semakin jelas. Ratna merasakan tekanan di dalam yang bukan hanya sakit—ada kenikmatan yang mulai merayap, seperti retakan di tembok kebenciannya. Ia menutup mulut dengan tangan, menahan desahan yang hampir keluar.
Nando tarik tangan Ratna. “Jangan ditahan, Bu. Aku mau dengar suara Bu Ratna yang asli.”
Ratna menggeleng, air mata mengalir.
“Aku gak akan… ahhh… nggghh…” Desahan kecil lolos juga. Pinggulnya mulai bergerak pelan mengikuti irama Nando, meski otaknya masih berteriak “tidak”.
Ronde pagi itu berlangsung hampir 40 menit. Nando crot di dalam lagi, banjir panas memenuhi rahim Ratna. Ratna merasakan orgasme kecil pertamanya yang tak diinginkan—tubuhnya mengejang, memeknya meremas kontol Nando tanpa bisa dikontrol. Ia menangis karena malu. “Ini bukan karena suka… ini paksaan tubuhku…”
Nando tersenyum puas. “Ini baru mulai, Bu.”
Mereka istirahat sebentar. Nando pesan makanan ke kamar—nasi goreng dan kopi. Ratna makan dalam diam, tubuh telanjang ditutup selimut. Nando duduk di sebelahnya, tangan masih meraba paha Ratna.
“Bu Ratna cantik banget pas lagi ngunyah. Bayangin kalau setiap hari gini.”
Ratna melirik tajam. “Jangan mimpi. Ini cuma karena ancaman video. Begitu video itu di tanganku, aku akan hancurkan kamu.”
Tapi saat Nando kembali menyentuhnya setelah makan, Ratna tidak langsung menampar. Ia hanya menghela napas panjang, membiarkan tangan Nando meremas payudaranya lagi. “Kamu benar-benar monster…”
Sore hari, Nando bawa Ratna ke kamar mandi. Air shower hangat mengguyur tubuh mereka. Nando sabuni Ratna dengan sabun hotel, tangannya meluncur di setiap lekuk. Ratna berdiri kaku dulu, tapi saat jari Nando membersihkan memeknya dengan lembut, ia menggigit bibir. “Pelan… masih sakit…”
Nando berlutut, angkat satu kaki Ratna ke bahunya, lalu jilat memeknya di bawah guyuran air. Ratna pegang kepala Nando untuk keseimbangan, “Ahh… jangan… ngggh…” Kali ini pinggulnya maju sendiri, mendesak memeknya ke mulut Nando. Ratna sadar dan langsung mundur, tapi Nando tahan pinggulnya.
Di dinding kamar mandi yang licin, Nando angkat Ratna, memasukkan kontolnya sambil berdiri. Ratna memeluk leher Nando karena takut jatuh. “Pelan… jangan kasar lagi…” bisiknya, suaranya sudah lebih lembut.
Nando genjot pelan, dalam. Setiap hantaman membuat Ratna mendesah panjang. “Ahh… ahh… terlalu dalam…” Tapi kakinya melingkar lebih erat di pinggang Nando. Retakan itu semakin lebar. Kenikmatan mulai mengalahkan rasa malu sedikit demi sedikit.
Mereka pindah ke ranjang lagi. Kali ini Nando biarkan Ratna di atas.
“Gerak sendiri, Bu. Tunjukkan seberapa dalam kamu mau.”
Ratna ragu lama. “Aku gak mau… ini salah…” Tapi tangan Nando di pinggulnya mendorong pelan. Ratna turun perlahan, merasakan kontol itu mengisi dirinya lagi.
“Nggghhh… besar sekali…” Ia mulai naik-turun pelan, matanya tertutup. Desahannya semakin sering, semakin panjang.
Nando meremas payudaranya.
“Enak kan, Bu? Kontol murid sendiri lebih enak dari mantan suami?”
Ratna tidak jawab, tapi gerakannya semakin cepat. Pinggulnya berputar, mencari sudut yang paling enak. Orgasme kedua datang lebih kuat—tubuhnya mengejang hebat, memeknya menyemprot sedikit cairan bening yang membuat seprai basah. Ia menjerit pelan, “Aaaahhh… tidak… ini gak boleh…”
Tapi ia tidak berhenti. Malah terus menggoyang pinggulnya sampai Nando crot lagi di dalam.
Malam mulai turun. Nando pesan makan malam. Mereka makan sambil tubuh telanjang. Ratna masih diam banyak, tapi ia tidak lagi menolak saat Nando tarik dia ke pangkuan dan masukin kontol lagi sambil duduk di sofa. Ratna naik-turun pelan, kepalanya bersandar di bahu Nando, desahan pelan di telinga Nando.
“Kenapa… tubuhku seperti ini…” gumam Ratna di antara desahan.
“Karena Bu Ratna sebenarnya butuh ini. Sudah lama sendirian, kan?” jawab Nando sambil hisap putingnya.
Ronde malam itu paling panjang. Nando genjot Ratna di hampir semua posisi: doggy dengan rambut ditarik, spooning sambil bisik kata-kata kotor, lotus face to face di mana Ratna peluk Nando erat dan cium lehernya tanpa sadar. Setiap orgasme membuat dinding kebencian Ratna retak lebih dalam.
Pukul 02.00 dini hari, Ratna sudah orgasme empat kali. Tubuhnya lemas, penuh keringat dan sperma. Saat Nando genjot terakhir di misionaris, Ratna angkat pinggulnya sendiri, menyambut setiap hantaman.
“Ahh… lebih cepat… sedikit lagi…” bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Nando tersenyum menang. “Bilang keras, Bu. Kamu suka kontolku?”
Ratna menggeleng lemah, tapi suaranya keluar juga.
“Suka… sedikit… tapi aku masih benci kamu… ahhh… crot lagi di dalam… isi aku…”
Nando menyemburkan sperma kelima kalinya. Ratna mencapai klimaks bersamanya, tubuhnya mengejang kuat, memeluk Nando erat tanpa sadar.
Setelah itu, Ratna berbaring telentang, napas tersengal. Air mata mengalir lagi, tapi kali ini campur perasaan yang rumit—malu, lega, dan kenikmatan yang tak bisa ia pungkiri lagi.
“Aku… aku gak tahu lagi siapa aku…” bisiknya.
Nando peluk dia dari samping. “Besok lagi, Bu. Aku bawa kamu ke apartemenku. Kita lanjut Ngentot yang lebih nikmat.”
Ratna tidak jawab. Ia hanya memejamkan mata, memeknya masih berdenyut penuh sperma, tubuhnya lelah tapi anehnya… puas.
List cerita: docs.google.com/spreadsheets/d/1Y9KMFZBWbZEZ3EsMZ0cq_RS03eTHZrjjz5hWzH16C2c/edit?gid=0#gid=03912Please respect copyright.PENANAZ2T7YgCBOm
PDF: lynk.id/bande41/yekqwep8yy7x
ns216.73.217.39da2


