Ratna bangun dengan tubuh yang terasa seperti habis dihajar truk. Pukul 06.30 pagi, cahaya matahari pagi menyusup lewat tirai tipis apartemen kecilnya di pinggir kampus. Memeknya masih nyeri, bengkak, dan setiap gerak kecil membuatnya meringis. Sperma kering Nando masih menempel di paha dalamnya meski ia sudah mandi air panas dua kali semalam. Ia duduk di tepi kasur, memeluk lututnya sendiri, air mata mengalir lagi tanpa suara.
“Brengsek… si bangsat itu…” gumamnya dengan suara serak. Kemeja putih yang robek semalam sudah ia buang ke tong sampah. Rok pencil-nya masih ada, tapi noda sperma sudah kering di bagian belakang. Ratna berdiri pelan, berjalan ke cermin kamar mandi. Wajahnya pucat, bibir bawahnya bengkak karena digigit sendiri semalam, lehernya ada bekas jari Nando yang ungu. Payudaranya penuh memar gigitan dan remasan.
Ia ambil ponsel. Jari-jarinya gemetar di atas tombol panggilan polisi. Tapi ingatan video yang Nando ancam semalam membuatnya berhenti.4590Please respect copyright.PENANAqYUuAtxvpP
“Kalau Ibu lapor… video Bu Ratna ganti baju di ruang dosen, plus rekaman suara jeritan Bu Ratna semalam, semua nyebar ke grup WA mahasiswa dan dosen. Termasuk rektor.” Kata-kata Nando masih bergema.
Ratna menangis lagi. Ia hapus riwayat panggilan darurat yang sempat ia ketik. 4590Please respect copyright.PENANAIfsuSduTiy
“Aku harus cari cara… aku dosen, aku kuat… ini cuma sekali… besok aku hindari dia.”
Tapi Nando tidak memberi kesempatan.
Pukul 09.15, saat Ratna sedang mengajar kelas Manajemen Strategi semester 8, pintu kelas terbuka pelan. Nando masuk terlambat, senyumnya lebar, mata langsung menatap Ratna yang berdiri di depan proyektor. Ratna langsung kaku. Suaranya hampir hilang saat melanjutkan materi.
“Bu… maaf terlambat,” kata Nando lantang, suaranya penuh ejekan yang hanya Ratna yang paham. Ia duduk di bangku paling depan, kakinya terbuka lebar, tangan di bawah meja memegang ponsel. Ratna tahu persis apa yang Nando lakukan di sana.
Sepanjang dua jam kuliah, Nando tidak berhenti. Ia kirim chat ke nomor Ratna yang ia curi semalam dari laptop dosen:
“Memek Bu Ratna masih sakit ya? Aku masih ngerasa kontolku nempel di dalem. Malam ini ketemu lagi. Hotel Campus View, kamar 808. Jam 22.00. Kalau Bu Ratna gak dateng, video langsung aku upload ke IG kampus.”
Ratna baca chat itu di balik meja dosen. Tangannya gemetar. Ia balas cepat: 4590Please respect copyright.PENANA9fa9XAMwCM
“Kamu gila. Aku gak akan dateng. Ini pemerkosaan. Aku akan lapor rektor.”
Balasan Nando datang dua detik kemudian:4590Please respect copyright.PENANAE7cJlV83nO
“Coba aja. Aku punya rekaman full HD semalam. Suara Bu Ratna jerit ‘tolong jangan masukin’ sambil memek Ibu ngisep kontolku. Mau? Atau Ibu dateng malam ini, kita ngobrol baik-baik. Kalau Bu Ratna nurut, aku kasih video aslinya besok.”
Ratna merasa dunia gelap. Ia tutup ponsel, lanjut mengajar dengan suara yang dipaksakan tenang. Mahasiswa lain tidak curiga. Tapi Nando duduk di depan, sesekali menggigit bibir bawahnya sambil menatap payudara Ratna yang naik-turun di balik kemeja.
Kuliah selesai pukul 11.00. Ratna langsung buru-buru ke ruangannya, mengunci pintu, dan menangis lagi. Ia coba hubungi teman dosen perempuan, tapi setiap kali mau cerita, kata-kata itu tersangkut di tenggorokan. Malu. Takut. Dan ancaman video itu seperti belati di lehernya.
Sepanjang sore ia gelisah. Ia ganti baju berkali-kali. Akhirnya pukul 21.45 ia naik taksi ke Hotel Campus View yang hanya 10 menit dari kampus. Hotel itu murah, sering dipakai pasangan mahasiswa, dan malam ini sepi karena hujan lagi deras.
Ratna pakai kemeja hitam longgar dan celana jeans ketat, berusaha tidak kelihatan seksi. Tapi tubuhnya tetap menonjol. Ia naik lift ke lantai 8 dengan jantung berdegup kencang. Di depan kamar 808 ia berhenti lama. Tangan di knop pintu gemetar.
Ia ketuk pelan.
Pintu langsung terbuka. Nando sudah berdiri di sana, hanya pakai boxer hitam. Tubuh berototnya basah keringat, kontolnya sudah setengah ngaceng menonjol di balik kain tipis.
“Masuk, Bu. Cepat. Hujan deras, gak ada yang lihat.”
Ratna melangkah masuk dengan enggan. Begitu pintu tertutup dan dikunci, Nando langsung dorong Ratna ke dinding.
“Jangan sentuh aku lagi, Nando! Aku dateng cuma buat minta video itu! Lepas!” Ratna dorong dada Nando sekuat tenaga, suaranya keras tapi gemetar.
Nando tertawa pelan. “Bu Ratna… masih berontak juga. Padahal memek Ibu kemarin udah penuh crotanku. Hari ini aku mau lebih lama. Lebih dalam. Lebih kasar.”
Ia tarik tangan Ratna kasar ke arah ranjang king size yang sudah ia siapkan. Lampu kamar redup kuning, AC dingin, dan suara hujan di jendela besar membuat suasana semakin mencekam.
Ratna memberontak lagi. Ia tendang kaki Nando, cakar lengannya. “Lepas! Aku gak mau! Ini kamar hotel, aku teriak, orang hotel bisa denger!”
Nando balas dengan tamparan pelan di pipi Ratna, cukup buat kepalanya tersentak. “Teriak aja. Kamar ini kedap suara. Aku sudah bayar ekstra. Sekarang… lepas baju sendiri, atau aku robek lagi seperti semalam.”
“Aku gak akan lepas baju! Kamu pemerkosa! Aku benci kamu! Aku akan bunuh diri kalau kamu lakuin lagi!” Ratna menjerit sambil mundur ke sudut kamar, tangannya melindungi dada.
Nando mendekat lambat, seperti predator. Ia buka laci nakas, ambil dua buah borgol besi yang sudah ia siapkan. “Kalau gitu aku paksa.”
Dalam sekejap ia sergap Ratna. Tubuh besarnya menindih Ratna ke karpet tebal. Ratna menggeliat liar, kakinya menendang-nendang, tangannya memukul-mukul punggung Nando.
“LEPAS! ANJING! BABI! JANGAN SENTUH AKU LAGI! AKU GAK MAU!!!”
Nando berhasil borgol kedua tangan Ratna di belakang punggung. Klik. Klik. Ratna sekarang tidak bisa pakai tangan. Ia masih menendang, tapi Nando duduk di atas perutnya, berat badannya membuat Ratna sulit bernapas.
“Diem, Bu. Malam ini aku mau nikmatin memek dosenku pelan-pelan. Gak buru-buru seperti kemarin.”
Ia buka kancing kemeja hitam Ratna satu per satu, meski Ratna menggeleng-geleng keras dan memaki. “Jangan… tolong… Nando… aku mohon… aku punya anak… Eh...tunggu, aku gak punya anak… tapi aku masih bisa hamil… jangan… aku gak mau lagi…”
Kemeja terbuka. Bra hitam baru yang Ratna pakai hari ini langsung terlihat. Nando tarik bra ke atas, payudara besar Ratna melompat keluar, putingnya sudah mengeras karena dingin AC meski ia benci itu.
Nando langsung bungkuk, hisap puting kiri Ratna dengan rakus. Lidahnya berputar-putar, giginya menggigit pelan lalu kuat. Tangan kanannya meremas payudara kanan, jempolnya memilin puting.
“AAAAHHH! Sakit! Jangan gigit! Lepas! Aku gak suka! Jauhin mulut mu dari dada aku!!!” Ratna menjerit, tubuhnya melengkung, kakinya menendang karpet.
Nando tidak peduli. Ia hisap lebih kuat, berganti ke puting kanan, lalu kembali ke kiri. Suara isapannya basah dan mesum memenuhi kamar. Ratna terus meronta, air mata mengalir ke rambutnya yang tergerai.
Setelah puas dengan payudara, Nando buka resleting celana jeans Ratna, tarik turun bersama celana dalamnya dalam satu gerakan kasar. Memek Ratna terpapar lagi. Masih agak bengkak dari semalam, bibirnya sedikit memerah.
“Wah… memek Bu Ratna masih merah. Besok pasti lebih merah lagi.”
Ia buka kaki Ratna lebar-lebar meski Ratna menendang-nendang. Borgol di tangan membuat Ratna hanya bisa menggeliat pinggulnya sia-sia.
Nando turunkan kepalanya. Lidahnya menjilat bibir memek Ratna dari bawah ke atas, pelan, lama.
“NGHHH!!! Jangan jilat! Kotor! Aku gak mau! Keluarin lidahmu!!!” Ratna jerit histeris. Ia coba tutup kakinya tapi Nando pegang paha dalamnya kuat-kuat.
Lidah Nando masuk lebih dalam. Ia jilat klitoris Ratna dengan ujung lidahnya yang cepat, lalu hisap klitoris itu ke dalam mulutnya, mengisap-isap seperti permen.
“AAAAAHHH!!! SAKIT… enggak… jangan hisap situ… aku gak tahan… tolong… Nando… aku mohon stop!!!”
Tapi Nando semakin rakus. Ia masukkan dua jari ke memek Ratna yang masih kering paksa, aduk-aduk sambil lidahnya terus menari di klitoris. Suara cipratan cairan mulai terdengar pelan karena tubuh Ratna mulai bereaksi meski otaknya menolak keras.
Ratna menangis tersedu. “Aku benci… aku benci ini… keluarin jari lo… memek aku sakit… kamu hancurkan aku…”
Nando angkat kepala sebentar, bibirnya basah lendir. “Memek Bu mulai basah, Bu. Tubuh Bu jujur, meski mulut Bu bohong.”
Ia berdiri, buka boxer-nya. Kontol 18 cm-nya sudah ngaceng maksimal, urat-urat menonjol, kepala merah mengkilap precum.
Ratna lihat itu dan panik. “Jangan masukin lagi! Kontol lo terlalu besar! Kemarin aja robek! Aku gak tahan! Keluarin borgol ini dulu… aku janji gak lari…”
Nando tertawa. Ia angkat pinggul Ratna, letakkan bantal tebal di bawah pantatnya agar memek Ratna terangkat tinggi. Lalu ia gesek-gesek kepala kontolnya di bibir memek Ratna yang sudah agak basah.
“Siap-siap, Bu. Malam ini aku mau genjot lama. Minimal satu jam tanpa keluar.”
“SATU JAM?! GILA! JANGAN! AKU GAK KUAT!!! TOLONG!!! AKU AKAN TERIAK SAMPAI PETUGAS HOTEL DATENG!!!”
Nando dorong pinggulnya maju. Kepala kontol besarnya mendesak masuk pelan, senti demi senti, meski memek Ratna masih tegang.
“AAAAARRRGGHHH!!! SAKIT BANGET!!! KELUARIN!!! KONTOL LO ROBEK MEMEK AKU LAGI!!! AAAAAHHH!!!”
Ratna menjerit sekuat tenaga, tubuhnya melengkung hebat, borgol besi di tangannya berdenting-denting karena ia tarik-tarik keras. Air matanya mengalir deras ke bantal.
Nando terus dorong sampai pangkal. Seluruh 18 cm kontolnya tenggelam di dalam memek Ratna yang sempit dan panas. Ia diam sebentar, nikmati remasan otot memek yang panik.
“Lihat… memek Bu ngisep kontolku lagi… enak banget…”
Lalu ia mulai gerak. Keluar masuk pelan dulu, panjang, dalam. Setiap kali keluar hampir sepenuhnya, lalu hantaman masuk lagi sampai pelirnya nempel di pantat Ratna.
Plok… plok… plok…
Suara hantaman basah semakin keras seiring memek Ratna mengeluarkan lebih banyak cairan paksaan.
“Jangan gerak… pelan-pelan… sakit… Nando… aku mohon… keluarin… aku gak suka… ini pemerkosaan… aku benci kamu selamanya…” Ratna terus meratap di antara jeritan.
Tapi Nando percepat ritme. Ia pegang pinggul Ratna kuat, genjot lebih cepat. Payudara Ratna bergoyang-goyang liar setiap hantaman.
Plok! Plok! Plok! Plok!
Nando ubah posisi. Ia angkat kedua kaki Ratna ke bahunya, membuat memek Ratna terbuka lebar maksimal. Kontolnya masuk lebih dalam, menghantam serviks setiap kali.
“AAAAHHH!!! LEBIH DALAM!!! JANGAN SE DALAM ITU!!! G-SPOT AKU KENA TERUS!!! AKU GAK TAHAN!!! KELUARIN KONTOL LO!!!”
Ratna jerit-jerit tanpa henti. Tubuhnya berkeringat, rambut acak-acakan menempel di wajah. Nando terus genjot tanpa ampun, tangannya meremas payudara Ratna kasar, memilin putingnya.
Setelah 15 menit genjotan misionaris, Nando tarik kontolnya keluar. Memek Ratna menganga, cairan bening mengalir deras.
“Ganti posisi, Bu.”
Ia balik tubuh Ratna hingga tengkurap, pantat Ratna terangkat tinggi karena bantal. Borgol masih di belakang. Nando masuk dari belakang dalam satu hantaman kuat.
“NGHHH!!! DARI BELAKANG LEBIH SAKIT!!! KONTOL NGENA PUNGGUNG MEMEK AKU!!! JANGAN GERAK CEPAT!!!”
Nando pegang pinggul Ratna, genjot seperti anjing. Setiap hantaman membuat pantat Ratna bergoyang dan berdebam. Ia tampar pantat Ratna keras berkali-kali sampai merah membara.
“Pantat dosenku empuk banget… enak banget digenjot sambil ngentot memeknya dari belakang.”
Ratna cuma bisa terisak dan menggigit bantal. “Aku capek… lepasin borgol… aku gak bisa napas… tolong stop… aku janji gak lapor… asal kamu stop sekarang…”
Tapi Nando malah tambah liar. Ia tarik rambut Ratna ke belakang seperti tali kekang, buat punggung Ratna melengkung. Genjotannya semakin cepat, semakin dalam.
Plok-plok-plok-plok-plok!!!
Keringat Nando menetes ke punggung Ratna. Napasnya memburu.
“Aku mau ganti lagi… sekarang duduk di pangkuanku.”
Ia angkat tubuh Ratna yang lemas, duduk di tepi ranjang, tarik Ratna ke pangkuannya menghadap dia. Kontolnya masuk lagi ke memek Ratna yang sudah banjir. Ratna duduk di pangkuan Nando, borgol masih di belakang, payudaranya menempel di dada Nando.
Nando angkat pinggul Ratna naik-turun dengan tangannya yang kuat. Setiap kali turun, kontolnya menghunjam dalam.
“Gerak sendiri, Bu. Naik-turun kontolku.”
“Aku gak mau! Aku gak akan gerak! Kamu paksa aja kalau mau!” Ratna tetap memberontak, meski tubuhnya sudah lelah.
Nando marah kecil. Ia tampar pantat Ratna keras. “Gerak atau aku genjot lebih kasar lagi!”
Ratna terpaksa gerak pelan naik-turun. Air matanya masih mengalir. “Aku lakuin ini karena terpaksa… aku benci… aku benci… jangan crot di dalam lagi…”
Nando hisap puting Ratna sambil Ratna naik-turun di kontolnya. Ia tambah dorongan pinggulnya dari bawah, membuat hantaman semakin dalam.
Mereka dalam posisi cowgirl terpaksa hampir 20 menit. Ratna napasnya tersengal, keringat bercampur air mata.
Nando angkat Ratna lagi, kali ini berdiri, angkat satu kaki Ratna tinggi, genjot berdiri sambil Ratna bertumpu di dinding.
“AAAAHHH!!! POSISI INI TERLALU DALAM!!! KONTOLMU NYENTUH RAHIM AKU!!! JANGAN!!! AKU MAU MUNTAH!!! SAKIT!!!”
Nando genjot berdiri selama 10 menit penuh, kaki Ratna gemetar.
Akhirnya ia bawa Ratna ke ranjang lagi, posisi spooning dari samping. Ia peluk Ratna dari belakang, satu tangan meremas payudara, tangan lain pegang pinggul, kontolnya genjot pelan tapi dalam.
“Memek Bu Ratna sekarang longgar sedikit… sudah mulai terbiasa kontolku ya?”
“Gak terbiasa! Aku masih sakit! Keluarin sekarang! Aku gak tahan lagi… please Nando… aku capek banget… aku mohon…”
Nando terus genjot dari samping hampir 15 menit. Akhirnya ia rasakan klimaks mendekat.
“Siap-siap, Bu… kali ini aku crot banyak lagi… di dalam rahim Bu…”
“JANGAN!!! JANGAN CUM DI DALAM!!! AKU GAK PAKAI PIL!!! KAMU BISA HAMILI AKU!!! TOLONG KELUARIN KONTOLNYA DULU!!! AAAAAAHHH!!!”
Nando dorong sedalam mungkin, tubuhnya mengejang. Sperma panasnya menyembur keras di dalam memek Ratna. Jet demi jet, tebal, banyak, memenuhi rahim Ratna hingga penuh dan meluber keluar di sekitar kontol.
Ratna merasakan cairan panas itu banjir di dalamnya. Tubuhnya gemetar hebat, tapi ia masih menangis.4590Please respect copyright.PENANAJOhXYvRAOf
“Kamu… kamu crot di dalam lagi… aku benci… aku benci kamu…”
Nando tarik kontolnya keluar pelan. Memek Ratna menganga lebar, sperma putih kental mengalir deras ke seprai hotel.
Tapi Nando belum selesai. Ia buka borgol Ratna, tapi langsung pegang tangan Ratna dan paksa ia berlutut di depan kontolnya yang masih tegang dan berlepotan.
“Bersihin kontolku dengan mulut, Bu. Hisap sampai bersih.”
Ratna menggeleng lemah, suaranya pecah.4590Please respect copyright.PENANAEPfrzBpsz3
“Aku gak mau… cukup… tolong biarkan aku pulang…”
Nando pegang rambut Ratna, paksa mulutnya terbuka, masukkan kontol yang kotor ke dalam mulut Ratna.
“Hisap, jalang. Kalau gak nurut, aku genjot mulutmu sampai muntah.”
Ratna terisak tapi terpaksa hisap. Lidahnya membersihkan sperma dan cairan memeknya sendiri dari batang dan kepala kontol Nando. Nando genjot mulut Ratna pelan selama 10 menit, sampai kontolnya bersih mengkilap.
Setelah itu ia dorong Ratna ke ranjang, tidur di sampingnya, peluk tubuh telanjang Ratna dari belakang.
“Malam ini belum selesai, Bu. Aku masih mau ronde ketiga setelah istirahat 30 menit. Besok pagi kita lanjut lagi sebelum check out.”
Ratna hanya meringkuk, menangis tanpa suara. Memeknya berdenyut-denyut sakit, penuh sperma Nando. Ia bisik pelan ke bantal:
“Aku… aku gak akan menyerah… aku akan cari cara… ini belum berakhir…”
Nando tertawa pelan di telinganya. “Ini baru mulai, Bu Ratna. Besok aku bawa kamu ke tempat yang lebih gelap lagi.”
Hujan di luar semakin deras. Di dalam kamar 808, malam kedua pemerkosaan Ratna baru saja memasuki babak baru yang lebih panjang dan lebih kejam.
ns216.73.217.39da2


