Irna berdiri di depan cermin kamar utama rumah dinas. Ia merupakan seorang staff ahli di pemerintaha. Pukul empat pagi lewat sepuluh menit. Cahaya lampu kamar mandi yang masih menyala menyelinap ke kamar tidur, menerangi lekuk tubuhnya yang terbungkus kebaya hijau tua berbahan brokat halus. Kebaya itu menempel ketat di bagian dada, menonjolkan payudara bulatnya yang penuh dan kencang meski usianya sudah menginjak tiga puluh delapan tahun. Jilbab hijau senada melingkari kepalanya dengan rapi, ujungnya disematkan elegan di bahu. Ia menghela napas pelan, memandang bayangan dirinya sendiri sejenak, lalu berbalik menghadap suami dan anak perempuannya yang masih terlelap di ranjang.
62Please respect copyright.PENANAC80EkA4q5P
Dengan langkah hati-hati ia mendekat, mencium kening suaminya yang bernama Hendra. Pria itu menggumam dalam tidur, tangannya meraba-raba mencari tubuh istrinya tapi hanya menemukan selimut kosong. Irna tersenyum tipis, lalu berpindah ke sisi ranjang anaknya, Aisyah yang berusia sebelas tahun. Ia mencium pipi anak semata wayangnya itu dengan lembut.
62Please respect copyright.PENANACCR09qfEi7
Aku pergi dulu ya sayang, bisiknya hampir tak terdengar. Meeting di Serang sebentar saja, besok malam Ibu sudah pulang.
62Please respect copyright.PENANAZcC7OJjd6P
Ia menarik selimut hingga menutupi bahu Aisyah, lalu berjalan keluar kamar tanpa suara. Di teras depan, dua mobil dinas sudah menyala lampunya. Toyota Alphard hitam mengilap berdiri di depan, mesinnya menderu pelan. Di sampingnya berdiri Asep dan Anto, dua supir senior yang sudah mengabdi hampir sepuluh tahun untuk keluarga walikota.
62Please respect copyright.PENANAjwOUD0Uo04
Asep, empat puluh lima tahun, tubuhnya masih tegap meski perutnya mulai membuncit sedikit. Rambutnya mulai beruban di pelipis, tapi matanya masih tajam dan penuh nafsu yang disembunyikan bertahun-tahun. Anto, tiga tahun lebih tua, lebih pendiam, badannya lebih kurus tapi tangannya kokoh karena kebiasaan mengangkat barang berat sejak muda. Keduanya mengenakan seragam supir berwarna abu-abu tua, kemeja lengan panjang yang sudah sedikit kusut karena terburu-buru berangkat subuh.
62Please respect copyright.PENANAMYc1div0AI
Selamat pagi, Bu Irna, ucap Asep sambil membungkuk sedikit, matanya langsung turun ke dada wanita itu sebelum cepat-cepat naik lagi ke wajah.
62Please respect copyright.PENANAa3cM8d4UVQ
Pagi, Pak Asep, Pak Anto. Sudah siap semuanya? tanya Irna dengan suara lembut tapi berwibawa, nada walikota yang terlatih.
62Please respect copyright.PENANAoRX6TqmXFU
Sudah, Bu. Bensin penuh, kopi termos sudah disiapkan di dalam. Perjalanan sekitar empat jam kalau lancar, jawab Anto singkat, tangannya membukakan pintu belakang sebelah kanan.
62Please respect copyright.PENANAfM2yGQgEMx
Irna mengangguk, melangkah masuk ke kabin mobil. Begitu duduk, kebaya hijau itu langsung menegang di bagian dada. Payudara bulatnya terdorong sedikit ke atas karena posisi duduk, membentuk lekuk yang sangat menggoda di balik kain brokat tipis. Ia meletakkan tas kerjanya di samping, lalu menyandarkan punggung. Kaca film mobil yang gelap membuatnya merasa aman, tapi justru membuat kedua supir di depan semakin leluasa mencuri pandang.
62Please respect copyright.PENANAO7dUnLAj9e
Asep yang duduk di kursi pengemudi menyalakan mesin, mobil meluncur pelan keluar pagar rumah dinas. Anto duduk di kursi penumpang depan, sesekali menoleh ke belakang dengan alasan mengecek barang bawaan. Tapi mata mereka berdua, hampir bersamaan, tertuju ke cermin tengah.
62Please respect copyright.PENANAgq5zsPbVTF
Dari sudut cermin itu, payudara Irna terlihat jelas. Setiap kali mobil melewati polisi tidur atau lubang kecil di jalan, tubuh Irna bergoyang pelan. Payudara bulat itu ikut berguncang lembut, kain kebaya menempel semakin ketat, memperlihatkan garis bra hitam yang tipis di baliknya. Putingnya, meski belum mengeras, tampak samar-samar menonjol karena udara pagi yang dingin menyusup lewat ventilasi.
62Please respect copyright.PENANAVOypyFxvfB
Asep menelan ludah. Tangannya mencengkeram setir lebih kuat. Di balik celana dinasnya, kontolnya mulai mengeras, menekan kain celana dalam hingga terasa sesak. Ia membayangkan bagaimana rasanya meremas payudara bulat itu dengan kedua tangan, menjilat puting merah yang pasti kecil dan sensitif, lalu mengentot memek tembem Irna sampai wanita itu menjerit meminta ampun.
62Please respect copyright.PENANAp3YdOpTO10
Anto tidak kalah. Ia pura-pura mengecek peta di ponsel, tapi matanya terus melirik ke cermin. Ia membayangkan Irna telanjang di kursi belakang, jilbab hijau masih menempel di kepala, tapi kebaya sudah terbuka lebar. Ia membayangkan memasukkan kontolnya yang sudah keras dari tadi ke dalam memek tembem itu, mengentot dengan keras sambil mendengar desahan panjang wanita itu. Ahhh... pak Anto... pelan... ahhh... entot aku lebih dalam...
62Please respect copyright.PENANA6Xl3RSWhtJ
Mobil melaju di jalan tol yang masih sepi. Irna memejamkan mata, kepalanya bersandar di sandaran kursi. Ia tidak tahu bahwa kedua supirnya sedang bergulat dengan nafsu yang semakin membara. Asep sesekali menggeser posisi duduk agar kontolnya yang tegang tidak terlalu tertekan. Anto menggigit bibir bawah, tangannya menekan paha sendiri agar tidak mengelus kemaluannya di depan Bu Irna.
62Please respect copyright.PENANAgyZvH18aI6
Sepanjang perjalanan hampir empat jam itu, suasana di dalam mobil terasa semakin panas meski AC dinyalakan maksimal. Irna sesekali membuka mata, meneguk kopi dari termos, bibirnya yang penuh meninggalkan bekas lipstik merah muda samar di gelas termos. Gerakan meneguk itu membuat lehernya terlihat jenjang, dan payudaranya ikut terangkat sedikit. Asep dan Anto saling pandang sekilas, mata mereka penuh arti yang sama: ingin, sangat ingin.
62Please respect copyright.PENANAt8GbbR4hY4
Saat jarum jam menunjukkan pukul delapan pagi kurang sepuluh menit, mobil akhirnya keluar dari tol dan memasuki jalan arteri menuju pusat kota Serang. Hotel Aston sudah terlihat di kejauhan, gedung modern dengan logo besar di puncaknya.
62Please respect copyright.PENANAkSlsIB9vrK
Asep memperlambat laju mobil, memasuki area drop off lobi. Anto keluar lebih dulu, membukakan pintu untuk Irna. Wanita itu turun dengan anggun, kebaya hijau masih menempel sempurna di tubuhnya, payudara bulatnya bergoyang lembut saat kakinya menyentuh lantai marmer lobi.
62Please respect copyright.PENANAWZSMZ4iCWQ
Terima kasih Pak Asep, Pak Anto. Kalian istirahat dulu di kamar supir ya. Nanti sore kita ketemu lagi untuk makan malam bersama tim, ucap Irna sambil tersenyum manis.
62Please respect copyright.PENANA46BCBUUVqY
Baik, Bu. Hati-hati ya, Bu, jawab Asep dengan suara agak serak, matanya masih mencuri pandang ke dada Irna untuk terakhir kali sebelum wanita itu berbalik dan berjalan masuk ke lobi.
62Please respect copyright.PENANAwWlbT8m7LN
Anto hanya mengangguk, tapi di dalam kepalanya sudah terbayang adegan-adegan kotor yang akan ia simpan sampai malam nanti. Kontolnya masih setengah tegang, dan ia tahu perjalanan pulang besok akan jauh lebih berat daripada perjalanan datang.
62Please respect copyright.PENANAQRmZ8jIihv
Irna melangkah masuk ke lobi hotel Aston yang luas dan ber-AC dingin. High heels-nya berbunyi klik-klok di lantai marmer. Di belakangnya, Asep dan Anto masih berdiri di dekat mobil, memandangi punggung wanita itu dengan tatapan yang semakin gelap.
ns216.73.216.75da2


