Bab 1: Pertemuan di Gym dan Api yang Menyala
1461Please respect copyright.PENANAwv4a0BZlBV
Amara mengusap keringat yang mengalir diiringi dengan handuk kecil berwarna pink. Udara di dalam gym mewah di kawasan Jakarta Selatan terasa lembab dan hangat, meski pendingin ruangan bekerja keras. Jam menunjukkan pukul tujuh malam, waktu favoritnya untuk berolahraga setelah seharian kuliah dan magang. Tubuhnya yang langsing dengan tinggi 166 cm terasa ringan meski otot-ototnya sudah mulai berdenyut lelah. Payudaranya yang berukuran F cup naik-turun mengikuti irama napas, terbungkus sports bra ketat berwarna hitam yang menonjolkan lekukannya dengan sempurna. Bokongnya yang bulat besar bergoyang pelan saat ia berjalan menuju treadmill. Kulit putihnya berkilau di bawah lampu neon, rambut hitam panjangnya sepanjang ekor kuda tinggi, beberapa helai menempel di pipinya yang halus. Hidung mancung dan mata cokelatnya yang memikat membuat beberapa pria di gym sesekali melirik, namun Amara hanya mengangkat dagu tinggi, sedikit pemarah jika ada yang terlalu berani mendekat.
1461Please respect copyright.PENANAt8yDV18wvG
Ia naik ke treadmill, mengatur kecepatan sedang, dan mulai berlari ringan. Pikirannya melayang ke tugas kuliah yang menumpuk, tapi tubuhnya menikmati sensasi otot yang meregang. Bau sabun mandi campur keringat pria di sekitar samar-samar tercium, membuatnya sedikit terganggu. Tiba-tiba, sosok pria tinggi dengan tubuh sedikit berotot muncul di treadmill di sebelahnya. Pria itu berusia sekitar 24 tahun, rambut hitam lurus yang rapi, senyum menawan yang langsung terlihat saat ia menoleh ke arah Amara. Tingginya 170 cm, kaos olahraga ketat menempel di dada dan lengan yang berlatih, memberikan kesan kuat namun tidak berlebihan.
1461Please respect copyright.PENANAGNpmRaWlFQ
"Maaf, boleh pinjam botol air sebentar? Punyaku ketinggalan di locker," katanya dengan suara lembut tapi percaya diri. Matanya bertemu dengan mata cokelat Amara, dan untuk sesaat Amara merasakan ada sesuatu yang hangat di dalamnya.
1461Please respect copyright.PENANAwCgE3Juwuo
Amara mengangkat alis, sedikit gak enakan. “Ambil aja, tapi jangan lama-lama ya. Aku lagi fokus.”
1461Please respect copyright.PENANAIchmaCSvMi
Pria itu tertawa pelan, suaranya dalam dan menenangkan. “Terima kasih. Namaku Ali. Kamu sering ke sini?”
1461Please respect copyright.PENANAmEQSCn3iyq
“Amara,” jawabnya singkat sambil terus berlari. “Kadang-kadang.Kenapa?”
1461Please respect copyright.PENANAp5wFQItbdC
Ali mengisi botolnya dengan air dingin dari dispenser. "Cuma nanya. Kamu kelihatannya serius banget olahraganya. Badanmu bagus, disiplin."
1461Please respect copyright.PENANACZgFuA9SU9
Pujian itu membuat Amara merasa sedikit tersanjung, meski ia berusaha menyembunyikannya dengan ekspresi datar. "Biasa aja. Kamu juga terlihat rutin."
1461Please respect copyright.PENANANQWhgPBOu8
Mereka mulai berbincang kecil sambil berolahraga. Ali ternyata pekerja keras, punya usaha kecil di bidang properti yang sudah mulai berkembang. Ia kaya, tapi tidak sombong. Romantis dalam cara bicaranya yang halus, selalu memuji tanpa berlebihan. Amara yang biasanya pemarah terhadap pria yang mendekat, kali ini merasa nyaman. Ada sesuatu pada senyum Ali yang membuatnya ingin tersenyum balik.
1461Please respect copyright.PENANAj2LXqhJ0o9
Beberapa hari kemudian, mereka bertemu lagi di gym. Ali sengaja datang di jam yang sama. Percakapan mereka semakin panjang. Ali bercerita tentang hobinya membaca buku bisnis sambil minum kopi di kafe favoritnya. Amara tertawa saat Ali bercanda tentang bagaimana ia pernah jatuh dari treadmill karena terlalu fokus ke ponsel. Lucu, pikir Amara. Ia menyukai sifat Ali yang baik hati dan pekerja keras. Perlahan-lahan, flirting mulai terasa. Ali sesekali menyentuh lengan Amara saat menjelaskan gerakan angkat beban yang benar, sentuhan itu ringan tapi cukup untuk membuat kulit Amara merinding halus.
1461Please respect copyright.PENANAkKAqaXU14Y
Dua minggu berlalu dengan cepat. Mereka mencari nomor, ngobrol setiap malam. Ali mengajak Amara makan malam di restoran Italia kecil yang romantis. Di sana, cahaya lilin mencapai wajah mereka. Ali memandang Amara dengan mata penuh kekaguman.
1461Please respect copyright.PENANA3gs3EB2mtz
"Kamu cantik sekali malam ini, Amara. Rambutmu yang hitam panjang itu bikin aku susah konsentrasi," katanya lembut, tangannya menyentuh punggung tangan Amara di atas meja.
1461Please respect copyright.PENANA7MAjWTD5ZT
Amara merasa pipinya memanas. Ia yang biasanya gak enakan, kali ini hanya tersenyum malu. “Kamu juga gak jelek-jelek amat. Senyumnya bikin orang klepek-klepek.”
1461Please respect copyright.PENANAHr5Q6lGvl6
Malam itu berakhir dengan ciuman pertama di parkiran restoran. Ali menarik Amara pelan ke pelukannya, ciuman menyentuh bibir Amara dengan lembut tapi penuh gairah. Rasa manis dari wine yang diminum mereka masih tertinggal di lidah. Amara membalas ciuman itu, tangannya meremas kaos Ali. Napas mereka bercampur hangat, jantung Amara berdegup kencang. Saat Ali menarik dirinya, matanya gelap penuh hasrat.
1461Please respect copyright.PENANAW1LJI7Cv5T
“Besok Sabtu aku mau ajak kamu ke rumahku. Rumahku kosong, pembantu cuma datang seminggu sekali. Mau?” tanya Ali dengan suara rendah.
1461Please respect copyright.PENANAc9djdsLTwy
Amara menggigit bibir bawahnya. Hatinya berdebar. Dia tahu apa yang dimaksud Ali. “Oke… tapi jangan macam-macam ya.”
1461Please respect copyright.PENANAa4Y7O9vFYR
Ali hanya tersenyum menawan. “Aku berjanji akan membuatmu nyaman.”
1461Please respect copyright.PENANAEJ6lCFXGCk
Sabtu sore tiba. Amara datang ke rumah Ali dengan hati berbunga-bunga tapi sedikit gugup. Rumahnya besar dan mewah di kawasan elit, dengan taman kecil di depan. Saat pintu terbuka, Ali langsung menyambutnya dengan pelukan hangat. Bau parfum mahal Ali bercampur aroma sabun segar membuat Amara sedikit memusingkan nikmat.
1461Please respect copyright.PENANA03F64TsaLK
Tanpa basa-basi, Ali menutup pintu dengan kaki, lalu melumat bibir Amara dengan penuh nafsu. Ciuman itu bukan lagi lembut seperti malam sebelumnya. Lidah Ali menyusup masuk, menari dengan lidah Amara dalam irama panas. Suara kecupan basah terdengar jelas di ruang tamu yang sepi. Tangan Ali memegang pinggang Amara erat, menarik tubuh langsingnya hingga menempel sempurna di dada bidangnya.
1461Please respect copyright.PENANAtMpvWZnbCr
Amara mendesah pelan ke dalam mulut Ali, “Mmmh…” Tubuhnya langsung bereaksi. Payudaranya yang besar ditekankan di dada Ali, putingnya yang berwarna merah jambu mulai mengeras di balik bra. Ia membalas ciuman dengan sama ganasnya, memeluknya ke punggung Ali, merasakan otot-otot yang tegang.
1461Please respect copyright.PENANA2ZRXzOor29
Ali mengangkat Amara dengan mudah, tangan kuatnya memegang bokong bulat besar Amara. Amara melingkarkan kakinya di pinggang Ali, merasakan kehangatan tubuh pria itu. Mereka berciuman sepanjang perjalanan menuju kamar tidur utama di lantai dua. Napas Amara tersengal, aroma keringat ringan bercampur gairah memenuhi indranya.
1461Please respect copyright.PENANAsNnTrFXDao
Di kamar yang luas dengan tempat tidur king size berseprai putih bersih, Ali menidurkan Amara dengan lembut tapi tegas. Satu tangan memegang kedua tangan Amara di atas kepala, sementara tangan satunya mulai meraba tubuh Amara dengan penuh hasrat. Jari-jarinya melewati leher ramping, turun ke payudara besar yang naik-turun dengan cepat. Ia meremasnya perlahan melalui kain baju, merasakan kelembutan dan beratnya.
1461Please respect copyright.PENANA1byX3sN4CN
“Ahh… Ali…” desah Amara, matanya setengah terpejam. Kulitnya merinding saat jari Ali menyentuh puting yang sudah kental. Ali melepas baju Amara dengan cepat, bra hitamnya ikut terlepas. Payudara F cup Amara terbebas, puting pinknya berdiri tegak, mengundang. Ali menunduk, lidahnya menjilat puting kiri dengan lambat, mengitari puting itu sebelum mengulumnya pelan.
1461Please respect copyright.PENANAbGldhGV3jV
Suara isapan lembut terdengar, “Slurp… mmm…” Amara menggeliat, pinggulnya sedikit terangkat. Aroma tubuh Ali yang maskulin memenuhi hidungnya, rasa asin manis dari kulitnya saat Amara mencium leher Ali.
1461Please respect copyright.PENANAnSJQ25d1Cg
Ali terus meraba, tangannya turun ke celana pendek Amara, melepasnya bersama celana dalam. vagina Amara sudah basah, cairan bening mengkilap di bibir yang halus. Ali menyentuh kristoriskecil itu dengan jari tengahnya, menggosok perlahan dalam lingkaran. Amara menggigit bibir, “Ahh… pelan… enak sekali…”
1461Please respect copyright.PENANAM2mfqUmBFS
Ali tersenyum di atas payudara Amara. “Kamu sudah basah banget sayang.Aku suka.”
1461Please respect copyright.PENANAQyayZfe397
Ia melepas pakaiannya sendiri. Tubuhnya sedikit berototnya terpapar, dan titit Ali yang sudah tegang muncul, panjang 15 cm dengan kepala yang mengkilap. Amara memandangnya dengan mata membesar, campuran kagum dan gairah. Ali naik ke kasur, menyodorkan tititnya tepat di depan mulut Amara sambil masih menahan tangannya.
1461Please respect copyright.PENANA3G19K5dlGd
Amara merasa jantungnya berdegup. Ia sadar pacarnya suka mendominasi. Ali tidak memaksa, tapi memintanya penuh perintah lembut. Wajah Amara perlahan berubah binal, senyum kecil nakal muncul di bibir. Ia menjulurkan lidah, menjilat ujung titit Ali dengan perlahan, merasakan rasa manis asin yang maskulin. Kemudian ia membuka mulut, mengulum kepala titit itu dalam-dalam. Suara isapan basah terdengar, “Gluck… slurp… mmmh…”
1461Please respect copyright.PENANAWJxKxEso8H
Ali mendesah nikmat, tangannya yang bebas meremas rambut hitam Amara. “Bagus, sayang… lagi…”
1461Please respect copyright.PENANAG5bdZQzDm9
Amara mengulum lebih dalam, lidahnya menari di batang titit. Air liurnya menetes, membuat titit Ali semakin licin. Ia menikmati sensasi dominasi Ali, rasa kekuasaan yang membuat vaginanya semakin banjir cairan orgasme.
1461Please respect copyright.PENANAVPK8uUL0tu
Setelah beberapa menit, Ali menarik tititnya keluar dengan suara “pop”. Ia memposisikan dirinya di antara kaki Amara yang terbuka lebar. vagina Amara sudah merah dan basah, siap. Ali menggesek ujung tititnya di bibir vagina, mengoles cairan orgasme Amara ke seluruh kepala titit.
1461Please respect copyright.PENANA6JSa9mEn3n
“Siap, sayang?” tanya Ali dengan suara serak.
1461Please respect copyright.PENANAQJfK89Yk1u
Amara mengangguk cepat, matanya penuh hasrat. “Masuk… aku mau tititmu…”
1461Please respect copyright.PENANAyDuPm0todY
Ali mendorong dengan pelan. tititnya masuk ke vagina Amara dengan suara basah “schlup”. Amara melenguh panjang, “Ahhh… sayang… titit kamu gede banget… mentok di memek aku…”
1461Please respect copyright.PENANAEnaeAEssRi
Sensasi penuh membuat Amara menggeliat. Dinding vaginanya merenggang nikmatnya titit Ali. Ali mulai memaju-mundurkan pinggulnya dengan ritme stabil. Suara tabrakan kulit terdengar ritmis, “Plak… plak… plak…”
1461Please respect copyright.PENANACmqM4Lm55Q
Mereka mencoba banyak gaya. Misionaris pertama, Ali menatap mata Amara sambil bergerak ke dalam. Kemudian doggy style, tangan Ali memegang bokong bulat Amara erat, tititnya menghantam lebih dalam. Amara menjerit kenikmatan setiap kali titit menyentuh titik sensitifnya. Cowgirl, Amara naik di atas, payudaranya bergoyang liar saat ia naik-turun. Reverse cowgirl, Ali menikmati pemandangan bokong besar Amara yang naik-turun.
1461Please respect copyright.PENANAxJXaQgF77x
Persetubuhan itu berlangsung hampir satu jam penuh. Amara orgasme pertama kali saat doggy, tubuhnya mengejang, cairan orgasmenya menyembur pelan membasahi titit Ali. “Ahhh… aku keluar…!!” jeritnya, suaranya serak.
1461Please respect copyright.PENANAVQNsqw9YNd
Ali terus bergerak, membawa Amara ke puncak kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Setiap orgasme Amara semakin kuat, tubuhnya gemetar, napas tersengal, aroma gairah memenuhi kamar. Akhirnya Ali menarik tititnya, naik ke dada Amara. spermanya menyembur hangat ke payudara besar Amara, beberapa cipratan mencapai wajah dan bibir. Ali orgasme kedua di wajah Amara, sperma kental menetes di pipi putihnya.
1461Please respect copyright.PENANAEzIhiGdvBf
Amara licious sperma yang lembut, rasa asin manisnya membuatnya tersenyum binal. Tubuh mereka basah keringat, napas saling bercampur.
1461Please respect copyright.PENANAExQ7Gzs507
Ali turun dari kasur, mengambil tisu dan membersihkan Amara dengan lembut. Kemudian ia memesan makanan delivery – pasta dan salad favorit Amara. Mereka makan bersama di kasur, tubuh masih telanjang, selimut menutupi sebagian. Ali memberi suapan ke mulut Amara, matanya penuh kasih sayang.
1461Please respect copyright.PENANAb5xZxt6ede
Sambil mengunyah, Amara bertanya dengan nada lucu tapi penasaran, "Sayang… kamu suka mendominasi ya pas lagi seks? Tadi kamu pegang erat-erat."
1461Please respect copyright.PENANAhJ5QZNc7Vi
Ali tersenyum sambil mengusap rambut Amara. "Iya sayang. Aku suka itu. Bahkan aku punya fetis yang lebih dalam."
1461Please respect copyright.PENANACGyN9aHdFj
Amara mengerutkan dahi, sedikit pemarah. "Fetis apa? Jangan bilang kamu mau nyiksa aku."
1461Please respect copyright.PENANAEmMro0XZ9c
Ali tertawa pelan. "Aku gak maksa kamu. Aku cuma cerita kemauanku. Aku suka BDSM. Aku punya 15 konsep bagaimana melakukan sesi BDSM dengan kamu. Setiap konsep dilakukan satu hari penuh, setiap Sabtu."
1461Please respect copyright.PENANA5h1n5nO2jf
Amara terdiam, jantungnya campur aduk. Ia gak enakan, takut, tapi juga penasaran. Dalam hati ia merasa tidak enak jika tidak mengabulkan keinginan pacarnya yang sudah baik-baik saja. “Kamu gila ya… mau nyiksa aku?”
1461Please respect copyright.PENANAogxfC6Nmkv
“Bukan cuma nyiksa, sayang,” jawab Ali lembut, tangan meraba pipi Amara. "Aku pasti berterima kasih padamu kenikmatan yang luar biasa. Aku janji. Kamu akan merasakan campuran sakit dan nikmat yang bikin kamu ketagihan. Tapi aku gak maksa. Kalau kamu gak mau, kita cukup seperti tadi saja."
1461Please respect copyright.PENANA4HkMdLMO5C
Amara menggigit bibir. Ia ingat sensasi dominasi tadi yang membuat tubuhnya begitu hidup. “Emang… kamu mau ngelakuin apa aja ke aku?”
1461Please respect copyright.PENANAd0mGg4PyXm
Ali menjelaskan secara singkat beberapa konsep: bondage, enema, cermin listrik ringan, lilin, double dildo, edging, orgasme nonstop, kostum, kalung budak, dan lainnya. Amara mendengar dengan mata membesar, tubuhnya tanpa sadar merinding lagi.
1461Please respect copyright.PENANAASk09HW2ep
“Kamu gila… tapi…” Amara menunduk, wajahnya merah. “Aku setuju… asal kamu merawat aku habis sesinya, dan beliin hadiah buat aku setiap kali.”
1461Please respect copyright.PENANA2dZ8tOzpGm
Ali lebar tersenyum, menarik Amara ke pelukannya. “Janji, sayang. Aku akan merawat kamu seperti ratu.”
1461Please respect copyright.PENANA0IdRcwXYsV
Malam itu tidur mereka berpelukan, tubuh telanjang saling menempel. Amara merasa campur aduk takut dan bersemangat. Api gairah sudah menyala di antara mereka, dan ia tahu Sabtu depan akan menjadi awal dari sesuatu yang lebih intens.
1461Please respect copyright.PENANA2gussqu5zL
Seminggu kemudian, Amara sudah menunggu dengan hati berdebar. Ia tidak tahu bahwa kepribadian barunya perlahan akan terungkap di tangan Ali yang romantis sekaligus dominan.
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
1461Please respect copyright.PENANACj8umoUOvL
1461Please respect copyright.PENANAoEe3Pp6qu9
1461Please respect copyright.PENANANwi5KPgeuu


