Bab 3: Persiapan yang Manis, Godaan yang Mengintai
2984Please respect copyright.PENANADFK1kLPxIo
Dua hari setelah malam penuh kelembutan itu, apartemen Bilqis di Sudirman terasa lebih hidup dari biasanya. Kotak-kotak undangan pertunangan berwarna krem dan emas berserakan di meja ruang tamu, contoh gaun pengantin sederhana tergantung di standing hanger dekat jendela, dan aroma kopi Arabika yang Dimas beli khusus pagi ini menyebar lembut ke seluruh ruangan. Bilqis duduk bersila di sofa dengan hanya memakai tank top putih longgar dan celana pendek satin, rambut hitam panjang asal ke belakang. Tubuh langsingnya terlihat rileks, namun payudara F-cupnya yang penuh membuat kain tank top mengetat di bagian dada, menampilkan bentuk puting pink yang samar di balik kain tipis.
2984Please respect copyright.PENANAr8I7DVheAj
Dimas baru saja pulang dari kantor lebih awal. Ia langsung melepaskan jas dan dasi, mendekati Bilqis dari belakang dan memeluknya erat. Tangan hangatnya melingkar di pinggang ramping Bilqis, dagunya bertumpu di bahu wanita itu.
2984Please respect copyright.PENANAQYlqPSoi6W
“Hari ini capek banget, sayang. Tapi melihat kamu seperti ini langsung bikin aku segar lagi,” bisik Dimas di telinga Bilqis, suaranya lembut dan penuh kasih.
2984Please respect copyright.PENANAPdnvKqvG0n
Bilqis tertawa kecil, suaranya yang lucu dan ringan selalu menjadi obat terbaik untuk Dimas. “Capek kerja atau capek mikirin aku yang suka godain kamu terus, Mas?”
2984Please respect copyright.PENANAOuF8JJg1dF
Mereka menghabiskan waktu itu dengan mempersiapkan acara pertunangan. Dimas duduk di samping Bilqis, membantu memilih desain undangan digital yang akan dikirim ke keluarga dan teman-teman dekat. Sesekali tangan Dimas menyentuh paha Bilqis secara tak sengaja, atau menggesek punggung tangan Bilqis saat mereka sama-sama memegang tablet. Sentuhan-sentuhan kecil itu membuat Bilqis merasa hangat dan dicintai.
2984Please respect copyright.PENANAETQ3u2aYLR
“Gaun yang kamu pilih kemarin bagus banget. Warna ivory itu cocok sama kulitmu yang putih,” puji Dimas sambil menatap Bilqis dengan mata penuh kekaguman. “Bayangin nanti kamu berdiri di aula, semua orang pasti iri sama aku.”
2984Please respect copyright.PENANAhOzJgnLOsZ
Bilqis tersipu, pipinya merona. “Kamu juga harus memakai tuxedo yang pas, Mas. Biar aku yang iri sama cewek-cewek lain yang ngeliatin kamu.”
2984Please respect copyright.PENANAcESEg3eTvk
Mereka tertawa bersama. Tapi di balik tawa itu, Bilqis merasakan sedikit ketegangan di dada. Pesan dari Kevin dua hari lalu masih membekas di pikiran. Ia belum membalas, tapi setiap kali ponsel bergetar, jantungnya langsung berdegup lebih kencang. Ia berusaha keras mengubur bayangan itu dengan kesibukan persiapan pertunangan.
2984Please respect copyright.PENANAK4GWTixGRS
Malam semakin larut. Setelah makan malam sederhana yang mereka masak bersama — pasta carbonara dan salad segar — Dimas menarik Bilqis ke sofa panjang di ruang tamu. Ia menyalakan lampu redup dan memutar musik jazz lembut dari speaker. “Malam ini kita tenang dulu ya, sayang. Besok masih banyak yang harus disiapkan.”
2984Please respect copyright.PENANA2oh8caSBZk
Bilqis mengangguk dan duduk di pangkuan Dimas. Tubuhnya yang langsing langsung menempel sempurna dengan tubuh Dimas yang sedikit berotot. Gaun rumah tipis yang dikenakannya sedikit naik, menampilkan paha putihnya yang halus. Dimas mencium leher Bilqis dengan lembut, menusuk kulit yang wangi dengan aroma sabun mandi yang masih tersisa.
2984Please respect copyright.PENANASIVF9PQfOg
“Bilqis… kamu tahu nggak, setiap hari aku bersyukur punya kamu,” bisik Dimas di antara berciuman. Tangan mulai naik perlahan ke bawah tank top Bilqis, meraba kulit perut yang rata lalu naik ke payudara F-cup yang tidak memakai bra. Ia meremasnya perlahan, merasakan kelembutan dan beratnya yang sempurna. Jari-jarinya menemukan puting berwarna pink yang sudah mulai mengeras, memililinnya dengan gerakan melingkar yang sabar.
2984Please respect copyright.PENANAS05wxMnrIH
Bilqis mendesah pelan, kepalanya menyandar ke bahu Dimas. “Ahh… Mas… sentuhanmu selalu bikin aku lemas…”
2984Please respect copyright.PENANAmWnnYR3afi
Dimas terus meremas payudara Bilqis dengan kedua tangan sekarang, bergantian antara kiri dan kanan. Ia menarik tank top Bilqis ke atas hingga payudara besar itu terbebas sepenuhnya. Mulutnya langsung turun, lidahnya menjilat puting pink yang kecil dan sensitif itu dengan lembut. Suara isapan kecil terdengar saat ia mengulum salah satu puting, sementara jari tangan satunya memilin puting yang lain.
2984Please respect copyright.PENANAVLEhLvq3ks
Rasa hangat dimulut Dimas dan tekanan lidahnya membuat Bilqis menggeliat di pangkuannya. Ia merasakan titit Dimas yang mulai menggumpal di bawah celana kainnya, menekan bokong bulat besarnya. Bau cologne Dimas yang maskulin bercampur aroma tubuhnya sendiri membuat indra penciuman Bilqis terangsang.
2984Please respect copyright.PENANAV6yUDPNlUt
“Mas…kita ke kamar yuk…” ajak Bilqis dengan suara parau.
2984Please respect copyright.PENANA0Wrw0syYUC
Dimas mengangkat Bilqis seperti pengantin, membawanya ke kamar tidur. Ia membaringkan Bilqis di kasur dengan penuh kehati-hatian, lalu melepas pakaiannya sendiri. Tubuhnya yang sedikit berotot terpapar di bawah cahaya lampu tidur. Kontol 15 cm-nya sudah setengah keras, digantung berat.
2984Please respect copyright.PENANAC666NH6dpU
Dimas naik ke kasur, mencium Bilqis dari bibir turun ke leher, lalu ke payudara. Ia menghabiskan waktu lama untuk memeja kedua payudara itu — meremas, menjilat, menghisap, dan sesekali menggigit lembut puting pinknya. Bilqis merintih pelan sambil meremas rambut Dimas.
LANJUTAN CERITA https://lynk.id/novelhambilah
2984Please respect copyright.PENANAs66AmLSCSZ
LINK ALTERNATIF https://lynk.id/hambilah
2984Please respect copyright.PENANAnkVP0qQ8Eo


