Plak, plak, plak.
54356Please respect copyright.PENANA8VnrdMsnQE
Suara kulit yang beradu di antara pangkal pahaku dan pinggulnya menggema di kamar yang remang. Aku menggenggam sprei kuat-kuat, membiarkan tubuhku tersentak mengikuti irama dorongannya dalam posisi misionaris ini.
54356Please respect copyright.PENANAlsVUsYMdFz
"Abi... ahh, Abi..." rintihku pelan, ditemukan dengan suara parau yang tertahan di tenggorokan.
54356Please respect copyright.PENANA26ysGlL9vf
Saya mencoba mencari sinkronisasi, menyesuaikan lengkungan punggungku agar setiap perbaikannya terasa lebih dalam. Namun, hanya dalam hitungan menit, saya merasakan otot-otot tubuhnya menegangkan. Napasnya memberat, berburu tepat di ceruk leherku.
54356Please respect copyright.PENANAeIvJSiQGNe
"Nghhh... j-sedikit lagi... sssh... ahh!"
54356Please respect copyright.PENANAkReZTCseca
Dia mengerang panjang, memberikan satu hentakan keras yang menghujam dalam sebelum akhirnya tubuhnya lemas menimpaku. Aku merasakan miliknya yang berukuran tujuh sentimeter itu berdenyut sejenak di sana, sebelum akhirnya perlahan melonggar dan keluar dengan bunyi basah yang halus.
54356Please respect copyright.PENANAUk4htkgsoQ
“Hah… hah… maaf,” bisiknya sambil mengembuskan napas panjang di telingaku.
54356Please respect copyright.PENANArUB3fRVLpP
Aku hanya bisa membalas dengan desahan pelan, sebuah lenguhan kecil yang lebih berfungsi sebagai penutup sandiwara daripada ekspresi kepuasan. “Hmm…iya, Abi.”
54356Please respect copyright.PENANApfs2ROyYJ3
Aku berbaring diam, menatap langit-langit kamar sementara dia mulai menghilang dari tubuhnya. Rasa kecewa itu kembali, dingin dan menyesakkan. Ini bukan yang pertama untuk selamanya. Selama dua tahun pernikahan kami, momen-momen seperti ini selalu berakhir sebelum aku bahkan sempat memulai. Aku tetap terjebak di titik yang sama, menyimpan hasrat yang tak pernah tuntas di balik senyum yang kupaksakan.
54356Please respect copyright.PENANAqgnEL50zr8
****
54356Please respect copyright.PENANAkFPaKsSbhO
Itulah kenyataan pahit yang harus kutelan selama dua tahun terakhir. Aku menghela napas panjang, menyandarkan punggung di sofa ruang tamu yang terasa dingin. Pikiranku berkelana pada sosok suamiku dengan tubuh yang kecil dengan tinggi 160 cm dan bobot hanya 45 kg seolah mewakili stamina dan durasi ejakulasinya yang selalu mengecewakan. Ada pelarian yang terus menganga di dalam diriku, sebuah rasa lapar fisik yang tak pernah ia tuntaskan.
54356Please respect copyright.PENANAveAw8BCCMA
Drrrtt... Drrrtt...
54356Please respect copyright.PENANAgG5WtrJoBE
Suara getar ponsel di atas meja kayu mengejutkanku dari lamunan kelam itu. Aku meraihnya, melihat nama Sandra terpampang di layar.
54356Please respect copyright.PENANAZUipBHIk8M
“Assalamu’alaikum, Putri,” suara Sandra terdengar renyah di seberang sana.
54356Please respect copyright.PENANACSw5ma7bEV
"Wa'alaikumussalam, San. Ada apa?" jawabku, berusaha menormalkan nada suaraku yang sempat serak.
54356Please respect copyright.PENANAz0NnrxIPoz
"Jangan lupa ya, sore ini ada jadwal liqo setelah Ashar. Kamu bisa ikut kan? Kita berangkat bareng kalau mau."
54356Please respect copyright.PENANAD1PasVB9gC
Aku teringat sekilas, melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 14:57. Mungkin ini yang kubutuhkan, keluar dari rumah ini dan menjernihkan pikiran. "Ah, iya! Terima kasih sudah diingatkan, San. Aku ikut, aku akan bersiap sekarang."
54356Please respect copyright.PENANArfschXf4OY
Setelah menutup telepon, aku segera bangkit. Ketuk, ketuk, ketuk. Langkah kakiku terburu-buru menuju kamar mandi. Aku perlu membasuh sisa-sisa rasa kecewa yang masih menempel di kulitku.
54356Please respect copyright.PENANA5GTactjCWU
Di bawah kucuran air, aku memejamkan mata, membiarkan udara dingin membasahi lekuk tubuhku, mencoba menyentuh denyut tak tuntas yang tadi pagi kurasakan. Selesai mandi, aku berdiri di depan lemari, jemariku menelusuri deretan kain, memilih pakaian yang paling pantas untuk menutupi gejolak batin yang sedang kupendam rapat-rapat.
54356Please respect copyright.PENANAsISPTn7ehD
Aku berdiri di depan lemari yang terbuka lebar, memilah pakaian dengan saksama. Jemariku menarik sehelai bra renda dan celana dalam katun yang nyaman sebagai dasar. Untuk luaran, aku menjatuhkan pilihan pada gamis berbahan shimmer silk berwarna hijau zamrud, kainnya jatuh dengan anggun, memberikan kesan mewah namun tetap santun.
54356Please respect copyright.PENANAvqm8aXkG5y
Aku menyampirkan khimar kain ceruti baby doll dua lapis berwarna hitam pekat yang menutup dada dengan sempurna. Sebagai sentuhan akhir, aku mengikat cadar tali bahan sifon sutra berwarna abu-abu muda. Bahannya yang lembut terasa ringan saat bersentuhan dengan kulit wajahku, hanya menyisakan sedikit mataku yang terlihat.
54356Please respect copyright.PENANAuZd9xluTgu
Sret... sret...
54356Please respect copyright.PENANA25gltKMZSn
Aku menarik kaus kaki nilon berwarna kulit hingga sebatas betis, menutupi celana panjang celamis yang sudah kupakai sebelumnya. Setelah memastikan semuanya rapi, aku rapatkan tali sepatu sneakers putihku. Aku bercermin sejenak, merasakan perpaduan warna ini sudah sangat pas.
54356Please respect copyright.PENANALpjf2sNEvB
Segera, saya memesan ojek online melalui aplikasi. Tidak butuh waktu lama, sebuah motor berhenti di depan gerbang. Pengemudinya seorang pemuda, tampak masih sangat muda dengan jaket hijaunya yang bersih.
54356Please respect copyright.PENANAxfxb0WbHi7
Derajat.
54356Please respect copyright.PENANAj8ABxy5sqW
Saat aku melangkah keluar, aku teringat. Mata bergerak perlahan, memperhatikanku dari ujung jilbab hitamku, turun ke gamis hijau yang tertiup angin, hingga ke ujung sepatuku. tatapan yang intens, seolah-olah sedang menstimulasi apa yang ada di balik tumpukan kain ini. Aku sudah terbiasa dengan seperti itu, perpaduan antara rasa penasaran dan kekaguman yang tersembunyi.
54356Please respect copyright.PENANAA5Q61G2Ul8
“Dengan Mbak Putri?” tanyanya memastikan, suaranya agak berat.
54356Please respect copyright.PENANAARSlMZ6QeY
“Iya, betul,” jawabku singkat sambil menaiki boncengan motornya.
54356Please respect copyright.PENANANO3KdVmopr
Motor melaju melintasi jalanan kota yang mulai padat. Angin perih menerpa cadar abu-abu, membuatnya sesekali menempel erat di bentuk hidung dan bibirku. Di tengah perjalanan, ia melirik spion, mencoba mencari celah untuk berbincang.
54356Please respect copyright.PENANAVAPyD4MYYU
"Maaf Mbak, mau ada acara apa ke sana?" tanyanya ramah, mencoba mencairkan suasana.
54356Please respect copyright.PENANA1z5r7vic42
"Mau liqo', Mas," jawabku datar di balik cadar.
54356Please respect copyright.PENANAmpGmYREwYa
"Oh... buat liqo' ya," responnya pendek. Ia mengangguk-angguk, namun matanya sekali lagi tertangkap kamera spion sedang memperhatikanku sebelum ia kembali fokus menarik gas motornya.
54356Please respect copyright.PENANAChyAyIWD69
54356Please respect copyright.PENANAUdfJsBRGVS
Sesampainya di lokasi, saya merogoh ponsel dari saku gamis. Klik, klik. Jemariku dengan lincah menekan layar untuk membayar melalui metode transfer. “Sudah masuk ya Mas,” ucapku singkat sambil turun dari motor. Pemuda itu mengangguk, namun matanya sempat melirik sekali lagi sebelum akhirnya berlalu.
54356Please respect copyright.PENANAyfVlVkEGx4
Aku melangkah masuk ke dalam ruangan yang sudah dipenuhi oleh teman-teman liqo. Bau harum kayu cendana dan aroma teh hangat menyambutku. Kami duduk melingkar di atas karpet beludru yang empuk. Di depan kami, Ustazah Hanum sudah duduk dengan tenang, membawa aura yang menyejukkan.
54356Please respect copyright.PENANAayJzZCFjKK
Proses liqo berjalan dengan khidmat. Ustazah Hanum mulai membacakan ayat-ayat suci, suaranya yang lembut namun tegas menggema di ruangan itu. Kami bergantian menyetorkan hafalan dan membahas tafsir mengenai kewajiban istri dalam menjaga kehormatan rumah tangga. Tanganku sibuk mencatat, namun pikiranku justru melayang pada kejadian di kamar pagi tadi. Bayangan tubuh suamiku yang kecil dan durasi yang singkat itu terus menghantui, membuat catatan di buku agendaku sedikit berantakan.
54356Please respect copyright.PENANAXflj2Es3YP
Menjelang akhir sesi, Ustazah Hanum membuka sesi tanya jawab. Jantungku berdegup kencang, ada sesuatu yang menyumbat di tenggorokan yang harus dikeluarkan.
54356Please respect copyright.PENANASP7uXmWwg5
Aku mengangkat tangan perlahan. "Ustazah... saya ingin bertanya," suaraku sedikit bergetar di balik cadar abu-abuku.
54356Please respect copyright.PENANAzkMdgbz8Fd
"Silakan, Putri. Apa yang ingin kamu tanyakan?" jawab Ustazah Hanum dengan senyum tulus.
54356Please respect copyright.PENANAXc6ybIaxkX
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. "Mengenai nafkah... sebenarnya, batasan nafkah batin itu seperti apa? Apakah hanya sebatas terpenuhinya hubungan, atau ada standar kepuasan yang harus dicapai agar tidak menjadi dosa bagi suami?"
54356Please respect copyright.PENANAkUi5Yk2aK2
Seketika, suasana ruangan yang tadinya hening berubah riuh. Kasak-kusuk terdengar di sekelilingku. Teman-teman liqo-ku menoleh dengan tenang, menatap dengan mata yang membelalak rasa penasaran. Ada yang menutupi mulutnya sambil berbisik, bahkan beberapa di antaranya tertawa kecil, mungkin menganggap pertanyaanku terlalu berani atau "tabu" untuk dibahas di forum ini.
54356Please respect copyright.PENANAM0ScLjNTuL
Aku meremas jemariku sendiri di bawah meja kecil, merasakan wajahku memanas di balik kain cadar. Aku tidak peduli mereka menganggapku aneh, aku hanya butuh jawaban atas rasa lapar yang tak kunjung terpuaskan selama dua tahun ini.
54356Please respect copyright.PENANA3xj0v7NieG
Ustazah Hanum teringat sejenak, senyumannya tidak pudar, namun sorot matanya berubah menjadi lebih serius dan teduh. Ia membetulkan posisi duduknya, tatapan dengan penuh empati seolah bisa membaca kegelisahan yang tersembunyi di balik cadarku.
54356Please respect copyright.PENANAbrFB56c8BK
“Nafkah batin itu luas, Putri,” jawab Ustazah Hanum dengan suara tenang yang seketika membungkam tawa kecil di sudut ruangan. "Bukan hanyalah hubungan fisik, tapi tentang ketenangan jiwa, rasa aman, kasih sayang, dan saling rida. Suami berkewajiban menjaga perasaan istrinya agar tetap iffah (menjaga kehormatan), dan itu termasuk memastikan istri merasa tercukupi secara batiniah."
54356Please respect copyright.PENANAvjEosT0Vq2
Aku menunduk sejenak, meremas pinggiran gamis Shimmer-ku. Pertanyaan yang lebih mendesak di kerongkongan, menuntut jawaban yang lebih jujur.
54356Please respect copyright.PENANAAUcnVfMphR
“Lalu… bagaimana dengan kepuasan dalam hubungan intim, Ustazah?” suaraku memelan, berbisik hingga aku harus sedikit condong ke depan. "Sejujurnya, hal itu belum terpenuhi olehku dari suamiku. Selama ini, aku merasa... tertahan."
54356Please respect copyright.PENANALg3fdxwMAt
Keheningan yang mencekam tiba-tiba mengacaukan ruangan. Teman-teman yang tadi berbisik kini terdiam kaku. Aku bisa merasakan detak jantungku sendiri yang berpacu di balik dada.
54356Please respect copyright.PENANACH5nOZlf9f
"Apa yang harus kulakukan, Ustazah? Apakah aku berdosa jika terus merasa kecewa?" tanyaku lagi, kali ini dengan nada yang lebih berat oleh beban emosional.
54356Please respect copyright.PENANA60KDxpQmGz
Ustazah Hanum menghela nafas lembut, ia memberi isyarat agar aku tidak perlu merasa malu. Putri, dalam Islam, kepuasan seksual dalam pernikahan adalah hak kedua belah pihak, bukan hanya suami. Jika ada kendala fisik atau stamina, hal pertama yang harus dilakukan adalah komunikasi yang jujur namun tetap santun. Suami mungkin tidak menyadari kekurangannya jika kamu hanya diam.
54356Please respect copyright.PENANA3VmvrVUVVx
Beliau melanjutkan, "Kedua, ikhtiar medis atau terapi sangat dianjurkan jika masalah ada pada durasi atau kesehatan fisik. Suami wajib berusaha mencari solusi jika istri tidak mencapai rida. Jangan dipendam sendiri, karena mengecewakan yang menumpuk bisa menjadi celah bagi setan untuk masuk ke dalam hati. Bicarakanlah dengan hati ke hati saat suasana tenang, sampaikan bahwa ini adalah kebutuhanmu agar kamu bisa lebih khusyuk dalam menyampaikan sebagai istri."
54356Please respect copyright.PENANAuQKNup5kjm
Aku tertegun. Kata-kata 'hak istri' dan 'ikhtiar' berputar di kepalaku. Di balik cadar, bibirku kelu. Membayangkan harus berbicara jujur pada suamiku yang bertubuh mungil itu tentang durasinya yang hanya hitungan menit terasa seperti tugas yang sangat berat.
54356Please respect copyright.PENANATDIym3G05Q
"Kami sudah mencoba jalur medis, Ustazah. Sudah berobat, tapi hasilnya tetap sama," jawabku dengan suara yang semakin berat. Ada nada putus asa yang tidak bisa disembunyikan lagi.
54356Please respect copyright.PENANANbGMx1xoop
Aku merasakan atmosfer ruangan kembali menegangkan. Menatap teman-teman liqo di sekelilingku terasa semakin menusuk. Aku tidak tahu apakah mereka merasa kasihan, atau justru menghakimi dan mengejekku di dalam hati mereka. Rasa malu dan bingung bercampur aduk, membuat napas di balik cadarku terasa sesak.
54356Please respect copyright.PENANAVlVZvgXqha
Ustazah Hanum segera mengangkat tangannya, memberikan isyarat agar semua tetap tenang. "Sudah, jangan ada yang berbisik. Setiap rumah tangga punya ujiannya masing-masing, dan Putri sedang berjihad dalam ujiannya," ucapnya dengan tegas namun lembut, seketika meredam kegaduhan kecil itu.
54356Please respect copyright.PENANAa8dAtdF1VY
Setelah doa penutup dibacakan, satu per satu teman-temanku mulai meninggalkan ruangan. Aku sengaja memperlambat gerakanku, merapikan catatan dengan tangan yang sedikit gemetar. Saat ruangan mulai sepi, Ustazah Hanum menghampiriku.
54356Please respect copyright.PENANA7uBrwE2q0s
Beliau berdiri tepat di hadapanku. Aku menyadari tinggi kami hampir sama, sekitar 155 cm dengan perawakan yang juga serupa dengan aku dengan berat 47 kg dan beliau yang tampak anggun meski terpaut usia sepuluh tahun dariku. Di usiaku yang baru 25 tahun ini, rasanya beban yang kupikul terlalu besar, namun kehadiran Ustazah membuatku merasa sedang berbicara dengan kakaknya sendiri.
54356Please respect copyright.PENANAqiUdXzQHoi
Sret...
54356Please respect copyright.PENANA3DVQpzboVG
Ustazah Hanum menyentuh bahuku, meremasnya perlahan sebagai bentuk dukungan yang nyata. Tangan yang hangat seolah-olah menyampaikan kekuatan ke dalam tubuhku yang lemas.
54356Please respect copyright.PENANACC9QQrGS15
"Putri, sabar itu tidak ada batasnya, tapi ikhtiar juga tidak boleh berhenti. Jangan biarkan hatimu meminum karena kecewa. Teruslah berdoa agar Allah melembutkan hati suamimu untuk mau berusaha lebih keras lagi demi kamu," bisiknya menyemangatiku.
54356Please respect copyright.PENANAVcvLSGTwt5
Aku menatap matanya yang teduh, merasakan ketulusan itu. “Terima kasih, Ustazah,” jawabku lirih.
54356Please respect copyright.PENANAuAcoUQyQDq
Aku berpamitan dan melangkah keluar dari ruangan itu. Di bawah langit sore yang mulai menguning, aku berjalan perlahan menuju gerbang, memikirkan kembali setiap kata- katanya sementara rasa lapar yang tak kasatmata itu masih terus berputar di dalam sana.
54356Please respect copyright.PENANA52mwwD4KDB
Jam digital di ponselku menunjukkan pukul 17:56. Langit sudah mulai berubah jingga pekat, hampir mendekati Maghrib. Begitu aku keluar dari gerbang, ternyata Sandra masih menungguku. Ia berdiri menyandar di pilar, wajahnya menunjukkan simpati yang tulus, meski aku bisa menangkap kilatan rasa ingin tahu di matanya.
54356Please respect copyright.PENANA9pQuxqtTYg
“Putri…” ia mendekatiku, merangkul bahuku pelan untuk menenangkan gejolak yang mungkin masih terlihat dari sorot mataku. "Kamu yang sabar ya. Aku tahu itu tidak mudah."
54356Please respect copyright.PENANAhmJKSBoV49
Kami berjalan pelan menuju pinggir jalan. Namun, rasa penasaran Sandra sepertinya tak terbendung lagi. Ia sedikit mendekat, berbisik dengan nada ragu namun mendesak. "Sebenarnya... masalahnya di mana, Put? Apa karena... ukurannya? Atau memang daya tahannya yang kurang?"
54356Please respect copyright.PENANAdLWJB2uUaW
Aku setuju, lidahku kelu untuk menjawab hal sevulgar itu di tempat umum. Namun, di dalam hati, aku berteriak mengiyakan. Keduanya, San. Ukurannya yang hanya Tujuh sentimeter dan durasinya yang hanya hitungan menit.
54356Please respect copyright.PENANAGM4MFYac0L
Aku hanya memaksakan tawa kecil, mencoba mencairkan suasana yang terlalu serius. "Ah, kamu ini. Malah jadi bahas itu. Sudah ah, nanti malah jadi ghibah," candaku sambil menyenggol lengan. Sandra ikut tertawa, meski aku tahu dia belum puas dengan jawabanku.
54356Please respect copyright.PENANA79XJ3ZsuB1
Aku segera membuka aplikasi ojek online. Tak disangka, layar ponsel menampilkan foto pengemudi yang sama. Tak butuh waktu lama, motor itu berhenti di depan kami. Pemuda tadi mengantarku kembali muncul dengan senyum ramah yang sedikit lebih lebar dari sebelumnya.
54356Please respect copyright.PENANAVVAjEpUWvc
“Eh, ketemu lagi, Mbak Putri,” sapanya. Matanya kembali menyapu penampilanku gamis hijau dan cadar abu-abu dengan menggandakan yang seolah ingin menembus setiap lapis kain yang kukenakan.
54356Please respect copyright.PENANAdDtmV9VjU0
Aku berpamitan pada Sandra dan menaiki motor. Perjalanan pulang terasa lebih sunyi, hanya deru mesin dan angin malam yang mulai dingin menusuk pori-pori. Sesekali aku merasakan guncangan motor yang membuat tubuhku tanpa sengaja bersinggungan dengan punggung pengemudi itu, menciptakan sensasi aneh yang segera kutepis.
54356Please respect copyright.PENANAPjpA17PyWJ
Begitu sampai di depan pagar rumah, motor berhenti. Aku turun dan membayar dengan gerakan cepat. Saat aku berbalik, pintu rumah sudah terbuka. Di sana, suamiku berdiri menyambutku dengan tubuh kecilnya yang dibalut kaos longgar.
54356Please respect copyright.PENANA6TnRsUJD6z
“Baru pulang, Mi?” tanyanya lembut.
54356Please respect copyright.PENANAdGhAxoP3lU
Aku melihatnya sekilas, melihat sosok pria yang baru saja menjadi topik hangat di forum liqo tadi. Ada rasa sesak yang kembali muncul saat melihat wajahnya yang polos tanpa dosa, sementara aku di sini sedang berjuang melawan rasa lapar yang ia ciptakan sendiri. “Iya, Bi,” jawabku pelan, melangkah masuk melewati ambang pintu menuju rumah yang terasa kian sempit bagi hasratku.54356Please respect copyright.PENANA7PT0h2v7VI


