Selesai menunaikan salat Isya, aku melipat mukena dengan perlahan. Keheningan rumah ini selalu terasa lebih menekan di malam hari. Aku mendekati suamiku yang sedang duduk bersandar di depan televisi, tubuh mungilnya tampak tenggelam di sofa luasnya.
34899Please respect copyright.PENANAK2IfzxvgcB
"Bi, mau makan apa malam ini? Biar Umi masakkan," tanyaku lembut sambil berdiri di sebelahnya.
34899Please respect copyright.PENANAZfxmYrgrOs
Ia mendongak, tersenyum tipis yang menampilkan gurat lelah di wajahnya. “Abi lagi pengen nasi goreng pelangi buatan Umi, boleh?”
34899Please respect copyright.PENANALf60YMHkrX
"Boleh, Bi. Tunggu sebentar ya."
34899Please respect copyright.PENANAqoWPStrlsj
Aku melangkah menuju dapur. Ketuk, ketuk, ketuk. Suara langkah kakiku di atas keramik terdengar menggema. Aku mulai mengeluarkan bahan-bahan dari lemari es: sepiring nasi dingin, dua butir telur, wortel yang sudah dipotong dadu kecil, buncis, dan sedikit suwiran ayam.
34899Please respect copyright.PENANAYF82buKLxP
Sret!
34899Please respect copyright.PENANAX1RU870stc
Aku menyalakan kompor gas. Bunyi klik diikuti deru api biru yang mulai menjilat dasar wajan. Aku menuangkan sedikit minyak zaitun, biarkan panas hingga mengeluarkan aroma samar. Pertama, saya memasukkan bawang putih dan bawang merah yang sudah dicincang halus. Sizzzz... suara tumisan itu memenuhi dapur bersama aroma harum yang menusuk hidung.
34899Please respect copyright.PENANAhWDBo3WCAl
Aku memecahkan dua butir telur ke pinggir wajan. Trak, pirar. Aku mengaduknya dengan cepat hingga menjadi butiran kasar, lalu mencampurkannya dengan sayuran warna-warni. Setelah sayuran agak layu, aku memasukkan nasi putih. Tanganku bergerak lincah, membolak-balikkan sudip kayu, memastikan setiap butir nasi terbalut bumbu dan kecap manis secara merata. Sreng, Sreng, Sreng. Bunyi wajan yang beradu dengan sudip menjadi pengiring musik lamunanku.
34899Please respect copyright.PENANAHkNymfQMFs
Setelah matang dan mengepulkan uap panas yang menggugah selera, saya memindahkannya ke dua piring porselen. Aku membawa ke meja makan kecil di sudut dapur.
34899Please respect copyright.PENANA4uotV8kYC9
"Bi, sudah siap," panggilku.
34899Please respect copyright.PENANAH09kZStYBV
Kami duduk menghadap. Di bawah lampu dapur yang sedikit temaram, kami makan dalam diam. Hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring, ting, ting. Aku memperhatikan suamiku yang menyuap nasi dengan perlahan. Dua tahun pernikahan, dan meja ini masih saja sesunyi ini. Hanya ada aku dan dia.
34899Please respect copyright.PENANAR3rU5pIFb7
Aku menatap kursi kosong di sebelah kami. Sampai detik ini, aku belum juga dikaruniai keturunan. Aku tidak tahu apa penyebab pastinya apakah karena kondisi fisiknya yang lemah, durasi hubungan kami yang selalu berakhir terlalu cepat sebelum rahimku sempat menyambutnya, atau memang ada alasan medis lain yang belum terungkap.
34899Please respect copyright.PENANAH1G262NX2I
Selesai makan, kami berbagi tugas dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Aku melihat punggung suamiku yang ringkih saat ia berdiri di depan wastafel. Gerojok... suara air mengalir deras menyentuh tumpukan piring kotor. Ia dengan telaten menyabuni satu per satu peralatan makan kami, sementara aku mengambil kain lap mikrofiber untuk membersihkan bekas minyak di area kompor.
34899Please respect copyright.PENANAPBVLRr0aGj
Sret, sret.
34899Please respect copyright.PENANApeTZ3oUFae
Tanganku bergerak memutar, memastikan permukaan meja dapur kembali berkilau. Di balik rasa kecewa yang kupendam, ada bagian dari diriku yang selalu luluh melihat betapa ringannya ia membantu pekerjaan rumah. Ia pria yang baik, sangat perhatian, dan pengertian. Sebuah anomali yang membuat batinku sering tersiksa antara rasa syukur dan rasa haus yang tak terpenuhi.
34899Please respect copyright.PENANArOxfKgaWap
Pukul menunjukkan 21:17 saat semua pekerjaan tuntas. Suamiku mengeringkan tangannya, lalu teringat padaku dengan hal yang sedikit lebih serius dari biasanya.
34899Please respect copyright.PENANAXdJH8GgeZr
“Mi, ke kamar yuk? Ada yang mau Abi bicarakan,” ajaknya lembut.
34899Please respect copyright.PENANAkD0a3XbJPj
“Iya, Bi,” jawabku patuh. Sebagai seorang istri, aku tetap berusaha menjaga bakti dan ketaatanku padanya, terlepas dari badai psikologis yang sedang kuhadapi.
34899Please respect copyright.PENANATGJk9WIMwl
Aku menggali menuju kamar mandi sejenak untuk membangunkan tidur. Aku mengganti pakaianku dengan pengaturan baju tidur warna maroon dari bahan katun yang jatuh mengikuti lekuk tubuh rampingku. Potongannya tidak terlalu ketat, namun pas membungkus pinggul dan dadaku. Seperti kebiasaan sehat yang kujalani, aku tidak mengenakan apa pun di balik kain katun itu agar kulitku bisa bernapas. Aku hanya mengenakan jilbab instan abu-abu untuk menutupi rambutku sebelum naik ke kasur.
34899Please respect copyright.PENANAUjQaG2uZS7
Kriyet...
34899Please respect copyright.PENANAiYevxXF023
Aku merebahkan tubuh di tempatnya. Aroma sabun mandi yang segar dari tubuhnya menyeruak. Aku mendekatkan tubuhnya, memperlihatkan wajahnya yang tampak ragu di bawah cahaya lampu tidur yang menyala.
34899Please respect copyright.PENANAXyNgvrdDTD
"Abi mau cerita apa?" tanyaku pelan, sambil meraih jemarinya yang kurus.
34899Please respect copyright.PENANAmJGMpSyVz3
Tangannya terasa dingin saat menyentuh kulitku. Ia menarik napas panjang, matanya menatap langit-langit kamar seolah sedang mencari kata-kata yang tepat untuk memulai sebuah pengakuan yang selama ini tertahan di tenggorokannya. Aku menunggu dengan jantung yang berdegup sedikit lebih kencang, bertanya-tanya apakah ini ada ringkasan dengan kegelisahan yang kusampaikan pada Ustazah tadi sore.
34899Please respect copyright.PENANAZn29SSdaN7
Suamiku menghela napas panjang, memunculkannya kosong menembus langit-langit kamar yang remang. Jemarinya yang kurus meremas pinggiran sprei, sebuah isyarat kegelisahan yang sangat kukenal.
34899Please respect copyright.PENANAt08zR9e01N
"Mi... Abi minta maaf," suaranya parau, nyaris pecah. "Abi minta maaf karena sampai sekarang belum bisa kasih keturunan buat Umi. Padahal semua gaya hidup sehat, makanan bernutrisi, sampai saran dokter sudah Abi jalani... tapi hasilnya tetap begini."
34899Please respect copyright.PENANA44GvZAQQxr
Melihat bahunya yang turun karena beban rasa bersalah, mengiraku sebagai perempuan lulusan pondok pesantren seketika bangkit. Aku menggeser tubuhku lebih dekat, sret, kain katun maroon-ku bergesekan lembut dengan sprei. Aku meraih tangan, menggenggamnya erat untuk mewakili ketenangan yang seharusnya dirasakan seorang suami dari istrinya.
34899Please respect copyright.PENANASOXIuZoDcd
“Bi, dengarkan Umi,” ucapku lembut namun tegas. "Anak itu rezeki, murni hak prerogatif Allah. Ini ujian untuk kita berdua, bukan hanya Abi. Seorang istri harus bisa jadi penenang, dan Umi rida dengan ketetapan ini. Jangan menyalahkan diri sendiri terus."
34899Please respect copyright.PENANA4E5Aa5UgCL
Ia menoleh, menatap mataku dengan sisa-sisa keraguan. "Tapi...apa Umi gak minder kalau kumpul sama teman-teman liqo atau teman lama? Mereka semua sudah gendong anak, sedangkan Umi..."
34899Please respect copyright.PENANAlF6RK6N4Mh
Aku tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana yang terlalu melankolis. "Minder? Buat apa Bi? Justru enak, tidur kita masih berkualitas, nggak keganggu tangisan bayi tengah malam," candaku sambil menyenggol lengan pelan. "Umi bahagia kok, lagipula setiap orang punya garis waktunya masing-masing. Jangan bandingkan hidup kita dengan postingan media sosial orang lain."
34899Please respect copyright.PENANAyJ8a7hMs71
Suamiku terdiam sejenak, namun sorot matanya masih menyimpan ganjalan. "Umi...apa Umi menyesal menikah sama Abi? Dulu kan...kita dijodohkan Abah sama Umi waktu kamu masih di pondok. Apa kamu merasa terpaksa?"
34899Please respect copyright.PENANAD8mcEYJcES
Pertanyaannya menghujam jantungku. Bayangan kegagalan hubungan intim kami tadi pagi sempat melintas, namun aku segera menepisnya. Aku harus menjaga marwahnya sebagai pemimpin rumah tangga.
34899Please respect copyright.PENANAAXQ2EALAs0
Aku memutar tubuhku sepenuhnya hingga menghadapnya, membiarkan rambut di balik jilbab instanku sedikit tergerai di bantal. Aku menatap ke dalam, mencoba meyakinkannya dengan kejujuran yang paling murni.
34899Please respect copyright.PENANAcOYwx8zV1C
"Nggak, Bi. Sama sekali nggak ada penyesalan. Menikah dengan Abi adalah takdir terbaik yang Allah pilihkan lewat perantara Abah. Umi tetap di sini, di samping Abi, apa pun keadaannya. Jadi, tolong jangan tanya itu lagi ya?"
34899Please respect copyright.PENANAVkqhkHoB7G
Aku mengusap pipinya yang tiba-tiba dengan punggung terasa. Untuk saat ini, aku memilih mengubur rapat-rapat ego dan rasa kecewaku demi menjaga harga dirinya yang sedang rapuh. Di mata Tuhan, aku adalah pakaiannya, dan aku akan menjalankan peran itu sebaik mungkin, meski di dalam lubuk hatiku, ada badai yang masih terus bergemuruh.
34899Please respect copyright.PENANAmQCuPJMB0H
Suamiku menyukainya, tubuhnya yang kurus perlahan bergeser menjauh dan kembali membelakangiku. Keheningan yang tercipta terasa begitu pekat, hanya menyisakan suara napasnya yang tidak teratur. Aku tidak tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam refleksi apakah rasa rendah diri itu sudah terlalu dalam menghujamnya?
34899Please respect copyright.PENANANaz3GpCs2u
Aku tidak ingin membiarkan jarak itu melebar. Aku menggeser tubuhku mendekat, sret, kain katun maroon-ku bergesekan lembut dengan sprei hingga dadaku menyentuh punggung. Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya yang ramping, lalu menyenderkan daguku di bahunya dengan manja. Aroma sisa sabun mandi di kulitnya menyeruak, menenangkan sarafku yang sempat tegang.
34899Please respect copyright.PENANAnB2zoGqqKR
“Bi…” bisikku tepat di telinga, memberikan sedikit hembusan nafas hangat yang membuat bulu kuduknya sedikit meremang. "Kenapa diam saja? Apa Abi...apa Abi merasa tidak puas dengan pelayanan Umi selama ini?"
34899Please respect copyright.PENANAdkTLNAUGiX
Aku sengaja bertanya begitu, sebuah pancingan agar ia kembali merasa diinginkan, agar semangat kelaki-lakiannya yang sempat padam karena rasa bersalah bisa menyala lagi. Aku mengecup lembut puncak bahunya, membiarkan bibirku menyentuh kulitnya sejenak.
34899Please respect copyright.PENANAJS5n9UwH6V
Ia bersiap pelan-pelan. Perlahan, ia memutar tubuhnya kembali menghadapku. Mata kami bertemu dalam jarak yang sangat dekat di bawah temaram lampu kamar. Ia meraih wajahku dengan kedua tangannya, ibu menggosok pipiku dengan penuh perasaan.
34899Please respect copyright.PENANA8BzplxhMcd
Umiiiiii.memanggilnya dengan suara yang jauh lebih berat dan dalam dari biasanya.
34899Please respect copyright.PENANAOZoAln8s4X
"Umi harus tahu," lanjutnya sambil menatap ke dalam bola mataku. "Abi tidak pernah merasa kurang sedikit pun. Pelayananmu, baktimu, bahkan caramu menyambut Abi setiap pulang... itu semua jauh melampaui apa yang Abi bayangkan. Kamu sempurna bagi Abi."
34899Please respect copyright.PENANA4FbVZTd7qq
Ia menghela napas, jemarinya kini mengetuk rahangku, turun ke leher hingga berhenti di pundakku. "Kepuasan Abi itu bukan cuma soal apa yang terjadi di atas kasur, tapi soal bagaimana kamu tetap berdiri di sini, menatap Abi dengan cinta yang sama meski Abi tahu Abi punya banyak kekurangan. Kamu adalah karunia terbesar dalam hidup Abi, Mi."
34899Please respect copyright.PENANApipZlNONBj
Mendengar pengakuannya, dadaku terasa sesak oleh keharuan yang bercampur dengan rasa perih yang tak kasat mata. Ia merasa puas, ia merasa tercukupi olehku. Namun di balik senyumku yang kini mengembang untuk menenangkannya, ada bagian dari diriku yang masih meronta, bertanya-tanya kapan pergantian kepuasanku yang akan ia perjuangkan dengan intensitas yang sama.
34899Please respect copyright.PENANAjd9cSr7Xdd
Aku merunduk, menyembunyikan wajahku yang mulai memanas di puncaknya. Jemariku memainkan ujung kancing bajunya, memutar-mutarnya dengan gugup. Ini adalah wilayah yang sensitif, area yang selama dua tahun ini menjadi momok diam-diam di antara kami.
34899Please respect copyright.PENANADHw4mbyDay
"Bi...maksud Umi...bukan cuma soal bakti sehari-hari," bisikku pelan, suaraku hampir tenggelam dalam keheningan kamar. "Maksud Umi...apa Abi benar-benar puas...saat kita... melakukannya? Di atas kasur?"
34899Please respect copyright.PENANA5XrQ7k8MhO
Aku bisa merasakan tubuh suamiku sedikit menegangkan. Ada jeda sejenak sebelum ia menghela napas panjang. Ia menarik daguku pelan agar mata kami kembali bertemu.
34899Please respect copyright.PENANATUYYDrx83D
"Sangat puas, Mi," jawabnya mantap, tanpa ragu sedikit pun. "Setiap sentuhanmu, caramu memanggil Abi... itu semua lebih dari cukup bagi Abi. Abi selalu merasa bahagia setelahnya."
34899Please respect copyright.PENANAYw9oswN0Kc
Mendengar penjelasannya yang begitu tulus, dadaku terasa sesak. Ia merasa cukup, sementara aku masih merasa hampa. Namun, keberanian yang kupupuk sejak liqo tadi sore tiba-tiba meledak di ujung lidahku. Saya ingin menanyakan sesuatu yang selama ini hanya berputar di kepalaku, sesuatu yang mungkin akan mengubah dinamika malam-malam kami ke depannya.
34899Please respect copyright.PENANAEnUB3A4hVz
Aku menggigit bibir bawahku. "Bi... kalau begitu... bolehkah Umi menanyakan sesuatu? Sesuatu yang sedikit... berbeda?"
34899Please respect copyright.PENANAnTsYQ4mlDx
Aku melihatnya dengan memohon, perpaduan antara rasa malu yang hebat dan kebutuhan batin yang mendesak. Jantungku berdebar kencang, deg, deg, deg, seolah ingin melompat keluar.
34899Please respect copyright.PENANAyB6XjanyYi
Suamiku memperhatikan tingkahku yang tidak biasa. Ia melihat kegelisahan di mataku, juga jemariku yang tak berhenti bergerak gelisah di atas dadanya. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang tenang namun penuh tanya.
34899Please respect copyright.PENANAPNQ79qCrPn
“Boleh, Mi,” jawabnya lembut sambil mengusap kepalaku yang masih tertutup jilbab instan. "Tanyakan saja apa pun. Abi akan mendengarkan."
34899Please respect copyright.PENANAQMVQ9HbBpD
Aku menarik nafas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-isa keberanian sebelum kalimat yang sudah kususun rapi di kepala itu meluncur keluar. Ini adalah pertaruhan antara kejujuran batiniahku dan harga diri suamiku.
34899Please respect copyright.PENANAwJ28jdXoxp
Aku menundukkan wajah, membiarkan jemariku meremas ujung sprei selagi keberanianku terkumpul. Suasana kamar tiba-tiba terasa lebih panas dari biasanya. Dengan suara yang hampir tenggelam dalam detak jantungku sendiri, aku memberanikan diri memperhatikan.
34899Please respect copyright.PENANAkSh5jFMKYK
"Bi... jujur sama Umi," bisikku pelan. "Bagaimana...bentuk vaginaku menurut Abi?"
34899Please respect copyright.PENANACJNOoy424F
Suamiku terperanjat. Matanya membulat, seolah tidak percaya pertanyaan sevulgar itu keluar dari mulut istrinya yang lulusan pesantren. Ia terdiam beberapa detik, tenggorokannya turun saat ia menelan ludah. "Umi...kenapa tanya begitu?"
34899Please respect copyright.PENANAgbrkAfeFQu
“Jawab saja, Bi,” desakku dengan rona merah yang kini menjalar hingga ke leher di balik jilbab instanku. "Apa...apa bentuknya yang jelek? Atau ada yang salah?"
34899Please respect copyright.PENANAzYGlosWSIa
Ia segera menggeleng kuat-kuat, tangannya meraih pinggangku, menarik tubuh rampingku agar lebih merapat pada tubuhnya yang kecil. "Enggak, Mi. Sama sekali enggak jelek. Demi Allah, itu bagian paling indah yang pernah Abi lihat. Jangan pernah berpikir begitu."
34899Please respect copyright.PENANAzW59AFejr1
Aku menggigit bibir, rasa penasaran yang bercampur dengan gejolak batin membuatku semakin berani. Aku menggeser-geserku, merasakan kain katun maroon-ku tersingkap hingga ke pangkal paha, menyentuh langsung dengan kulit kaki.
34899Please respect copyright.PENANAkK5rMtGmSc
"Lalu...bagian mana yang paling membuat Abi...gemas? Bagian mana yang paling Abi suka di sana?" tanyaku lagi, berbisik di depan bibir.
34899Please respect copyright.PENANAXmN8ZhoPNg
Suamiku menghela nafas berat, matanya berbinar seolah sedang membayangkan pemandangan yang baru saja kutanyakan. Ia mengusap pinggulku dengan gerakan melingkar yang pelan namun pasti.
34899Please respect copyright.PENANA5tGJ7wsWpI
“Klitorisnya, Mi,” jawabnya dengan suara serak yang tiba-tiba. "Bagian itu... menonjol dengan sangat cantik. Abi paling gemas jika melihatnya. Apalagi kalau Abi tekan sedikit atau Abi gesek dengan ujung jari..."
34899Please respect copyright.PENANArzpUYEqn7D
Ia menjeda kalimatnya, melihat ke bawah yang mulai menggelap oleh gairah. "Umi selalu berteriak keenakan kan? Umi sampai melengkungkan punggung dan mencengkeram bahu Abi kuat-kuat kalau bagian itu disentuh. Suara teriakan Umi itu... yang selalu membuat Abi merasa jadi laki-laki paling beruntung."
34899Please respect copyright.PENANA7Ni3wbArgL
Mendengar pengakuannya yang begitu detail tentang anatomi tubuhku, aku merasakan sensasi panas menjalar di area bawahku. Nghhh... aku meleleng pelan tanpa sadar, membayangkan sentuhannya yang ia ceritakan. Di balik rasa kecewa atas durasinya, pengakuan jujur ini memberikan sedikit percikan yang selama ini padam di antara kami.34899Please respect copyright.PENANAmX0Wza5FNp


