Setelah makan malam yang penuh dengan ciuman dan sentuhan intim di balkon restoran, Vino mengajak Lia pulang ke apartemennya. Lia masih merasa tubuhnya panas dan lemas setelah orgasme pertamanya, tapi ia mengikuti Vino dengan penasaran. Apartemen Vino terletak di gedung tinggi di pusat kota, dengan pemandangan kota yang berkilauan seperti lautan bintang dari jendela besar kaca. Interiornya mewah dan modern—lantai marmer hitam yang mengkilap, sofa kulit putih yang empuk dan lebar, dapur terbuka dengan peralatan stainless steel yang berkilauan, dan kamar tidur utama dengan ranjang king size yang tertutup tirai sutra merah. Ada aroma parfum maskulin yang menguar di udara, campuran kayu cedar dan musk yang membuat Lia sedikit pusing dan rileks sekaligus. Vino nyalakan lampu redup dengan remote, musik jazz lembut dari Billie Holiday mengalun dari speaker tersembunyi, membuat suasana lebih intim seperti dunia rahasia mereka. Ia tawarkan minuman—jus jeruk segar untuk Lia, karena gadis itu masih mabuk sedikit dari wine di restoran, dan scotch untuk dirinya sendiri.
"Duduk dulu, Lia. Kamu masih gemetar kayaknya setelah apa yang terjadi di restoran. Mau nonton film? Aku punya koleksi film romantis yang bagus, tapi yang lebih... dewasa."
Lia duduk di sofa, gaunnya masih kusut sedikit dari sentuhan Vino tadi, kain biru mudanya terlipat di paha. Ia merasa malu tapi excited, tubuhnya masih bereaksi dengan kelembaban di antara pahanya yang membuatnya meremas paha. Ia belum pernah ke apartemen pria sendirian, apalagi setelah apa yang terjadi di restoran—orgasme pertamanya yang membuatnya lemas seperti boneka. Apartemen ini terasa seperti mimpi, jauh dari rumah sederhananya.
"Ya, boleh. Film apa? Aku suka romantis, yang bikin hati berdegup. Tapi... dewasa gimana?"
Vino tersenyum misterius, ia ambil remote dari meja kaca dan pilih film dari layar TV besar yang menempel di dinding. Film itu bukan romantis biasa seperti yang Lia bayangkan—sebuah film erotis klasik berjudul "Secret Desires" tentang pasangan muda yang menjelajahi fantasi mereka di sebuah vila terpencil. Ia duduk di sebelah Lia, tangannya di bahu gadis itu, mengusap lembut kulit telanjang di sana.
"Ini film spesial, Sayang. Tentang cinta yang lebih... fisik. Kamu pernah nonton film kayak gini? Yang bikin tubuh panas, bukan cuma hati. Aku pilih yang lembut dulu, biar kamu nggak kaget."
Lia menggeleng, matanya tertuju ke layar saat film mulai. Adegan pertama menunjukkan pasangan berciuman di pantai, tangan pria menyentuh dada wanita melalui blus tipis. Lia merasa pipinya panas seperti terbakar, tapi ia tidak bisa menoleh—ada sesuatu yang menariknya, seperti magnet. Musik film itu sensual, dengan suara ombak dan desahan pelan.
"Belum. Ini... apa ini? Mereka lagi... ciuman? Tapi tangan pria itu... di dada wanita. Kenapa wanita itu nggak marah?"
Vino tertawa pelan, suaranya rendah dan hangat. Ia tarik Lia lebih dekat, tangannya turun ke pinggangnya, jarinya mengusap kulit di bawah gaun. Film sekarang menunjukkan wanita itu menanggalkan pakaian, pria mencium dadanya, lidahnya mengusap puting.
Bersambung……
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.250da2


