Di sebuah kafe kecil bernama "Brew Haven" yang terletak di pinggir kota, suasana selalu ramai pada sore hari. Kafe ini dikelilingi oleh pohon-pohon rindang yang membuatnya terasa seperti tempat pelarian dari hiruk-pikuk perkotaan. Interiornya sederhana namun nyaman, dengan meja-meja kayu tua, kursi berlapis kain lembut, dan aroma kopi yang selalu menggoda hidung siapa saja yang masuk. Lia, gadis berusia 20 tahun yang baru saja lulus kuliah jurusan sastra, bekerja paruh waktu di sana sebagai pelayan. Ia tinggal di rumah kecil bersama orang tuanya di daerah pinggiran, dan pekerjaan ini adalah cara untuk membiayai impiannya menjadi penulis. Rambut panjangnya yang hitam lurus selalu diikat ekor kuda, membuatnya terlihat segar dan energik. Wajahnya polos dengan mata bulat besar yang selalu penuh rasa ingin tahu, bibir tipis yang sering tersenyum malu, dan kulit putih mulus yang belum pernah terpapar sinar matahari berlebihan. Ia belum pernah pacaran serius, bahkan ciuman pertama pun belum pernah ia rasakan. Dunia seks baginya masih misteri besar, sesuatu yang membuatnya malu hanya dengan membayangkannya—seperti buku terlarang yang ia dengar dari teman-teman tapi tak berani buka. Di kampus, ia sering mendengar cerita tentang pacar teman yang "melangkah terlalu jauh", dan itu membuatnya bergidik sekaligus penasaran. Ia selalu menghindari topik itu, fokus pada buku dan mimpi-mimpinya.
Vino, pria berusia 28 tahun dengan tubuh atletis hasil olahraga rutin seperti lari pagi dan gym, duduk di meja sudut sambil mengamati Lia dari jauh. Rambutnya pendek dan rapi, mata tajam seperti elang yang siap menerkam mangsa, dan senyum memikat yang bisa membuat wanita mana saja meleleh. Ia bekerja sebagai pengusaha sukses di bidang properti, memiliki apartemen mewah di pusat kota, dan hidupnya penuh petualangan. Ia sering datang ke kafe ini bukan hanya untuk kopi latte favoritnya, tapi karena tertarik pada gadis polos itu. Sudah seminggu ia mengamati Lia, melihat bagaimana gadis itu bergerak dengan anggun, tersipu saat dipuji pelanggan, dan selalu membantu orang lain dengan senyum tulus. Vino suka tantangan, dan Lia adalah tantangan terbesar—mengubah gadis polos ini menjadi wanita hyperseks yang bergantung padanya, menjadi budaknya dalam dunia erotis. Ia sudah merencanakan semuanya: mulai dari pendekatan halus, lalu pengenalan tabu, hingga penaklukan total. Hari ini, ia memutuskan untuk mendekatinya lebih dekat. Saat Lia mendekat untuk mengambil pesanannya, Vino tersenyum lebar, giginya putih sempurna seperti bintang film.
"Hai, aku pesan espresso lagi ya. Kamu selalu buat kopiku enak banget, Lia. Rasanya kayak ada cinta di dalamnya."
Lia tersipu, tangannya sedikit gemetar saat mencatat pesanan di notepad kecilnya. Ia tidak biasa mendapat pujian seperti itu dari pelanggan, apalagi yang menyebut namanya. Biasanya mereka cuma bilang "terima kasih" dan pergi. Jantungnya berdegup kencang, dan ia merasa pipinya panas. Ia ingat pria ini sering datang, tapi belum pernah ngobrol banyak. Apa ia harus balas senyum? Atau cuma bilang terima kasih?
"Terima kasih, Pak. Saya cuma ikutin resepnya kok. Apa ada yang lain? Mungkin kue atau sandwich?"
Vino tertawa pelan, suaranya dalam dan hangat seperti suara penyanyi jazz yang sedang bernyanyi lembut. Ia menyentuh lengan Lia sekilas saat mengambil gelas kosong, sentuhan yang membuat kulit Lia merinding seolah ada listrik kecil yang menyambar. Jarinya hangat dan kuat, tapi lembut, seperti menyentuh bunga yang rapuh. Vino merasakan kulit Lia yang halus, dan itu membuatnya ingin lebih. Ia bayangkan bagaimana kulit itu akan bereaksi saat disentuh lebih intim nanti.
Bersambung……
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.250da2


