Hari Pertama di Desa
4172Please respect copyright.PENANAJdMMaRWEDW
Pagi pertama di Desa Karanganyar terasa berbeda dari pagi-pagi di Jakarta. Jam 04.45, udara dingin menusuk tulang. Aku terbangun karena suara ayam berkokok di kejauhan dan hembusan angin gunung yang masuk melalui celah jendela kayu. Ruang cowok masih gelap, hanya cahaya kecil dari lampu minyak yang ditinggal menyala semalaman. Aku bangun duluan, badan pegal karena tidur di kasur lipat tipis di lantai. Dimas masih mendengkur pelan di sebelahku, Budi dan Galih tidur miring dengan selimut tebal, sementara Andi dan Fajar belum bergerak.
4172Please respect copyright.PENANASe7l3REXbF
Aku keluar ke teras, menghirup udara segar yang bercampur bau tanah basah dan daun-daun hijau. Desa masih sepi, kabut tipis membuat sawah di kedamaian. Langit mulai terang di ufuk timur. Aku ambil ember dan gayung, berjalan ke kamar mandi belakang rumah untuk wudhu. Air sumur dingin sekali, membuat aku menyiram saat menyiram muka.
4172Please respect copyright.PENANApByvbm48K5
Saat kembali ke teras, aku melihat gerakan di ruang cewek. Tirai kain tebal yang membatasi ruangan sedikit bergoyang. Rina keluar duluan, sudah rapi dengan gamis hitam polos dan jilbab lebar. “Subuh yuk, Mas Reza. Kita sholat berjamaah di masjid desa,” katanya ramah tapi tegas.
4172Please respect copyright.PENANAT9lpspJ0Da
Aku mengangguk. “Iya, tunggu yang lain dulu.”
4172Please respect copyright.PENANA9bQL6U0qli
Satu per satu cewek keluar. Sinta tampil dengan jilbab kecil navy dan kaos longgar, badannya yang atletis terlihat lincah meski pagi-pagi. Nadia menyusul, gamis soft pink-nya sedikit lebih ketat di bagian dada dan pinggang, jilbab modis dengan bros kecil. Dia manis tersenyum saat lewat di depanku. Terakhir Rahma. Dia keluar dengan gamis krem yang sama seperti kemarin, jilbab panjang menutup dada rapat. Wajahnya segar, tapi ekspresinya tetap tenang dan sopan. Matanya sebentar bertemu denganku, lalu langsung menunduk. “Assalamualaikum, Mas,” katanya pelan.
4172Please respect copyright.PENANAY727pTeFgl
“Waalaikumsalam, Rahma.Pagi,” balasku, mencoba tersenyum lebar. Dia hanya mengangguk kecil dan berjalan di belakang Rina.
4172Please respect copyright.PENANAFcg8UhVvEE
Kami berjalan kaki ke masjid desa yang hanya 200 meter dari posko. Jalan setapak masih basah embun. Anak-anak desa mulai keluar rumah, beberapa ibu-ibu sudah menyapu halaman. Di masjid kecil bercat hijau itu, kami sholat subuh berjamaah bersama warga. Suara imam yang khidmat menggema. Aku sholat di saf belakang cowok, tapi dari sudut mata aku sempat melirik Rahma yang sholat di saf cewek.
4172Please respect copyright.PENANAFKRzWjGA9X
Setelah salat, Pak Lurah menyambut kami lagi di balai desa. Beliau memperkenalkan kami kepada warga yang datang pagi-pagi. “Ini anak-anak KKN dari Jakarta. Mereka akan membantu kita sebulan ke depan.” Warga bertepuk tangan ramah. Ada ibu-ibu yang langsung nawarin sayur dan beras.
4172Please respect copyright.PENANAUYpvCGjLAp
Hari pertama kerja bakti dimulai pukul 07.30. Andi membagi tugas: laki-laki membersihkan balai desa dan memperbaiki jalan setapak yang rusak, perempuan membantu membersihkan aula untuk posyandu besok. Aku ikut angkat dan cangkul bersama Budi, Galih, dan Fajar. Matahari mulai terbit, namun udara desa tetap sejuk.
4172Please respect copyright.PENANAMHxplc06xm
Saat istirahat pukul 10.00, aku duduk di bawah pohon beringin besar dekat balai desa, minum air putih dari botol. Keringat membasahi kaosku. Dari perbincangan, aku melihat Nadia dan Budi sedang bersama di samping aula. Nadia tertawa kecil sambil menyodorkan botol minum ke Budi. Budi bersinggungan dengan senyuman lebar, tangannya sengaja menyentuh jari Nadia sebentar. Mereka berdiri agak dekat, bahu mereka hampir bersentuhan. Nadia membetulkan jilbabnya sambil bicara pelan, Budi mencondongkan badan mendengar. Aku mengerutkan kening. Kemarin dalam perjalanan mereka juga sering bercanda, tapi pagi ini terlihat lebih dekat. Apa mereka sudah kenal sebelum KKN? Atau baru mulai dekat di sini? Aku belum tahu hubungan mereka apa, tapi ada sesuatu yang aneh. Budi memang playboy, tapi Nadia yang modis itu kok mau dekat-dekat begitu?
4172Please respect copyright.PENANAOKl4iFlpsC
Aku pura-pura tidak peduli dan kembali bekerja. Tapi pikiranku terus ke arah sana. Sementara itu, Rahma dan Rina sibuk membersihkan aula dengan sapu lidi. Rahma bekerja pelan tapi tekun, gamis lebarnya sedikit kotor debu, tapi dia tetap rapi. Aku sengaja lewat dekat aula sambil bawa santai. “Rahma, capek nggak? Mau aku bantu angkat meja itu?” tanyaku ramah.
4172Please respect copyright.PENANA808u4EQoVD
Rahma menoleh, wajahnya tetap tenang. “Terima kasih Mas Reza, tapi aku dan Rina sudah hampir selesai. Lebih baik Mas fokus di balai desa saja,” jawabnya sopan, suaranya halus seperti biasa. Dia tidak tersenyum, hanya mengangguk kecil lalu melanjutkan menyapu. Rina melirikku sebentar dan tersenyum tipis, seolah mengerti aku sedang mencoba mendekat.
4172Please respect copyright.PENANAKBy42l5hba
Siang hari kami pulang ke posko untuk makan siang. Fajar yang jago masak sudah menyiapkan nasi, sayur asem, dan ikan goreng sederhana dari bahan yang dibeli di warung desa. Kami makan bersama di teras. Obrolan mengalir. Sinta lucu bercerita tentang anak kecil yang tadi ikut membantu bersih-bersih. Nadia duduk di sebelah Budi, sesekali mereka berbisik dan tertawa pelan. Aku perhatikan lagi — tangan Budi hampir menyentuh lengan Nadia saat mengambil lauk. Rahma duduk di ujung paling jauh, makan pelan, jarang ikut bicara. Matanya fokus ke piring, sesekali dia mengangkat kepala mendengar cerita tapi langsung menunduk lagi.
4172Please respect copyright.PENANAUgNAMMsAuP
Usai makan, Andi mengadakan rapat evaluasi singkat. “Hari ini bagus, besok kita mulai program TPA dan posyandu. Rahma, kamu siap ngajar anak-anak kan?” Rahma mengangguk. “Siap Mas Andi.”
4172Please respect copyright.PENANAvSTKNkS1oL
Sore hari, sekitar pukul 16.00, kami istirahat. Udara mulai sejuk lagi. Aku duduk di teras depan sambil HP utama (sinyal lemah sekali). Dari sudut mata, aku lagi-lagi melihat Nadia dan Budi. Mereka berjalan bersama ke belakang posko, katanya mau ambil air di sumur. Tapi mereka lama sekali tidak kembali. Saat mereka muncul lagi, wajah Nadia agak merah, jilbabnya agak miring, dan Budi tersenyum puas. Mereka berpisah dengan cepat saat melihat aku di teras. Nadia langsung masuk ke ruang cewek, Budi pura-pura membantu Fajar cuci piring. Aku semakin curiga. Apa pacaran mereka diam-diam? Budi memang suka godain cewek, tapi Nadia terlihat nyaman banget. Aku menyimpan pertanyaan itu di dalam hati.
4172Please respect copyright.PENANA0HgNONz34U
Malam harinya, listrik mati total karena hujan gerimis mulai turun. Kami menyalakan beberapa lampu minyak dan duduk melingkar di teras. Angin dingin menggambarkan, suara hujan rintik di atap genteng. Rina mengajak doa bersama. Semua ikut, termasuk Rahma yang suaranya halus dan merdu saat melantunkan kalimat-kalimat tasbih. Aku duduk di sebelah Dimas, tapi mataku sering melirik Rahma. Cahaya lampu minyak membuat bayangan wajahnya semakin manis — mata sipitnya terlihat lembut, bibir tipisnya bergerak pelan.
4172Please respect copyright.PENANAlmSrZIjRhn
Setelah doa, percakapan santai dimulai. Sinta bercerita tentang pengalaman KKN teman yang lucu. Nadia ikut tertawa, sesekali melirik Budi. Budi balas dengan senyum nakal. Rahma tetap diam, hanya tersenyum kecil kalau ada yang lucu. Aku mencoba mendekat lagi. “Rahma, kamu sering ngajar TPA di Jakarta juga?” tanyaku pelan.
4172Please respect copyright.PENANAVhNiswQ0uX
Dia menoleh sebentar. “Iya Mas, di masjid dekat kosan. Anak-anaknya lucu-lucu.” Jawabannya singkat, lalu dia kembali fokus ke arah lain. Tidak ada dialog lanjutan. Dia memang selalu menjaga jarak aman.
4172Please respect copyright.PENANA90kqEaI2Ei
Sekitar pukul 22.00, kami mulai masuk ke kamar masing-masing. Hujan semakin deras, angin menderu. Aku berbaring di kasur lipat, memikirkan hari pertama ini. Kerja bakti melelahkan tapi menyenangkan. Tapi yang paling mengganggu pikiranku adalah dua hal: kedekatan misterius antara Nadia dan Budi, dan sikap Rahma yang semakin membuat penasaran. Cewek alim dengan gamis lebar dan jilbab panjang itu seperti teka-teki yang ingin aku pecahkan.
4172Please respect copyright.PENANA4eWQiJ0LQj
Di kegelapan ruang cowok, aku mendengar suara napas teman-teman yang mulai tidur. Hujan terus turun. Besok hari kedua, program TPA akan dimulai. Aku tersenyum dalam hati. Aku akan terus mencoba mendekati Rahma, pelan-pelan.
4172Please respect copyright.PENANAiOZaHIE0gX
Malam itu aku tidur dengan pikiran penuh. Desa Karanganyar yang tenang ini ternyata mulai banyak cerita.
4172Please respect copyright.PENANAIXkvptVPcF
4172Please respect copyright.PENANAgVzsier6LR
4172Please respect copyright.PENANAMm31hzH4Rk


