Keberangkatan KKN
4795Please respect copyright.PENANAdDGejTNsfI
Nama aku Reza, 22 tahun, mahasiswa semester 7 jurusan Teknik Informatika di Universitas Islam Al Bantani, salah satu universitas swasta Islam di Jakarta Selatan. Kampusku terletak di kawasan yang ramai, dengan gedung-gedung modern campuran nuansa Islami — masjid besar di tengah kampus, poster-poster kajian rutin, dan mayoritas mahasiswi yang berjilbab. Dari jilbab segi empat sederhana sampai gamis lebar dengan jilbab panjang yang menutup dada, semuanya ada. Aku belum pernah punya pacar resmi. Bukan karena tidak laku, tapi aku lebih suka yang “susah digapai”. Di kampus ini, peluang nyicip cewek berjilbab cukup banyak — ada yang pura-pura alim di depan dosen tapi di belakang mobil atau kosan jadi pembohong. Aku sudah pernah beberapa kali, dari mencium sampai yang lebih dalam, tapi selalu rahasia. Hidupku biasa saja: kuliah, main futsal sore hari di lapangan kampus, nongkrong di warung kopi dekat kampus, dan kadang-kadang “petualangan” malam dengan cewek yang kutemui lewat teman.
4795Please respect copyright.PENANA8jfWbaNAUW
Kali ini, semester 7 mengharuskan aku mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN). Aku Ditempatkan di kelompok 11 orang — 6 laki-laki dan 5 perempuan — di Desa Karanganyar, sebuah desa kecil di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasinya cukup jauh, hampir 8-9 jam perjalanan dari Jakarta. Desanya terkenal dengan udara dingin, hamparan sawah hijau, dan suasana pedesaan yang tenang, jauh dari keramaian-pikuk ibu kota. Aku dengar dari senior yang pernah KKN di sana, sinyal HP sering hilang, listrik kadang mati kalau hujan deras, dan warganya ramah tapi sangat menjaga adat.
4795Please respect copyright.PENANAzbcroigJ0H
Pagi itu, Senin pukul 06.30, saya sudah berdiri di halaman parkir kampus Universitas Islam Al Bantani. Udara Jakarta masih sejuk sebelum matahari naik tinggi. Ransel besarku penuh: baju kaos, celana pendek, sarung, cadangan laptop, obat-obatan, dan beberapa camilan. Aku pakai kaos hitam polos, celana jeans, dan sepatu kets. Rambutku agak acak-acakan karena baru bangun.
4795Please respect copyright.PENANA3foEJd9RR1
Di sana sudah ramai. Andi, ketua kelompok kami yang serius dan suka ngatur, sedang sibuk mengatur barang-barang ke atas mobil pick-up yang disewa. Andi tinggi, berkacamata, jurusan Hukum, selalu membawa catatan kecil untuk jadwal katat. “Reza! Cepat angkat kardus ini, obat-obatan dan alat tulis untuk posyandu sama TPA anak-anak!” teriakannya sambil melambai.
4795Please respect copyright.PENANA0G6QcZsWnf
Aku mendekat dan mengangkat kardus berat itu ke bak mobil. Keringat mulai menetes di dahi. Di sebelah Andi ada Budi, cowok playboy kampus kami. Budi jurusan Manajemen, badannya sedang, senyumnya selalu lebar, rambut disisir rapi. Dia lagi bercanda dengan Galih, yang suka bikin onar kecil-kecilan. “Bro, di desa nanti cewek-ceweknya cantik, tapi siapa tahu ada yang bisa digodain,” kata Budi sambil tertawa. Galih cuma geleng-geleng kepala.
4795Please respect copyright.PENANAaGWyUjO0Gc
Lalu datanglah cewek-ceweknya. Pertama Sinta, cewek tomboi jurusan Ekonomi. Rambutnya pendek (tapi tetap pakai jilbab kecil warna navy kalau keluar), badannya atletis dari sering olahraga, kulit sawo matang. Dia membawa tas ransel besar dan langsung ikut angkat barang. “Eh cowok-cowok, jangan cuma ngobrol doang, bantu angkat!” katanya dengan suara keras sambil tertawa.
4795Please respect copyright.PENANA8QibficuiY
Di belakang Sinta ada Nadia. Cantik, modis, gamisnya sedikit lebih ketat dibandingkan yang lain, warna soft pink, jilbab modis dengan pin cantik. Dia sibuk selfie dengan HP-nya. “Ini buat cerita perpisahan kampus dulu ya,” katanya sambil berpose. Nadia jurusan Komunikasi, suka cerita tentang makeup halal dan konten Islami di TikTok.
4795Please respect copyright.PENANAjCZL7Vv5Rp
Rina datang berikutnya. Dia yang paling religius, jurusan Pendidikan Agama Islam. Gamis hitam polos, jilbab lebar, selalu bawa tas kecil berisi Al-Qur'an.
4795Please respect copyright.PENANAO3qdoh9SW4
Dan yang terakhir, yang langsung bikin mataku adalah **Rahma**. Dia berdiri agak terpisah dari yang lain, seperti biasa. Usianya 21 tahun, jurusan Pendidikan Agama Islam. Gamis panjang berwarna krem muda yang sangat longgar, menutupi seluruh lekuk tubuhnya sampai mata kaki. Jilbab panjang berwarna senada menjuntai sampai dada, menutup rapat. Wajahnya manis sekali — mata sipit lembut dengan bulu mata alami, kulit putih bersih seperti susu, hidung kecil mancung, bibir tipis yang jarang tersenyum lebar. Dia pendiam, selalu menjaga jarak aman dari cowok. Tasnya simpel, hanya ransel kecil dan tas selempang.
4795Please respect copyright.PENANAA4ktCHwnqC
Aku mendekat sambil tersenyum lebar. "Rahma ya? Aku Reza, Teknik Informatika. Senang kenal, kita satu kelompok nih." Aku ulurkan tangan.
4795Please respect copyright.PENANAEptAUYTbbv
Rahma hanya mengangguk sopan, tidak menyambut jabatan tangan. “Iya Mas Reza. Rahma. Semoga KKN kita lancar,” jawabnya dengan suara halus, hampir tanpa emosi. Matanya sebentar menatap lalu menunduk lagi. Dia mundur, menjaga jarak. Aroma sabun colek dan parfum lembut khas cewek berjilbab tercium samar dari perjalanan.
4795Please respect copyright.PENANAgxQm57XGNd
Aku tidak menyerah. “Kamu jurusan PAI kan? Pasti jago ngajar anak-anak TPA di desa nanti.”
4795Please respect copyright.PENANAfnIY4p2Ccq
“Iya Mas. Fokus aja ke program kerja,” balasnya singkat, lalu berpindah ke sebelah Rina.
4795Please respect copyright.PENANAwarYdvuTZg
Dari situ aku sudah merasa penasaran berat. Cewek kayak Rahma ini — alim, pendiam, jaga batas — biasanya punya lapisan yang dalam. Aku sering ketemu tipe seperti ini di kampus: di depan tampak suci, tapi kalau sudah dekat… api yang menyala. Aku tersenyum dalam hati. Perjalanan dua bulan ini pasti menarik.
4795Please respect copyright.PENANA08mwjTfLAJ
Mobil pick-up sudah penuh. Kami semua naik. Cowok di belakang bersama barang, cewek di dalam kabin. Aku duduk di bak belakang bersama Dimas yang pendiam (dia suka membaca buku di pojokan), Fajar yang jago masak dan ramah, serta Budi dan Galih. Angin pagi menyapu wajah saat mobil mulai bergerak keluar kampus Universitas Islam Al Bantani.
4795Please respect copyright.PENANAC93aA3TZ52
Perjalanan panjang dimulai. Kami lewat tol Jakarta-Semarang, lalu keluar ke jalan provinsi menuju Karanganyar. Dalam perjalanan, dialog rame. Sinta dari dalam kabin teriak-teriak bercanda, “Cowok-cowok di belakang jangan tidur! Nanti di desa kerja bakti pagi-pagi!” Budi balas godain, “Sinta, kamu nanti jadi istri desa ya, aktif banget.”
4795Please respect copyright.PENANA8kxa9Nmw0G
Rahma duduk di pojok kabin, earphone di telinga, sesekali membaca buku catatan program KKN. Aku melihat dari bak belakang lewat kaca belakang. Profil wajahnya yang manis terlihat tenang. Kadang dia tersenyum kecil mendengar candaan, tapi jarang ikut bicara.
4795Please respect copyright.PENANA4om1ync1Gt
Setelah sholat dhuhur di masjid pinggir jalan, kami lanjut. Matahari mulai tinggi, udara semakin panas di jalan tol. Tapi semakin mendekati Karanganyar, udara berubah dingin. Gunung Lawu mulai terlihat di kejauhan, puncaknya berkerut. Sawah hijau membentang, rumah-rumah penduduk berjejer dengan atap genteng merah, pohon-pohon besar di pinggir jalan.
4795Please respect copyright.PENANAztvJ1S1lVu
Kami tiba di Desa Karanganyar sekitar pukul 15.30 sore. Desanya bertahan seperti yang diceritakan senior: terletak di lereng timur Gunung Lawu, udara dingin menusuk kulit, hamparan sawah dan kebun sayur di sekitarnya. Rumah-rumah sederhana dari bata dan kayu, jalan desa beraspal tapi banyak lubang. Anak-anak kecil berlarian menyambut kami, warga keluar dari rumah dengan senyum ramah.
4795Please respect copyright.PENANAvmnA1G7xCa
Pak Lurah menyambut di balai desa. “Selamat datang anak-anak KKN. Posko kalian di rumah kosong saya yang agak di pinggir desa. Ada sumur, kamar mandi belakang, listrik kadang mati kalau hujan.” Beliau tertawa.
4795Please respect copyright.PENANACS366atcdg
Kami langsung ke posko. Rumah tua itu cukup luas, berteras lebar. Ruang depan untuk cowok — kasur lipat dan tikar digelar di lantai. Ruang belakang untuk cewek, dibatasi tirai kain tebal. Kamar mandi di belakang, sederhana dengan gayung dan ember, air dari sumur.
4795Please respect copyright.PENANA1GxrX661C4
Sore itu kami Bongkar barang. Aku membantu mengangkat kasur untuk cewek-cewek. Rahma mengatur barangnya di pojok ruangan cewek, gerakannya rapi dan tenang. Gamisnya masih rapi meski perjalanan panjang. Aku sengaja lewat dekat. “Rahma, butuh bantuan susun kasur?”
4795Please respect copyright.PENANAw9cqowof8f
“Terima kasih Mas, saya bisa sendiri,” jawabnya pelan, mata tidak terlalu lama melihat. Dia mundur lagi.
4795Please respect copyright.PENANA0Tu4tN0dfX
Malam mulai turun. Udara dingin sekali. Kami berkumpul di teras untuk pertemuan pertama. Lampu minyak dinyalakan karena listrik belum stabil. Andi memimpin: “Besok pagi kita kenalan dengan warga, bagi tugas.Rahma dan Rina untuk TPA anak-anak, Sinta dan Nadia bantu posyandu, cowok-cowok kerja bakti bersih-bersih balai desa.”
4795Please respect copyright.PENANAR3OLNfez2e
Rahma hanya mengangguk. Saat rapat selesai, dia langsung ke belakang, mungkin mau istirahat. Aku duduk di teras sendirian, merokok pelan (aku sembunyi-sembunyi karena desa Islami). Pikiranku melayang ke Rahma. Wajah manisnya, sikap pendiamnya, gamis lebar yang menutupi semuanya… aku ingin tahu apa yang ada di balik itu semua.
4795Please respect copyright.PENANA7uMatqOE1C
Malam semakin larut. Suara jangkrik dan angin gunung bertiup pelan. Aku masuk ke ruang cowok, muncul di kasur lipat. Besok hari pertama kerja bakti. Tapi entah kenapa, aku merasa perjalanan KKN ini akan membawa sesuatu yang tak terduga. Terutama dengan Rahma.
4795Please respect copyright.PENANABaUDgoJckL
Di kegelapan, aku tersenyum sendiri. “Mari kita lihat, Rahma… berapa lama kamu bisa menjaga jarak itu.”
4795Please respect copyright.PENANAr1JUBKnbhy
4795Please respect copyright.PENANAWUNcUOuKp5


