Bab 1: Malam Terakhir yang Romantis
799Please respect copyright.PENANA8OYJymCPxs
Malam itu apartemen kecil Laura di lantai 12 terasa lebih hangat dari biasanya. Lampu tidur berwarna kuning keemasan menyinari ruangan, menciptakan bayangan lembut di dinding putih. Laura berdiri di depan cermin kamar mandi, memandang pantulan dirinya sendiri. Wanita berusia 27 tahun itu mengenakan kostum seksi yang baru dibelinya dua hari lalu – lingerie hitam tipis berenda dengan rok pendek yang hampir tak menutupi bokong bulatnya yang besar. Payudaranya yang berukuran F cup terlihat penuh dan menggoda di balik kain tipis, puting pinknya samar-samar terlihat menonjol karena udara malam yang sejuk.
799Please respect copyright.PENANArVa0EAAoH9
Laura menggigit bibir bawahnya. Rambut hitam panjangnya tergerai lembut di bahu, mata coklatnya berkilat penuh hasrat. “Malam ini harus spesial,” gumamnya pelan. Dimas, pacarnya yang berusia 27 tahun, baru saja pulang dari lembur lagi. Tubuh pria itu sedikit berotot karena rutin ke gym meski pekerjaannya sebagai marketing membuatnya sering pulang larut. Tingginya 170 cm, rambut hitam lurus, dan senyum menawannya selalu berhasil meluluhkan hati Laura. Tapi malam ini, Laura ingin memberi Dimas hadiah yang lebih dari sekadar pelukan biasa.
799Please respect copyright.PENANAdB72IUCIwL
Pintu apartemen terbuka dengan suara klik pelan. Dimas masuk, tas kerjanya masih tergantung di bahu. Begitu melihat Laura yang berdiri di tengah ruang tamu dengan kostum itu, matanya langsung melebar. “Sayang… kamu…” suaranya serak, napasnya langsung berubah.
799Please respect copyright.PENANAkbKil4XQKI
Laura tersenyum lucu, meski pipinya memerah. “Kerja keras banget lagi hari ini. Aku mau kasih hadiah biar kamu istirahat yang enak.” Ia berjalan mendekat, pinggulnya bergoyang pelan. Bau parfum manis bunga melati yang dipakainya langsung memenuhi hidung Dimas.
799Please respect copyright.PENANAq44nxNzj6N
Dimas menjatuhkan tasnya ke lantai, tangannya langsung memeluk pinggang ramping Laura. “Kamu cantik sekali malam ini. Bokongmu… payudaramu… aku nggak tahan.” Ia mencium leher Laura dalam-dalam, lidahnya menjilat kulit putih halus itu. Laura mendesah pelan, “Ahh… Dimas…”
799Please respect copyright.PENANAzIgAWESm88
Mereka berciuman panas. Bibir Dimas menempel erat di bibir Laura, lidah mereka saling menari, saling mencicipi rasa manis lipstik yang masih menempel. Tangan Dimas turun, meremas bokong bulat besar Laura dengan penuh nafsu. Jari-jarinya merasakan kelembutan daging itu, menekan hingga Laura menggeliat.
799Please respect copyright.PENANAWc9FfxYu15
Laura perlahan berlutut di depan Dimas. Matanya memandang ke atas dengan tatapan memikat. “Biar aku yang mulai malam ini.” Dengan gerakan lembut, ia membuka resleting celana Dimas. kontol Dimas yang berukuran 12 cm sudah setengah tegang, menonjol keluar dengan ujung yang mengkilap. Laura tersenyum, lalu menjulurkan lidahnya yang pink. Ia menjilat pelan dari pangkal hingga ujung, merasakan panas dan denyut nadi di sana.
799Please respect copyright.PENANALAXUnQqNLk
“Ahh… Laura… enak sekali,” desah Dimas, tangannya memegang rambut hitam Laura.
799Please respect copyright.PENANAulx9pRtA3N
Laura membuka mulutnya lebar, memasukkan kontol Dimas ke dalam mulut hangatnya. Ia mulai mengulum dengan perlahan, lidahnya berputar di sekitar kepala kontol, menghisap lembut sambil sesekali menelan lebih dalam. Suara basah “slurp… slurp…” terdengar jelas di ruangan yang sunyi. Bau maskulin Dimas bercampur dengan aroma tubuh Laura yang manis membuat suasana semakin panas. Laura mempercepat gerakan kepalanya, mulutnya naik turun dengan ritme yang menggoda. Air liurnya menetes ke pangkal kontol, membuatnya semakin licin.
799Please respect copyright.PENANAFYxqfQBkp6
Dimas mengerang nikmat. “Sayang… mulutmu panas banget… ahh…” Ia menarik rambut Laura pelan, mendorong kontolnya lebih dalam hingga menyentuh tenggorokan. Laura tersedak kecil tapi tetap melanjutkan, matanya mulai berkaca-kaca karena sensasi penuh di mulutnya.
799Please respect copyright.PENANAvl0bGEN9u0
Setelah beberapa menit mengulum dengan penuh dedikasi, Laura bangkit berdiri. Ia mendorong Dimas hingga duduk di tepi kasur. Dengan gerakan menggoda, Laura naik ke pangkuan Dimas, mengangkat rok pendeknya. vaginanya yang sudah basah dan hangat menyentuh ujung kontol Dimas. “Aku mau masukin sendiri,” bisik Laura dengan suara serak.
799Please respect copyright.PENANAFzcaGhuwB7
Ia perlahan menurunkan tubuhnya. Kepala kontol Dimas menyelinap masuk ke dalam vagina Laura yang sempit dan basah. “Ahhh… sayang… kontolmu masuk… enak sekali…” Laura mendesah panjang. Sensasi penuh membuat tubuhnya menggigil. Ia mulai menggerakkan bokong bulatnya naik turun, menelan seluruh kontol Dimas hingga pangkal. Dinding vaginanya yang lembab dan hangat menjepit kontol Dimas dengan kuat, seolah tak mau melepaskan.
799Please respect copyright.PENANAwituvCguoi
Dimas meremas kedua payudara besar Laura yang bergoyang di depan wajahnya. “Payudaramu… besar sekali… empuk…” Jari-jarinya menekan daging lembut itu, lalu sesekali mencubit puting pink yang sudah mengeras. “Ahh! Dimas… pelan… ahh enak…” Laura berteriak kecil setiap kali putingnya dicubit. Rasa nyeri bercampur nikmat membuat vaginanya semakin banjir.
799Please respect copyright.PENANAABekSbU4nG
Gerakan Laura semakin cepat. Bokongnya naik turun dengan ritme liar, suara “plak… plak…” daging bokongnya yang bertemu paha Dimas terdengar jelas. Keringat mulai membasahi kulit mereka berdua. Bau keringat bercampur aroma gairah memenuhi ruangan. Dimas menarik tubuh Laura agar lebih dekat, memeluknya erat sambil tetap mengenjot dari bawah. Bibir mereka kembali bertemu dalam ciuman basah dan panas.
799Please respect copyright.PENANAocI6nAMASC
“Sayang… aku mau keluar… ahh…” Laura mulai gemetar. vaginanya menjepit semakin kuat. Dimas mempercepat dorongannya, kontolnya menghantam titik sensitif di dalam vagina Laura berulang kali.
799Please respect copyright.PENANAs1KImSscDO
“Aku juga… bareng ya sayang…” Dimas mengerang.
799Please respect copyright.PENANA0f2pCVi3YF
Laura menjerit nikmat saat gelombang orgasme pertama menyapu tubuhnya. “Ahhh! Sayang! Enak bangettt!!” Tubuhnya kejang, cairan orgasmenya (cairan orgasme) menyembur keluar membasahi kontol Dimas dan paha mereka. vaginanya berdenyut-denyut kuat, memijat kontol Dimas hingga pria itu tak tahan lagi. Dimas menyemburkan spermanya di dalam vagina Laura dengan desahan panjang.
799Please respect copyright.PENANAFjmpjCq98u
Mereka berdua terengah-engah, tubuh saling berpelukan. Keringat mengalir di kulit putih Laura. Laura tersenyum lemah, “Sayang… enak banget… makasih ya udah kerja keras banget demi kita.”
799Please respect copyright.PENANA3AHSzhjz0E
Dimas mencium keningnya. “Aku akan lakukan apa pun biar cepat nikahin kamu.”
799Please respect copyright.PENANAAj8qaRn76X
Laura tersenyum, tapi dalam hatinya ada sedikit rasa kasihan. Dimas bekerja terlalu keras, sering lembur, bahkan ambil kerja sampingan. Uang untuk pernikahan mereka terkumpul lambat. Laura ingin membantu, tapi bagaimana?
799Please respect copyright.PENANARIG0wfIO0u
Setelah istirahat sebentar, Dimas membalik tubuh Laura hingga berbaring telungkup. Ia mencabut pelan plug kecil yang sudah terpasang sejak awal di anal Laura. “analmu sudah siap ya sayang,” bisik Dimas sambil menuangkan pelumas dingin ke celah anal yang mengerut.
799Please respect copyright.PENANAHSn67PRAc3
Laura menggeliat. “Pelan-pelan ya… aku baru aja orgasme… masih sensitif…”
799Please respect copyright.PENANAA9QfT8zr6j
Dimas tak mendengar. Ia menekan kepala kontolnya ke lubang anal Laura yang licin. Dengan perlahan tapi pasti, kontolnya masuk ke dalam anal yang sempit. “Ahhh… analmu panas dan sempit banget… enak sekali…” Dimas mengerang.
799Please respect copyright.PENANAeD31otilXE
“Pelan… ahh… sayang… enak… tapi sensitif…” Laura menggigit bantal, bokongnya terangkat sedikit. Sensasi penuh di anal membuatnya mendesah tanpa henti. Dimas mulai menggerakkan pinggulnya, mengenjot anal Laura dengan ritme yang semakin cepat. Suara “plak… plak…” kembali terdengar, kali ini lebih basah karena pelumas.
799Please respect copyright.PENANAmvY3pYuzWM
Laura merasakan orgasme kedua mulai naik lagi meski baru saja selesai. “Ahh… aku mau lagi… sayang… lebih dalam…” Dimas meremas pinggul Laura, mendorong lebih kuat. Akhirnya ia menyemburkan sperma keduanya ke dalam anal Laura yang panas.
799Please respect copyright.PENANAMaD2ta3HXG
“Ahh… sperma kamu… anget banget di anal aku… enak sekali…” Laura mendesah puas.
799Please respect copyright.PENANAq2dTqp03j3
Mereka berdua berbaring saling berpelukan, tubuh lengket oleh keringat. Napas mereka masih terengah. Laura mengusap dada Dimas. “Kamu hebat malam ini. Aku sayang kamu.”
799Please respect copyright.PENANAUd6ht6uSPC
Dimas tersenyum. “Aku juga. Besok aku lembur lagi, tapi demi kita.”
799Please respect copyright.PENANAI143y5AXlH
Laura hanya mengangguk, tapi pikirannya melayang. Ia ingin membantu Dimas mendapatkan uang lebih cepat. Besok ia akan bertemu temannya yang seorang streamer dewasa. Mungkin ada jalan…
799Please respect copyright.PENANAj9CvXhbKHV
Malam semakin larut. Di luar jendela apartemen, lampu kota Jakarta berkelap-kelip. Laura memeluk Dimas lebih erat, tubuhnya masih berdenyut nikmat setelah dua ronde panas tadi. Tapi benih rasa penasaran dan keinginan untuk membantu sudah tertanam dalam hatinya.
799Please respect copyright.PENANAfdrR8hR0BM
799Please respect copyright.PENANA0nPNfI3BFN
799Please respect copyright.PENANAgeMnK3IiOJ


