Bab 2: Undangan Liburan dan Hadiah dari Farel
3252Please respect copyright.PENANAzj1gGHetCz
Pagi berikutnya sinar matahari menyusup lembut melalui tirai kamar tidur mewah. Rena terbangun dengan tubuh yang masih terasa berat. vaginanya terasa lengket karena sisa sperma Dani semalam, dan payudaranya yang besar masih agak tegang mengingat kenikmatan yang tidak sempat meledak. Ia menoleh ke samping. Dani sudah tidak ada di tempat tidur, hanya meninggalkan aroma parfum mahalnya yang samar. Jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi. Rena menghela napas panjang, merasakan campuran kecewa dan bosan yang sudah menjadi rutinitas akhir-akhir ini.
3252Please respect copyright.PENANAXqCrVkF9Ze
Ia bangun, berjalan ke kamar mandi sambil membiarkan camisole tipisnya melorot dari satu bahu. Di depan cermin besar, Rena melihat pantulan tubuhnya sendiri—kulit putih mulus yang kontras dengan rambut hitam panjangnya, payudara F-cup yang penuh dan berat dengan puncak puting pink yang masih sensitif, pinggang ramping, dan bokong bulat besar yang bergoyang pelan saat ia bergerak. “Kenapa harus seperti ini terus?” gumamnya pelan pada diri sendiri. Matanya coklat yang memikat terlihat sedikit redup pagi ini.
3252Please respect copyright.PENANAfYrH9VZXz5
Setelah mandi dan merias diri dengan make-up ringan yang membuat wajahnya semakin cantik, Rena turun ke lantai bawah. Dani sudah duduk di meja sarapan, membaca tablet sambil menyesap kopi hitam. Farel juga sudah ada di sana, mengenakan kemeja casual yang menonjolkan tubuh atletisnya. Rambut ikalnya masih agak basah setelah mandi, dan senyumnya langsung menyapa Rena begitu ia muncul.
3252Please respect copyright.PENANAMcn8h6Qo3l
“Pagi, Sayang,” sapa Dani tanpa mengangkat wajah dari tabletnya. “Farel sudah siap bahas proyek. Kamu masak sarapan ya.”
3252Please respect copyright.PENANAjMp2pDwEq1
Rena mengangguk, tersenyum tipis. “Pagi, Mas Farel.”
3252Please respect copyright.PENANAFSe47SAcmy
“Pagi, Bu Rena. Tidur nyenyak?” tanya Farel dengan nada sopan, tapi matanya kembali menelusuri tubuh Rena yang pagi ini mengenakan dress rumah longgar berwarna pastel. Rena merasakan tatapan itu lagi—hangat, intens, dan penuh rasa ingin tahu yang membuat perutnya sedikit bergetar.
3252Please respect copyright.PENANALSMWgmzKy1
Sarapan berlangsung tenang. Rena menyajikan nasi goreng spesial, telur mata sapi, dan buah segar. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Farel. Pria muda itu makan dengan lahap, tapi tatapannya sering kali singgah di lekuk payudara Rena yang terlihat samar di balik kain dress. Dalam hati Farel sudah membayangkan kostum renang yang ia bawa di mobil—karya buatannya sendiri dengan tali hitam tipis dan besi kecil di pusar yang bisa dikunci. Ia membayangkan bagaimana tali-tali itu akan menempel sempurna di kulit putih Rena, bagaimana payudaranya yang besar akan terdorong naik, dan bagaimana bokong bulatnya akan terlihat menggoda saat tali melingkar di sana.
3252Please respect copyright.PENANAUesL2krgTu
Setelah sarapan, Dani langsung berdiri. “Aku sama Farel ke ruang kerja dulu. Kamu santai saja.”
3252Please respect copyright.PENANAwRNQWthWGj
Rena mengangguk pasrah. Ia membersihkan meja sambil pikirannya melayang. Akhir pekan ini teman-temannya sering membicarakan pesta kolam renang di sebuah klub eksklusif di pinggiran kota. Katanya suasananya seru, musik DJ live, dan kolam renang infinity yang mewah. Rena ingin sekali pergi, tapi ia tahu Dani jarang mau ikut acara seperti itu. “Sayang,” panggil Rena lembut saat Dani dan Farel hendak naik ke lantai atas. “Akhir pekan ini ada pesta kolam renang yang sering dibicarakan teman-temanku. Boleh aku ikut? Katanya asyik banget.”
3252Please respect copyright.PENANAJDAEUtKC77
Dani berhenti di tangga, menoleh dengan wajah yang sedikit bosan. “Pesta kolam? Ah, itu lagi. Kamu pergi saja kalau mau. Aku capek, mau istirahat di rumah. Biar Farel yang nemenin kamu. Dia anak buahku yang paling bisa dipercaya. Lagian aku sudah bilang kan, urusan proyek masih banyak.”
3252Please respect copyright.PENANA4CpygKsfSR
Rena merasa dada sesak. Jawaban itu begitu egois, seperti biasa. Tidak ada usaha untuk menghabiskan waktu bersama, tidak ada antusiasme. Hanya “pergi saja sama orang lain”. Rena menunduk, suaranya pelan. “Ya sudah… terima kasih.”
3252Please respect copyright.PENANAgSJhX9jFi3
Farel yang berdiri di belakang Dani tersenyum kecil, hampir tak terlihat. Dalam hati ia bersorak. Kesempatan ini terlalu sempurna. “Saya siap nemenin Bu Rena, Pak. Aman kok, saya akan jaga baik-baik.”
3252Please respect copyright.PENANAyYKeNkJP0G
Dani mengangguk cuek dan langsung naik ke ruang kerja. Rena berdiri sendirian di ruang makan, merasakan campuran pasrah dan sedikit harapan baru. Setidaknya ia bisa keluar rumah, menikmati musik, dan mungkin… merasakan sesuatu yang berbeda.
3252Please respect copyright.PENANAynJFfadbiB
Siang berganti sore. Rena menghabiskan waktu dengan membersihkan rumah dan membaca novel ringan di teras. Saat matahari mulai condong ke barat, bel pintu berbunyi. Farel muncul di depan pintu dengan tas besar di tangan. Ia sudah berganti pakaian santai—kaos hitam ketat yang menonjolkan otot dada dan lengan atletisnya, serta celana jeans yang pas di tubuhnya.
3252Please respect copyright.PENANAEYqj0nyqqp
“Bu Rena, saya datang lebih awal. Ini… hadiah kecil dari saya untuk acara malam nanti,” kata Farel sambil menyodorkan tas itu dengan senyum menawan. Matanya berbinar penuh antusiasme.
3252Please respect copyright.PENANAjXV2J4nOcs
Rena mengerutkan alis, tapi rasa penasaran mengalahkan. “Hadiah? Untuk saya? Mas Farel tidak usah repot-repot.”
3252Please respect copyright.PENANAK9UBdoMmFS
“Tidak repot kok. Saya lihat Bu Rena punya tubuh yang… sangat cocok dengan desain ini. Silakan buka.”
3252Please respect copyright.PENANAPgRAAL6mtM
Rena mengambil tas itu dan membawanya ke sofa ruang tamu. Saat membuka ritsleting, ia melihat kain hitam mengkilap yang tipis dan elegan. Ia mengeluarkannya pelan-pelan. Itu adalah bikini—tapi bukan bikini biasa. Tali-tali hitam sangat tipis, hampir seperti benang, dirancang untuk membungkus payudara besarnya dengan sempurna. Bagian bawahnya juga minim, hanya segitiga kecil yang terhubung dengan tali yang melingkar di pinggul dan bokong. Di bagian pusar ada hiasan besi kecil berbentuk lingkaran dengan kunci mungil di tengahnya. Rena belum tahu fungsi besi itu, tapi secara keseluruhan kostum itu terlihat sangat seksi, berani, dan dirancang khusus untuk tubuhnya.
3252Please respect copyright.PENANAByjJ3hzPOA
“Wah… ini cantik sekali, Mas Farel,” kata Rena dengan pipi yang sedikit memerah. Ia merasakan kainnya lembut tapi kuat, dan ada detail-detail kecil yang membuatnya terlihat mahal. “Kamu bikin sendiri?”
3252Please respect copyright.PENANAKKuA4BBUMz
Farel mengangguk, matanya tidak lepas dari wajah Rena. “Iya, Bu. Saya suka mendesain pakaian unik. Saya pikir ini akan sangat pas di tubuh Bu Rena. Payudara dan bokong Bu Rena yang indah akan terlihat sempurna dengan tali-tali ini. Malam nanti Bu Rena pasti akan jadi pusat perhatian di pesta kolam.”
3252Please respect copyright.PENANAhRVKI8J8v1
Rena tertawa kecil, suaranya lucu dan sedikit gugup. “Mas Farel bisa saja. Ini terlalu seksi. Aku tidak biasa pakai yang begini.”
3252Please respect copyright.PENANA2YGAoJQ5xd
“Tapi Bu Rena pantas kok. Tubuh Bu Rena langsing tapi berlekuk di tempat yang tepat. Payudara besar, bokong bulat, kulit putih… semuanya pas. Saya yakin Bu Rena akan merasa percaya diri sekali memakainya.”
3252Please respect copyright.PENANAzIBdNchNrw
Kata-kata Farel yang terbuka membuat Rena merasa hangat di pipinya. Ia tidak biasa dipuji secara langsung seperti ini. Dani jarang sekali memberi pujian detail tentang tubuhnya. Rena memegang bikini itu lebih dekat, merasakan tekstur kainnya di jari. Ada getar kecil di perutnya lagi—sensasi yang mirip semalam saat Farel memandangnya di meja makan.
3252Please respect copyright.PENANAfc4BC4K4Xu
“Terima kasih ya, Mas Farel. Aku akan coba pakai nanti di klub. Semoga pas.”
3252Please respect copyright.PENANAPbgyquJGHF
Farel tersenyum lebar. “Pasti pas. Kalau ada yang kurang nyaman, bilang saja. Saya bawa cadangan juga.”
3252Please respect copyright.PENANAmvyV0FpKWT
Mereka berbincang sebentar tentang acara malam nanti. Farel menjelaskan rute ke klub, jam berapa sebaiknya berangkat, dan bahwa musik DJ-nya terkenal bagus. Rena merasa semakin bersemangat. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa ada yang benar-benar memperhatikannya.
3252Please respect copyright.PENANA0yZtQmhoLs
Sore semakin larut. Dani turun sebentar hanya untuk bilang ia akan tidur lebih awal karena capek. “Kamu pergi saja sama Farel. Pulang jangan malam-malam ya,” katanya singkat sebelum kembali ke kamar.
3252Please respect copyright.PENANAAV3zA9e68e
Rena mengangguk pasrah lagi. Keegoisan Dani semakin terasa jelas. Tapi kali ini, ia tidak terlalu kecewa. Ada Farel yang menunggu di ruang tamu, membawa hadiah yang membuat hatinya sedikit berbunga.
3252Please respect copyright.PENANAid87grzFme
Jam tujuh malam, Rena sudah siap di kamar. Ia memandang bikini hadiah Farel yang tergantung di gantungan. Besok malam ia akan memakainya di klub. Untuk sekarang, ia memilih dress hitam sederhana yang elegan untuk perjalanan. Saat turun, Farel sudah menunggu di mobil dengan senyum yang sama menawannya.
3252Please respect copyright.PENANA8N6o1BF7zP
“Siap, Bu Rena?” tanya Farel saat Rena masuk ke mobil.
3252Please respect copyright.PENANAXzm5MiT1A5
Rena mengangguk, matanya berbinar. “Siap. Terima kasih lagi untuk hadiahnya. Aku penasaran bagaimana rasanya memakai itu.”
3252Please respect copyright.PENANAHFXZTBceHz
Farel menstarter mobil, senyumnya semakin lebar di balik kemudi. “Bu Rena akan terlihat luar biasa. Dan malam itu… mungkin akan jadi malam yang tidak Bu Rena lupakan.”
3252Please respect copyright.PENANAvwNgwWbNgU
Mobil meluncur meninggalkan rumah mewah. Rena duduk di kursi penumpang, merasakan angin malam yang sejuk menyapu wajahnya. Di dalam tasnya ada bikini seksi buatan Farel. Di hatinya ada campuran rasa penasaran, gugup, dan sedikit hasrat yang mulai bangun setelah sekian lama tertidur.
3252Please respect copyright.PENANAcdalWB7ij2
Ia tidak tahu bahwa malam di klub nanti akan membuka pintu baru dalam dirinya—pintu yang akan mengubah segalanya, dari istri yang pasrah menjadi wanita yang mulai menemukan kenikmatan sejati yang selama ini ia rindukan.
3252Please respect copyright.PENANASnWqNQ8rcj
Di kursi kemudi, Farel melirik Rena sekilas. Dalam hati ia berjanji: “Aku akan buat kamu merasakan apa yang suamimu tidak pernah kasih. Dan kostum ini baru permulaan.”
3252Please respect copyright.PENANAMzeHnv25HR
Malam semakin gelap. Jalan menuju klub semakin dekat. Rena tersenyum kecil pada dirinya sendiri, tidak sadar bahwa benih kebinalan yang selama ini tersembunyi mulai tumbuh pelan di dalam dirinya.
3252Please respect copyright.PENANAzflVAzbl8h


