Bab 1: Malam yang Mengecewakan di Rumah
3619Please respect copyright.PENANA5FJvaa56vk
Malam itu udara di dalam rumah mewah di pinggiran Jakarta terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Lampu kristal di ruang makan memantulkan cahaya keemasan yang lembut, menyinari meja makan dari kayu jati yang mengkilap. Rena berdiri di dapur, tangannya lincah menyusun piring-piring berisi hidangan malam. Tubuhnya yang langsing dengan tinggi 166 sentimeter bergerak anggun di balik gaun rumah sederhana berwarna hitam yang menempel pas di kulit putih mulusnya. Payudaranya yang berukuran F-cup terasa penuh dan berat di balik kain tipis, bokongnya yang bulat besar bergoyang pelan setiap kali ia membungkuk mengambil sesuatu dari lemari bawah. Rambut hitam panjangnya tergerai sampai pinggang, sesekali ia menyibakkannya ke belakang dengan jari-jari lentik. Hidung mancung dan mata coklatnya yang memikat selalu membuat orang menoleh dua kali. Usianya baru 27 tahun, tapi sudah terasa seperti wanita dewasa yang matang, penuh pesona yang tak disadarinya sendiri.
3619Please respect copyright.PENANAOad1zG9vfr
Rena menikah dengan Dani tiga tahun lalu. Perbedaan usia mereka cukup jauh—Dani 35 tahun—tapi Rena dulu melihatnya sebagai pria yang stabil, kaya raya dari bisnis properti, dan cukup baik hati di awal-awal. Dani sering memberinya hadiah mahal, liburan singkat, dan janji-janji manis. Tapi lambat laun, Rena mulai merasakan keegoisan suaminya yang semakin terbuka. Malam-malam seperti ini semakin sering membuatnya bertanya-tanya, apakah keputusan menikah dulu benar-benar demi cinta atau sekadar kenyamanan materi.
3619Please respect copyright.PENANAHkMqBU3Gf1
Pintu depan terbuka. Suara langkah berat Dani terdengar, diikuti suara yang lebih ringan dan muda. “Sayang, aku bawa Farel menginap malam ini. Ada urusan proyek mendesak yang harus dibahas sampai larut,” kata Dani tanpa basa-basi saat masuk ke ruang makan. Tubuhnya yang sedikit berotot dengan tinggi 170 sentimeter terlihat lelah setelah seharian bekerja. Rambut hitam lurusnya agak berantakan, tapi senyumnya masih menawan seperti biasa.
3619Please respect copyright.PENANAB6LXK42c6T
Di belakang Dani, muncul Farel. Pria berusia 23 tahun itu langsung membuat Rena sedikit terkejut. Tingginya 171 sentimeter, tubuh atletis yang enak dipandang, rambut hitam ikal yang sedikit acak-acakan, dan kulit sawo matang yang sehat. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas dan senyum yang bisa membuat hati siapa saja berdegup. Farel adalah anak buah Dani yang paling dipercaya, tapi Rena baru kali ini melihatnya dari dekat di rumah mereka. Mata Farel langsung tertuju pada Rena. Hanya sepersekian detik, tapi Rena bisa merasakan tatapan itu menelusuri tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ada sesuatu yang berbeda di mata pria muda itu—bukan sekadar hormat karyawan, tapi kekaguman yang lebih dalam, hampir seperti sedang membayangkan sesuatu yang jauh lebih intim.
3619Please respect copyright.PENANA1soN1G7jHY
“Selamat malam, Bu Rena,” sapa Farel dengan suara lembut tapi penuh wibawa. “Maaf mengganggu malam Anda. Pak Dani bilang masakannya enak sekali, jadi saya tidak bisa menolak.”
3619Please respect copyright.PENANAQxVetnGlJ6
Rena tersenyum manis, meski ada sedikit rasa gugup yang aneh. “Tidak apa-apa, Mas Farel. Silakan duduk. Makan malam sudah siap.”
3619Please respect copyright.PENANArviCRfMoeH
Mereka bertiga duduk di meja makan. Aroma rendang daging yang gurih bercampur dengan sup ayam yang harum memenuhi ruangan. Rena menuangkan air ke gelas-gelas mereka. Saat ia membungkuk sedikit untuk meletakkan piring di depan Farel, payudaranya yang penuh hampir menyentuh meja. Farel menelan ludah tanpa suara. Dalam hati ia membayangkan betapa sempurna tubuh Rena untuk kostum-kostum seksi yang selama ini ia buat di waktu luang. Tali-tali tipis, besi kecil yang bisa dikunci, kain transparan yang hanya menutupi sebagian—semua itu seolah dirancang khusus untuk lekuk tubuh wanita di depannya ini. Farel merasa kontolnya di balik celana sedikit berdenyut hanya karena membayangkan Rena mengenakan ciptaannya. Tapi ia tetap tersenyum sopan, menjaga sikap sebagai anak buah yang profesional.
3619Please respect copyright.PENANAewT6dJRnJP
Dani makan dengan lahap, sesekali bercerita tentang proyek baru yang rumit. “Besok pagi kita lanjut bahas detailnya, Farel. Malam ini istirahat dulu.” Rena mendengarkan sambil sesekali tertawa kecil pada lelucon suaminya yang sebenarnya sudah sering ia dengar. Farel tertawa juga, tapi matanya sering kali melirik Rena. Setiap kali Rena mengangkat gelas dan bibirnya menyentuh pinggiran kaca, Farel membayangkan bibir itu melakukan hal lain yang jauh lebih panas.
3619Please respect copyright.PENANAHbxDRH7tea
Setelah makan malam selesai, Dani mengajak Farel ke ruang kerja di lantai atas untuk membahas beberapa dokumen. Rena membersihkan meja sambil merasa tubuhnya agak panas. Ia tidak tahu kenapa tatapan Farel tadi membuatnya sedikit gelisah—bukan tidak nyaman, tapi seperti ada getar kecil di perutnya yang lama tidak ia rasakan.
3619Please respect copyright.PENANAYrAyLrKn8a
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat Dani akhirnya masuk ke kamar utama. Rena sudah berganti pakaian tidur berupa camisole tipis berwarna krem yang menonjolkan bentuk payudaranya dan celana pendek satin yang memperlihatkan paha mulusnya. Dani mendekat dari belakang, tangannya langsung memeluk pinggang Rena. “Kamu cantik sekali malam ini,” bisiknya di telinga Rena. Napasnya hangat, bercampur aroma wine yang ia minum tadi.
3619Please respect copyright.PENANAdZWm0dKYxK
Rena memejamkan mata, berusaha menikmati sentuhan suaminya. Tangan Dani naik ke payudaranya, meremas lembut daging yang kenyal itu. Jempolnya menyentuh puncak puting pink yang langsung mengeras. Rena menggigit bibir bawahnya, merasakan getaran kecil di vaginanya yang mulai basah. “Sayang…” gumamnya pelan, suaranya sudah agak serak karena hasrat yang mulai bangun.
3619Please respect copyright.PENANA0AAtXq6koq
Dani tidak banyak bicara. Ia membalik tubuh Rena, mencium bibirnya dengan cepat dan penuh nafsu. Lidah mereka bertemu sebentar, tapi ciuman itu tidak bertahan lama. Tangan Dani sudah turun ke celana pendek Rena, menariknya ke bawah hingga Rena telanjang dari pinggang ke bawah. Rena merasakan udara malam menyapu vaginanya yang sudah agak lembab. Dani mendorongnya ke tempat tidur, membuka celananya sendiri dengan cepat. kontolnya yang berukuran 12 sentimeter sudah berdiri tegak, kepalanya mengkilap karena cairan awal yang keluar.
3619Please respect copyright.PENANAzt0TQbVt4M
Tanpa foreplay yang panjang, Dani membuka paha Rena lebar-lebar. Ia mengusap vagina Rena sebentar dengan jari, merasakan cairan orgasme yang sudah mulai keluar. “Sudah basah ya,” katanya dengan nada puas. Rena mengangguk, napasnya mulai memburu. Tapi Dani tidak menunggu lama. Ia langsung menekan kontolnya ke mulut vagina Rena, mendorong masuk dengan satu gerakan kuat hingga seluruh batangnya tenggelam.
3619Please respect copyright.PENANAezjEqLNXXJ
“Ahh…” desah Rena. Rasanya penuh, meski kontol suaminya tidak terlalu besar. Dani mulai menggenjot dengan kecepatan tinggi sejak awal. Setiap dorongan menghasilkan suara basah yang nyaring karena cairan orgasme Rena yang semakin banyak. Payudaranya bergoyang-goyang mengikuti irama, putingnya yang pink bergoyang-goyang menggoda. Rena meraih bahu Dani, kuku-kukunya menancap pelan. “Sayang… pelan dulu… aku mau merasakan lama-lama…”
3619Please respect copyright.PENANARzDXjM9teI
Tapi Dani seolah tidak mendengar. Ia terus menggenjot dengan cepat, napasnya semakin berat. Rena merasakan kenikmatan mulai menumpuk di perut bawahnya. vaginanya berdenyut-denyut, dindingnya memeluk kontol suaminya dengan erat. Ia sudah hampir mencapai puncak. “Ahh… sayang… tahan dulu… aku juga mau keluar bareng…” pintanya dengan suara manja, mata coklatnya memohon.
3619Please respect copyright.PENANAtIvQl5CPwh
Dani hanya menggeram pelan. Delapan menit berlalu sejak penetrasi pertama. Tubuhnya menegang. Dengan beberapa dorongan terakhir yang kasar, ia menyemburkan sperma panasnya langsung ke dalam vagina Rena. Rena merasakan semburan hangat itu memenuhi dirinya, tapi ia sendiri belum mencapai klimaks. Tubuhnya masih tegang menahan gelombang yang hampir meledak tapi tidak sempat.
3619Please respect copyright.PENANALcv0X2L6r7
Dani mencabut kontolnya yang sudah lembek, lalu merebahkan tubuhnya di samping Rena. “Capek banget hari ini,” gumamnya sambil menarik selimut. Dalam hitungan detik, ia sudah mendengkur pelan. Rena terbaring di sana, napasnya masih memburu. sperma Dani yang masih hangat menetes pelan dari vaginanya ke seprai. Ia merasa kosong. Payudaranya masih tegang, putingnya masih mengeras, tapi tidak ada lagi sentuhan yang bisa membantunya.
3619Please respect copyright.PENANA2jSIrQAHLj
Dengan hati yang campur aduk—kecewa, kesal, dan sedikit marah—Rena memejamkan mata. Tangannya turun pelan ke vaginanya sendiri. Jari tengahnya mengusap kristoriskecil yang sensitif itu, berputar-putar pelan. Ia mencoba membayangkan sentuhan yang lebih kasar, lebih dominan, lebih lama. Tapi kenikmatan itu tidak kunjung datang. Hanya sensasi kecil yang mengecewakan. Akhirnya ia menyerah, menarik tangannya, dan menatap langit-langit kamar yang gelap. Air mata kecil menggenang di sudut matanya, tapi ia cepat menyekanya.
3619Please respect copyright.PENANAZ3U41JX3Hr
Di kamar tamu lantai atas, Farel tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur, pikirannya masih penuh dengan bayangan tubuh Rena tadi di meja makan. Senyumnya, lekuk payudaranya, gerakan bokongnya saat berjalan. Farel merasa ada sesuatu yang terbangun di dalam dirinya. Ia tersenyum kecil di kegelapan. “Rena… kamu terlalu sempurna untuk dibuang sia-sia seperti ini,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. Malam ini baru permulaan. Ia sudah membayangkan kostum pertama yang akan ia berikan besok sore—kostum renang dengan tali besi yang bisa dikunci. Dan ia tahu, suatu saat, Rena akan mengenakannya.
3619Please respect copyright.PENANAWIl9muaTQg
Rena akhirnya tertidur dengan hati yang masih gelisah. Tubuhnya yang sempurna terbaring lemah di samping suami yang sudah terlelap. Malam yang seharusnya penuh gairah berakhir dengan kekecewaan yang dalam. Tapi di balik itu semua, ada benih sesuatu yang baru mulai tumbuh—keinginan yang lama tertahan, dan tatapan seorang pria muda yang melihatnya bukan sekadar istri bosnya.
3619Please respect copyright.PENANAQ2JiGV1TJ4


