Bab 4: Rangsangan yang Meningkat
5261Please respect copyright.PENANAA0wR3aMarL
Waktu berlalu cepat di rumah mewah itu. Sudah hampir tiga bulan Santi tinggal bersama keluarga Ahmad. Tubuhnya kini benar-benar berubah. Pinggangnya semakin ramping, bokong bulat besarnya semakin kencang dan terangkat sempurna, payudaranya yang E-cup tampak lebih padat dan montok karena rutinitas olahraga yang ketat bersama Aisyah. Kulit putihnya semakin halus dan bersinar, rambut hitam panjangnya selalu mengkilap. Mata coklatnya yang memikat semakin sering berkaca-kaca tanpa sebab, seolah tubuhnya menyimpan rahasia yang tak bisa ia pahami.
5261Please respect copyright.PENANA6MB1jYRMHI
Obat perangsang yang dicampur Ahmad ke dalam makanan dan minumannya setiap hari kini dosisnya sudah terisi secara perlahan. Efeknya tidak lagi ringan. Santi mulai merasakan gelombang panas yang datang secara tiba-tiba, hampir setiap enam jam sekali. Rasa itu seperti api kecil yang menyala di perut bagian bawah, membuat vaginanya basah dan puting pink-nya bertambah hanya karena mulainya kain baju.
5261Please respect copyright.PENANAu2IwsjhDbP
Pagi itu, Santi sedang menyapu ruang tamu. Tiba-tiba gelombang panas menyerang lagi. Ia berhenti sejenak, memegang sapu lebih erat. “Kenapa lagi…” gumamnya pelan. Vaginanya sudah licin, cairan beningnya membasahi celana dalam tipis yang ia pakai. Putingnya terasa ngilu, menggesek bra membuatnya ingin mendesah.
5261Please respect copyright.PENANAfSkemQr7p8
Ia cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan, lalu berjalan cepat menuju kamar mandinya. Pintu tidak terkunci, ia duduk di tepi bak mandi, menarik baju olahraganya ke atas. Payudaranya yang besar langsung terbebas, puting pink-nya sudah tegak sempurna. Santi meremas keduanya dengan tangan, jari-jarinya memilin puting itu pelan. “Ahh…enak sekali…” desahnya pelan.
5261Please respect copyright.PENANAr6PUAL57Ie
Tangan rendahnya turun ke bawah, menarik celana dalamnya sampai ke lutut. Vaginanya sudah banjir, bibir yang merah basah mengkilap. Ia mengusap kristoriskecilnya dengan ibu jari, gerakan melingkar cepat. Sensasi listrik langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. Dua jari masuk ke dalam vagina hangat dan licin itu, keluar masuk dengan suara basah pelan. “Menyeruput… menyeruput…”
5261Please respect copyright.PENANAnVIPyuaN91
Santi menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tak berteriak. Bayangan titit besar melintas di pikiran — bukan milik Dani, tapi sesuatu yang lebih panjang dan tebal. Gerakannya semakin pembohong. Jari-jarinya memompa vagina dengan cepat sementara tangan satunya menjepit puting pink-nya. “Aku… mau keluar… ahh!”
5261Please respect copyright.PENANAh0Oa0yhcDL
Tubuhnya menegangkan hebat. cairan orgasmenya menyembur keluar dengan deras, membasahi lantai kamar mandi. Santi gemetar selama hampir tiga puluh detik, nafasnya tersengal-sengal. Setelah reda, ia membersihkan diri dengan cepat, wajahnya masih memerah. “Ini sudah keterlaluan… kenapa tubuhku seperti ini setiap hari?”
5261Please respect copyright.PENANAWGsVadSKmQ
Siang harinya, saat sedang menyiapkan makan siang, gelombang panas datang lagi. Santi berlari ke kamar mandi tamu yang lebih dekat. Kali ini ia tak sempat duduk. Ia berdiri di depan cermin, satu kakinya diangkat ke wastafel. Jari tengahnya langsung menggosok ceri-nya dengan kasar, dua jari lain memasuk ke dalam vagina yang sudah sangat basah. “Mmm… ya… lebih cepat…” desahnya sambil melihat wajahnya sendiri yang penuh nafsu di cermin.
5261Please respect copyright.PENANAqvpGAC37cl
Orgasme kedua datang lebih cepat. Kakinya lemas, ia hampir jatuh. cairannya menetes ke lantai. Santi membersihkan semuanya dengan tisu, napasnya masih berat. Ia merasa malu, tapi juga semakin ketagihan dengan sensasi itu.
5261Please respect copyright.PENANAqdwW9xxg01
Malam berikutnya, setelah makan malam bersama Ahmad dan Malik, gelombang ketiga datang lebih kuat. Santi berbaring di tempat tidurnya, telanjang bulat. Kakinya terbuka lebar, dua tangan sibuk. Satu tangan meremas payudara bergantian, menarik-narik puting pink hingga ngilu nikmat. Tangan lain menggenggam vagina dengan tiga jari, ibu jarinya terus menggosok kristorisyang sudah membengkak. Suara basah semakin keras di kamar yang sunyi.
5261Please respect copyright.PENANAt57TrgaDvr
“Ahh… ahh… aku tidak tahan… mau keluar lagi…” erangnya. Tubuhnya melengkung, bokong bulat besarnya terangkat dari kasur. Orgasme malam ketiga datang seperti tsunami. cairannya menyembur jauh, basah dan basah. Santi menjerit pelan, tubuhnya kejang-kejang selama hampir satu menit penuh.
5261Please respect copyright.PENANAlFdTbJ6gdq
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
5261Please respect copyright.PENANAPRVHb21hio


