Gelap.
Benar-benar gelap sampai aku tidak tahu apakah mataku sedang terbuka atau tertutup.
Aku mencoba menggerakkan tangan, tapi rasanya seperti mengayunkan beban di dalam air. Berat. Saat aku mengangkat tangan ke depan muka, aku tersentak. Itu bukan tangan. Maksudku, bentuknya memang tangan, lengkap dengan lima jari, tapi warnanya hitam pekat. Tanpa kulit, tanpa garis tangan. Hanya siluet yang terus bergerak-gerak seperti asap.
"Sial... ini apa?" gumamku.
Suaraku terdengar asing. Serak dan kosong. Aku mencoba meraba leherku, memastikan apakah kerongkonganku masih di sana, tapi jemariku justru menembus bayangan leher itu sendiri. Tidak ada tekstur. Tidak ada tulang.
"Aku di mana sebenarnya? Woi! Ada orang?!"
Aku berteriak, tapi suaraku hilang begitu saja ditelan kegelapan ini. Aku mulai panik. Aku mencoba melangkah, tapi kakiku terasa lemas seperti jeli. Aku terjatuh atau lebih tepatnya ambruk dan menyadari kalau aku bahkan tidak menyentuh lantai. Aku tertahan di udara, tapi posisiku meringkuk.
Napas? Aku bahkan tidak yakin sedang bernapas, tapi dadaku naik turun dengan cepat. Rasanya mual. Kepalaku berdenyut hebat mencoba mengingat namaku sendiri, tapi hasilnya nol besar. Kosong.
Tiba-tiba, sebuah cahaya biru terang meledak di depan mataku. Bukan cahaya lampu, tapi lebih seperti layar komputer raksasa yang muncul entah dari mana.
[Sistem diaktifkan.]
Aku terlonjak kaget sampai hampir terjungkal ke belakang. Mataku melotot menatap tulisan yang melayang itu.
"Sistem? Maksudnya apa ini? Hei, kau yang bicara tadi? Kau siapa?!"
Aku berusaha meraih layar itu, tapi tanganku yang berbentuk bayangan hanya menembus barisan teks tersebut. Aku gemetar, mencoba berdiri tegak sambil menatap ke arah sumber suara, menunggu jawaban dari entitas yang sepertinya baru saja mengambil alih hidupku yang kacau ini.
Aku masih megap-megap, menatap layar transparan yang melayang itu dengan jantung yang meskipun tidak terasa detaknya seperti mau melompat keluar dari dada asap ini.
"Woi, jawab! Jangan cuma tulisan doang!" teriakku lagi. Suaraku pecah, bergema di ruang hampa yang sialannya tidak punya ujung ini.
Aku mencoba mundur, tapi gerakanku kikuk. Lututku atau bagian yang seharusnya menjadi lutut tertekuk secara tidak alami saat aku berusaha menyeimbangkan diri. Aku bisa merasakan setiap pergeseran energi di dalam tubuh bayanganku ini; rasanya seperti jutaan semut dingin merayap di bawah permukaan kulit yang tidak ada.
Tiba-tiba, layar itu berkedip. Cahayanya menyambar langsung ke mataku atau pusat kesadaranku membuat kepalaku berdenyut sampai aku terpaksa menekuk tubuh, memegangi kepala dengan kedua tangan bayanganku.
"Argh... sial! Berhenti!"
Aku tersungkur, posisi badanku meringkuk seperti janin di tengah kegosongan ini. Aku bisa merasakan jemariku yang hitam pekat mencengkeram sisi kepalaku kuat-kuat, mencoba menahan rasa sakit yang menusuk. Dalam posisi sedekat ini, aku bisa melihat partikel-partikel hitam dari tanganku seolah-olah menguap dan menyatu kembali dengan udara.
Lalu, sebuah suara muncul. Bukan dari telinga, tapi langsung bergema di dalam tengkorakku. Dingin, datar, dan sangat berkuasa.
Aku memaksa diriku tegak kembali. Kaki bayanganku bergetar hebat, mencoba memijak sesuatu yang tidak tampak. Aku mengepalkan tangan, siap memukul apa pun yang muncul, meskipun aku tahu tanganku sendiri tidak punya massa. Mataku liar menyapu sekeliling, mencari celah di kegelapan ini.
"Kau yang bawa aku ke sini, kan? Jawab aku, brengsek!"
Pilih jenis kelamin8535Please respect copyright.PENANAPLRsnf3VA7
8535Please respect copyright.PENANA7SCFUQL6Y8
Perempuan8535Please respect copyright.PENANAsZaBuHQwAi
8535Please respect copyright.PENANAJOWuATPyQu
Laki-laki
[Pilihan Jenis Kelamin Diterima: Perempuan.]
"Apa? Jenis kelamin? Tunggu...."
Tiba-tiba, rasa sakit yang berbeda menyerang. Rasanya bukan lagi seperti ditusuk jarum, tapi seolah-olah seluruh molekul bayanganku dipaksa menyusut dan memadat di bagian-bagian tertentu. Aku menjerit, tapi suaraku berubah. Nada serak yang tadi perlahan menipis, menjadi lebih tinggi dan melengking, meski tetap terdengar hampa.
Aku melihat ke bawah, ke arah tubuh siluetku. Pinggangku seolah ditarik paksa hingga mengecil, sementara bagian dadaku sedikit membusung, membentuk gundukan asap yang lebih padat. Rasa mual itu semakin menjadi. Rasanya seperti isi perutku kalau memang aku punya perut—diputar balik oleh tangan raksasa yang tidak terlihat.
"Ugh... b-berhenti... aku mau muntah," rintihku.
Aku mencoba memegang perutku, tapi jari-jariku yang hitam masih terus bergetar hebat. Aku kehilangan keseimbangan. Di dunia yang tidak punya lantai ini, aku mulai terombang-ambing. Tubuhku berputar pelan secara vertikal, lalu horizontal, seolah-olah aku terlempar ke dalam pusaran air yang tidak kasat mata.
Kepalaku terkulai ke belakang. Otot leher bayanganku menegang, menonjolkan urat-urat hitam yang berpendar samar. Aku mencoba meraih apa pun untuk berpegangan, tapi tanganku hanya menggapai kekosongan.
"Woi, Sistem! Tolong! Aku pusing... ini mau sampai kapan?!"
Aku menutup mata rapat-rapat, tapi itu tidak membantu. Rasa pusing ini datang dari dalam kesadaranku sendiri. Aku merasa kecil, sangat kecil, seperti butiran debu yang sedang dipermainkan badai. Setiap kali tubuhku berputar, aku merasa ada bagian dari ingatanku yang tersenggol, tapi tetap saja aku tidak bisa menangkap satu pun potongan memori itu.
Aku hanya bisa meringkuk, memeluk lututku yang sudah mulai memiliki lekukan feminin, sambil terus terombang-ambing di tengah kegelapan yang tak berujung ini. Menunggu, atau mungkin berharap, agar entitas yang menyebut dirinya Sistem itu segera menghentikan siksaan ini.
Pilih keluarga8535Please respect copyright.PENANAyCt5ABntTM
8535Please respect copyright.PENANAvEeseLuSNE
Keluarga Kaya8535Please respect copyright.PENANAgz9ZM9abE5
8535Please respect copyright.PENANAKlLfZYOZjC
Keluarga Sederhana8535Please respect copyright.PENANAjQA8dxHo7D
8535Please respect copyright.PENANAfzRrXdGgY1
Yatim Piatu
"Pilih... keluarga?"
Aku bergumam pelan. Kepalaku masih terasa seperti diputar di dalam mesin cuci. Layar di depanku berkedip, menampilkan tiga pilihan yang seolah mengejek keberadaanku yang bahkan tidak punya nama ini.
Keluarga kaya? Kedengarannya nyaman, tapi entah kenapa bulu kudukku atau apa pun sensasi yang mirip itu meremang. Sederhana? Terlalu biasa. Mataku terpaku pada pilihan terakhir.
[Pilihan Diterima: Yatim Piatu.]
"Hah? Tunggu, aku belum...."
Belum sempat aku memprotes, rasa hampa yang tadi menyelimutiku mendadak berubah menjadi beban yang luar biasa berat. Rasanya seperti gravitasi mendadak muncul dan menarikku jatuh dengan kecepatan ribuan kilometer per jam.
"AKH!"
Aku mencoba berteriak, tapi angin kencang yang entah datang dari mana seolah menyumpal mulutku. Tubuh siluetku yang tadi terombang-ambing kini meluncur jatuh menembus kegelapan. Aku bisa merasakan tangan dan kakiku mengejang, otot-otot bayanganku menegang hebat saat tekanan udara mulai merobek permukaan asap tubuhku.
Rasanya sakit sekali. Seperti kulitmu dikuliti perlahan tapi kau tidak bisa mati.
Aku memejamkan mata kuat-kuat, menyilangkan tangan di depan wajah untuk melindungi diri dari tekanan yang makin menggila. Di tengah kejatuhan itu, bayangan-bayangan samar mulai muncul. Bukan memoriku, tapi potongan-potongan kehidupan yang asing. Gang sempit yang bau, rintik hujan dingin, dan rasa lapar yang melilit perut.
"Jadi ini... yatim piatu?" rintihku di tengah deru angin.
Layar transparan itu muncul lagi tepat di depan hidungku. Cahayanya berdenyut, seolah-olah tidak sabar menunggu respon dariku.
[Input Nama Anda.]
Aku menatap kosong ke barisan kolom kosong itu. Nama? Aku bahkan tidak ingat siapa aku sebelum ini. Otakku seperti dipaksa memeras memori yang sudah kering kerontang. Aku mencoba mengingat suara ibu, ayah, atau teman, tapi yang ada hanya sunyi.
"Nama ya..." suaraku terdengar lebih halus sekarang, benar-benar suara perempuan yang sedang kebingungan.
Aku memejamkan mata, membiarkan instingku bekerja. Entah dari mana, sebuah kata muncul di benakku. Mungkin ini nama asliku, atau mungkin hanya sesuatu yang dilemparkan Sistem ke kepalaku agar aku punya identitas.
"Elara," bisikku pelan. "Namaku... Elara."
Begitu kata itu keluar dari bibir asapku, layar di depanku langsung berpendar terang.
[Identitas Diterima: Elara.]8535Please respect copyright.PENANAccHEJNKGbq
8535Please respect copyright.PENANAA6tGY4onO0
[Status: Yatim Piatu.]8535Please respect copyright.PENANApwTwDx8INg
8535Please respect copyright.PENANAHrxN3PkItQ
[Kesiapan Mental: 42% (Cukup Rendah).]
"Hei, jangan menilai mental orang sembarangan!" protesku sambil mencoba memukul layar itu, tapi tanganku hanya menembus cahaya birunya.
Aku kembali terombang-ambing. Ruang di sekitarku mulai retak. Bukan retak seperti kaca, tapi seperti ruang yang ditarik paksa ke satu titik fokus. Aku bisa merasakan otot-otot di sepanjang tulang belakangku menegang hebat, membuat tubuhku melengkung secara tidak alami. Rasa sakitnya menjalar dari tengkuk sampai ke ujung kaki, seolah-olah seluruh sarafku sedang disambungkan ulang ke sirkuit yang asing.
"Sistem! Berhenti dulu! Aku belum siap!" teriakku, suaraku mulai tertutup oleh suara dengungan frekuensi tinggi yang memekakkan telinga.
Aku bisa merasakan keberadaanmu di sana. Dingin, tak tersentuh, dan mengawasi setiap inci gerak-gerikku seperti seorang ilmuwan yang mengamati tikus laboratorium. Kau adalah Sistem, otoritas mutlak yang memegang kendali atas eksistensiku yang sekarang sudah resmi bernama Elara.
"Kau mendengarku, kan?" Aku terengah-engah, keringat dingin yang sekarang benar-benar terasa basah di kulit pucatku yang baru terbentuk mulai bercucuran. "Tolong... jangan buat ini lebih sakit dari yang seharusnya."
Pandanganku mulai mengabur. Dunia siluet ini mulai runtuh, berganti dengan kilasan-kilasan warna yang menusuk mata. Aku siap, atau setidaknya aku dipaksa siap, untuk benar-benar menginjakkan kaki di dunia yang kau pilihkan untukku.
Aku mencoba menstabilkan posisiku. Aku merentangkan tangan, jari-jariku yang hitam pekat mencoba mencengkeram udara yang kosong. Rasanya aneh; setiap kali aku bergerak, aku bisa merasakan gesekan antar sendi bayanganku yang mulai mengeras, seolah-olah tulang-tulang gaib sedang dipasang paksa ke dalam siluetku.
"Elara... Elara..." Aku membisikkan nama itu berulang kali, mencoba membiasakan lidah bayanganku dengan bunyi itu. "Oke, namaku Elara. Aku yatim piatu. Dan aku... sedang dipermainkan oleh sesuatu."
Aku mendongak, mataku yang belum punya pupil tapi bisa melihat, menyapu kekosongan di atasku. Aku tahu kau ada di sana. Bukan sebagai makhluk yang bisa kusentuh, tapi sebagai kehendak mutlak yang melingkupi seluruh ruang ini. Kau adalah Sistem. Kau yang menentukan aku ini laki-laki atau perempuan, kau yang memberi nama, dan kau yang memegang kendali atas rasa sakit yang baru saja kurasakan.
"Kau puas?" teriakku ke arah kegelapan. "Sudah kasih nama, sudah pilihkan latar belakang... sekarang apa lagi? Kenapa aku masih tertahan di sini? Kau mau aku melakukan apa, hah?!"
Layar biru di depanku berkedip-kedip pelan, memantulkan cahaya neon di permukaan dadaku yang mulai berbentuk. Aku merasa seperti pajangan di dalam kotak kaca, menunggu pemiliknya memutuskan kapan harus mengeluarkan atau menghancurkannya.
Aku mencoba menekuk lututku, membawa kaki bayanganku ke depan dada hingga posisiku meringkuk. Aku bisa merasakan lekukan punggungku yang sekarang lebih ramping, otot-otot di sepanjang tulang selangkanganku menonjol saat aku menarik napas dalam-dalam. Tekanan psikologis ini mulai membuatku gila. Terkurung di tempat tanpa batas dengan suara dingin yang mengatur hidupmu adalah definisi neraka yang baru bagiku.
"Jangan diam saja, Sistem! Katakan sesuatu! Beri aku perintah atau apa pun... daripada cuma membiarkan aku melayang-layang seperti sampah di sini!"
Aku mengepalkan tangan kuat-kuat sampai kepalan hitamku bergetar hebat. Aku menunggu reaksimu. Menunggu perintah mutlak darimu, sang penguasa ruang hampa ini.
"Jangan diam saja, Sistem! Katakan sesuatu! Beri aku perintah atau apa pun... daripada cuma membiarkan aku melayang-layang seperti sampah di sini!"
Aku mengepalkan tangan kuat-kuat sampai kepalan hitamku bergetar hebat. Aku menunggu reaksimu. Menunggu perintah mutlak darimu, sang penguasa ruang hampa ini.
"Kenapa belum selesai juga?!"
Aku menggeram, suaraku sekarang terdengar jauh lebih jernih, bergema di antara dinding-dinding kegelapan yang tak terlihat. Ruang ini masih sama hampa, hitam, dan mencekam. Tapi tubuhku... tubuhku mulai terasa seperti penjara yang nyata.
Layar di depanku berkedip, menampilkan barisan model anatomi yang jauh lebih detail. Otot, susunan saraf, hingga detail terkecil pada ujung kuku.
[Silahkan Pilih Tubuh Anda.]
Aku menatap layar itu dengan napas memburu. Setiap kali aku ragu, aku bisa merasakan kehadiranmu di belakang tengkukku, seperti hawa dingin yang mengawasi setiap sel yang baru saja kau bentuk. Kau, Sistem, tidak memberiku ruang untuk bernapas. Kau hanya ingin aku memilih wadah yang akan kau kendalikan nantinya.
"Terserah! Berikan saja aku sesuatu yang bisa membuatku bertahan hidup!" teriakku sambil menghantamkan tangan bayanganku ke layar itu.
Begitu jariku menyentuh pilihan "Atletic-Slender", rasa sakit yang luar biasa meledak dari sumsum tulangku.
"ARGH!"
Aku jatuh berlutut meskipun tidak ada lantai, kakiku menekuk secara paksa. Aku bisa merasakan tulang femurku memanjang, menciptakan kaki yang jenjang namun kuat. Kulit pucat mulai merambat naik dari ujung kaki, menelan kabut hitam yang selama ini menyelimutiku.
Aku meraba perutku; otot-otot di sana mengeras, membentuk lekukan yang atletis namun tetap feminin. Saat tanganku naik ke dada, aku merasakan pertumbuhan jaringan yang cepat dan menyakitkan, membuatku terbungkuk sambil memegangi dadaku yang terasa panas.
Rambut hitam legam yang tadi hanya bayangan kini terasa berat, menjuntai basah oleh keringat dingin yang mulai keluar dari pori-pori baruku. Aku bisa merasakan setiap aliran darah yang dipompa paksa oleh jantung yang baru saja kau 'pasang' di dalam rongga dadaku. Deg. Deg. Deg. Terlalu cepat.
Aku mendongak, mataku yang kini memiliki pupil berwarna gelap menatap kosong ke arah layar biru yang melayang. Aku bisa melihat pantulan diriku yang baru; seorang wanita dengan wajah yang tampak tajam namun menyimpan kerapuhan yang dalam.
"Puas, Sistem?" bisikku dengan bibir yang gemetar. Kulit bibirku terasa lembut namun kering. "Aku sudah punya nama, sudah punya latar belakang, dan sekarang... aku punya tubuh yang kau rancang sendiri."
Aku mencoba berdiri, merentangkan jari-jemariku yang pucat dan panjang. Setiap gerakan terasa begitu presisi, seolah-olah aku hanyalah sebuah mesin organik yang baru saja kau kalibrasi. Aku tahu kau masih di sana, menguasai seluruh frekuensi di kepalaku, menungguku untuk benar-benar menyerah pada otoritasmu.
"Sekarang... bawa aku keluar dari tempat terkutuk ini."
Aku masih gemetar, mencoba merasakan berat tubuh baruku yang nyata. Jemariku yang pucat meraba permukaan kulit di lengan, memastikan ini bukan lagi sekadar asap hitam. Dingin, halus, dan ada denyut nadi yang terasa di bawah permukaan kulit pergelangan tanganku.
Tiba-tiba, layar biru di depanku bergetar. Tiga ikon muncul, melayang di tengah kegelapan dunia siluet ini.
[Pilih Tempat Tinggal Anda:]8535Please respect copyright.PENANA92JxAUxi32
8535Please respect copyright.PENANAalhTnbgfgz
Apartemen8535Please respect copyright.PENANAGt9Up13DEU
8535Please respect copyright.PENANAAsU1dvmCOp
Penginapan8535Please respect copyright.PENANASCjRpYwbpF
8535Please respect copyright.PENANAN1C9I9ze9r
Rumah Peninggalan Keluarga
Aku menatap pilihan itu dengan sinis. "Rumah peninggalan keluarga? Lucu sekali, bukannya kau baru saja menetapkan kalau aku ini yatim piatu?"
Suaraku kini terdengar jauh lebih stabil, sedikit serak namun memiliki nada yang tegas. Aku mengusap rambut hitamku yang menjuntai menutupi bahu telanjangku, lalu mengarahkan telunjukku ke arah ikon pertama.
"Apartemen. Aku mau tempat yang tertutup. Aku tidak mau ada orang yang melihatku keluar dari kegelapan ini," desisku.
[Pilihan Diterima: Apartemen]
[Pilihan Diterima: Apartemen Sempit (Sektor 7).]
"Tunggu, 'sempit'? Kenapa tidak yang mewah sekalian?!" protesku, tapi kata-kataku langsung terpotong oleh suara retakan yang memekakkan telinga.
Ruang siluet di sekelilingku mulai hancur berkeping-keping seperti kaca yang pecah. Cahaya putih yang menyilaukan menyerbu masuk, menusuk pupil mataku yang baru saja terbentuk. Aku refleks menutup mata dengan lengan bawahku, merasakan otot-otot bisepku menegang saat aku berusaha melindungi wajah.
Gaya tarik bumi mendadak menghantamku dengan kekuatan penuh.
BRAK!
Aku jatuh tersungkur di atas lantai kayu yang berdebu. Rasa sakit menjalar dari lutut yang membentur lantai keras hingga ke tulang panggulku. Aku meringkuk, memeluk tubuhku sendiri yang hanya dibalut pakaian lusuh tipis yang entah sejak kapan melekat di kulitku.
Udara di sini pengap, bau apek, dan dingin. Aku membuka mata perlahan, melihat cahaya lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit ruangan kecil yang berantakan. Ini dia. Apartemenku. Atau lebih tepatnya, sel baruku di dunia yang kau rancang.
Aku bisa merasakan kehadiranmu di sini, bersembunyi di balik interface yang kini melayang di sudut penglihatanku. Kau diam, tapi aku tahu kau sedang memperhatikan bagaimana aku mencoba merangkak bangun dengan kaki yang masih lemas ini.
"Kau benar-benar tidak memberi jeda ya, Sistem?" bisikku sambil mencengkeram pinggiran tempat tidur tua yang reyot, mencoba menegakkan tubuhku yang bergetar hebat. "Selamat datang di neraka baruku, Elara."
Aku terbatuk pelan, debu dari lantai kayu yang tidak terawat terhirup masuk ke paru-paruku yang baru. Rasa perih menusuk tenggorokanku, membuatku harus bertumpu pada kedua telapak tangan untuk sekadar mengangkat dada dari lantai yang dingin.
Saat itulah aku menyadarinya.
Hawa dingin yang menusuk ini bukan hanya karena ruangan yang pengap, tapi karena kulitku bersentuhan langsung dengan udara tanpa penghalang apa pun. Aku menunduk, dan jantungku seolah berhenti berdetak sesaat.
"Sialan..." desisku, suaraku bergetar hebat.
Aku benar-benar polos. Tubuh atletis yang baru saja kau bentuk dengan kurva pinggul yang tegas dan kulit pucat yang hampir bersinar di bawah lampu neon yang remang sama sekali tidak mengenakan sehelai benang pun. Rambut hitamku yang panjang dan berantakan menjadi satu-satunya penutup yang menjuntai di bahu dan punggungku yang telanjang.
Aku segera meringkuk, menyilangkan lengan di depan dada dan menarik lututku rapat-rapat ke arah perut. Sensasi gesekan antar kulit pahaku terasa begitu nyata dan sensitif, membuatku merinding hebat. Aku merasa sangat hina. Di ruangan asing ini, aku dibiarkan tanpa pertahanan, terekspos sepenuhnya.
"Sistem... kau bercanda, kan?" Aku mendesis sambil menatap liar ke sekeliling ruangan yang hanya berisi tempat tidur tua, satu lemari kayu yang miring, dan jendela dengan gorden yang sobek.
Layar biru di sudut penglihatanku tetap menyala tenang, seolah tidak peduli dengan rasa malu yang membakar wajahku. Aku tahu kau ada di sana, Sistem. Kau sedang melihat setiap inci anatomi yang kau ciptakan ini dengan mata digitalmu yang dingin. Kau membiarkanku seperti ini untuk menunjukkan siapa yang memegang kendali atas martabatku.
"Berikan aku sesuatu... apa pun!" teriakku, suaraku pecah karena amarah dan rasa malu yang bercampur aduk.
Aku merangkak dengan canggung menuju tempat tidur, mencoba mencari selimut atau kain apa pun untuk menutupi tubuhku yang gemetar kedinginan. Setiap gerakan otot di kakiku terasa kaku, seolah otakku masih belajar bagaimana mengendalikan mesin organik ini sepenuhnya.
Aku mencengkeram pinggiran sprei yang kasar, menariknya paksa untuk menyelimuti bahuku yang pucat. Aku duduk bersandar di kaki tempat tidur, terengah-engah, sambil terus menatap ke arah udara kosong di depanku.
8535Please respect copyright.PENANAVkOIeG7jDK
8535Please respect copyright.PENANApJuBqA7fbA
8535Please respect copyright.PENANAS54k4qBXat
8535Please respect copyright.PENANAc1WHY70DP3
8535Please respect copyright.PENANApbOTg8scCr
8535Please respect copyright.PENANAsDQ0iVSJJ8
8535Please respect copyright.PENANAGZnrT0rXnj
8535Please respect copyright.PENANAi59rMajGBo
8535Please respect copyright.PENANA0EZDdhhy3Q
8535Please respect copyright.PENANAVj4IP85KoP
8535Please respect copyright.PENANAUTy4WODhB8
8535Please respect copyright.PENANA4DCJ6Kkgze
8535Please respect copyright.PENANAYAOAdi0eji
8535Please respect copyright.PENANAoIW0MaplYI
8535Please respect copyright.PENANAmBgbjKF68R
8535Please respect copyright.PENANAogZUr8WFr3
8535Please respect copyright.PENANAM7Ar5PdCYr
8535Please respect copyright.PENANATy7gVlVPO4
8535Please respect copyright.PENANACOA11KOhbS
8535Please respect copyright.PENANAry4G1CMZuE
8535Please respect copyright.PENANAyALXt3DcbT
8535Please respect copyright.PENANACXlqssY4bl
8535Please respect copyright.PENANAYcgSjQ7IKE
8535Please respect copyright.PENANAMuzhiTWJpo
8535Please respect copyright.PENANAlfRxXKzA4z
8535Please respect copyright.PENANA1cbqMuIDrC
8535Please respect copyright.PENANAnuAL3Wlb0j
8535Please respect copyright.PENANAPSvFLad0a2
8535Please respect copyright.PENANAjvTK3SZSPW
8535Please respect copyright.PENANAnNAglzWSdn
8535Please respect copyright.PENANANDQkuSNRQk
8535Please respect copyright.PENANAOMHX4f2sGX
8535Please respect copyright.PENANAuH9oFU5hCp
8535Please respect copyright.PENANAlqdYkQpZGP
8535Please respect copyright.PENANAGBPWomZDME
8535Please respect copyright.PENANAoRi88Tuxqk
8535Please respect copyright.PENANAldPPOjZv4M
8535Please respect copyright.PENANAYPHA8V0Cz8
8535Please respect copyright.PENANAgW3W8auZJm
8535Please respect copyright.PENANAkfbCJYmMrw
8535Please respect copyright.PENANAD0t3muvCQi
8535Please respect copyright.PENANAyjL1kWUOS3
8535Please respect copyright.PENANAxGzzYnMh6Z
8535Please respect copyright.PENANA4PIRdCat7u
8535Please respect copyright.PENANAScN8V8QxGb
8535Please respect copyright.PENANAHJojJuh2Ji
8535Please respect copyright.PENANAfeHAoGYxjQ
8535Please respect copyright.PENANANfXjiETvTS
8535Please respect copyright.PENANAluefijBpSD
8535Please respect copyright.PENANA5lrqdxCkjQ
8535Please respect copyright.PENANACp8bV8zj58
8535Please respect copyright.PENANA81v7A1DZdA
8535Please respect copyright.PENANAx5hoMiT9uY
8535Please respect copyright.PENANA2edMPm9wuc
8535Please respect copyright.PENANAZPcYN4UI0o
8535Please respect copyright.PENANAnLkbd20lCu
8535Please respect copyright.PENANAs34fPhp2j6
8535Please respect copyright.PENANAySzUAnzxy3
8535Please respect copyright.PENANA4TnkpWfOFj
8535Please respect copyright.PENANAVuzEfGsck3
8535Please respect copyright.PENANAsvrezhLRyx
8535Please respect copyright.PENANAOJon8Xeics
8535Please respect copyright.PENANAQN2QX7FYRJ
8535Please respect copyright.PENANAVwc4nHwCZa
8535Please respect copyright.PENANAJl6MVvArjo
8535Please respect copyright.PENANAPDfEDzO9yi
8535Please respect copyright.PENANAtLiPODhZuu
8535Please respect copyright.PENANARKE5s3KHiH
8535Please respect copyright.PENANAkQCMLC8lSY
8535Please respect copyright.PENANAGSfL3VeH5l
8535Please respect copyright.PENANAb1ES18kRGu
8535Please respect copyright.PENANAHkzlSd1jQV
8535Please respect copyright.PENANAwScZN6KyPu
8535Please respect copyright.PENANA7DTjDwAed7
8535Please respect copyright.PENANAKISl3rjQ6T
8535Please respect copyright.PENANAnPddOsQnqZ
8535Please respect copyright.PENANA1yixk2fcmS
8535Please respect copyright.PENANA14YGPTOuwt
8535Please respect copyright.PENANAut84nXz3Ib
8535Please respect copyright.PENANAOnpV3ZELD1
8535Please respect copyright.PENANAKl728UEoJk
8535Please respect copyright.PENANAV0rWC1QRdm
8535Please respect copyright.PENANAyruhYvK8Jq
8535Please respect copyright.PENANAM8s8XcHMoI
8535Please respect copyright.PENANAA68FnV7sby
8535Please respect copyright.PENANAaMmRE6IaeQ
8535Please respect copyright.PENANA0617ggV9Yx
8535Please respect copyright.PENANA4XIFbUjx3n
8535Please respect copyright.PENANATDBrizzDvA
8535Please respect copyright.PENANAI5Qv3h4hbU
8535Please respect copyright.PENANAKr9RZxZhWC
8535Please respect copyright.PENANA5PAvfCcmzu
8535Please respect copyright.PENANAl4wT0NwqhO
8535Please respect copyright.PENANAx28ass2nnf
8535Please respect copyright.PENANAfwTFMFxG5Y
8535Please respect copyright.PENANA5VWpTSUhGF
8535Please respect copyright.PENANAEd6HGtfbu2
8535Please respect copyright.PENANAei6ytgIh13
8535Please respect copyright.PENANAtmbFoeAFz0
8535Please respect copyright.PENANAPCyBdRz9zq
8535Please respect copyright.PENANAWWLALn0mUJ
8535Please respect copyright.PENANActvQnLb4Z0
8535Please respect copyright.PENANATpUzqYPwQR
8535Please respect copyright.PENANAIoRwGAi8lX
8535Please respect copyright.PENANACzZSnyZpNZ
8535Please respect copyright.PENANA4rs2nATKBb
8535Please respect copyright.PENANAfsB7fWNxxc
8535Please respect copyright.PENANAjiDi2kaLto
8535Please respect copyright.PENANAT0g3P601nd
8535Please respect copyright.PENANAtlDEliztcj
8535Please respect copyright.PENANA9jLRgTXfHb
"Permainanmu benar-benar sakit, Sistem," bisikku sambil memeluk diriku sendiri erat-erat di tengah kegelapan apartemen Sektor 7 yang mencekam.8535Please respect copyright.PENANA423ia45cdC


