Bab 4 : Siksaan sepanjang pagi di kantor
3426Please respect copyright.PENANA9BSwDraorP
Ruangan kerja Ririn terasa semakin sempit dan panas meski AC kantor menyala maksimal. Jam tayang pukul 09.15, tapi bagi Ririn setiap menitnya terasa seperti satu jam penuh mendengarkan manis yang tak berujung. Ia duduk di kursi ergonomis di belakang meja kayu mahal, rok pensil hitam ketat menempel di paha putihnya yang halus. Di bawah rok itu, memek dan analnya sudah penuh sesak oleh dua dildo 18 cm yang tebal, kunci rapat dengan cincin logam dingin yang hanya Dimas yang bisa membuka.
3426Please respect copyright.PENANAj9ybVr2XTk
Getaran masih berada di level setelah pesan terakhir Dimas. Bzzz… bzzz… denyutan konstan itu menyebar dari anal ke memek, membuat dinding dalam kedua lubangnya berdenyut tanpa henti. Obat perangsang yang diminumnya pagi tadi sudah bekerja penuh; darahnya terasa mendidih, ceri-nya bengkak dan berdenyut nyeri karena ingin disentuh, sementara cairan orgasme alaminya terus mengalir pelan, membasahi pangkal memek hingga roknya terasa lembab di bagian dalam.
3426Please respect copyright.PENANA8yoyghL9Tx
Ririn mencoba fokus pada layar laptop. Jari-jarinya mengetik laporan bulanan, tapi setiap huruf yang diketik disertai gelombang kecil kenikmatan yang membuat lututnya saling menekan. “Ah… sial…” gumamnya pelan dengan nada pemarah yang sudah mulai pecah. Matanya berwarna coklat yang biasanya memikat kini berkaca-kaca, pipinya merah muda karena panas yang menjalar dari perut ke dada.
3426Please respect copyright.PENANA2LBVAq5yeK
Tiba-tiba ponsel di meja bergetar. Pesan dari Dimas: “Naik ke level 3. Jangan desah keras.”
3426Please respect copyright.PENANAKaH6dSnlDj
Jantung Ririn berdegup kencang. Sebelum sempat memprotes, getaran melonjak. BZZZZ… BZZZZ… getaran lebih kuat dan cepat membuat dildo di anal berputar perlahan di dalam lubang belakangnya yang sensitif. Dildo memek ikut bergetar hebat, urat-urat teksturnya menggosok dinding memek Ririn dengan sempurna.
3426Please respect copyright.PENANArJe2s0b5yI
“Ngghhh !!” Ririn buru-buru menutup mulut dengan telapak tangan. Tubuhnya melengkung di kursi, bokong bulat besarnya bergeser tanpa sadar, membuat penis buatan semakin dalam. Sensasi penuh dan getaran itu seperti ribuan lidah kecil yang menjilat dari dalam. cairan orgasmenya semakin banyak, menetes pelan ke celana dalam tipis hingga ia bisa mencium bau birahinya sendiri yang manis dan pekat.
3426Please respect copyright.PENANA7DhkD3cIFK
Ia mencoba bernapas dalam-dalam, dada naik-turun dengan cepat sehingga payudara F cup-nya menekan kemeja putih ketat. puting pinknya sudah menekan kain bra, terasa nyeri dan panas. “Dimas… kamu benar-benar mau aku gila di sini…” bisiknya dalam hati.
3426Please respect copyright.PENANARc16SEz6mv
Sepuluh menit kemudian, pintu ruangan diketuk. Sekretaris masuk membawa dokumen peta. “Mbak Ririn, ini laporan dari divisi marketing yang diminta Pak Dimas.”
3426Please respect copyright.PENANAgFIhzb6r9w
Ririn mengangkat wajah, berusaha tersenyum profesional. “Terima kasih…letakkan saja di sini.” Suaranya agak gemetar. Saat sekretaris meletakkan peta, getaran tiba-tiba naik lagi ke level 4 sesuai pesan baru dari Dimas. Ririn mencengkeram tepi meja kuat-kuat, kuku jarinya memutih.
3426Please respect copyright.PENANAY5sdvZk0kK
Di dalam tubuhnya, dildo anal bergetar ganas, kristalin dinding analnya yang sudah sensitif maksimal. memeknya berdenyut hebat, memijat dildo dengan kontraksi kecil yang tak terkendali. Ia merasa berada tepat di ambang orgasme—gelombang panas naik ke perut, ke dada, ke kepala—tapi obat pengunci membuat puncak itu tertahan, hanya membuat pemancaran semakin tak terganggu.
3426Please respect copyright.PENANAcaOzDsmPgU
“Apa ada yang lain, Mbak?” tanya sekretaris.
3426Please respect copyright.PENANAaNGfdpJn5d
Ririn menggeleng cepat, menggigit bibir bawah hingga hampir berdarah. “Tidak… terima kasih…” Begitu pintu tertutup, ia langsung menunduk, napas tersengal. “Aaaah… aku tidak tahan lagi… ceriku mau meledak…”
3426Please respect copyright.PENANA8teRWbV4FR
Ia mengirim pesan ke Dimas dengan tangan gemetar: “Level terlalu tinggi… aku sudah basah sekali… tolong turunkan… aku mohon…”
3426Please respect copyright.PENANAwuvkKioUX0
Balasan cepat datang: “Turun ke level 2. Tapi kamu harus kirim foto memekmu sekarang juga. Buka rok sedikit dan foto.”
3426Please respect copyright.PENANAvIl8jJxJms
Ririn melirik pintu ruangan yang terkunci. Dengan cepat ia berdiri, menarik rok pensil ke atas hingga pinggang. Celana dalam tipisnya sudah basah kuyup, pangkal penis memek mengkilap oleh cairan orgasme yang berlimpah. Ia memotret dengan ponsel, mengirimkan gambar close-up memeknya yang menganga di sekitar dildo hitam tebal.
3426Please respect copyright.PENANAEbQaj77ykS
Pesan Dimas: “Bagus.memekmu cantik sekali saat basah begini.Naik lagi ke level 3.”
3426Please respect copyright.PENANA5L4NgJa0Oi
Dapatkan kembali naik. Ririn hampir menjerit, buru-buru duduk dan menekan paha rapat-rapat. Sensasinya semakin gila. Setiap detik terasa seperti Dimas sendiri yang sedang mengenjotnya dari dalam. Ia membayangkan titit besar Dimas menggantikan dildo, membayangkan suara “plak plak” yang akan terdengar kalau pria itu ada di sini sekarang.
3426Please respect copyright.PENANA9ByZhOgVam
Jam 11.00, ia harus menghadiri rapat kecil dengan tim sales. Ririn berjalan ke ruang rapat dengan langkah pelan dan hati-hati. Setiap ayunan kaki membuat dildo bergeser, getaran naik-turun mengikuti perintah Dimas melalui remote. Di dalam lift yang sempit, ia berdua dengan seorang karyawan laki-laki. Getaran melonjak ke level 4 tepat saat pintu lift tertutup.
3426Please respect copyright.PENANA6YmPbv7Y7U
“Ngghh…” Ririn menahan desahan di tenggorokan, tangannya memegang pegangan lift yang kuat-kuat. Pria itu meliriknya sekilas, “Anda baik-baik saja, Mbak?”
3426Please respect copyright.PENANASMAhcUWJ22
“Ya… hanya… agak pusing…” jawab Ririn dengan suara parau. Di dalam tubuhnya, anal dan memeknya bergetar hebat. cairan orgasme yang terus mengalir, membuat celana dalamnya semakin basah. Ia merasa malu luar biasa—malu karena sedang basah di tempat umum, malu karena menikmati penurunan ini, tapi juga semakin terangsang karena rasa malu itu sendiri.
3426Please respect copyright.PENANAnRIkRRY0jM
Di ruang rapat, ia duduk di ujung meja. Presentasi berjalan, tapi Ririn hampir tidak mendengar apa pun. Getaran naik ke level tertinggi yang diizinkan di siang hari. BZZZZZZ!!! Tubuhnya menegang, pinggulnya bergeser pelan di kursi. Ia merasakan penis buatan di anal menekan titik sensitif di dalam, sementara penis buatan memek menggosok kristorisdari dalam dengan setiap getaran.
3426Please respect copyright.PENANACi3NZkEzr5
Keringat menetes di atasnya, mengalir masuk ke bagian payudara. puting pinknya begitu keras sehingga terasa nyeri. Ia mencoba mencatat, tapi tulisannya berantakan. Rekan di sebelahnya bertanya, “Mbak Ririn, Anda setuju dengan target bulan ini?”
3426Please respect copyright.PENANAXPoTCzxtU2
Ririn menarik napas dalam, berusaha menjaga nada suara. “Saya… setuju… tinggal kita optimalkan…” Suaranya hampir pecah di akhir kalimat. Di bawah meja, tangan mengepal roknya kuat-kuat. Gelombang orgasme yang ditahan sudah begitu dekat, begitu kuat, namun tetap terkunci. Siksaan itu membuat air mata menggenang di matanya.
3426Please respect copyright.PENANAufjotGh2UA
Sepanjang rapat, Dimas terus bermain. Pesan demi pesan: “Naik”, “Turun sedikit”, “Bayangkan tititku yang menggantikan dildo memekmu”. Ririn merasa seperti boneka yang dikendalikan sepenuhnya. Bagian dirinya yang pemarah ingin berteriak dan melempar jarak jauh itu ke muka Dimas, tapi bagian yang semakin kuat—sisi yang suka didominasi—mulai menikmati setiap detiknya. Ia merasa hidup, merasa diinginkan, merasa benar-benar milik Dimas.
3426Please respect copyright.PENANA3BFUNn9NNs
Jam 11.45, rapat selesai. Ririn berjalan kembali ke ruangannya dengan langkah goyah. Bokong bulat besarnya bergoyang pelan, setiap langkah membuat penis bergetar dan getaran terasa lebih dalam. Ia masuk ke ruangan, mengunci pintu, lalu langsung bersandar di dinding.
3426Please respect copyright.PENANA9vxEuFAHhr
“Aku… tidak tahan lagi…” bisiknya dengan suara gemetar. Tangannya turun ke bawah rok, tapi dia ingat larangan Dimas. Ia tidak boleh menyentuh. Hanya boleh menahannya.
3426Please respect copyright.PENANAm2SK3YUbno
Ia mengirim pesan terakhir sebelum makan siang: “Dimas… aku sudah menangis di sini… memek dan analku sakit karena ingin keluar… tolong… aku mohon izinkan aku orgasme… aku akan melakukan apa saja…”
3426Please respect copyright.PENANArUvNjkIS55
Balasan Dimas datang disertai emoji api: "Datang ke ruanganku sekarang. Makan siang kita akan sangat spesial. Tapi kamu masih harus menahan sampai aku bilang boleh. Kalau kamu keluar tanpa izin, malam ini hukumannya akan membuat menangis kenikmatan sepanjang malam."
3426Please respect copyright.PENANAidRlCcaISP
Ririn memejamkan mata, air mata menetes di pipinya. Tubuhnya gemetar hebat, memeknya berdenyut nyeri, analnya penuh dan panas. Emosinya campur aduk—marah, malu, kecewa, tapi di atas semua itu ada hasrat yang sudah habis akal sehatnya.
3426Please respect copyright.PENANAcFW2k6or0l
Ia bangkit, merapikan rok dan rambut hitam panjangnya yang sedikit acak-acakan. Dengan langkah goyah tapi penuh tekad, ia berjalan menuju ruangan Dimas. Setiap langkah terasa seperti langkah menuju surga sekaligus neraka kenikmatan.
3426Please respect copyright.PENANAHVo2C2z6g8
Dan dia tahu, di balik pintu ruangan bosnya itu, membayangkan pagi yang panjang ini akan berubah menjadi ledakan yang mungkin membuatnya tidak bisa berjalan lurus lagi.
3426Please respect copyright.PENANAWfQiU0KZWn
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
3426Please respect copyright.PENANAKhjvL6WikR
3426Please respect copyright.PENANAtgYHhrqYUx


