Bab 3 : Pagi pertama Ririn bekerja di perusahaan Dimas
2992Please respect copyright.PENANAdDjcTXaxXl
Pagi berikutnya, sinar matahari Jakarta menyusup lembut melalui jendela kaca apartemen penthouse. Ririn terbangun dengan tubuh masih lemas dari sisa orgasme hebat kemarin siang. memeknya terasa nyeri tapi penuh, analnya masih tersumbat dildo 18 cm yang sudah menjadi bagian dari dirinya. Kulit putihnya berkilau karena keringat tipis semalaman, payudara F cup-nya naik-turun pelan, puting pinknya masih sedikit merah bekas cubitan Dimas.
2992Please respect copyright.PENANA7MnhcIvXuy
Ia bangkit pelan, bokong bulat besarnya bergeser di seprai sutra. Getaran rendah dari dildo anal masih berdenyut pelan di dalamnya, membuat setiap gerakan terasa seperti godaan kecil yang tak pernah berhenti. “Dasar bos gila,” gumamnya dengan nada pemarah yang sudah mulai bercampur desir hasrat.
2992Please respect copyright.PENANA6hpmc0wruH
Dimas sudah rapi di meja makan, mengenakan kemeja hitam yang membuatnya terlihat semakin berwibawa. Senyum menawan itu muncul saat melihat Ririn keluar dari kamar hanya dengan jubah mandi tipis.
2992Please respect copyright.PENANAsSVoNrIW0d
“Pagi, sugar baby. Hari ini kamu resmi mulai kerja di perusahaanku. Dan tentu saja… dengan persiapan khusus.”
2992Please respect copyright.PENANArPg0YCR3Ys
Ririn mendekat, matanya menyipit. “Persiapan khusus apa lagi? Kemarin saja aku hampir gila di kantor. memek dan analku masih penuh dari kemarin malam.”
2992Please respect copyright.PENANAkEojVgzMtR
Dimas berdiri, tangannya meraih tali jubah Ririn dan membukanya perlahan. Jubah jatuh ke lantai, memperlihatkan tubuh telanjang yang sempurna. Ia mengambil remote dari saku, menekan tombol. Getaran dildo anal naik sedikit, membuat Ririn menggigit bibir dan mengeluarkan desahan kecil. “Nggh…”
2992Please respect copyright.PENANA3n63cpyX6D
“Obat dulu,” kata Dimas sambil mengambil dua pil dari botol kecil. Satu pil perangsang dosis tinggi berwarna merah, satu pil pengunci orgasme berwarna biru. “Minum. Ini akan membuatmu basah sepanjang hari dan tidak bisa keluar sampai aku izinkan.”
2992Please respect copyright.PENANAdvvtyvTHTX
Ririn ragu sebentar, tapi tangan Dimas yang tegas mendorong pil ke mulutnya. Ia menelan dengan air putih, merasakan panas mulai menyebar di perutnya hanya dalam hitungan menit. memeknya langsung terasa lebih sensitif, cairan orgasme alaminya mulai mengalir pelan di sekitar pangkal dildo memek yang masih terpasang.
2992Please respect copyright.PENANAyVvRdoMidY
Dimas membawa Ririn ke kamar mandi. Ia memerintahkan gadis itu berlutut di atas toilet dengan posisi doggy. “Hari ini double dildo yang lebih besar. 18 cm penuh untuk memek dan anal. Pengunci baru yang hanya bisa aku buka.”
2992Please respect copyright.PENANA3rTkLtN4nJ
Dildo baru sudah disiapkan—hitam mengkilap, lebih tebal dari kemarin, dengan permukaan bertekstur urat halus yang akan terasa setiap getaran. Dimas mengoleskan pelumas dingin yang banyak.
2992Please respect copyright.PENANAGaeFiWAFSV
Pertama dildo anal. Ririn sudah terbiasa, tapi tetap mendesah panjang ketika benda besar itu mendorong masuk ke lubang belakangnya yang sempit. “Aaaahh… pelan… meregang sekali…” Dinding analnya terasa penuh maksimal, tekanan itu membuat perutnya sedikit kembung. Dimas mendorong hingga habis, lalu mengklik pengunci logam rapat di pangkalnya.
2992Please respect copyright.PENANAdY4dvaBcML
Kemudian dildo memek. Ririn sudah basah sekali karena obat. Dildo menyusup masuk dengan suara basah “schluup…”, meregangkan dinding memeknya yang hangat dan berdenyut. Ririn mencengkeram pinggir toilet, bokongnya bergoyang pelan tanpa sadar. “Ngghhh… penuh… aku merasa sangat penuh…”
2992Please respect copyright.PENANAM8pIrujzRW
Sekarang kedua lubangnya tersumbat sempurna. Dimas mengunci semuanya dengan kunci khusus, lalu menekan remote. Getaran rendah langsung hidup—bzzz… bzzz… getaran halus tapi konstan menyebar dari anal ke memek, membuat seluruh panggul Ririn bergetar lembut.
2992Please respect copyright.PENANAZH3UXnPE5h
Ririn berdiri goyah, kakinya gemetar. Panas obat perangsang sudah naik ke dada, membuat puting pinknya mengeras dan payudaranya terasa berat. “Dimas… ini terlalu… aku harus meeting pagi…”
2992Please respect copyright.PENANApL6cTcNq50
“Bagus. Justru itu yang aku mau,” jawab Dimas sambil membantu Ririn mengenakan pakaian kerja. Kemeja putih ketat yang menonjolkan belahan payudara, rok pensil hitam pendek, dan sepatu hak tinggi. Setiap kali Ririn membungkuk atau melangkah, dildo bergeser di dalam memek dan analnya, getaran terasa semakin dalam.
2992Please respect copyright.PENANAdcEz5PC7Wj
Di mobil menuju kantor, getaran naik ke level sedang. BZZZ… BZZZ… Ririn mencengkeram kursi, napasnya tersengal. “Ahh… turunkan… aku sudah basah sekali… memekku berdenyut ingin keluar…”
2992Please respect copyright.PENANAqPfhcWtaAc
Dimas hanya tersenyum, tangannya menyusup ke bawah rok Ririn dan menyentuh pangkal dildo memek yang basah oleh cairan orgasme. “Tahan. Kamu harus belajar. Di kantor nanti, setiap kali aku kirim pesan ‘naik’, getaran akan naik. Kalau ‘turun’, akan turun. Kamu dilarang menyentuh dirimu sendiri.”
2992Please respect copyright.PENANAKotaNaNYjQ
Ririn menatap Dimas dengan mata berkaca-kaca, campuran marah dan hasrat yang membara. “Kamu suka sekali melihat aku menderita seperti ini ya?”
2992Please respect copyright.PENANAzJYF4AGntG
“Bukan menderita,” bisik Dimas di telinga Ririn. “Ini kenikmatan yang aku berikan. Dan aku tahu kamu mulai suka.”
2992Please respect copyright.PENANAhq8WhGrJNO
Sesampai di kantor, Ririn berjalan ke meja kerjanya dengan langkah hati-hati. Setiap ayunan kaki membuat dildo bergeser, getaran rendah terus bekerja. Rekan kerja menyapa “Selamat pagi, Mbak Ririn”, tapi ia hanya bisa tersenyum kaku sambil menahan desahan di tenggorokan.
2992Please respect copyright.PENANA3BxUFjHIrZ
Di ruang kerjanya sendiri, ia duduk di kursi. Tekanan dildo di anal dan memek semakin terasa karena posisi duduk. Obat perangsang membuat ceri-nya berdenyut nyeri, cairan orgasme terus mengalir pelan. Ia mencoba fokus pada laptop, tapi pikirannya terus melayang ke sensasi di bawah roknya.
2992Please respect copyright.PENANAZeuI0Km2pq
Tiba-tiba ponsel bergetar. Pesan dari Dimas: “Naik level 2.”
2992Please respect copyright.PENANAujNQZSpKWE
Getaran langsung meningkat. BZZZZ… Ririn menutup mulut dengan tangan, tubuhnya melengkung di kursi. “Ngghhh…” desahnya pelan. memeknya berdenyut hebat di sekitar dildo, dinding dalamnya memijat benda itu tanpa henti. Ia merasa berada di ambang orgasme, tapi obat pengunci membuat gelombang itu tertahan, hanya membuatnya semakin panas dan frustrasi.
2992Please respect copyright.PENANAF9jD7VeGSo
Sepanjang pagi, Dimas sesekali mengirim pesan. Level naik-turun seperti permainan sadis. Ririn berusaha mengetik laporan, tapi tangannya gemetar. Keringat menetes di antara payudaranya yang besar. Bau hasratnya sendiri samar tercium di ruangan tertutup.
2992Please respect copyright.PENANAUynXOpYJIw
Pada jam 10, ia harus ikut meeting di ruang rapat. Duduk di antara rekan kerja, getaran tiba-tiba naik ke level 3. Ririn menggigit bibir dalam-dalam, wajahnya memerah. Ia merasa dildo di anal berputar pelan karena getaran, meregangkan dinding sensitifnya. memeknya sudah banjir, cairan orgasme menetes pelan ke celana dalam tipis.
2992Please respect copyright.PENANAfzIN2GiR47
“Mbak Ririn, pendapat Anda tentang proposal ini?” tanya salah seorang rekan.
2992Please respect copyright.PENANAeTEbN9Yfhi
Ririn menarik napas dalam, berusaha menjaga suara tetap stabil. “Saya… ah… menurut saya perlu revisi di bagian budget…” Suaranya sedikit gemetar, tapi ia berhasil. Di dalam hati ia memaki Dimas berkali-kali, tapi tubuhnya justru semakin basah karena dominasi itu.
2992Please respect copyright.PENANArMRJdF9xuh
Setiap kali ia bergeser di kursi, sensasi dildo bergeser membuatnya hampir menjerit. Ceri-nya begitu sensitif sampai angin AC saja terasa seperti jilatan. Emosinya bergolak—marah karena diperlakukan seperti mainan, tapi juga excited luar biasa karena merasa benar-benar dimiliki.
2992Please respect copyright.PENANA0Lyj9mBJN1
Menjelang jam makan siang, Ririn sudah tidak tahan lagi. memek dan analnya sakit karena terus ditahan di puncak. Ia mengirim pesan ke Dimas: “Aku mohon… aku sudah gila… memekku mau meledak… tolong izinkan…”
2992Please respect copyright.PENANAEBydXHAkCo
Balasan Dimas: “Datang ke ruanganku sekarang. Tapi ingat, kamu masih harus menahan sampai aku bilang boleh.”
2992Please respect copyright.PENANAYvDoPYNrbX
Ririn berjalan ke ruangan Dimas dengan langkah goyah, bokong bulatnya bergoyang pelan. Setiap langkah terasa seperti siksaan manis. Ia masuk, menutup pintu, lalu langsung berlutut di depan Dimas dengan mata berkaca-kaca.
2992Please respect copyright.PENANAzwPrHwutzv
“Dimas… please… aku sudah di ujung sejak pagi… obat ini membuatku gila… lepaskan aku sebentar…”
2992Please respect copyright.PENANAg9gzzo1cCA
Dimas tersenyum puas, mengangkat Ririn ke pangkuannya. Tanganannya meremas bokong bulat Ririn dengan kuat, merasakan getaran dildo anal di dalamnya. “Kamu semakin cantik saat memohon seperti ini. Tahan sebentar lagi. Makan siang sebentar lagi tiba.”
2992Please respect copyright.PENANAx5Agewd9xv
Ririn menyembunyikan wajah di leher Dimas, tubuhnya gemetar hebat. Getaran naik lagi ke level tinggi. Ia mendesah panjang di telinga Dimas, “Ngghhh… aku benci kamu… tapi aku juga mau kamu…”
2992Please respect copyright.PENANAxj3YiKfqWR
Dimas tertawa pelan, mencium leher Ririn. “Itu yang aku tunggu. Perlahan sisi binalmu mulai keluar. Siap untuk makan siang yang spesial?”
2992Please respect copyright.PENANAlCFl1xTEBj
Ririn hanya mengangguk lemah, napasnya tersengal. Tubuhnya sudah seperti bom yang siap meledak, tapi masih terkunci rapat. Ia tahu, di ruangan ini sebentar lagi Dimas akan melepaskan sebagian siksaan itu—tapi hanya untuk memberi kenikmatan yang lebih dalam lagi.
2992Please respect copyright.PENANAivrK41ETzY
Dan ia, meski masih pemarah di permukaan, mulai menyadari bahwa ia sudah tidak sabar menunggu momen itu.
2992Please respect copyright.PENANAd8PCsnAVJ1


