Bab 1 : Pengenalan Ririn sebagai sugar baby Dimas
3656Please respect copyright.PENANA0yVfEDUtFp
Ririn menatap pantulan dirinya di cermin apartemen penthouse yang luas itu. Cahaya lampu kristal di langit-langit memantul lembut di kulit putihnya yang mulus, membuatnya terlihat seperti patung hidup yang baru saja diukir dengan sempurna. Usianya baru 25 tahun, tinggi 166 sentimeter, tubuh langsing dengan pinggang kecil yang kontras tajam dengan payudara berukuran F cup yang penuh dan kencang, serta bokong bulat besar yang selalu membuat pandangan orang tertahan lebih lama. Rambut hitam panjangnya tergerai lurus hingga pinggang, hidung mancungnya memberikan kesan tegas, sementara mata coklatnya yang memikat seolah bisa menarik siapa pun ke dalam pusaran hasrat. Puting pinknya tersembunyi di balik bra sutra tipis, tapi ia tahu betul betapa sensitifnya bagian itu.
3656Please respect copyright.PENANAKJnpz4wbzc
“Masih gila ya aku,” gumamnya pelan sambil tersenyum miring. Suaranya lembut tapi ada nada pemarah yang khas. Sudah tiga bulan ia menjadi sugar baby Dimas, pria berusia 40 tahun yang kaya raya dan penuh misteri. Awalnya hanya soal uang—apartemen mewah di pusat kota Jakarta ini, mobil Mercedes hitam mengkilap di basement, uang bulanan yang cukup untuk membeli tas branded setiap minggu, perawatan spa kelas atas, dan hadiah-hadiah mahal seperti perhiasan emas serta jam tangan mewah. Semua itu membuat hidup Ririn yang dulu penuh perjuangan berubah jadi mimpi basah.
3656Please respect copyright.PENANAgbKM4gwrl8
Tapi di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang mulai menggelitik hatinya. Dimas bukan sugar daddy biasa. Senyumnya yang menawan selalu menyembunyikan sesuatu yang gelap, sesuatu yang membuat lutut Ririn lemas setiap kali ia ingat.
3656Please respect copyright.PENANAqYYYvTwzfN
Pintu apartemen terbuka dengan suara klik pelan. Dimas masuk, tubuhnya yang tinggi 170 sentimeter terlihat tegap meski sedikit berotot alami. Rambut hitam lurusnya rapi, dan senyum tipis di bibirnya langsung membuat udara di ruangan terasa lebih panas. Ia mengenakan kemeja hitam yang digulung lengan hingga siku, memperlihatkan lengan kuatnya.
3656Please respect copyright.PENANA5UFIk5LC6O
“Malam, sayang,” sapanya dengan suara dalam yang selalu berhasil membuat Ririn merinding. “Kamu semakin cantik setiap hari.”
3656Please respect copyright.PENANAhWbOJOdb1B
Ririn berbalik, tangannya bertolak pinggang. “Jangan panggil aku sayang kalau kamu cuma mau main-main malam ini. Aku capek kerja tadi.”
3656Please respect copyright.PENANAJyUofwjega
Dimas tertawa pelan, mendekat dengan langkah santai. Tangannya yang besar langsung meraih pinggang Ririn, menariknya pelan hingga tubuh mereka hampir menempel. Aroma parfum mahal Dimas bercampur dengan bau maskulin alaminya menyerbu indra penciuman Ririn. Hangat napasnya menyentuh telinga gadis itu.
3656Please respect copyright.PENANAFzoKzdXx8z
“Kamu pemarah seperti biasa. Itu yang aku suka. Tapi malam ini aku ingin kamu rileks… dan menikmati.”
3656Please respect copyright.PENANAx8ovlfMXWt
Jari Dimas menyusuri punggung Ririn yang telanjang karena dress tipis yang dipakainya. Sentuhan itu ringan, tapi sudah cukup membuat bulu roma Ririn berdiri. Ia merasa panas mulai merayap dari perut ke dada. “Kamu selalu bilang begitu, tapi akhirnya aku yang capek duluan.”
3656Please respect copyright.PENANAUoArhKqs6Q
Dimas tersenyum lebih lebar. Ia membawa Ririn ke sofa panjang di ruang tamu yang menghadap jendela kaca besar. Lampu kota Jakarta berkelap-kelip di bawah sana seperti lautan bintang. Ia duduk dan menarik Ririn ke pangkuannya sehingga gadis itu duduk menyamping, bokong bulatnya menekan paha Dimas yang keras.
3656Please respect copyright.PENANAc5Uvc6Patw
“Cerita dulu. Bagaimana hari kamu?” tanya Dimas sambil tangannya mulai mengusap paha Ririn naik-turun dengan gerakan lambat. Kulit Ririn terasa halus seperti sutra di bawah telapak tangannya yang kasar.
3656Please respect copyright.PENANAuLfJ9Sy88a
Ririn menghela napas, mencoba tetap tegas meski tubuhnya sudah mulai merespons. “Biasa saja. Meeting pagi, laporan sore. Tapi aku terus mikir… kenapa kamu mau aku kerja di perusahaan kamu mulai besok? Aku kan bukan karyawan biasa.”
3656Please respect copyright.PENANAY5lEQWmtgC
Mata Dimas menyipit nakal. “Karena aku ingin bisa melihatmu setiap saat. Di kantor, di ruanganku, di mana saja. Dan karena aku punya… keinginan khusus yang hanya bisa aku puaskan kalau kamu dekat denganku sepanjang waktu.”
3656Please respect copyright.PENANA8bqVWFJmAZ
Tangan Dimas naik lebih tinggi, menyentuh bagian dalam paha Ririn. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, merasakan getaran kecil di perut. “Keinginan khusus? Kamu selalu bilang gitu tapi belum pernah jelasin.”
3656Please respect copyright.PENANA03yoQBEPHQ
Dimas mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka hampir bersentuhan. “Malam ini aku akan tunjukkan sedikit. Pelan-pelan. Aku suka melihatmu berjuang menahan diri. Suka melihat matamu yang marah berubah jadi memohon.”
3656Please respect copyright.PENANA51cPLyswSG
Ririn merasa dadanya naik-turun lebih cepat. Payudaranya yang besar menekan lengan Dimas. “Kamu suka menyiksa cewek ya? Aku bukan mainanmu, Dimas.”
3656Please respect copyright.PENANAn3Uymzvyjh
“Tapi kamu suka, kan?” bisik Dimas tepat di telinga Ririn. Lidahnya menyentuh cuping telinga gadis itu sekilas, membuat Ririn menggelinjang. “Aku bisa rasakan tubuhmu sudah panas. memekmu pasti sudah basah sekarang.”
3656Please respect copyright.PENANADN0THI51h4
Kata-kata kasar itu membuat pipi Ririn memerah. Ia ingin marah, tapi tubuhnya mengkhianati. Tangan Dimas kini menyusup ke balik dress-nya, menyentuh celana dalam tipis yang sudah lembab. Jari telunjuknya mengusap pelan di atas kain, menemukan titik sensitif yang membuat Ririn menarik napas tajam.
3656Please respect copyright.PENANAZMwduPgBTn
“Nggh…” desah Ririn pelan. Ia mencoba menahan, tapi pinggulnya tanpa sadar bergerak maju, mencari sentuhan lebih dalam.
3656Please respect copyright.PENANA4BfJuCdNUS
Dimas tertawa rendah. “Lihat? Kamu pemarah di mulut, tapi tubuhmu jujur.” Ia menarik celana dalam Ririn ke samping, jarinya langsung menyentuh kulit halus yang sudah licin oleh cairan orgasme alami. Gerakan jarinya lambat, memutar di sekitar kristorisyang sudah mengeras, menekan pelan lalu melepaskan.
3656Please respect copyright.PENANApPeUBoGqBg
Ririn memejamkan mata, tangannya mencengkeram bahu Dimas. Bau tubuh pria itu semakin kuat di hidungnya, bercampur dengan aroma hasratnya sendiri yang mulai memenuhi udara. “Dimas… jangan main-main…”
3656Please respect copyright.PENANAoLB0PckN4x
“Aku belum mulai main-main, sayang.” Dimas menyelipkan satu jari ke dalam memek Ririn yang hangat dan sempit. Dinding dalamnya langsung memijat jari itu dengan kontraksi kecil. Ririn mendesah lebih keras, bokongnya bergoyang pelan di pangkuan Dimas.
3656Please respect copyright.PENANACBdZDljMBf
Sensasi basah dan hangat itu terasa begitu nyata. Dimas menambah satu jari lagi, menggerakkan keduanya dengan irama lambat tapi dalam, sementara ibu jarinya terus menggosok kristorisdengan tekanan pas. Suara basah kecil terdengar setiap kali jarinya keluar-masuk—schlik… schlik…
3656Please respect copyright.PENANAo7rxIkVtwi
Ririn merasa gelombang kenikmatan mulai naik. Payudaranya naik-turun cepat, puting pinknya mengeras di balik bra. Ia membuka mata dan melihat wajah Dimas yang tenang tapi matanya penuh nafsu gelap.
3656Please respect copyright.PENANA8LW5owSqiX
“Kamu suka ini, kan? Suka merasa dikendalikan pelan-pelan,” bisik Dimas sambil mempercepat gerakan jarinya sedikit. “Besok di kantor, aku akan buat kamu merasakan sesuatu yang lebih… intens.”
3656Please respect copyright.PENANAQe81IrNz08
Ririn menggeleng lemah, tapi pinggulnya justru menekan tangan Dimas lebih dalam. “Aku… ahh… bukan cewek seperti itu…”
3656Please respect copyright.PENANAEaE5IqGm9c
“Tapi kamu akan jadi,” jawab Dimas dengan nada yakin. Ia menarik jarinya keluar tiba-tiba, membuat Ririn mengeluh kecewa. Sebelum gadis itu protes, Dimas sudah membalik posisi Ririn sehingga ia berlutut di sofa, bokong bulat besarnya terangkat ke arah pria itu.
3656Please respect copyright.PENANAzg32KUkuXC
Dress Ririn diangkat hingga pinggang. Dimas menatap pemandangan itu dengan lapar—bokong putih mulus dengan celah yang sudah basah mengkilap. Ia menampar pelan satu sisi bokong, suara “plak!” yang renyah menggema di ruangan.
3656Please respect copyright.PENANA5GZjpMD3xn
“Nggh!” Ririn tersentak, sensasi panas dan nikmat menyebar dari tempat tamparan.
3656Please respect copyright.PENANABr6GJfuXHD
Dimas menunduk, lidahnya menyentuh memek Ririn dari belakang. Rasa asin-manis cairan orgasme alami Ririn memenuhi mulutnya. Ia menjilat dengan lambat, dari kristorishingga ke bawah, lalu menyedot pelan titik sensitif itu. Ririn menggigil hebat, tangannya mencengkeram bantal sofa.
3656Please respect copyright.PENANAPbVTM72no1
“Dimas… ahh… enak sekali…” desahnya tanpa sadar. Suaranya sudah berubah, dari tegas menjadi lembut dan penuh hasrat.
3656Please respect copyright.PENANAp5k8Wv3ECE
Dimas terus menjilat dengan ahli, lidahnya menari di sekitar kristoris sesekali menyelip ke dalam memek yang berkedut. Bau hasrat mereka semakin pekat. Tangan Dimas meremas bokong Ririn dengan kuat, jari-jarinya meninggalkan bekas merah samar.
3656Please respect copyright.PENANAnu9PTYb2Ti
Ririn merasa dirinya mendekati puncak. Pinggulnya bergerak sendiri, menekan wajah Dimas. “Aku mau… mau keluar…”
3656Please respect copyright.PENANA7ljyELHrIZ
Tapi Dimas berhenti tepat sebelum klimaks. Ia bangkit, membalik Ririn lagi hingga menghadapnya, dan mencium bibir gadis itu dalam-dalam. Ciuman itu penuh nafsu, lidah mereka saling menari, rasa diri Ririn masih ada di mulut Dimas.
3656Please respect copyright.PENANAeH4ZgSsodf
Ketika ciuman terlepas, Ririn bernapas tersengal. Matanya berkaca-kaca karena frustrasi kenikmatan. “Kenapa berhenti? Kamu jahat…”
3656Please respect copyright.PENANA5SfdRUA398
Dimas tersenyum menawan, tangannya mengusap pipi Ririn dengan lembut. “Karena aku ingin kamu menahan dulu. Besok pagi, sebelum ke kantor, aku akan pasang sesuatu yang akan membuatmu ingat siapa bosmu sepanjang hari. Dan kamu akan belajar menikmati siksaan itu.”
3656Please respect copyright.PENANAYLW3Cdlhfw
Ririn menatap Dimas dengan campuran marah dan hasrat yang membara. Bagian dirinya yang pemarah ingin protes keras, tapi bagian lain—yang perlahan terbangun—merasa excited. Tubuhnya masih berdenyut, memeknya basah sekali, dan ia tahu besok akan jadi awal dari sesuatu yang lebih gelap dan lebih nikmat.
3656Please respect copyright.PENANAFgEblUWm6D
Dimas menarik Ririn ke pelukannya, mencium keningnya. “Tidur yang nyenyak, sugar baby-ku. Besok adalah hari pertama kamu bekerja untukku… dengan cara yang spesial.”
3656Please respect copyright.PENANA5iLxxA3cfd
Ririn memejamkan mata, merasakan detak jantung Dimas yang tenang. Di balik kemewahan apartemen ini, di balik uang dan hadiah, ia mulai menyadari bahwa ia bukan hanya sugar baby biasa. Ia adalah mainan kesayangan Dimas—dan entah kenapa, pikiran itu membuatnya tersenyum kecil di dalam hati.
3656Please respect copyright.PENANAiirz2Ea5ZP
Malam itu, Ririn tidur dengan mimpi yang penuh bayangan tangan kuat, getaran aneh, dan desahan yang tak bisa ia tahan. Pagi besok menanti dengan janji siksaan manis yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
3656Please respect copyright.PENANAd9dAX9bCJ4


