Bab 3: Api yang Tak Kunjung Padam
4335Please respect copyright.PENANAxsoglLEESu
Amel terbaring lemas di kasur king size yang sudah berantakan, kabel putihnya basah oleh campuran cairan cairan orgasme dari vaginanya dan sperma dari Aldi. Tubuhnya yang langsing dengan kulit putih cerah berkilau karena keringat, payudaranya yang besar naik-turun dengan cepat mengikuti napas tersengal. Hijab hitamnya masih terpasang rapi di kepala, kontras tajam dengan wajahnya yang merah dan mata coklat yang penuh kepuasan sekaligus kelelahan. Dua dildo yang baru saja Aldi masukkan kembali ke vagina dan analnya masih terasa sangat penuh, berdenyut pelan dengan getaran acak yang membuatnya terus-menerus di ambang kenikmatan.
4335Please respect copyright.PENANABUFlI4svci
Aldi berdiri di samping kasur, tubuh atletisnya yang sawo matang masih telanjang, titit 19 sentimeter-nya sudah kembali setengah tegang. Senyumnya penuh kendali dan nafsu. Ia tahu Amel masih sensitif setelah orgasme berulang tadi, tapi justru itu yang ia sukai — melihat budaknya berjuang antara rasa sakit nikmat dan hasrat yang tak terputus.
4335Please respect copyright.PENANALdItuldx8E
“Kamu pikir malam ini sudah selesai?” tanya Aldi dengan suara rendah sambil meraih rantai yang menghubungkan puting pink Amel ke kristoris. Tarikan pelan membuat Amel melengkungkan punggung, desahan kecil keluar dari tepinya yang masih basah.
4335Please respect copyright.PENANAWuIhYQC81G
“Tuan… aku sudah lemas… vaginaku masih berdenyut… tolong beri aku waktu sebentar…” pinta Amel, suaranya parau dan sedikit gemetar. Emosinya campur aduk: ia merasa malu karena tubuhnya begitu mudah bereaksi, tapi juga bergairah karena Aldi selalu membuatnya merasa benar-benar dimiliki.
4335Please respect copyright.PENANA3ZyKikvBsV
Aldi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia naik ke kasur lagi, meremas bokong bulat besar Amel dengan kuat. Jari-jarinya meninggalkan bekas merah di kulit putih itu. Ia membalikkan tubuh Amel dengan mudah ke posisi misionaris, lalu mendorong tititnya yang sudah keras kembali ke vagina Amel yang masih licin dan penuh dildo. Karena dildo masih tertanam, vagina Amel terasa sangat sempit. Amel menjerit pelan saat titit Aldi mendorong penis buatan lebih dalam.
4335Please respect copyright.PENANAwKW61vagW2
“Aaahh! Tuan… terlalu penuh… aku merasa mau pecah…” desahnya, tangannya mencengkeram kuat-kuat.
4335Please respect copyright.PENANAcsM3pYWNxh
Aldi mulai mengenjot dengan gerakan lambat tapi dalam. Setiap hantaran membuat dildo di dalam vagina Amel bergeser, menekan titik-titik sensitif. Suara basah “plok… plok… plok” terdengar ritmis. Aldi menunduk, menghisap puting Amel yang sudah keras, lidahnya menari-nari di sekitar tindik. Rasa asin keringat Amel bercampur manis kulitnya membuat Aldi semakin bergairah. Ia menampar payudara Amel dengan keras — “plak!” — meninggalkan bekas merah di kulit putih yang halus.
4335Please respect copyright.PENANAa6LbgzjIgB
Amel merasa dunia berputar. Sensasi penuh di vaginanya, tarikan rantai di puting dan kristoris serta transmisi yang menyakitkan tapi nikmat membuat orgasme baru mulai naik lagi dengan cepat. Ia berusaha menahannya, tapi Aldi tahu tetap bertahan cara membacanya. Ia mempercepat irama, pinggulnya beradu keras dengan bokong Amel hingga suara “plak plak plak” memenuhi kamar.
4335Please respect copyright.PENANAPoiTQQcpDY
“Jangan tahan, budak. Baik lagi untuk Tuanmu,” bisik Aldi di telinga Amel sambil menyalinnya pelan dengan satu tangan.
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
4335Please respect copyright.PENANAX5adJ3gD9r


