Bab 3 – Rekaman yang Tak Bisa Dihapus
2986Please respect copyright.PENANAqW5yLoLApy
Kamar Aurel yang tadinya hanya diterangi cahaya biru layar laptop kini terasa lebih terang karena lampu tidur kecil di sudut ruangan yang tanpa sengaja disentuh Kevin saat ia melangkah masuk. Udara malam yang sejuk dari AC bercampur dengan aroma manis tubuh Aurel yang sedang memuncak, aroma yang kini semakin pekat karena cairan orgasmenya sendiri yang baru saja menyembur untuk kedua kalinya.
2986Please respect copyright.PENANAwUInGFh5oM
Aurel masih terbaring lemas di atas televisi yang sudah basah di beberapa titik. Rambut hitam panjangnya menempel di kening dan pipi yang memerah. Matanya yang cokelat memikat lebar terbuka, campuran antara kaget, malu, dan sisa gelombang orgasme yang belum sepenuhnya reda. Payudaranya yang besar naik-turun dengan cepat, putingnya yang berwarna merah muda masih merangsang karena rangsangan yang baru saja ia berikan sendiri. memek-nya yang merah muda masih sedikit terbuka, berkedut pelan, dengan botol parfum lonjong yang basah mengkilap masih setengah tertanam di dalamnya.
2986Please respect copyright.PENANAEsivyXAjiq
“Kevin… matikan kameranya… tolong…” suara Aurel gemetar, hampir memohon. Tangan kirinya berusaha menutup pahanya, tapi gerakannya lemah sekali. Tubuhnya masih terlalu sensitif; setiap hembusan angin AC saja membuatnya menggelinjang kecil.
2986Please respect copyright.PENANApxqVJungpU
Kevin berdiri di samping tempat tidur, ponselnya masih menyala, layar kecil menunjukkan rekaman yang sedang berlangsung. Senyumnya lebar, mata cokelatnya yang tajam penuh nafsu yang tak lagi disembunyikan. tititnya yang sudah tegang penuh menonjol jelas di balik celana pendek tipisnya.
2986Please respect copyright.PENANAPcEZqZm8Lq
"Kenapa harus dimatikan? Kamu tadi begitu cantik, Aurel. Lihat ini," Kevin sedikit memutar rekaman itu ke arah Aurel. Suara desahan Aurel sendiri terdengar jelas dari speaker ponsel: “Ahh… lebih dalam lagi…” diikuti suara basah botol parfum yang masuk-keluar.
2986Please respect copyright.PENANADTreZINYtc
Wajah Aurel semakin memerah. Ia mencoba bangkit duduk, tapi pinggulnya masih lemas. "Kamu gila… itu privasi aku! Kalau kamu berani upload atau tunjukin ke siapa pun, aku… aku bilang ke Om Tante!"
2986Please respect copyright.PENANABKE4mTuX7E
Kevin tertawa pelan, suaranya dalam dan menenangkan sekaligus mengancam. Ia duduk di tepi kasur, satu tangannya masih memegang ponsel, tangan satunya lagi terulur menyentuh paha bagian dalam Aurel yang halus dan putih. Sentuhan itu membuat Aurel tersentak, napasnya kembali tersengal.
2986Please respect copyright.PENANARpNli8OTV5
"Bilang apa? Bahwa kamu suka colmek pakai botol parfum sambil nonton porno gangbang? Aku yakin Om Tante akan sangat senang mendengarnya," sindir Kevin sambil menikung naik perlahan, mengalirkan kulit paha hingga hampir menyentuh bibir memek yang masih basah.
2986Please respect copyright.PENANAUOrY6rOsoF
Aurel menggigit bibir bawahnya dengan kuat-kuat. Mata berkaca-kaca, tapi di balik malu itu ada sesuatu yang lain—getaran aneh yang membuat memek-nya kembali berkedut pelan. “Jangan… aku malu… matikan dulu kameranya… aku janji gak akan bilang apa-apa…”
2986Please respect copyright.PENANA8oF2h4Njud
Kevin menggeleng pelan. Ia meletakkan ponselnya di meja nakas dengan posisi yang masih menangkap seluruh tempat tidur, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Aurel. Napas hangatnya menyapu pipi wanita itu. "Kamu cantik pas lagi orgasme, tahu gak? Rambut acak-acakan, mata setengah terpejam, bokong kamu yang besar itu bergoyang sendiri. Aku gak bisa berhenti nonton."
2986Please respect copyright.PENANAStCYvb8joW
Tangan Kevin kini menyentuh botol parfum yang masih berada di dalam memek Aurel. Ia memutar-mutarnya pelan, membuat Aurel mengeluarkan desahan kecil yang tak bisa ditahan. “Ahh… jangan bergerak… masih sensitif…”
2986Please respect copyright.PENANA3hrPmKCpiW
“Kalau sensitif, kenapa memek kamu malah semakin basah lagi?” bisik Kevin tepat di telinga Aurel. Jarinya menekan botol lebih dalam sedikit, lalu menariknya keluar perlahan dengan suara “plop” basah yang mengarahkan. Botol itu sekarang mengkilap penuh oleh cairan orgasme Aurel. Kevin meletakkannya di samping, lalu dua gantung langsung menggantikan posisi botol.
2986Please respect copyright.PENANAgmb5mjx6Qr
Ia memasukkan dua jari sekaligus ke dalam memek yang masih panas dan licin. Aurel menjerit kecil, punggungnya melengkung. “Kevin… ahh… pelan… jangan langsung berdoa…”
2986Please respect copyright.PENANAbrgd4DVsbk
Tapi Kevin malah menggerakkan jarinya dengan irama yang semakin cepat. Suara “squish…squish…” basah memenuhi kamar. Ibu jarinya menemukan kristorisyang membengkak, memililinnya dengan gerakan melingkar yang ahli. Aurel mencengkeram kedua tangannya, menggeleng-geleng, rambut hitamnya semakin acak-acakan.
2986Please respect copyright.PENANA7ZM6lQERKs
“Tidak… aku… mau lagi… tolong… Kevin… aku gak tahan…”
2986Please respect copyright.PENANAHPCQAzsIac
Kevin tersenyum puas. Ia menarik grafis keluarnya, membuat Aurel mengeluh kecewa. Tapi sebelum Aurel sempat protes, Kevin sudah naik ke tempat tidur, tergeletak di antara kaki Aurel yang terbuka. Ia menunduk, wajahnya tepat di depan memek yang basah mengkilap. Aroma manis dan maskulin bercampur memenuhi indra penciumannya.
2986Please respect copyright.PENANAGvdoTfXx8j
Tanpa kata, lidahnya menyentuh kristorisAurel.
2986Please respect copyright.PENANA9W2UXm1mzq
“Aaahhh!” jerit Aurel. Tubuhnya langsung mengejang. Lidah Kevin bergerak lincah, menjilat, memilin, menghisap kristorisdengan lembut tapi penuh tekanan. Dua jarinya kembali masuk ke memek, mengaduk-aduk titik sensitif di dalam sambil mulut bekerja di luar. Suara jilatan basah dan desahan Aurel yang semakin keras memenuhi ruangan.
2986Please respect copyright.PENANAwWmW250j33
Aurel merasa seluruh dunia berputar. Sensasi hangat lidah Kevin, tekanan jari-jarinya, bau tubuh pria yang begitu dekat, semuanya menyerang kelima indranya sekaligus. “Kevin… ahh… lidah kamu… enak sekali… jangan berhenti… tolong…”
2986Please respect copyright.PENANAyJ1JPGXHl5
Kevin mengangkat sedikit wajahnya, bibirnya basah oleh cairan orgasme Aurel. “Bilang lagi.Bilang kamu binal.”
2986Please respect copyright.PENANAD2nMB8cjL0
Aurel ragu sesaat, tapi gelombang kenikmatan terlalu kuat. “Aku… binal… aku binal banget… ahh… tolong buat aku keluar lagi…”
2986Please respect copyright.PENANAzuNyN3bVVO
Kevin kembali menunduk, kali ini lebih ganas. Ia menghisap kristorisAurel kuat-kuat sambil tiga jari-jari masuk sekaligus, bergerak dengan kecepatan tinggi. Aurel menjerit panjang, tubuhnya melengkung seperti busur. Orgasme malam ketiga datang lebih kuat dari sebelumnya. cairan orgasmenya menyembur deras ke mulut Kevin, yang langsung menelan sebagian sambil terus menjilat hingga Aurel ketakutan tak terkendali.
2986Please respect copyright.PENANAfRLyHT4bDG
"AAHHH…! Keluar… keluar banget… Kevin… aku mati… ahh!!"
2986Please respect copyright.PENANAGfnHySs2aG
Aurel jatuh lemas ke kasur, nafasnya tersengal-sengal, air mata mengalir di sudut matanya. Tubuhnya berkilau oleh keringat, payudaranya naik turun dengan cepat, bokong bulatnya masih sedikit bergoyang sisa kenikmatan.
2986Please respect copyright.PENANABx7EsGE5qy
Kevin bangkit, menggigit punggung tangannya. Ia berdiri di tepi kasur, melepaskan celana pendeknya secara perlahan. tititnya yang sudah sangat tegang, urat-uratnya menonjol, kepalanya membengkak mengkilap, terayun bebas tepat di depan wajah Aurel yang masih setengah sadar.
2986Please respect copyright.PENANAJyGb3HAwyu
Aurel menatap titit itu dengan mata lebar. “Kevin… itu… terlalu besar… jangan… aku takut…”
2986Please respect copyright.PENANAC2lxUZp24f
Kevin memegang tititnya sendiri, mengocoknya pelan di depan Aurel. "Tadi kamu bilang kamu binal. Sekarang buktikan. Lihat betapa basah memek kamu masih menginginkannya."
2986Please respect copyright.PENANA5PEYw04Ilo
Ia menggesekkan kepala titit yang panas ke bibir memek Aurel, naik-turun perlahan, mengeluarkan cairan orgasme Aurel ke sepanjang batangnya. Aurel bertabrakan setiap kali kepala titit menyentuh ceri-nya. Nafsu dan bercampur di matanya.
2986Please respect copyright.PENANABfb2uGF4WJ
“Pelan ya… Kevin… pelan dulu…” bisik Aurel dengan suara yang hampir tak terdengar.
2986Please respect copyright.PENANA4huq2dGeBE
Kevin mengangguk, tapi sorot matanya sudah penuh dominasi. Ia melaju dengan pelan. Hanya kepala titit yang masuk. Aurel langsung menggigit erat, tangannya menggenggam lengan Kevin. “Ahh… sakit… gede banget… pelan…”
2986Please respect copyright.PENANANYnJHsQ7jO
Kevin berhenti sejenak, memberi waktu memek Aurel menyesuaikan. Tapi begitu dia merasakan dinding di dalam yang panas itu mulai rileks, dia mengemudi lagi, sedikit demi sedikit, hingga setengah panjang kapal tenggelam.
2986Please respect copyright.PENANAKoL59RppeQ
Aurel menjerit pelan, air matanya jatuh. “Kevin… cukup… jangan semua… aku gak kuat…”
2986Please respect copyright.PENANA5W8cKXgrJ8
Tapi Kevin terus mendorong. Dengan satu gerakan mantap, seluruh 19 cm tititnya masuk hingga pangkal. Pangkal paha Kevin menempel sempurna di bokong bulat Aurel. Aurel menjerit panjang, tubuhnya menegangkan hebat. "AAHHH…! Penuh… terlalu penuh… sakit sekali…!”
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
2986Please respect copyright.PENANAOKgqOkzR8V


