Setelah tiga jam, mereka tiba di sebuah lembah tersembunyi. Di tengahnya, sebuah air terjun kecil mengalir ke kolam biru jernih, dikelilingi bunga rafflesia raksasa yang mekar sempurna—tanaman langka yang dicari Laras. "Ini dia!" seru Laras, berlutut untuk memeriksa. "Bunga ini punya senyawa anti-kanker. Luar biasa!" Nita berlutut juga, kameranya berbunyi klik-klik. Rama berdiri waspada, matanya menyapu pepohonan. "Kita istirahat dulu. Tapi jangan lama."
906Please respect copyright.PENANAI2jYM7MKx3
Mereka duduk di batu besar, berbagi roti dan air. Percakapan mengalir ringan. Laras bercerita tentang masa kecilnya di Surabaya, ayahnya dokter yang meninggal karena kanker. "Makanya saya tekuni ini. Biar orang lain tak kehilangan seperti saya." Nita menambahkan, "Saya? Fotografi bikin saya lupa masa lalu kelam. Ayah pergi, ibu sakit-sakitan. Kamera jadi teman terbaik." Rama diam sejenak, lalu bicara pelan. "Saya juga kehilangan. Kakak saya hilang di hutan ini sepuluh tahun lalu. Sejak itu, saya jaga orang lain supaya tak bernasib sama."
906Please respect copyright.PENANAV0RyzGQEcM
Hening menyelimuti. Laras menyentuh tangan Rama pelan. "Kamu kuat, Mas." Nita tersenyum, "Kita bertiga saling jaga sekarang." Saat itu, ikatan tak kasat mata terbentuk—sebuah lingkaran hangat di tengah dingin hutan.
906Please respect copyright.PENANAaiuGLBfhsl
Tapi petualangan baru dimulai. Saat matahari condong, kabut menebal. Mereka bersiap pulang, tapi arah hilang. "Ini aneh," gumam Rama, memeriksa kompasnya yang berputar liar. "Hutan ini punya triknya sendiri." Langit gelap mendadak, hujan deras mengguyur. Mereka berlari mencari perlindungan, tapi tanah longsor kecil memisahkan mereka. Laras jatuh ke jurang kecil, terbangun di tepi sungai dengan kaki terkilir.
906Please respect copyright.PENANASWJIS9aa6Z
"Rama! Nita!" teriaknya. Suaranya bergema, tapi jawaban hanya gemuruh air. Dengan susah payah, ia merangkak naik, menemukan gua kecil bertutup lumut. Di dalam, cahaya samar dari celah batu menerangi lukisan gua purba: gambar dua perempuan dan seorang pria, menari di sekitar pohon suci, dikelilingi bayang-bayang. "Apa ini?" bisik Laras. Tiba-tiba, suara langkah. Rama muncul, basah kuyup, membawa ranting sebagai tongkat. "Laras! Syukur kau selamat." Ia memeriksa kakinya, membalut dengan kain bersih dari tasnya.906Please respect copyright.PENANAAOxawTyCQS


