Di lereng Gunung Penanggungan, tersembunyi sebuah hutan purba yang jarang disentuh manusia. Penduduk desa di kaki gunung menyebutnya Hutan Terlarang, tempat roh-roh leluhur menjaga rahasia kuno. Daun-daunnya hijau pekat, akar pohon menjuntai seperti ular raksasa, dan kabut pagi menyelimuti segalanya bagai selimut mimpi. Tak seorang pun berani masuk lebih dari seratus langkah, karena legenda bilang, siapa yang tersesat di sana akan diikat oleh bayang-bayang abadi.
904Please respect copyright.PENANAUEucoFyCLw
Laras, gadis berusia 25 tahun dengan rambut hitam panjang sebahu dan mata cokelat yang penuh rasa ingin tahu, tak peduli legenda itu. Ia seorang peneliti flora dari Surabaya, datang ke desa kecil Sukorejo untuk mencari tanaman langka yang konon hanya tumbuh di hutan itu. Bersamanya ada sahabat karibnya, Nita, 24 tahun, fotografer petualang dengan senyum lebar dan kulit sawo matang yang terbakar matahari. Nita selalu membawa kamera tuanya, siap menangkap keajaiban alam yang tak terlihat mata biasa.
904Please respect copyright.PENANAFr4uuJp0l7
Mereka bertemu Rama di warung kopi pinggir desa. Rama, pria 27 tahun asli desa itu, bertubuh tegap dengan kulit legam dan tato burung garuda pudar di lengan kanannya, adalah pemandu gunung. Matanya hitam pekat, penuh cerita yang tak terucap. "Hutan itu bukan tempat main-main, Mbak," katanya sambil menyeduh kopi tubruk. "Sudah banyak yang hilang. Tapi kalau kalian nekat, saya ikut. Demi keselamatan."
904Please respect copyright.PENANAdII4VCAUoZ
Laras tersenyum tipis. "Kami butuh bantuanmu, Mas. Tanaman obat yang saya cari bisa selamatkan banyak nyawa." Nita mengangguk antusias, matanya berbinar. "Dan saya mau foto-foto yang bikin orang takjub!" Rama menghela napas, tapi ada kilau petualangan di matanya. Malam itu, mereka sepakat berangkat subuh.
904Please respect copyright.PENANAziamaubDMS
Pagi menyingsing dengan embun dingin. Mereka menyusuri jalan setapak berbatu, ransel berisi perbekalan di punggung. Rama memimpin di depan, parangnya menebas semak belukar. Laras berjalan di tengah, mencatat setiap tanaman dengan buku catatannya. Nita di belakang, kameranya tak henti mengabadikan. Udara harum bunga liar, suara burung madu bernyanyi riang. Tapi semakin dalam, hutan berubah. Pohon-pohon menjulang tinggi, cahaya matahari tersaring kabut, menciptakan pola bayang aneh di tanah lembab.904Please respect copyright.PENANAqEFNBu9CMT


