Bab 2: Pandangan Curiga di Pinggir Kolam
7211Please respect copyright.PENANATelE5AjYjq
Pagi menyapa rumah besar itu dengan sinar matahari lembut yang menyusup melalui celah-celah tirai kamar Clara. Jam dinding menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit ketika Clara membuka mata. Tubuhnya terasa segar setelah tidur nyenyak semalaman, tanpa tahu bahwa di gudang belakang terjadi pesta pembohong yang melelahkan bagi kelima pembantunya. Rambut hitam panjangnya yang lurus terurai di bantal sutra, kulit putih mulusnya terlihat lembut di bawah cahaya pagi. Dia menggeliat pelan, payudara F-cup yang montok bergoyang ringan di balik piyama tipis berwarna krem yang hampir tembus pandang.
7211Please respect copyright.PENANATRx7rs8b6K
Clara bangun, mencium tubuh langsingnya yang tinggi 166 cm. Bokong bulat besarnya terlihat menonjol saat dia membungkuk mengambil sandal di samping tempat tidur. Hidung mancung dan mata coklatnya yang memikat memandang ke cermin besar di dinding kamar. “Hari ini tidak ada kuliah… bagus, bisa olahraga lebih lama,” gumamnya pada diri sendiri dengan nada tegas yang khas. Dia selalu bangga dengan tubuhnya yang sempurna—hasil olahraga rutin dan perawatan ketat. Puting pinknya yang kecil terlihat samar di balik kain tipis saat dia melepas piyama dan menggantinya dengan bra olahraga hitam ketat serta legging olahraga yang membentuk lekuk bokongnya dengan sempurna.
7211Please respect copyright.PENANAM1g20V8T5M
Di dapur bawah, Amel sudah sibuk menyiapkan sarapan. Meski tubuhnya masih terasa pegal setelah malam yang panjang, wajahnya tetap ceria seperti biasa. Kulit sawo matangnya sedikit memerah di pipi karena ingatan akan getaran dan titit Yanto yang masih terasa di analnya. Maya membantu mengatur meja, rambut hitam panjangnya diikat ekor kuda tinggi. Kedua wanita itu saling memandang sekilas, senyuman kecil tersungging di bibir mereka—rahasia malam tadi masih hangat di antara mereka.
7211Please respect copyright.PENANA7oxtBHexNY
Dimas dan Dadang sudah berada di halaman belakang, memeriksa kolam renang dan membersihkan daun-daun yang gugur. Yanto sedang memeriksa keamanan kamera di ruang kecil dekat gudang, memastikan tidak ada rekaman yang bocor. Mereka bertiga bergerak seperti biasa, tapi ada kilatan berbeda di mata mereka—antisipasi yang mulai membara sejak mendengar Clara tidak akan ditemani orang tuanya selama dua bulan ke depan.
7211Please respect copyright.PENANAV4MuV9Iur4
Clara turun ke ruang makan dengan langkah ringan. Bau roti panggang dan telur mata sapi langsung menyambut hidungnya. “Halaman semua,” sapanya dengan nada tegas namun tetap sopan. Dia duduk di kursi kepala meja, posisi yang biasa ditempati ayahnya kalau sedang di rumah.
7211Please respect copyright.PENANABtANdYhrd6
“Pagi, Nona Clara,” jawab Amel sambil menyajikan piring. Maya mengisi gelas jus jeruk segar. Clara mengangguk kecil, mulai menyantap sarapan dengan lahap. Matanya sekilas melirik ke arah jendela besar yang menghadap kolam renang. Air kolam biru jernih berkilau di bawah matahari pagi. “Hari ini aku olahraga di pinggir kolam lagi. Kalian jangan ganggu ya, aku butuh konsentrasi,” katanya tegas sambil menatap Dimas yang baru saja masuk dari pintu belakang.
7211Please respect copyright.PENANA4nzgxyvqqm
Dimas tersenyum menawan, rambut hitam lurusnya sedikit basah karena keringat pagi. "Tentu, Nona. Kami hanya akan membersihkan sekitar kolam. Tidak akan mengganggu." Matanya sekilas melirik tubuh Clara yang terbalut bra olahraga ketat. Payudara besar itu terlihat menonjol, lekuk pinggang ramping menuju bokong bulat yang terbungkus legging membuat napas Dimas sedikit tersendat. Dia cepat-cepat mengalihkan pandangannya, tapi sudah terlambat—Clara mengumpulkannya.
7211Please respect copyright.PENANAjuL5ESABaz
“Apa yang kamu lihat?” tanya Clara dengan nada pemarah yang khas. Matanya tajam.
7211Please respect copyright.PENANAcnKOnC2p9P
Dimas menggeleng cepat. "Tidak ada, Nona. Hanya memastikan kolam sudah bersih." Dia buru-buru keluar lagi, diikuti tawa kecil Dadang yang pura-pura batuk.
7211Please respect copyright.PENANAyXQzcLFeIs
Clara menampilkannya dengan pelan. “Pembantu-pembantu ini kadang aneh,” gumamnya melanjutkan makan. Tapi di dalam hati ada sedikit rasa geli yang aneh—tatapan Dimas tadi terasa… lapar. Dia menggelengkan kepala, mengusir pikiran itu. Clara bukan tipe yang mudah diacak. Dia tegas, mandiri, dan selalu mengontrol segalanya.
7211Please respect copyright.PENANATgyP8xv3yr
Setelah sarapan selesai, Clara berjalan ke tepi kolam renang. Udara pagi masih sejuk, aroma rumput basah dan klorin kolam bercampur enak di hidung. Dia meletakkan handuk di kursi panjang, lalu mulai pemanasan. Tubuh langsingnya bergerak lentur saat melakukan peregangan. Payudara besar itu bergoyang pelan setiap kali dia membungkuk atau menopang punggung. Bokong bulatnya menonjol saat dia melakukan squat ringan. Keringat mulai muncul di kulit putihnya, membuat bra olahraga sedikit basah dan menempel lebih ketat pada anggur pink yang sudah menegang karena angin pagi.
7211Please respect copyright.PENANAMsDA87LHyZ
Dimas dan Dadang sedang menyapu daun di sisi kolam yang berlawanan. Tapi mata mereka tidak bisa lepas dari Clara. Setiap gerakan Clara terlihat seperti tarian erotis tanpa sengaja. Saat Clara melakukan lunges, leggingnya menegangkan di bokong, garis celah terlihat samar. Saat dia jongkok untuk push-up, payudaranya hampir menyentuh lantai, bergoyang berat. Dimas menelan ludah pelan. “Ya Tuhan… tubuh itu terlalu sempurna,” bisiknya pada Dadang.
7211Please respect copyright.PENANAZaiC6vc58R
Dadang mengangguk sambil mencampur. "Lihat saja payudaranya yang bergoyang. Aku bisa membayangkan rasanya kalau diremas." Tangan Dadang yang memegang sapu sedikit bergetar. Mereka berdua berdiri agak jauh, tapi pandangan mereka seperti magnet yang tertarik pada tubuh Clara.
7211Please respect copyright.PENANAFIcmxzRBDt
Clara merasakannya. Bulu kuduknya merinding. Dia berhenti sejenak, menoleh tajam ke arah mereka. "Kalian kenapa? Kerja atau nonton?" bentaknya dengan suara keras. Nada pemarahlah yang biasa membuat orang lain mundur.
7211Please respect copyright.PENANAWPqdK9MEiN
Dimas buru-buru mengangkat tangan. "Maaf, Nona. Kami hanya... memastikan tidak ada daun yang jatuh ke kolam." Dadang ikut mengangguk cepat, tapi senyumannya tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.
7211Please respect copyright.PENANAcv9OrmjuhF
Clara bersinar lagi. "Kalau tidak ada kerjaan, pergi saja dari sini. Aku tidak suka diganggu." Dia kembali melanjutkan olahraga, tapi sekarang gerakannya lebih kaku. Hatinya berdegup lebih cepat—bukan karena marah semata, tapi ada sensasi aneh di perut bagian bawah. Menatap dua pria itu terasa seperti sentuhan tak kasat mata yang menembus kulitnya.
7211Please respect copyright.PENANAi6blGsILRz
Dia memutuskan untuk berenang beberapa putaran. Clara melepas sepatu olahraga, lalu melompat ke kolam dengan gerakan anggun. Udara dingin langsung membasahi tubuhnya. Bra olahraga hitam itu menjadi transparan saat basah, menampakkan bentuk anggur merah muda yang terisi karena suhu udara. Leggingnya menempel ketat, membentuk vagina yang sedikit membengkak karena meningkatnya udara. Clara berenang gaya bebas dengan cepat, rambut hitamnya mengapung di permukaan seperti sutra hitam.
7211Please respect copyright.PENANAG0rrV615QU
Dimas dan Dadang kini berdiri di tepi kolam, pura-pura membersihkan filter. Mata mereka mengikuti setiap gerakan Clara di dalam udara. Saat Clara melakukan gaya dada, payudara besar itu terdorong ke depan, bergoyang di bawah permukaan. Saat dia menendang kaki untuk mendorong tubuh, bokong bulatnya muncul di atas air, basah dan mengkilap. Bau klorin bercampur aroma tubuh Clara yang segar membuat hidung mereka berdenyut.
7211Please respect copyright.PENANANcpaV4HEe9
“Dia tidak sadar betapa seksinya dia saat berenang,” bisik Dadang. “Lihat saja putingnya… sudah keras sekali.”
7211Please respect copyright.PENANA1PbvWGHKH5
Dimas mengangguk pelan. “Kita harus sabar. Sebentar lagi… dia akan menjadi milik kita semua.” Mata gelap penuh nafsu.
7211Please respect copyright.PENANARPywCny4jW
Clara keluar dari kolam setelah dua puluh menit berenang. Air menetes dari tubuhnya, mengalir di lekuk payudara, pinggang, hingga ke bokong. Dia mengambil handuk dan mengeringkan rambut, tapi tidak langsung menutupi tubuh. Kulit putihnya memerah karena dingin dan olahraga. Anggur pinknya terlihat jelas di balik bra basah. Dia merasa berkumpul lagi—kali ini lebih intens.
7211Please respect copyright.PENANACYWFsfL4d2
Clara menoleh tajam. "Cukup! Kalian berdua keluar dari sini sekarang juga!" suaranya menggelegar. Nada pemarahnya penuh otoritas.
7211Please respect copyright.PENANAL4FX2ewREQ
Dimas dan Dadang buru-buru mengangguk dan pergi, tapi senyum kecil masih tersisa di bibir mereka. Clara berdiri sendirian di pinggir kolam, nafasnya agak tersengal. Tubuhnya terasa panas meski baru keluar dari udara dingin. Ada getaran kecil di vaginanya yang membuatnya bingung. “Apa-apaan ini…kenapa aku merinding begini?” gumamnya sambil memeluk dirinya sendiri.
7211Please respect copyright.PENANAAumvplgPW9
Dia kembali ke kamar untuk mandi. Di bawah shower air hangat, Clara menggosok tubuhnya dengan sabun. Tangan menyentuh payudara besar itu, merasakan anggur yang masih keras. Saat menyentuh vagina di antara paha, dia terkejut karena sudah sedikit basah—bukan karena air kolam. “Tidak mungkin… aku tidak tertarik pada mereka,” katanya pada diri sendiri dengan tegas. Tapi sensasi yang disebutkan tadi masih melekat di kulitnya seperti sentuhan.
7211Please respect copyright.PENANAp6rj9EdxsH
Sementara itu di dapur, Maya dan Amel sedang membersihkan piring. Maya tersenyum kecil. "Nona Clara tadi marah besar ya? Pasti karena Dimas dan Dadang tidak bisa lepas mata darinya."
7211Please respect copyright.PENANALk0dgnNiQa
Amel tertawa pelan. "Tubuhnya memang terlalu menggiurkan. Aku saja kadang iri. Kalau dia tahu apa yang kita lakukan semalaman... mungkin dia akan marah besar."
7211Please respect copyright.PENANAcahrIj0A5t
Maya menggeleng. “Atau… dia akan penasaran.” Matanya berbinar. "Orang tuanya akan pergi sebentar lagi. Saat itu tiba, kita mulai langkah berikutnya."
7211Please respect copyright.PENANAH4TsVIYTIN
Di luar, Yanto bergabung dengan Dimas dan Dadang di gudang kecil. Mereka bertiga saling pandang dengan senyuman penuh rencana.
7211Please respect copyright.PENANAa0OIJ8V2I3
“Dia mulai curiga ada yang aneh,” kata Yanto pelan. “Tapi itu bagus. Curiga akan membuatnya lebih waspada… dan lebih rentan.”
7211Please respect copyright.PENANAQpwwduxroD
Dimas mengangguk. "Malam ini Maya sendirian menghadapi kita. Kita latihan dulu… supaya saat giliran Clara, semuanya sempurna."
7211Please respect copyright.PENANA6qqlTXGwY9
Mereka tertawa pelan. Di rumah besar itu, pagi yang cerah menyembunyikan badai hasrat yang mulai mendekat. Clara mandi dengan pikiran kacau, tanpa tahu bahwa pandangan curiga di tepi kolam tadi hanyalah awal dari segalanya.
7211Please respect copyright.PENANAZlJujWyxmv
HAI KAK MOHON MAAF LINK PEMBELIAN TIDAK BISA DI AKSES KARENA DI BLOKIR, KARENA JUDUL DAN COVER NOVEL YANG TERLALU VULGAR, UNTUK MENGATASI ITU SAYA MEMBUAT KODE UNTUK SETIAP JUDUL NOVEL JADI SAAT PEMBELIAN GUNAKAN KODE YANG ADA DIJUDUL SEBAGAI PENGANTI JUDUL NOVEL, HAL ITU DILAKUKAN AGAR TIDAK DI BLOKIR LAGI DIKEMUDIAN HARI7211Please respect copyright.PENANAmPGW0hmPFm
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
LIST KODE JUDUL NOVEL https://www.penana.com/story/209828/pengumuman/issue/1?published=success7211Please respect copyright.PENANAYnNqkqDGCQ
7211Please respect copyright.PENANAfUzw3A9OrG


