10958Please respect copyright.PENANAxV1HC5yueTMalam itu sekitar jam sembilan. Aku sudah selesai membereskan gerobak dan kembali ke kamar kontrakan. Badan masih terasa capek setelah seharian keliling jualan.
Aku duduk di kasur sambil memainkan ponsel. Suasana kontrakan malam itu cukup tenang. Beberapa pedagang lain juga sudah pulang dan mulai masuk ke kamar masing-masing.
Tidak lama kemudian terdengar suara Mba Arum dari kamar sebelah. Sepertinya ia sedang menelepon suaminya, Mas Anton.
Awalnya suaranya biasa saja, seperti orang yang sedang ngobrol. Tapi lama-lama nada bicaranya terdengar sedikit naik.
Karena dinding kamar kami tipis, beberapa potongan percakapannya masih bisa terdengar dari kamarku.
“Mas, aku cuma bilang… anak-anak butuh kamu juga di sini,” kata Arum dari balik dinding.
Beberapa detik hening, mungkin Mas Anton sedang menjawab dari seberang telepon.
Lalu suara Arum terdengar lagi, kali ini sedikit lebih tegas.
“Loh aku bukan nyuruh kamu berhenti kerja. Aku cuma bilang kalau bisa pulangnya jangan lama-lama.”
Ia terdiam lagi mendengarkan.
“Mas, aku di sini ngurus semuanya sendiri. Anak-anak, rumah, jualan juga.”
Nada suaranya terdengar mulai kesal.
“Iya aku tahu kamu kerja. Tapi masa sebulan cuma pulang sekali dua kali?”
Beberapa detik kemudian Arum kembali bicara, kali ini dengan nada sedikit menahan emosi.
“Ya kalau memang sibuk terus ya bilang saja. Jangan tiap aku ngomong dibilang nggak ngerti kerjaan kamu.”
Suasana sempat hening lagi. Sepertinya Mas Anton sedang menjelaskan sesuatu di telepon.
Arum menghela napas.
“Iya… iya… aku ngerti kok kamu kerja.”
Lalu suaranya kembali terdengar pelan.
“Aku cuma capek saja kadang ngurus semuanya sendiri di sini.”
Beberapa detik setelah itu, suaranya mulai kembali normal.
“Iya… sudah. Nanti saja kita ngomong lagi kalau kamu pulang.”
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu kamar ditutup pelan. Suasana kembali hening seperti biasa.
Aku yang dari tadi di kamar hanya bisa mendengar sebagian percakapan itu. Tapi dari nada bicaranya, sepertinya mereka memang sempat sedikit berselisih paham malam itu...
Beberapa menit setelah percakapan itu reda, aku masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah seharian keliling jualan dan kehujanan di jalan tadi, mandi air hangat rasanya cukup menyegarkan badan.
Tidak lama setelah aku selesai mandi dan kembali ke kamar, tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu kontrakanku.
Tok… tok… tok…
Aku membuka pintu. Ternyata Mba Arum berdiri di depan.
Kali ini ia memakai daster lengan panjang warna kuning dengan jilbab cokelat yang terpasang rapi. Penampilannya sudah seperti biasanya lagi, tidak seperti pagi tadi saat di dapur.
Ia tersenyum ringan.
“Wan, mau kopi nggak?” tanyanya.
Aku sedikit terkejut tapi langsung mengangguk.
“Mau lah, Mba.”
Arum tertawa kecil.
“Ya sudah, aku buatkan dulu.”
Ia kembali ke kamarnya. Aku menutup pintu dan duduk sebentar di dalam kamar.
Tidak sampai beberapa menit, pintuku diketuk lagi.
Tok… tok…
Aku membuka pintu dan Mba Arum sudah berdiri di sana sambil membawa secangkir kopi panas.
“Nih,” katanya sambil menyerahkan gelas.
“Wah, makasih Mba,” jawabku.
Aku berdiri di depan pintu kamar sementara ia masih di luar, di teras kecil kontrakan yang hanya diterangi lampu redup.
“Jualannya tadi habis?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Lumayan. Hampir habis semua.”
Arum terlihat senang mendengarnya.
“Syukur kalau begitu.”
Aku kemudian bertanya balik.
“Anak-anak sudah tidur, Mba?”
“Iya, dari tadi. Capek main seharian,” jawabnya pelan.
Kami sempat mengobrol sebentar di depan pintu kamar itu. Hanya obrolan ringan seperti biasa. Tapi suasana malam di gang kontrakan cukup sepi, jadi kami juga tidak terlalu lama berbincang.
Arum akhirnya melirik sebentar ke kanan dan kiri gang.
“Ya sudah, aku balik dulu ya,” katanya.
“Malam juga sudah agak sepi… nanti nggak enak kalau kelihatan orang.”
Aku mengangguk mengerti.
“Iya, Mba.”
Arum tersenyum kecil lalu berjalan kembali ke kamar kontrakannya yang hanya bersebelahan dengan kamarku. Sementara aku kembali masuk, membawa secangkir kopi yang masih hangat di tangan...
Setelah Mba Arum kembali ke kamarnya, aku duduk di dalam kontrakan sambil menghabiskan kopi yang tadi ia buatkan. Malam di gang itu sudah semakin sepi. Hanya sesekali terdengar suara motor lewat di ujung gang.
Beberapa menit kemudian kopinya habis. Perutku mulai terasa lapar.
Aku melihat ke arah sarangan tempat biasa menaruh sisa tahu goreng dari jualan. Masih ada beberapa potong tahu crispy yang tadi tidak sempat terjual.
Aku mengambil beberapa potong lalu duduk di kasur sambil memakannya pelan-pelan, sekadar untuk mengganjal perut.
Suara kunyahan di kamar yang kecil itu mungkin cukup terdengar sampai ke kamar sebelah. Tidak lama kemudian terdengar suara Mba Arum dari balik dinding.
“Wan… kamu lapar ya?”
Aku sedikit kaget lalu menjawab dari dalam kamar.
“Iya Mba, sedikit.”
Dari sana terdengar lagi suaranya.
“Di sini ada mie sama nasi kalau mau.”
Aku sempat ragu. Sebenarnya tidak enak juga malam-malam merepotkan orang.
“Ah nggak usah Mba, ini juga sudah makan tahu,” jawabku.
Tapi Arum malah menjawab lagi.
“Kalau cuma tahu mah nanti lapar lagi. Masak saja mie di sini.”
Aku masih diam beberapa detik.
“Mbak, nanti saja nggak apa-apa,” kataku lagi.
Arum tertawa kecil dari dalam kamarnya.
“Sudah, masak saja di sini. Kompor kamu kan kompor mawar, kalau dinyalain berisik. Nanti anak-anak kebangun.”
Aku tersenyum sendiri mendengarnya. Memang benar, kompor mawarku kalau dinyalakan suaranya cukup keras.
“Ya sudah kalau begitu,” jawabku akhirnya.
Aku keluar dari kamar lalu berjalan beberapa langkah ke pintu kontrakan Mba Arum. Dengan sedikit ragu aku mengetuk pintunya pelan sebelum masuk untuk memasak mie di dapur kecil miliknya...
Aku mengetuk pintu kamar kontrakan Mba Arum pelan.
Tok… tok…
Tidak lama, sekitar beberapa detik kemudian, pintunya terbuka. Mba Arum berdiri di depan pintu.
Kali ini aku kembali sedikit terdiam. Ia sudah tidak memakai jilbab lagi. Rambut hitamnya diikat sederhana seperti kuncir kuda, membuat lehernya terlihat jelas di bawah lampu teras yang redup.
Penampilannya terlihat santai seperti orang yang sudah bersiap untuk istirahat di rumah.
“Masuk saja, Wan,” katanya sambil membuka pintu lebih lebar.
Aku melangkah masuk ke ruang kecil yang sekaligus menjadi dapur kontrakannya.
Arum mengambil satu bungkus mie instan dari rak kecil lalu menyerahkannya kepadaku. Ia juga mengambil satu butir telur dari wadah di meja.
“Nih, mie sama telur. Kalau mau nasi juga ada,” katanya sambil menunjuk ke arah panci nasi di dekat kompor.
Aku mengangguk.
“Iya, Mba.”
“Masak saja sendiri ya. Aku tadi sudah capek di dapur,” katanya sambil tersenyum kecil.
Aku tertawa pelan.
“Iya nggak apa-apa.”
Setelah itu Arum berjalan masuk ke bagian kamar di dalam. Sementara aku mulai menyalakan kompor dan memasak mie.
Suara air mendidih dan sendok yang mengenai panci terdengar pelan di dapur kecil itu.
Beberapa menit kemudian, saat mie hampir matang, Arum keluar lagi dari dalam kamar dan duduk di ruang tengah kecil yang tidak jauh dari dapur.
Ia bersandar santai di kursi plastik sambil memperhatikanku yang sedang memasak.
“Jualan kamu hari ini lumayan?” tanyanya.
Aku mengaduk mie di panci.
“Lumayan, Mba. Hampir habis juga.”
Arum mengangguk pelan.
“Kalau tahu crispy kamu memang sering ramai.”
Aku tertawa kecil.
“Kadang ramai, kadang sepi juga.”
Arum melipat tangannya santai.
“Yang penting jalan terus.”
Aku kemudian memecahkan telur ke dalam panci.
“Mba sendiri gimana jualannya? Anak sekolah masih sering beli?”
“Masih,” jawabnya. “Apalagi kalau jam istirahat.”
Aku mengangguk sambil menuang mie ke mangkuk.
Obrolan sederhana itu terus berlanjut di dapur kecil kontrakan malam itu—aku yang sibuk dengan mie rebus di depan kompor, sementara Mba Arum duduk santai beberapa langkah dariku, berbincang ringan tentang jualan dan kehidupan sehari-hari...
Tidak lama kemudian mie yang kumasak sudah matang. Aku mematikan kompor, lalu membawa mangkuk mie itu ke ruang tengah kecil tempat Mba Arum duduk.
Aku duduk di kursi plastik di seberangnya sambil mulai makan.
Saat aku baru mengambil beberapa suapan, Mba Arum berdiri lalu mengambil piring dan membuka panci nasi di dekat dapur.
“Tambah nasi saja sekalian,” katanya.
Aku langsung menggeleng.
“Ah nggak usah, Mba. Ini juga sudah cukup.”
Tapi Arum tetap mengambil nasi dengan sendok.
“Sudah, sedikit saja. Daripada nanti kebuang,” katanya sambil menaruh nasi di piring kecil lalu mendorongnya ke arahku.
Aku hanya bisa tersenyum kecil lalu menerimanya.
Sementara aku makan, Arum kembali duduk di kursinya. Wajahnya terlihat sedikit lebih serius dibanding tadi.
“Tadi sebenarnya aku habis debat sedikit sama Mas Anton,” katanya pelan.
Aku mengangkat kepala.
“Yang tadi telepon itu?”
Arum mengangguk.
“Iya.”
Ia menarik napas sebentar sebelum melanjutkan.
“Kadang aku cuma kangen saja sebenarnya. Sudah lama nggak ketemu. Tapi dia di sana juga sibuk terus.”
Aku mendengarkan sambil makan.
“Namanya juga kerja, Mba,” kataku.
Arum tersenyum tipis.
“Iya sih. Aku juga ngerti.”
Ia menunduk sebentar memainkan ujung dasternya.
“Tapi kadang kalau malam begini rasanya sepi juga di rumah.”
Aku tertawa kecil mencoba mencairkan suasana.
“Kalau butuh apa-apa, ketok saja tembok kamar. Nanti aku datang.”
Arum menoleh sambil mengangkat alis.
“Maksudnya?”
Aku menjawab sambil bercanda.
“Ya siapa tahu ada yang bisa aku bantu. Anggap saja aku pengganti Mas Anton sementara.”
Arum langsung tertawa.
“Ih kamu ini.”
Aku ikut tersenyum.
“Serius.”
Arum menggeleng sambil masih tersenyum.
“Ya masa semua harus digantiin kamu.”
Ia menambahkan dengan nada bercanda.
“Bahaya juga kalau begitu.”
Aku tertawa kecil mendengar jawabannya. Suasana ruang tengah kecil itu kembali terasa santai, hanya diisi suara sendok mengenai mangkuk mie dan obrolan ringan di antara kami berdua...
Malam itu suasana di ruang tengah kontrakan Mba Arum terasa cukup tenang. Aku masih menyendok mie rebus yang baru saja kumasak, sementara ia duduk di kursi plastik di depanku.
Arum tampak masih memikirkan percakapannya dengan suaminya tadi. Ia bersandar sedikit di kursi sambil menghela napas pelan.
“Kadang cuma kangen saja sebenarnya,” katanya. “Sudah lama nggak ketemu. Tapi ya dia di sana juga sibuk.”
Aku mencoba menenangkan suasana.
“Namanya juga kerja, Mba. Pasti ada tanggung jawab di sana.”
Arum mengangguk kecil, walaupun wajahnya masih terlihat sedikit lelah.
Untuk mencairkan suasana, aku mencoba bercanda lagi.
“Pokoknya kalau Mba butuh apa-apa, bilang saja ke aku. Nanti aku bantu sebisa mungkin.”
Arum menoleh ke arahku dengan senyum tipis.
“Bantu apa saja?”
Aku mengangkat bahu santai.
“Ya apa saja yang bisa kubantu.”
Arum tertawa kecil mendengar jawabanku.
“Kalau soal bantuan angkat galon, ganti gas, atau benerin apa-apa di rumah sih iya… bisa saja minta tolong ke kamu, Wan.”
Aku ikut tersenyum.
“Ya kan.”
Tapi Arum lalu menambahkan sambil menggeleng pelan.
“Tapi kalau soal kangen… ya soal yang lain begitu…”
Ia berhenti sebentar lalu menatapku dengan ekspresi setengah bercanda.
“Masa iya harus minta ke kamu juga?”
Aku tertawa kecil mendengar ucapannya. Suasana obrolan malam itu terasa ringan lagi, walaupun di balik candaan itu masih terasa ada sedikit rasa sepi yang sedang ia ceritakan.
“Emang kangen Mas Anton dalam hal apa sih, Mba?”
Arum langsung melirikku, lalu tersenyum sedikit sambil menggeleng.
“Ah, nggak usah ah… itu urusan orang dewasa,” katanya sambil tertawa kecil.
Aku ikut tersenyum, lalu berkata setengah bercanda.
“Tapi emang iya sih, Mas Anton punya istri cantik kayak Mba Arum kok malah sering ditinggal lama.”
Arum langsung menatapku sedikit kaget.
Aku melanjutkan sambil tetap makan.
“Kalau aku sih… punya istri cantik begitu, pasti tiap malam aku temenin.”
Mendengar itu Arum tertawa cukup lepas.
“Ih kamu ini ada-ada saja,” katanya sambil menggeleng.
Lalu ia bertanya dengan nada seperti tidak percaya.
“Emang aku cantik, Wan? Anakku sudah dua, aku juga sudah tua.”
Aku mengangkat kepala sebentar dari mangkuk mie lalu menjawab dengan nada serius.
“Cantik banget, Mba.”
Arum tampak sedikit terdiam beberapa detik, lalu tersenyum lagi sambil menunduk kecil, sementara aku kembali melanjutkan makan di ruang tengah kecil kontrakannya malam itu...
Setelah aku mengatakan itu, Mba Arum terlihat sedikit salah tingkah. Ia tersenyum sambil menunduk sebentar. Di bawah lampu ruang tengah yang tidak terlalu terang, wajahnya tampak sedikit memerah.
Aku sendiri sempat memperhatikannya beberapa detik. Dalam hati aku kagum—entah kenapa malam itu wajahnya terlihat sangat cantik dengan ekspresi malu seperti itu.
Beberapa menit kemudian, mie dan nasi di piringku sudah habis. Aku meletakkan sendok di mangkuk lalu bersandar sebentar di kursi.
Perut sudah terasa kenyang.
Tiba-tiba aku merasa ingin merokok. Tapi rasanya tidak enak kalau merokok di dalam kontrakan Mba Arum.
Aku berdiri pelan.
“Mba, aku balik ke kamar dulu ya,” kataku sopan. “Mau merokok sebentar.”
Arum menoleh.
“Oh iya.”
Aku melangkah menuju pintu kontrakannya. Tapi sebelum aku keluar, Arum berkata lagi.
“Aku juga belum ngantuk sebenarnya.”
Aku berhenti sebentar dan menoleh.
“Kalau begitu?”
Arum tersenyum kecil.
“Ya sudah, aku ikut ke kamar kamu saja. Sekalian ngobrol lagi.”
Aku sedikit terkejut mendengarnya, tapi tetap mengangguk santai.
“Ya boleh saja, Mba.”
Beberapa detik kemudian kami keluar dari kontrakannya. Hanya beberapa langkah saja menuju kamar kontrakanku yang tepat berada di sebelahnya....
---
Beberapa langkah kemudian kami sudah sampai di depan kamar kontrakanku. Aku membuka pintu lalu mempersilakan Mba Arum masuk.
Kamarku sederhana seperti biasa. Di bagian depan ada sedikit ruang kosong tempat aku menyimpan peralatan jualan—gerobak kecil, wadah plastik, dan beberapa perlengkapan untuk tahu crispy.
Kami duduk di situ saja, di ruang depan yang sempit itu. Aku duduk di bangku kecil dekat dinding, sementara Mba Arum duduk di kursi plastik yang biasa kupakai kalau sedang menyiapkan dagangan.
Aku menyalakan sebatang rokok lalu menghembuskan asapnya perlahan ke arah pintu yang sedikit terbuka.
Obrolan kami kembali mengalir santai seperti tadi—masih soal hal-hal sehari-hari, soal jualan, soal kehidupan di kontrakan.
Tapi jujur saja, malam itu pikiranku beberapa kali teralihkan.
Dari tempatku duduk, aku bisa melihat Mba Arum dengan cukup jelas. Ia masih memakai daster rumahnya, rambut hitamnya diikat sederhana ke belakang. Karena tidak memakai jilbab, bagian lehernya terlihat jelas di bawah cahaya lampu kamar yang temaram.
Kulitnya terlihat putih dan bersih. Penampilannya sangat natural, seperti seseorang yang sedang benar-benar santai di rumahnya sendiri.
Entah kenapa malam itu aku merasa ia terlihat berbeda—lebih menarik dari biasanya.
Aku berusaha tetap fokus pada obrolan kami, tapi beberapa kali pandanganku tanpa sadar kembali tertuju ke wajahnya yang sedang berbicara santai di depanku...
Kami masih duduk di ruang depan kamar kontrakanku. Rokok di tanganku sudah setengah habis, sementara obrolan kami mulai masuk ke topik yang lebih pribadi.
Tiba-tiba Mba Arum menatapku agak serius.
“Wan, aku dari dulu penasaran sebenarnya,” katanya.
“Apa, Mba?” tanyaku.
“Kamu ini statusnya apa sih? Belum pernah lihat kamu bawa keluarga ke sini.”
Aku tersenyum kecil lalu menghela napas.
“Sebetulnya… aku duda, Mba.”
Arum terlihat sedikit kaget.
“Serius?”
Aku mengangguk pelan.
“Iya. Sudah beberapa tahun.”
Ia langsung duduk lebih santai sambil menyangga dagunya dengan tangan, benar-benar seperti orang yang siap mendengarkan cerita.
“Kenapa bisa cerai?” tanyanya dengan nada pelan.
Aku terdiam sebentar sebelum menjawab.
“Dulu aku nikah waktu masih kerja di luar kota. Tapi waktu usaha mulai sepi, aku pulang ke sini dan mulai jualan tahu crispy.”
Aku menatap ke arah lantai sebentar.
“Dia nggak betah hidup sederhana. Akhirnya sering ribut. Lama-lama ya… selesai saja.”
Arum tidak memotong pembicaraanku. Ia hanya mendengarkan dengan tenang, sesekali mengangguk kecil.
“Berarti sudah lama sendiri?” tanyanya.
“Lumayan,” jawabku.
Sambil bercerita, aku beberapa kali merasa agak gugup sendiri. Entah kenapa fokusku sedikit buyar. Dari posisi duduknya yang santai, daster yang dipakainya sedikit bergeser tanpa ia sadari.
Aku mencoba tetap fokus bicara, tapi mataku beberapa kali teralihkan.
Mungkin Mba Arum mulai menyadari aku terlihat agak canggung.
“Kenapa kamu kelihatan gugup begitu?” tanyanya sambil menyipitkan mata sedikit.
Aku langsung salah tingkah.
“Ah… nggak kok.”
Arum lalu menunduk sebentar memperhatikan dirinya sendiri. Beberapa detik kemudian ia seperti baru sadar sesuatu.
“Oh…” katanya sambil tertawa kecil.
Dengan santai ia langsung merapikan dasternya, menutup bagian yang tadi sedikit terlihat.
“Ih kamu ini,” katanya sambil meledek. “Fokus ngobrol, bukan fokus yang lain.”
Aku langsung tertawa canggung.
“Maaf, Mba.”
Arum masih tersenyum sambil menggeleng kecil.
“Dasar.”
Suasana langsung kembali santai. Kami kembali melanjutkan obrolan seperti tadi, membahas banyak hal lain—tentang kehidupan, jualan, dan cerita-cerita masa lalu—di ruang kecil kontrakan malam itu...
---
Obrolan kami terus berjalan tanpa terasa. Dari cerita tentang masa lalu, kehidupan sehari-hari, sampai hal-hal kecil yang kadang tidak penting, semuanya keluar begitu saja. Suasana kamar kontrakanku yang sederhana malam itu terasa lebih hidup dari biasanya.
Aku sempat melirik jam di ponsel.
Ternyata sudah cukup malam.
Sementara itu Mba Arum yang tadi duduk santai di kursi mulai terlihat mengantuk. Ia beberapa kali menguap kecil sambil masih mencoba menanggapi ceritaku.
“Sudah malam juga ya,” katanya pelan.
“Iya,” jawabku.
Beberapa menit kemudian ia bersandar sedikit ke kasur yang ada di samping kami. Awalnya hanya seperti orang yang ingin meregangkan badan sebentar.
Tapi tidak lama kemudian, napasnya terdengar lebih teratur.
Aku menoleh.
Ternyata Mba Arum sudah tertidur.
Aku sempat terpikir untuk membangunkannya supaya kembali ke kamar kontrakannya. Tapi melihat wajahnya yang terlihat benar-benar lelah, aku jadi tidak tega.
Lagipula kedua anaknya sepertinya masih tidur pulas di kamar sebelah. Tadi juga ia bilang mereka sudah tidur lebih dulu.
Aku akhirnya mengambil keputusan sederhana.
Aku membiarkan Mba Arum tetap tidur di kasur. Sementara aku mengambil sarung dari sudut kamar, lalu menggelarnya di lantai sebagai alas.
Lampu kamar kuredupkan sedikit.
Aku berbaring di lantai sambil menatap langit-langit kamar kontrakan yang sederhana itu. Malam terasa sangat sunyi, hanya terdengar suara kipas angin kecil berputar pelan di sudut ruangan...
Beberapa menit aku berbaring di lantai, tapi mataku belum juga bisa terpejam. Kamar kontrakan itu terasa sangat sunyi. Hanya suara kipas angin kecil yang berputar pelan di sudut ruangan.
Aku membalik badan lalu tanpa sadar menoleh ke arah kasur.
Di sana Mba Arum sedang tertidur pulas.
Lampu kamar yang redup membuat suasana terlihat tenang. Wajahnya terlihat damai, berbeda dengan ekspresi serius yang kadang muncul saat ia bercerita tadi.
Aku sempat terdiam memperhatikannya.
Dalam hati aku kagum—seorang ibu dengan dua anak, yang setiap hari harus mengurus banyak hal sendirian, tapi tetap terlihat cantik dan terawat.
Daster yang ia pakai terlihat sedikit berantakan karena posisi tidurnya. Salah satu kakinya sedikit bergeser dari selimut tipis di kasur.
Aku langsung mengalihkan pandangan sambil menarik napas pelan, mencoba menenangkan pikiran.
“Sudah, Wan… tidur saja,” gumamku dalam hati.
Aku kembali menatap langit-langit kamar, mencoba memejamkan mata. Malam itu terasa panjang, dengan pikiran yang masih terus berputar setelah semua kejadian yang terjadi sepanjang hari itu...
---
Aku tidak tahu sudah jam berapa saat itu. Di luar masih gelap, suasana kontrakan juga masih sangat sunyi.
Tiba-tiba aku merasa ada yang menepuk pelan bahuku.
“Wan… Wan…”
Aku membuka mata perlahan. Ternyata Mba Arum yang membangunkanku.
Ia berdiri di sampingku sambil berbisik pelan supaya tidak terlalu berisik.
“Kamu kok tidur di lantai begitu,” katanya.
Aku masih setengah sadar.
“Tidak apa-apa, Mba,” jawabku pelan.
Arum menggeleng.
“Sudah, pindah saja ke kasur. Lantainya dingin.”
Memang udara malam terasa cukup dingin, dan badanku juga mulai terasa pegal karena hanya beralaskan sarung di lantai.
Akhirnya aku bangun dan duduk sebentar, lalu berpindah ke kasur.
Aku pikir setelah itu Mba Arum akan kembali ke kamar kontrakannya. Tapi ternyata tidak.
Ia malah kembali berbaring di kasur yang sama, di sampingku.
Aku sempat terdiam, sedikit bingung dengan situasi itu.
Beberapa detik kemudian, tanpa banyak bicara, ia memejamkan mata lagi seperti ingin melanjutkan tidurnya.
Bahkan tangannya secara refleks memeluk bagian perutku, seperti orang yang sedang mencari posisi nyaman saat tidur.
Aku benar-benar kaget dan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Beberapa detik aku hanya diam, mencoba memastikan apa yang sedang terjadi. Sementara Mba Arum tampak sudah kembali tertidur dengan napas yang pelan dan teratur...
Saat aku membuka mata, cahaya matahari sudah masuk dari celah pintu kontrakan. Udara pagi terasa sedikit hangat.
Aku meraih ponsel yang ada di dekat bantal.
Jam di layar menunjukkan pukul 07.00 pagi.
Aku langsung menoleh ke samping kasur.
Mba Arum sudah tidak ada.
Kasur di sebelahku kosong. Selimutnya sudah rapi seperti orang yang bangun pelan-pelan tanpa membangunkan orang lain.
Aku menguap lalu duduk di pinggir kasur.
Tapi begitu aku berdiri, aku langsung kaget sendiri.
Aku melihat ke bawah… dan baru sadar aku tidak memakai celana. Bahkan celana dalam juga tidak ada.
“Loh…?”
Aku langsung panik sendiri sambil melihat ke sekeliling kamar.
Yang lebih membuatku bingung, aku justru memakai sarung di pinggang.
Padahal seingatku semalam saat pindah dari lantai ke kasur, aku tidak memakai sarung lagi.
Aku berdiri beberapa detik sambil mencoba mengingat kejadian semalam.
“Ini gimana ceritanya…?”
Pikiranku langsung kemana-mana.
Semalam Mba Arum tidur di kamar ini. Kalau sampai dia melihat aku dalam keadaan seperti ini, aku bisa malu setengah mati. Apalagi kalau dia berpikir macam-macam.
Aku langsung melihat ke kasur, ke bawah bantal, dan ke sudut kamar.
“Masa hilang sih…”
Aku mencari celana dan celana dalamku, tapi tidak langsung menemukannya.
Akhirnya aku menggaruk kepala sendiri.
“Sudahlah… mandi dulu saja.”
Aku berjalan ke kamar mandi kecil di belakang kontrakan.
Saat membuka sarung untuk mandi, aku kembali merasa aneh.
Perutku terasa sedikit lengket, seperti ada sesuatu yang menempel.
Aku menatapnya sebentar dengan bingung.
“Ini apaan lagi…?” gumamku sendiri di kamar mandi yang sempit itu...
Akhirnya aku tidak terlalu memikirkan hal aneh tadi. Setelah selesai mandi dan berpakaian seadanya dengan celana lain yang ada di kamar, aku keluar dari kontrakan seperti biasa.
Hari itu sudah hari Senin. Artinya warung jajanan kecil Mba Arum di depan kontrakannya sudah buka lagi.
Warungnya memang sederhana. Hanya sebuah meja panjang di depan pintu kontrakan tempat ia menaruh termos kopi, mie instan, sosis, dan beberapa jajanan untuk anak-anak sekolah yang lewat.
Aku berjalan ke sana.
“Mba… kopi satu seperti biasa,” kataku.
Arum menoleh ke arahku.
Pagi itu ia memakai gamis warna ungu dengan jilbab abu-abu yang menutup rapi rambutnya. Penampilannya terlihat segar seperti biasa. Bahkan menurutku pagi itu ia terlihat sangat cantik.
“Iya, Wan. Tunggu sebentar,” katanya sambil mulai menyiapkan kopi.
Aku berdiri di depan meja sambil memperhatikan aktivitas pagi di sekitar kontrakan. Anak-anak sekolah mulai lewat di ujung gang.
Tidak lama kemudian Arum menyerahkan gelas kopi.
“Ini.”
Aku menerimanya.
Kami sempat ngobrol sebentar.
“Tadi kamu tidurnya pulas banget,” katanya tiba-tiba.
Aku menoleh.
“Hah?”
Arum tersenyum kecil.
“Iya. Aku bangun duluan. Kamu masih tidur nyenyak.”
Aku mengangguk pelan.
“Capek mungkin.”
Lalu Arum menambahkan sesuatu yang membuatku sedikit kaget.
“Oh iya… semua pakaian kotormu sudah aku cuci sekalian.”
Aku langsung menatapnya.
“Pakaian kotor?”
“Iya. Yang semalam kamu pakai.”
Aku langsung terdiam beberapa detik.
Berarti… pakaian yang tadi pagi kucari…
Dalam kepalaku langsung muncul pertanyaan.
“Berarti… Mba Arum yang melepas…?”
Tapi aku tidak berani menanyakannya langsung.
Akhirnya aku hanya berkata pelan,
“Terima kasih ya, Mba.”
Arum hanya mengangguk sambil tersenyum kecil, seolah itu hal biasa.
Obrolan kami tidak lama karena beberapa anak sekolah mulai datang membeli jajanan.
Aku mengambil kopi lalu kembali ke kamar kontrakanku.
Sambil duduk di dalam kamar dan menyeruput kopi, pikiranku masih memutar kejadian semalam.
Banyak hal yang terasa aneh dan membuatku bertanya-tanya.
Tapi sejak hari itu, tanpa kami sadari, hubunganku dengan Mba Arum terasa semakin akrab. Kami jadi lebih sering berbincang, lebih terbiasa satu sama lain, seolah kejadian malam itu menjadi awal dari kedekatan yang berbeda dibanding sebelumnya...10958Please respect copyright.PENANAYSYwyIcOQh


