16368Please respect copyright.PENANA9k0F15XKZAHari Minggu biasanya jadi satu-satunya hari yang terasa sedikit santai buatku. Tidak perlu buru-buru menyiapkan gerobak sejak pagi. Aku baru bangun sekitar jam delapan siang, masih dengan rasa malas yang belum hilang dari badan.
Udara di kontrakan pagi itu cukup tenang. Beberapa penghuni lain masih di dalam kamar masing-masing. Aku keluar sambil menguap, lalu berjalan beberapa langkah menuju pintu kamar sebelah—tempat Arum tinggal.
Seperti biasa, aku mengetuk pintunya pelan.
“Mba Arum…” panggilku dari depan pintu.
Tidak lama kemudian pintu terbuka. Arum berdiri di sana dengan penampilan yang sangat sederhana: mengenakan daster panjang berwarna merah dan jilbab abu-abu yang dipakai seadanya. Meski terlihat baru bangun, wajahnya tetap tampak segar dan natural.
Ia sedikit tersenyum melihatku.
“Bangun juga kamu, Wan. Kirain masih tidur,” katanya santai.
Aku ikut tersenyum kecil.
“Baru bangun, Mba. Kaya biasa… pesen kopi satu.”
Arum terkekeh pelan.
“Ini hari Minggu loh, aku kan nggak buka warung.”
Aku mengangkat bahu sambil tertawa kecil.
“Tau… tapi kalau buat aku kan biasanya tetap dibikinin.”
Arum menggeleng pelan, seolah sudah sangat hafal dengan kebiasaanku.
“Yaudah, tunggu bentar,” katanya sambil membuka pintu sedikit lebih lebar. “Masuk aja kalau mau.”
Aku berdiri di ambang pintu sementara Arum berjalan ke dalam kamar menuju kompor kecil di dekat meja. Bau kopi yang mulai diseduh perlahan menyebar di ruangan kecil itu.
Dari tempatku berdiri, aku melihat dua anaknya masih tidur di kasur di sudut kamar, selimutnya berantakan. Pagi di kontrakan itu terasa tenang, seperti pagi-pagi biasa yang sudah sering terjadi.
Arum menoleh sebentar ke arahku.
“Semalam pulang jam berapa jualannya?” tanyanya sambil mengaduk kopi.
“Seperti biasa… jam delapan lewat dikit,” jawabku.
Arum mengangguk kecil.
“Capek ya tiap hari keliling.”
Aku tersenyum ringan.
“Udah biasa, Mba. Yang penting masih ada yang beli tahu crispy.”
Arum tertawa pelan mendengar jawabanku.
Beberapa menit kemudian ia menyerahkan secangkir kopi panas kepadaku. Hal kecil yang hampir selalu terjadi setiap pagi—tanpa pernah aku sadari, justru dari kebiasaan sederhana seperti itulah kedekatan kami perlahan mulai terbentuk...
---
Setelah menerima secangkir kopi dari Mba Arum, aku kembali ke kamarku. Kamar kontrakan yang kutempati tidak besar—cukup untuk kasur tipis di lantai, satu kipas angin kecil, dan beberapa barang dagangan yang biasa kupakai untuk jualan tahu crispy.
Aku duduk bersandar di dinding sambil menyeruput kopi pelan-pelan. Satu tangan memegang ponsel, sekadar membuka media sosial dan melihat-lihat apa saja yang lewat di layar.
Dari dalam kamar, suara aktivitas mulai terdengar dari kamar sebelah. Sepertinya Mba Arum sudah mulai beres-beres. Kadang terdengar suara pintu lemari dibuka, suara piring, atau langkah kaki bolak-balik di dalam kamar.
Dinding kontrakan di tempat itu memang tidak terlalu tebal. Jadi kalau ada aktivitas di kamar sebelah, biasanya masih bisa terdengar samar.
Kontrakan tempat kami tinggal memang cukup ramai. Sebagian besar penghuninya adalah pedagang keliling seperti aku. Ada yang jualan ketoprak, ada yang buka pecel lele malam hari, ada juga yang jualan gorengan di pinggir jalan.
Pagi hari biasanya cukup tenang karena sebagian pedagang baru mulai aktivitas menjelang siang atau sore.
Selain para pedagang, ada juga beberapa penghuni yang pekerjaannya bukan berdagang—tapi jumlahnya hanya sedikit, mungkin cuma dua kamar saja dari deretan kontrakan itu.
Suasana tempat itu sederhana, bahkan bisa dibilang apa adanya. Tapi karena hampir semua orang sudah saling kenal, kehidupan di kontrakan itu terasa cukup akrab.
Sambil menyeruput kopi yang masih hangat, aku tetap duduk di kamar, sesekali mendengar aktivitas dari kamar sebelah—tanpa tahu bahwa dari rutinitas kecil seperti itu, hari-hari ke depan akan membawa cerita yang jauh lebih rumit dari yang pernah kubayangkan....
---
Beberapa jam setelah itu, aku masih di kamar. Waktu sudah menjelang siang. Tiba-tiba dari kamar sebelah terdengar suara Mba Arum memanggil agak keras.
“Wan… Wandi…!”
Aku langsung menoleh ke arah pintu.
“Iya, Mba?” jawabku dari dalam kamar.
Dari balik dinding, suaranya terdengar lagi.
“Gas kamu ada nggak? Punyaku habis. Mau masak ini… tapi belum sempat beli. Diaz juga belum bangun.”
Diaz adalah anak pertamanya. Biasanya kalau ada perlu keluar sebentar, Diaz yang disuruh menjaga adiknya.
Aku melihat kompor kecil di kamarku. Tabung gas memang masih ada, tapi isinya tinggal sedikit. Api di kompor mawar biasanya sudah kecil kalau tinggal sisa begitu.
“Ya udah Mba, pakai aja dulu. Di sini juga tinggal dikit, percuma kalau dipakai,” jawabku.
Aku mencabut tabung gas dari kompor lalu mengangkatnya. Tidak berat, tapi tetap saja lebih enak langsung kuantar ke kamar sebelah.
Aku mengetuk pintu pelan.
“Gasnya, Mba.”
Dari dalam terdengar langkah kaki mendekat. Pintu kamar terbuka, dan saat itu aku sempat terdiam sebentar.
Mba Arum keluar dari arah dapur kecil di dalam kamarnya. Ia masih memakai daster merah yang sama seperti pagi tadi. Bedanya, kali ini ia tidak mengenakan jilbab.
Selama lima tahun tinggal berdampingan di kontrakan itu, hampir tidak pernah aku melihatnya tanpa penutup kepala. Rambutnya yang hitam terurai sederhana, terlihat sedikit berantakan seperti orang yang sedang sibuk di dapur. Lehernya yang putih terlihat jelas, dan bagian atas dasternya sedikit terbuka karena potongannya memang agak rendah.
Aku sempat kaget sendiri, bukan karena apa-apa—hanya karena itu pertama kalinya aku melihat penampilan Mba Arum seperti itu.
Ia tampak biasa saja, seolah tidak menyadari aku sedang berdiri agak kaku di depan pintu sambil membawa tabung gas.
“Wah, makasih ya Wan,” katanya sambil tersenyum ringan. “Tadi mau masak, tapi pas nyalain kompor malah mati.”
Aku menyerahkan tabung gas itu.
“Iya Mba, pakai aja dulu. Di kamar juga tinggal sisa dikit.”
Arum menerima tabung gas itu lalu menatapku sebentar.
“Ganggu nggak kamu?”
Aku cepat menggeleng.
“Nggak kok. Lagi santai juga.”
Ia tertawa kecil.
“Ya sudah. Nanti kalau sudah habis, aku balikin. Atau sekalian nanti beli yang baru.”
Aku hanya mengangguk.
“Iya, nggak apa-apa.”
Beberapa detik kami berdiri di depan pintu kamar itu, lalu Arum membawa tabung gasnya kembali ke dapur kecil di dalam. Sementara aku kembali ke kamarku.
Hal itu sebenarnya kejadian sederhana. Tapi entah kenapa, bayangan wajah Mba Arum barusan—dengan rambut terurai dan daster merahnya—terus terlintas di pikiranku ketika aku kembali duduk di kamar...
---
Beberapa menit setelah aku kembali ke kamar, tiba-tiba terdengar suara dari kamar Mba Arum. Suaranya seperti gas yang terus keluar—desisan halus yang tidak berhenti.
Aku langsung menoleh ke arah dinding yang memisahkan kamar kami.
“Bisa, Mba?” teriakku dari kamar.
Dari sana terdengar jawabannya agak panik.
“Ini nggak masuk-masuk, Wan… malah bunyi terus.”
Aku berdiri dari tempat duduk. Sepertinya memang ada yang tidak pas saat memasang selang gasnya.
Aku mengambil gunting kecil di kamarku dan satu karet selang cadangan yang biasa kupakai kalau kompor bermasalah. Siapa tahu memang perlu diganti.
Beberapa detik kemudian aku sudah berdiri lagi di depan pintu kamar Mba Arum.
“Coba aku lihat, Mba,” kataku.
Arum mengangguk dan sedikit menyingkir memberi jalan.
Kompor kecilnya ada di dapur sempit di dalam kamar kontrakan itu. Tabung gas yang tadi kuantar sudah terpasang, tapi selangnya terlihat agak longgar di bagian kepala regulator.
Aku jongkok di depan kompor sambil memeriksa sambungannya.
“Ini kayaknya karetnya agak longgar, Mba,” kataku sambil mencoba menarik selangnya sedikit.
“Pantesan dari tadi bunyi terus,” jawab Arum dari belakangku.
Sementara aku mencoba memperbaiki sambungan gas, Arum kembali ke meja dapur kecil. Ia mulai mencuci bahan makanan yang akan dimasak—sepertinya sayur dan beberapa potong tempe.
Dari posisi jongkok di dekat kompor, sesekali aku tanpa sengaja melirik ke arahnya.
Arum masih memakai daster merah yang sama, dan sampai saat itu ia juga belum memakai jilbab. Rambut hitamnya terikat sederhana ke belakang, mungkin supaya tidak mengganggu saat memasak.
Karena dapur kecil itu cukup panas, beberapa helai rambut di dekat lehernya terlihat sedikit lembap oleh keringat. Kulit lehernya yang putih tampak berkilau terkena cahaya dari pintu yang terbuka.
Entah kenapa pemandangan sederhana itu justru terlihat berbeda bagiku.
Selama ini aku selalu melihatnya rapi dengan jilbab saat berjualan di depan kontrakan. Tapi pagi itu, dengan penampilan yang lebih santai dan natural, ada sisi lain dari dirinya yang baru pertama kali benar-benar aku perhatikan.
“Udah bisa, Wan?” tanya Arum sambil masih mencuci bahan makanan.
Aku kembali fokus ke kompor.
“Bentar Mba… ini aku kencengin dulu.”
Aku memasang ulang selang gasnya, lalu menambahkan karet pengikat supaya lebih rapat. Setelah itu aku coba membuka sedikit gasnya.
Kali ini tidak ada lagi suara desisan panjang.
Aku menoleh ke arah Arum.
“Sudah, Mba. Harusnya aman sekarang.”
Arum mendekat sedikit melihat kompor itu.
Setelah selang gasnya berhasil kupasang dengan benar, Mba Arum langsung mengambil bahan makanan yang tadi sudah dicucinya. Ia menyalakan kompor sambil membawa mangkuk berisi potongan sayur dan tempe.
Posisinya membelakangiku saat menyalakan kompor. Ia sedikit menunduk ke depan untuk memutar knop kompor. Gerakannya sederhana seperti orang yang sedang fokus memasak.
Aku yang masih jongkok di dekat kompor sempat terdiam beberapa detik. Entah kenapa aku jadi salah tingkah sendiri. Aku berdeham pelan lalu menelan ludah, mencoba mengalihkan perhatian.
Sepertinya Mba Arum sama sekali tidak sadar kalau aku masih memperhatikannya.
Api kompor akhirnya menyala dengan stabil.
“Wah, nyala juga akhirnya,” kata Arum lega.
Aku berdiri sambil menepuk-nepuk tangan yang sedikit kotor karena memegang selang gas.
“Iya, tadi cuma selangnya aja yang longgar.”
Arum mulai memasukkan bahan makanan ke dalam wajan.
“Untung kamu bantuin. Kalau nggak, mungkin aku sudah nyerah dari tadi,” katanya sambil tertawa kecil.
Aku bersandar sebentar di dekat pintu dapur kecil itu.
“Mas Anton kapan pulang lagi, Mba?” tanyaku sekadar basa-basi.
Arum tetap mengaduk masakannya.
“Katanya sih minggu depan mungkin pulang. Sekarang dia lagi sibuk di tempat kerja.”
Aku mengangguk.
“Mas Anton kan sekarang sudah jadi atasan ya di bagian sekuriti?”
Arum menoleh sebentar sambil tersenyum tipis.
“Iya… sudah naik jadi koordinator sekarang. Tanggung jawabnya juga makin banyak.”
“Pantes jarang pulang,” kataku.
Arum kembali mengaduk wajan di atas kompor.
“Sebenarnya dia pernah ngajak pindah juga ke sana. Tapi anak-anak sudah telanjur sekolah di sini,” ujarnya pelan.
Ia melirik ke arah kasur di dalam kamar, tempat kedua anaknya masih tertidur.
“Kalau dipindah sekarang kasihan mereka. Jadi sementara ya begini… pisah dulu sama bapaknya.”
Aku mengangguk pelan.
“Berarti Mas Anton pulangnya cuma sesekali ya?”
“Iya. Biasanya sebulan dua kali kalau sempat,” jawabnya santai.
Suasana dapur kecil itu kembali tenang. Hanya terdengar suara wajan dan api kompor yang menyala pelan, sementara aku masih berdiri di sana, berbincang ringan dengannya di pagi yang terasa biasa—meskipun dalam pikiranku, entah kenapa, perasaan yang muncul mulai terasa sedikit berbeda dari biasanya...
Aku masih berdiri di dapur kecil kamar kontrakan Mba Arum. Kompor sudah menyala, dan ia mulai memasak bahan yang tadi sudah disiapkannya. Aroma tumisan pelan-pelan mulai memenuhi ruangan sempit itu.
Sesekali Mba Arum mengangkat tangan untuk mengelap keringat di dahinya dengan ujung daster. Dapur kecil itu memang cukup panas, apalagi kalau kompor sudah menyala.
Dari belakang, tanpa sadar pandanganku sempat tertuju ke bahunya. Di balik daster merah yang dipakainya, terlihat sedikit tali BH berwarna pink di bahunya. Hal kecil seperti itu entah kenapa membuat penampilannya terlihat berbeda di mataku pagi itu—lebih natural, seperti seseorang yang sedang benar-benar santai di rumahnya sendiri.
Sementara itu Arum masih sibuk dengan wajan di depannya, tampaknya tidak menyadari aku masih berdiri memperhatikan suasana dapurnya.
Beberapa saat kemudian ia menoleh sedikit ke arahku.
“Wan, kamu sudah sarapan belum?” tanyanya.
Aku menggeleng pelan.
“Belum sih… tapi tadi sudah ngopi. Masih kenyang.”
Arum tersenyum kecil sambil terus mengaduk masakannya.
“Biasanya kamu kalau hari Minggu malah telat makan.”
Aku tertawa ringan.
“Iya, kebiasaan.”
Arum mengambil sendok dan mencicipi sedikit masakannya.
“Kalau mau, nanti makan saja di sini. Ini cuma masak sederhana.”
Aku kembali menggeleng sambil tersenyum.
“Nggak usah Mba, serius. Masih kenyang kopi tadi.”
Arum hanya mengangguk santai lalu kembali fokus memasak. Sementara aku masih berdiri di dekat pintu dapur kecil itu, menikmati obrolan ringan di pagi hari yang terasa sederhana—meskipun pikiranku masih sesekali teringat pada pemandangan yang baru saja kulihat beberapa saat sebelumnya...
Aku masih berdiri di dapur kecil itu sementara Mba Arum terus mengaduk masakannya. Suasana mulai terasa lebih santai. Kami ngobrol ringan seperti dua tetangga yang sudah lama saling kenal.
Sesekali ia menambahkan bumbu, lalu mengaduk lagi wajan di atas kompor.
“Kalau hari Minggu enak ya, Wan. Kamu nggak jualan pagi,” katanya.
“Iya, baru mulai sore biasanya,” jawabku.
Arum mengangguk pelan, lalu menghela napas sedikit.
“Kadang kalau sendirian begini lumayan juga capeknya. Banyak yang harus dikerjain sendiri.”
Aku melirik ke arahnya.
“Mas Anton kan jarang pulang ya, Mba.”
“Iya,” jawabnya sambil tetap memasak. “Kadang ada saja yang harus dikerjain di rumah tapi aku nggak bisa. Biasanya nunggu dia pulang dulu.”
“Contohnya?” tanyaku.
Arum tertawa kecil.
“Macam-macam. Benerin ini itu, angkat barang berat, atau kalau ada yang rusak di rumah.”
Aku bersandar di kusen pintu dapur.
“Ya tinggal panggil aku saja, Mba. Selama bisa bantu.”
Ia menoleh sebentar lalu tersenyum.
“Serius kamu?”
“Iya lah. Tetangga juga kita.”
Arum tampak sedikit santai mendengar itu.
“Tapi kadang kan ada juga urusan yang memang butuh suami,” katanya setengah bercanda.
Aku menaikkan alis sedikit.
“Urusan apa tuh, Mba?”
Arum langsung tertawa kecil melihat ekspresiku.
“Ya urusan rumah tangga lah.”
Aku ikut tertawa.
“Kirain urusan yang lain.”
“Urusan apa?” tanyanya sambil melirik.
Aku sedikit menggoda.
“Ya… urusan ranjang misalnya.”
Arum langsung menatapku sekilas lalu menggeleng sambil tersenyum.
“Ih kamu ini ngaco saja,” katanya.
Aku tertawa kecil melihat reaksinya.
“Becanda, Mba.”
Arum kembali mengaduk masakannya, tapi masih ada senyum tipis di wajahnya.
“Kalau Mas Anton dengar kamu ngomong begitu bisa dimarahin kamu nanti,” katanya setengah bercanda.
Aku hanya mengangkat bahu santai.
“Dia juga jarang di sini.”
Arum kembali tertawa kecil mendengar jawabanku. Suasana dapur kecil itu terasa semakin akrab—obrolan ringan, tawa kecil, dan aktivitas memasak yang berjalan seperti pagi biasa di kontrakan itu...
Aku masih berdiri di dapur kecil itu sementara Mba Arum terus mengaduk masakannya. Suasana mulai terasa lebih santai. Kami ngobrol ringan seperti dua tetangga yang sudah lama saling kenal.
Sesekali ia menambahkan bumbu, lalu mengaduk lagi wajan di atas kompor.
“Kalau hari Minggu enak ya, Wan. Kamu nggak jualan pagi,” katanya.
“Iya, baru mulai sore biasanya,” jawabku.
Arum mengangguk pelan, lalu menghela napas sedikit.
“Kadang kalau sendirian begini lumayan juga capeknya. Banyak yang harus dikerjain sendiri.”
Aku melirik ke arahnya.
“Mas Anton kan jarang pulang ya, Mba.”
“Iya,” jawabnya sambil tetap memasak. “Kadang ada saja yang harus dikerjain di rumah tapi aku nggak bisa. Biasanya nunggu dia pulang dulu.”
“Contohnya?” tanyaku.
Arum tertawa kecil.
“Macam-macam. Benerin ini itu, angkat barang berat, atau kalau ada yang rusak di rumah.”
Aku bersandar di kusen pintu dapur.
“Ya tinggal panggil aku saja, Mba. Selama bisa bantu.”
Ia menoleh sebentar lalu tersenyum.
“Serius kamu?”
“Iya lah. Tetangga juga kita.”
Arum tampak sedikit santai mendengar itu.
“Tapi kadang kan ada juga urusan yang memang butuh suami,” katanya setengah bercanda.
Aku menaikkan alis sedikit.
“Urusan apa tuh, Mba?”
Arum langsung tertawa kecil melihat ekspresiku.
“Ya urusan rumah tangga lah.”
Aku ikut tertawa.
“Kirain urusan yang lain.”
“Urusan apa?” tanyanya sambil melirik.
Aku sedikit menggoda.
“Ya… urusan ranjang misalnya.”
Arum langsung menatapku sekilas lalu menggeleng sambil tersenyum.
“Ih kamu ini ngaco saja,” katanya.
Aku tertawa kecil melihat reaksinya.
“Becanda, Mba.”
Arum kembali mengaduk masakannya, tapi masih ada senyum tipis di wajahnya.
“Kalau Mas Anton dengar kamu ngomong begitu bisa dimarahin kamu nanti,” katanya setengah bercanda.
Aku hanya mengangkat bahu santai.
“Dia juga jarang di sini.”
Arum kembali tertawa kecil mendengar jawabanku. Suasana dapur kecil itu terasa semakin akrab—obrolan ringan, tawa kecil, dan aktivitas memasak yang berjalan seperti pagi biasa di kontrakan itu...
Aku masih berdiri di dapur kecil itu sementara Mba Arum terus mengaduk masakannya. Suasana mulai terasa lebih santai. Kami ngobrol ringan seperti dua tetangga yang sudah lama saling kenal.
Sesekali ia menambahkan bumbu, lalu mengaduk lagi wajan di atas kompor.
“Kalau hari Minggu enak ya, Wan. Kamu nggak jualan pagi,” katanya.
“Iya, baru mulai sore biasanya,” jawabku.
Arum mengangguk pelan, lalu menghela napas sedikit.
“Kadang kalau sendirian begini lumayan juga capeknya. Banyak yang harus dikerjain sendiri.”
Aku melirik ke arahnya.
“Mas Anton kan jarang pulang ya, Mba.”
“Iya,” jawabnya sambil tetap memasak. “Kadang ada saja yang harus dikerjain di rumah tapi aku nggak bisa. Biasanya nunggu dia pulang dulu.”
“Contohnya?” tanyaku.
Arum tertawa kecil.
“Macam-macam. Benerin ini itu, angkat barang berat, atau kalau ada yang rusak di rumah.”
Aku bersandar di kusen pintu dapur.
“Ya tinggal panggil aku saja, Mba. Selama bisa bantu.”
Ia menoleh sebentar lalu tersenyum.
“Serius kamu?”
“Iya lah. Tetangga juga kita.”
Arum tampak sedikit santai mendengar itu.
“Tapi kadang kan ada juga urusan yang memang butuh suami,” katanya setengah bercanda.
Aku menaikkan alis sedikit.
“Urusan apa tuh, Mba?”
Arum langsung tertawa kecil melihat ekspresiku.
“Ya urusan rumah tangga lah.”
Aku ikut tertawa.
“Kirain urusan yang lain.”
“Urusan apa?” tanyanya sambil melirik.
Aku sedikit menggoda.
“Ya… urusan ranjang misalnya.”
Arum langsung menatapku sekilas lalu menggeleng sambil tersenyum.
“Ih kamu ini ngaco saja,” katanya.
Aku tertawa kecil melihat reaksinya.
“Becanda, Mba.”
Arum kembali mengaduk masakannya, tapi masih ada senyum tipis di wajahnya.
“Kalau Mas Anton dengar kamu ngomong begitu bisa dimarahin kamu nanti,” katanya setengah bercanda.
Aku hanya mengangkat bahu santai.
“Dia juga jarang di sini.”
Arum kembali tertawa kecil mendengar jawabanku. Suasana dapur kecil itu terasa semakin akrab—obrolan ringan, tawa kecil, dan aktivitas memasak yang berjalan seperti pagi biasa di kontrakan itu...
Setelah beberapa lama mengobrol di dapur kecil itu, aku melihat waktu sudah mulai mendekati siang. Biasanya kalau hari Minggu aku tetap harus keluar sebentar untuk membeli bahan-bahan dagangan sebelum mulai jualan sore nanti.
Aku mengambil langkah mundur dari dapur.
“Mba, aku pamit dulu ya. Mau belanja bahan buat jualan nanti sore,” kataku.
Arum yang masih berdiri di depan kompor menoleh.
“Iya, Wan.”
Lalu ia teringat sesuatu dan menunjuk tabung gas yang tadi kupinjamkan.
“Eh, gas kamu gimana nanti? Ini kan masih aku pakai.”
Aku melirik sebentar ke arah kompor lalu tersenyum santai.
“Gampang itu, Mba. Nanti saja. Aku juga belum butuh sekarang.”
Arum mengangguk kecil.
“Nanti kalau sudah habis aku beli yang baru sekalian.”
“Tenang saja,” jawabku sambil melangkah keluar dari kamar kontrakannya.
Hari itu terasa seperti hari-hari biasa. Tapi sejak kejadian kecil di dapur itu, entah kenapa hubungan kami terasa sedikit berubah
Obrolan kami makin lama makin santai, seperti dua orang yang sudah sangat terbiasa dengan kehadiran satu sama lain.
Suatu malam bahkan pernah hujan turun cukup deras. Aku pulang agak terlambat dari biasanya karena harus berteduh cukup lama di jalan saat berjualan.
Waktu aku masuk ke gang kontrakan, lampu di depan kamar Arum masih menyala.
Ia berdiri di depan pintu, seperti sedang menunggu sesuatu.
Begitu melihatku mendorong gerobak masuk gang, ia langsung berkata,
“Loh, baru pulang, Wan?”
Aku berhenti sebentar.
“Iya, tadi kehujanan di jalan.”
Arum terlihat sedikit lega.
“Tadi hujannya deras banget. Aku sampai mikir kamu masih di luar jualan.”
Aku tersenyum kecil.
“Namanya juga cari uang, Mba.”
Ia menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.
“Hati-hati saja kalau hujan begitu.”
Aku hanya mengangguk lalu mendorong gerobak ke arah kamar kontrakanku. Tapi dalam hati aku sempat berpikir—ternyata Mba Arum sampai memperhatikan hal-hal kecil seperti itu...
ns216.73.216.253da2


