Bab 2: Kedatangan Arman
6263Please respect copyright.PENANAnZO6gFxljV
Hari Sabtu sore itu terasa biasa saja di rumah mewah keluarga Bram. Matahari Jakarta sudah mulai condong ke barat, cahaya jingga menyusup melalui jendela kaca besar ruang keluarga. Bram duduk di sofa kulit hitam, controller game di tangan, mata fokus ke layar TV 85 inci yang menampilkan pertarungan sengit di game online favoritnya. Ia sudah menunggu momen ini sejak seminggu lalu—jadwal main bareng Arman, teman dekatnya sejak SMA. Arman selalu bawa vibe beda: lebih berani, lebih tajam, lebih... gelap dalam cara berpikir.
6263Please respect copyright.PENANA0mEH4aPnbj
Pintu depan terbuka. Arman masuk dengan tas ransel hitam besar, jaket hoodie oversized, celana jogger, dan senyum menawan yang selalu membuat cewek-cewek di kampus melirik dua kali. Tinggi 170 cm sama seperti Bram, tapi tubuhnya lebih tegas, otot lengan dan dada terlihat jelas meski tertutup baju. Rambut hitam lurusnya agak acak-acakan, tapi justru menambah pesona bad boy-nya. Di balik senyum itu, Arman punya sisi lain yang hanya Bram tahu sedikit: obsesi terhadap dominasi, BDSM, dan fantasi membuat wanita tunduk total.
6263Please respect copyright.PENANA3TsXvb9lkw
“Yo, bro! Udah siap kalah lagi?” Arman menyapa sambil tos tangan Bram.
6263Please respect copyright.PENANAo7KwOvAyQX
Bram tertawa kecil, “Kali ini gue yang menang, liat aja.”
6263Please respect copyright.PENANA58S8JirnuJ
Saat mereka berjalan ke kamar Bram di lantai dua, Nabila muncul dari dapur. Ia baru pulang dari salon, rambut hitam panjangnya masih wangi shampoo mahal, kulit putihnya tampak lebih glowing setelah facial. Hari ini ia pakai crop top putih ketat yang memamerkan perut rata dan payudara E+ cup yang hampir meluap dari leher rendah. Bawahannya rok mini denim yang pas di pinggul, memperlihatkan paha mulus dan bokong bulat yang bergoyang lembut setiap langkah. Kakinya pakai sandal high heel tipis, membuat posturnya lebih tinggi dan seksi.
6263Please respect copyright.PENANABWPXI1P3L3
“Eh, Arman datang ya? Lama nggak main ke sini,” sapa Nabila dengan suara lucu, sedikit genit tanpa sadar. Matanya coklat besar memandang Arman polos, tapi ada kilau penasaran di sana.
6263Please respect copyright.PENANAUI9GKXqpQl
Arman berhenti sejenak, matanya menyapu tubuh Nabila dari atas ke bawah—dari puting yang menonjol di crop top, perut rata, hingga bokong yang terlihat menggoda dari samping. Ia tersenyum lebar, “Iya, Bu Nabila. Kangen main game sama Bram. Bibi tambah cantik aja nih hari ini.”
6263Please respect copyright.PENANAFCkkS50SyY
Nabila tertawa kecil, pipinya merona tipis. “Ah, gombal. Mau minum apa? Kopi, teh, atau jus?”
6263Please respect copyright.PENANAvvWrtwQIaU
“Apa aja boleh, Bu. Terima kasih,” jawab Arman sambil tetap menatap mata Nabila, tatapannya dalam, seperti sedang membaca sesuatu.
6263Please respect copyright.PENANADlKAOhvzXP
Nabila berbalik ke dapur, bokongnya bergoyang lagi. Bram melihat Arman menelan ludah pelan. Ada sesuatu di mata temannya itu—lapar, tapi dikontrol baik.
6263Please respect copyright.PENANACwK4Bdy8tn
Malam mulai gelap. Mereka main game di kamar Bram sampai larut. Lampu redup, suara keyboard dan mouse klik-klik, sesekali teriakan kemenangan atau kekalahan. Sekitar pukul 01.00, Bram ke kamar mandi. Arman sendirian di kamar, matanya melirik ke arah pintu kamar utama orang tua Bram yang tertutup.
6263Please respect copyright.PENANAnUv0vxP34n
Tiba-tiba terdengar suara samar dari sana—desahan pelan Nabila. Arman mendekat ke dinding pembatas, telinga menempel. Suara semakin jelas.
6263Please respect copyright.PENANAX3WpqxyNUk
“Mmmh… Sayang… pelan…” erang Nabila.
6263Please respect copyright.PENANAj9KwVYr6S0
Arman tersenyum tipis. Ia tahu ini kesempatan. Pikirannya langsung bekerja: Nabila polos, suka tak enakan, tubuhnya sempurna untuk dimodifikasi, untuk diambil alih. Ia ingat Bram pernah curhat diam-diam soal hasratnya ke ibu tiri, tapi selalu diakhiri dengan “Tapi gue hormat, bro. Ayah gue bahagia banget sekarang.”
6263Please respect copyright.PENANABBut7rvSau
Arman kembali ke tempat duduk saat Bram balik. Mereka lanjut main, tapi pikiran Arman sudah melayang.
6263Please respect copyright.PENANAyBKW21oFJY
“Bro,” bisik Arman saat Bram fokus ke layar, “ibu tirimu... beneran hot. Kau nggak pernah kepikiran?”
6263Please respect copyright.PENANA0M7EB7fZ66
Bram diam sejenak, lalu menghela napas. “Pernah. Banyak. Tapi... ayah gue seneng banget sama dia. Gue nggak mau rusak itu.”
6263Please respect copyright.PENANAQ6AugnmVhv
Arman mengangguk pelan, tapi matanya berbinar. “Gue ngerti. Tapi... gimana kalau dia sendiri yang minta? Kalau dia yang datang ke kau, atau ke kita? Nggak ada yang rusak kalau dia yang pengen.”
6263Please respect copyright.PENANAfzq3LF08fm
Bram tertawa kecil, tapi ada getar di suaranya. “Mustahil, bro. Dia polos banget soal beginian.”
6263Please respect copyright.PENANAC8RWgICIAA
Arman hanya tersenyum dalam hati. Mustahil? Bukan buat dia.
6263Please respect copyright.PENANAC7xgPlVmw0
Setelah Bram tertidur di kasur, Arman diam-diam keluar kamar. Ia turun ke lantai bawah, pura-pura ambil air. Di dapur, lampu kecil menyala. Nabila sedang minum air, masih pakai crop top dan rok mini tadi, rambutnya diikat ponytail tinggi. Ia terkejut melihat Arman.
6263Please respect copyright.PENANAM4TAVaijhw
“Eh, Arman? Belum tidur?”
6263Please respect copyright.PENANAvgW5qjghgZ
Arman mendekat, berdiri dekat sekali. Bau parfum Nabila—vanila manis—langsung memabukkan. “Belum, Bu. Haus. Bibi juga?”
6263Please respect copyright.PENANAoLlwnmTweF
Nabila mengangguk, tapi matanya menghindar. Arman sengaja menyenggol lengan Nabila saat ambil gelas. Sentuhan listrik kecil itu membuat Nabila merinding.
6263Please respect copyright.PENANAZYIbdRr3G7
“Bu Nabila... bibi cantik sekali malam ini,” bisik Arman, suaranya rendah.
6263Please respect copyright.PENANA6n2ZZ56pyp
Nabila tertawa gugup. “Sudah, jangan gombal. Bram bisa dengar.”
6263Please respect copyright.PENANAxr3wFocMmR
Arman mendekat lagi, napasnya menyentuh leher Nabila. “Bram lagi tidur. Dan... gue tahu bibi suka dipuji.”
6263Please respect copyright.PENANALvTcvqvZWI
Nabila mundur selangkah, tapi punggungnya menyentuh meja dapur. Payudaranya naik turun cepat. “Arman... ini nggak bener.”
6263Please respect copyright.PENANA3bmZkimYRr
Arman tidak menyentuh lagi, hanya menatap. “Gue cuma bilang apa adanya, Bu. Tubuh bibi... sempurna. Payudara besar, bokong bulat, kulit putih... pasti enak disentuh.”
6263Please respect copyright.PENANAQXcvGpR5SY
Nabila merah padam, tapi ada panas aneh di perut bawahnya. Polosnya membuat ia tidak langsung marah. Ia hanya bergumam, “Sudah, kembali ke kamar Bram ya.”
6263Please respect copyright.PENANAFiIMBLsnvA
Arman tersenyum, mundur. “Baik, Bu. Selamat malam.”
6263Please respect copyright.PENANA96sHOKWfTr
Malam itu, Arman tidak tidur. Di kamar Bram, ia buka ponsel, chat dengan Yosep dan Malik.
6263Please respect copyright.PENANAKwAWpdy2wQ
Yosep: “Obat perangsang dosis tinggi ready. Silikon payudara dan bokong juga bisa mulai minggu depan. Enak buat modifikasi.”
6263Please respect copyright.PENANAi5EPJidAm4
Malik: “Gue siap rekam. Mau mulai dari eksib ringan atau langsung BDSM? Kostum lateks gue punya banyak. Gangbang pertama bisa gue atur 3-4 orang.”
6263Please respect copyright.PENANAfs5vQNlvCl
Arman balas: “Mulai pelan. Pertama kasih obat, buat dia basah terus. Lalu modifikasi kecil, piercing puting, tato sementara. Eksib di mall dulu. Video 8 jam: 2 jam modifikasi, 2 jam eksib, 4 jam gangbang. Sensor wajah, masker dildo.”
6263Please respect copyright.PENANAM213Gc6o67
Mereka sepakat. Arman tersenyum gelap.
6263Please respect copyright.PENANAH3OjJfUcqn
Di kamar orang tua, Nabila sudah telanjang di kasur. Pak Hadi baru pulang meeting malam, langsung tarik Nabila ke pelukannya. Foreplay dimulai ganas malam ini. Tangan Pak Hadi meremas payudara besar Nabila, jari memilin puting keras sampai Nabila mengerang. “Ahh… sakit… tapi enak…”
6263Please respect copyright.PENANAnppgachJ9B
Bau keringat Pak Hadi bercampur parfum Nabila. Ia turun, lidah menjilat kristorispayudara, mengisap kuat sampai bunyi “slurp… slurp…” terdengar. Nabila menggeliat, tangannya menarik rambut suaminya. Panas di vaginanya sudah membara.
6263Please respect copyright.PENANADS40Xa4vX1
Pak Hadi membalik Nabila, posisi doggy. Tampar bokong keras. “Plak! Plak! Plak!” Bekas merah muncul di kulit putih. Nabila jerit kenikmatan, “Lebih… lebih keras!”
6263Please respect copyright.PENANAv3QJg7ppT9
Jari Pak Hadi masuk ke vagina, keluar masuk cepat, cairan orgasme bening mengalir deras ke paha. Bau manis sperma memenuhi kamar. Pak Hadi masukkan kontolnya, dorong dalam sekali. Nabila menjerit, vagina menjepit kuat. Gerakan maju mundur ganas, suara “plok plok plok” kulit bertemu kulit bergema.
6263Please respect copyright.PENANAWz3FWGkr9g
Nabila orgasme pertama—tubuh mengejang, cairan orgasme menyembur kecil, “Aku keluar… ahhhh!” Pak Hadi lanjut, tarik rambut, tampar lagi. Orgasme kedua datang cepat, Nabila bergetar hebat. Akhirnya Pak Hadi dorong dalam, sperma hangat tumpah banyak di dalam vagina Nabila. Mereka ambruk, napas tersengal.
6263Please respect copyright.PENANAD4EF9lTlNW
Nabila merasa puas, tapi ada kekosongan lagi—seperti tubuhnya haus akan sesuatu yang lebih ekstrem.
6263Please respect copyright.PENANAGvkjxgaWuv
Di kamar Bram, Arman dengar erangan itu. Ia bangun, kontolnya keras sekali. Ia bangunkan Bram pelan. “Bro… denger lagi.”
6263Please respect copyright.PENANALiHl0cZBH3
Bram mengangguk, mata gelap. Mereka diam mendengar. Arman bisik, “Bayangin kalau itu kita yang bikin dia erang gitu.”
6263Please respect copyright.PENANAdLe6TYXkjn
Bram tidak jawab, tapi tangannya sudah di celana. Arman ikut, mereka konak diam-diam sambil dengar erangan Nabila. Gerakan tangan cepat, bayangan Nabila telanjang, payudara bergoyang, vagina basah. Bau imajinasi vanila dan sperma membuat mereka liar.
6263Please respect copyright.PENANAG5fRvh4MxJ
sperma Bram tumpah dulu, hangat di tangan. Arman ikut, spermanya banyak, lengket. Mereka diam, rasa bersalah campur nikmat.
6263Please respect copyright.PENANAc3XVsK0x3O
Pagi harinya, Nabila sarapan dengan wajah segar. Ia pakai dress floral pendek, puting masih samar terlihat. Arman dan Bram turun, mata mereka lapar. Nabila tersenyum polos, “Mau sarapan apa, anak-anak?”
6263Please respect copyright.PENANAczKIDn0VmP
Arman mendekat, “Apa aja dari bibi, pasti enak.”
6263Please respect copyright.PENANAz3jHwS4XLj
Nabila tertawa, tapi merasakan getar aneh lagi. Hasrat diam-diam mulai tumbuh di rumah itu.
6263Please respect copyright.PENANASUUHCZXv4O
Arman tahu: rencana baru dimulai. Nabila akan jadi miliknya—dan Bram—tanpa mereka sadari.
6263Please respect copyright.PENANAXyOPHE3uVZ
6263Please respect copyright.PENANAhmj2x16D7R
6263Please respect copyright.PENANAaACtGqxyyB
6263Please respect copyright.PENANAn2yh55YOWl
6263Please respect copyright.PENANA1G8JY5PA1h


