Bab 1: Pengenalan Keluarga Baru
7475Please respect copyright.PENANActCtmyEmRL
Nabila berdiri di depan cermin besar kamar utama rumah mewah di kawasan elite Jakarta Selatan. Usianya baru 28 tahun, tapi tubuhnya sudah seperti patung yang dibentuk dengan sempurna. Tinggi 166 cm, langsing, payudara E+ cup yang berat dan kencang, bokong bulat meski tidak terlalu besar, kulit putih susu yang hampir transparan di bawah cahaya lampu kamar. Rambut hitam panjangnya tergerai sampai pinggang, hidung mancung, dan mata coklat besar yang selalu terlihat polos meski bibirnya sering melengkung nakal tanpa sadar. Ia mengenakan tank top hitam tipis yang ketat sekali, hampir transparan di bagian dada sehingga bentuk puting payudaranya samar terlihat. Bawahannya hanya hot pants denim pendek yang memeluk bokongnya rapat, memperlihatkan garis paha mulus.
7475Please respect copyright.PENANAYkFBAHdoU7
Nabila menikah dengan Pak Hadi—ayah Bram—hanya tiga bulan lalu. Usia Pak Hadi 48 tahun, 20 tahun lebih tua darinya. Bagi Nabila, pernikahan ini adalah tiket emas. Pak Hadi pengusaha sukses, punya beberapa perusahaan properti dan restoran mewah. Uang mengalir deras. Nabila bisa belanja tas Hermes, sepatu Louboutin, perawatan spa setiap minggu, facial, filler bibir tipis-tipis, dan hair treatment mahal tanpa perlu mikir dua kali. Ia tidak perlu bekerja lagi seperti dulu, hanya nongkrong sama teman-teman sosialita, foto-foto di Instagram, dan menikmati hidup. Polosnya Nabila dalam urusan intim membuatnya mudah puas dengan apa yang diberikan suami, meski kadang ia merasa ada yang kurang—sesuatu yang lebih liar, lebih dalam.
7475Please respect copyright.PENANAvyRtzBSLV6
Bram, anak tunggal Pak Hadi dari istri pertama yang sudah meninggal, berusia 20 tahun. Tinggi 170 cm, tubuh berotot karena rajin gym, rambut hitam lurus rapi, senyum menawan yang jarang ia tunjukkan. Ia kuliah semester akhir di universitas swasta ternama, tinggal di rumah yang sama karena dekat kampus. Sejak Nabila masuk ke keluarga, Bram diam-diam memperhatikan ibu tirinya. Bukan karena ia membenci—malah sebaliknya. Ayahnya yang dulu murung dan jarang tersenyum kini sering tertawa, sering memeluk Nabila di dapur, dan rumah terasa hangat kembali. Bram menghormati itu. Tapi malam-malam, ketika suara dari kamar orang tuanya terdengar, hormat itu mulai retak.
7475Please respect copyright.PENANANaTzPKBHPR
Malam ini hujan deras di luar. Bram duduk di kamarnya, headphone di telinga, tapi volume game online-nya sengaja diturunkan. Ia tahu jadwal malam ini. Sekitar pukul 23.30, suara mulai terdengar dari kamar sebelah—awalnya pelan, seperti desahan napas, lalu semakin jelas.
7475Please respect copyright.PENANAvIyLLkKomH
“Ahh… pelan dulu, Sayang…” suara Nabila lembut, hampir memohon.
7475Please respect copyright.PENANAHBNhFNIgR1
Bram menelan ludah. Ia tahu suara itu. Setiap malam yang sama, erangan Nabila semakin liar. Ia bisa bayangkan: Pak Hadi pasti sudah menelanjangi istrinya, tangan kasar pria paruh baya itu meremas payudara besar Nabila, jari-jari memilin puting yang mengeras. Bram pernah sekilas melihat Nabila keluar kamar mandi hanya pakai handuk pendek—payudaranya hampir tumpah, paha mulus basah air.
7475Please respect copyright.PENANAC6Ju1Za19G
Di kamar sebelah, foreplay sudah dimulai. Pak Hadi mencium leher Nabila dari belakang, gigit kecil daun telinga, membuat Nabila menggelinjang. Bau parfum vanila Nabila bercampur keringat mulai memenuhi ruangan. Tangan Pak Hadi turun, menyusup ke dalam hot pants, menyentuh vagina yang sudah lembab. Jari tengahnya menggosok kristorisperlahan, melingkar, membuat Nabila mengerang lebih keras.
7475Please respect copyright.PENANAJy16SNQhUj
“Mmmh… enak… terus…” bisik Nabila, suaranya bergetar.
7475Please respect copyright.PENANAcdK3RZt19q
Pak Hadi menarik tank top Nabila ke atas, melepaskan bra hitam renda. Payudara besar itu terbebas, bergoyang lembut. Ia meremas keduanya, jempol dan telunjuk memilin puting sampai Nabila menjerit kecil. “Plok… plok…” suara tamparan ringan pada bokong Nabila bergema saat Pak Hadi membalikkan tubuh istrinya, menekannya ke kasur.
7475Please respect copyright.PENANAW1J11d8cQo
Nabila merasakan panas naik dari perut bawah. Polosnya membuat ia tidak tahu kenapa tubuhnya begitu responsif malam ini. Ia hanya mengikuti alur—membuka paha lebar, membiarkan jari Pak Hadi masuk ke dalam vagina yang sudah licin. Rasa penuh, licin, dan hangat membuatnya menggeliat. Bau sperma manis mulai tercium samar.
7475Please respect copyright.PENANAF4FOyYnP9k
Pak Hadi melepas celananya. kontolnya keras, meski tidak sebesar yang Nabila bayangkan dalam mimpi-mimpi rahasianya. Ia memasukkan perlahan, dorong maju mundur pelan dulu. Nabila mengerang setiap dorongan, “Ahh… ya… dalam lagi…”
7475Please respect copyright.PENANADSfR56aCfg
Gerakan semakin cepat. “Plak! Plak! Plak!” tamparan pada bokong Nabila makin keras, meninggalkan bekas merah samar. Nabila orgasme pertama—tubuhnya mengejang, vagina berdenyut kuat menjepit kontol di dalam, cairan orgasme bening mengalir deras membasahi seprai. Ia menjerit pelan, “Aku… keluar… ahhh!”
7475Please respect copyright.PENANADhdY2SADGk
Pak Hadi tidak berhenti. Ia balik posisi, doggy style. Tangan kirinya menarik rambut panjang Nabila, tangan kanan tampar bokong lagi. “Plak! Plak!” Suara kulit bertemu kulit bergema. Nabila mengerang lebih liar, payudaranya bergoyang-goyang setiap dorongan. Rasa penuh di vagina, panas di seluruh tubuh, bau keringat dan sperma bercampur, suara napas tersengal—semua indra Nabila terbakar.
7475Please respect copyright.PENANA4MRUQo0GMF
Akhirnya Pak Hadi mengerang keras, dorong dalam-dalam, sperma hangatnya tumpah di dalam vagina Nabila. Mereka ambruk bersama, napas tersengal. Nabila tersenyum lemah, polosnya membuat ia merasa bahagia meski ada sedikit rasa kosong di hatinya—seperti ada yang kurang, sesuatu yang lebih ganas, lebih menyiksa.
7475Please respect copyright.PENANAKx06sfqdMR
Di kamar sebelah, Bram sudah tidak tahan. Ia melepas celana pendeknya, kontol 15 cm-nya sudah keras sekali. Tangan kanannya menggenggam, gerak naik turun cepat mengikuti irama erangan tadi. Ia bayangkan bukan ayahnya, tapi dirinya sendiri yang menampar bokong Nabila, yang mendorong kontolnya ke dalam vagina yang basah itu. Bau imajinasi Nabila—vanila, keringat, sperma—membuatnya semakin liar.
7475Please respect copyright.PENANAij0HTOEtvO
“Ugh… Nabila…” desis Bram pelan.
7475Please respect copyright.PENANA8XrIT7p69e
sperma Bram tumpah di perutnya sendiri, hangat dan lengket. Ia terengah, rasa bersalah langsung menyerang. Tapi hasrat itu tidak hilang. Malah semakin kuat setiap malam.
7475Please respect copyright.PENANAPT4llieDHl
Pagi harinya, Nabila turun ke dapur pakai kimono sutra pendek yang hampir transparan. Bram sedang sarapan. Matanya langsung tertuju pada lekuk payudara yang samar terlihat, puting yang menonjol di balik kain tipis. Nabila tersenyum lucu, “Pagi, Bram! Mau tambah roti?”
7475Please respect copyright.PENANAnjmjU1RSAn
Bram menelan ludah, “Iya, Bu… terima kasih.”
7475Please respect copyright.PENANAaydQo2dZXB
Nabila membungkuk mengambil selai dari lemari bawah—bokong bulatnya terlihat jelas dari balik kimono. Bram memalingkan muka, tapi gambar itu sudah terpatri di kepalanya. Ia hormat, tapi hasrat diam-diam itu mulai menggerogoti.
7475Please respect copyright.PENANAKzoGi46ejS
Sore itu, Nabila pergi shopping lagi. Ia pulang dengan tas baru, sepatu baru, dan lingerie hitam renda yang ia simpan di lemari. Malamnya, ia pakai lingerie itu untuk Pak Hadi. Foreplay lagi dimulai—ciuman panas, jari di vagina, tamparan ringan, dorongan dalam, orgasme berulang. Suara erangan Nabila kembali mengisi rumah.
7475Please respect copyright.PENANAp4XtuLouql
Bram mendengar lagi. Kali ini ia tidak langsung sentuh dirinya. Ia hanya duduk di tempat tidur, mata tertutup, membayangkan. Emosinya campur aduk: sayang pada ayah, hormat pada Nabila, tapi hasrat yang semakin membara.
7475Please respect copyright.PENANAoNZPfxNaNk
Di luar hujan masih deras. Jakarta malam itu terasa lebih panas dari biasanya—setidaknya di dalam rumah ini.
7475Please respect copyright.PENANA2QqiKmSPg8


