Bab 3: Malam Panas di Hotel yang Tak Terlupakan
2305Please respect copyright.PENANAjwYtGo1WHR
Malam itu akhirnya tiba. Setelah tiga bulan penuh godaan, ciuman panas di taman, sentuhan yang semakin berani, dan chat malam-malam yang makin mesra, Arhan memutuskan untuk mengajak Luna ke tempat yang lebih privat. Dia memesan suite di hotel bintang lima di kawasan Thamrin—kamar luas dengan jendela besar menghadap gemerlap lampu kota Jakarta, tempat tidur king size dengan seprai sutra putih, bathtub marmer di kamar mandi, dan lampu redup yang bisa diatur intensitasnya. Arhan ingin malam ini sempurna, romantis sekaligus liar, karena dia sudah nggak tahan lagi.
2305Please respect copyright.PENANA11CCRVCPBt
Luna datang dengan dress hitam pendek yang pas badan, bahan satin licin yang menempel di setiap lekuk tubuhnya. Payudara F+ cup-nya terlihat penuh dan tinggi, puting pinknya samar-samar terbayang di balik kain tipis. Bokong bulat besarnya bergoyang pelan setiap langkah, high heels hitam membuat kakinya terlihat lebih jenjang. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai, mata coklatnya berbinar di bawah lampu lobby hotel. Dari luar, dia masih kelihatan polos—senyum manis, gerakan lembut—tapi dalem hatinya sudah bergetar hebat. Hasrat ekstrem yang selama ini disembunyikan mulai bangun, meski dia masih berusaha jaga image.
2305Please respect copyright.PENANAPSWTW7TWpu
Arhan menjemput di lobby, langsung peluk pinggang Luna erat. “Kamu cantik banget malam ini,” bisiknya, suaranya serak karena nafsu yang sudah menumpuk. Luna balas pelukan, dada mereka menempel, payudaranya tertekan di dada Arhan yang keras. “Kamu juga ganteng, Han. Aku deg-degan dari tadi,” jawabnya lembut, tapi ada nada genit yang bikin Arhan kontolnya langsung mengeras di celana.
2305Please respect copyright.PENANAkKNRNOzkmM
Mereka naik lift berdua. Di dalam ruang sempit itu, Arhan nggak tahan. Begitu pintu tertutup, dia tarik Luna ke pelukannya, cium bibirnya ganas. Lidah mereka saling bertaut, rasa manis lipstik Luna bercampur napas hangat Arhan. Tangan Arhan langsung merayap ke bokong Luna, meremas kuat-kuat sampai Luna mendesah “Mmh… Han…” di sela ciuman. Lift berhenti di lantai 28, pintu terbuka, untung nggak ada orang. Mereka buru-buru ke kamar, Arhan buka pintu dengan kartu, lalu langsung dorong Luna masuk sambil terus cium.
2305Please respect copyright.PENANAsBFenyDkIq
Begitu pintu tertutup, Arhan tekan Luna ke dinding. Cahaya kota dari jendela besar menerangi tubuh mereka. Arhan tarik resleting dress Luna dari belakang, kain satin jatuh ke lantai dengan suara lembut “srrrt”. Luna sekarang hanya pakai bra hitam renda dan celana dalam senada, plus garter belt yang bikin pahanya terlihat lebih seksi. Arhan mundur selangkah, mata gelapnya menelusuri tubuh Luna dari atas ke bawah. “Ya Tuhan… badan kamu sempurna banget, Lun,” gumamnya, suaranya penuh kekaguman dan nafsu. Luna blushing, tapi matanya penuh tantangan. “Kamu suka?” tanyanya manja, tangannya naik ke belakang buka kait bra. Bra jatuh, payudara besarnya terbebas, puting pink mengeras karena udara dingin AC dan tatapan Arhan.
2305Please respect copyright.PENANADmqhWVoAxo
Arhan langsung maju, tangan kanannya meremas payudara kiri Luna, ibu jarinya mainin puting yang sudah keras. “Suka? Gue gila sama kamu,” jawabnya, lalu turun cium leher Luna, jilat pelan ke tulang selangka, bau vanila parfum Luna bercampur aroma kulit segar bikin dia makin liar. Luna mendesah panjang “Ahh… Han… enak…” tangannya masuk ke rambut Arhan, menarik lebih dekat. Arhan turun lagi, mulutnya langsung hisap puting kiri Luna, lidahnya berputar-putar, suara “slurp slurp” basah terdengar jelas di kamar sunyi. Rasa asin manis keringat tipis Luna bikin Arhan makin haus. Tangan kirinya meremas payudara kanan, cubit puting pelan sampai Luna menggelinjang “Aduh… sakit tapi enak…”
2305Please respect copyright.PENANA1dCc4xzdU5
Luna nggak mau kalah. Dia dorong Arhan mundur ke arah tempat tidur, lalu dorong cowok itu duduk di pinggir kasur. Luna berlutut di depannya, tangannya buka kancing kemeja Arhan satu per satu, lalu tarik celana dalamnya turun. kontol Arhan langsung berdiri tegak, 15 cm, vena-vena menonjol, ujungnya sudah basah pre-cum. Luna tatap itu dengan mata berbinar, lalu pegang pelan. “Besar juga ya…” gumamnya genit, tangannya naik-turun pelan, rasanya panas dan keras di telapak tangannya. Arhan mendesah “Lun… ahh…” kepalanya terdongak.
2305Please respect copyright.PENANAQ6hQvwjB9Q
Luna condong, lidahnya jilat ujung kontol Arhan pelan, rasa asin manis pre-cum bikin dia bergidik nikmat. Lalu dia masukin seluruhnya ke mulut, deepthroat pelan dulu, lalu makin dalam. Suara “glug glug” basah terdengar, air liur Luna menetes ke dagu. Arhan pegang rambut Luna, dorong pelan “Ya… gitu… dalam lagi…” Luna nurut, matanya menatap ke atas sambil terus gerakkan kepala, pipinya menggembung. Arhan rasakan getaran tenggorokan Luna, hampir crot, tapi dia tahan. “Stop dulu… gue mau nikmatin kamu lebih lama.”
2305Please respect copyright.PENANAwncBtl1vRG
Arhan angkat Luna, baringkan di kasur. Dia buka celana dalam Luna, vaginanya sudah basah banget, kristoris bening menetes ke seprai. Bau manis khas Luna memenuhi udara. Arhan turun, jilat vagina dari bawah ke atas, lidahnya mainin kristorisyang bengkak. “Enak banget… kamu basah parah nih,” katanya erotis. Luna menggeliat “Han… jangan berhenti… ahh!” tangannya pegang seprai erat. Arhan masukin dua jari ke vagina, gerakkan masuk-keluar cepat, suara “crot crot” basah terdengar. Luna orgasme pertama datang cepat—tubuhnya menegang, pinggul naik, kristoris muncrat kecil “Aku… keluar! Han!” jeritnya, suaranya parau.
2305Please respect copyright.PENANAD8bbH60tVc
Arhan naik, posisi missionary. Dia gesek kontolnya di vagina Luna dulu, ujungnya masuk pelan. “Masuk ya…” bisiknya. Luna mengangguk, “Pelan dulu… ahh!” kontol masuk penuh, rasanya rapet dan hangat membungkus Arhan. Suara “plop” masuk terdengar, lalu Arhan mulai gerak pelan, keluar-masuk. Luna desah setiap dorongan “Ah… dalam banget… enak…” Arhan percepat, tangannya meremas payudara Luna, tampar bokong pelan “plak plak”, bokong merah tipis. Mereka ganti posisi—doggy style. Luna berlutut, bokong naik tinggi. Arhan masuk dari belakang, dorong keras, suara “plak plak” tampar bokong lebih kencang. “Kamu suka kasar ya?” tanya Arhan. Luna mengangguk cepat “Iya… tampar lagi! Sodok lebih keras!” Emosinya mulai keluar—sisi gelapnya mulai tercium, meski masih ringan.
2305Please respect copyright.PENANAfZpp5XcgoS
Mereka lanjut cowgirl. Luna naik ke atas, gerakkan pinggul naik-turun, payudaranya bergoyang-goyang. Arhan pegang pinggang Luna, dorong dari bawah. “Kamu liar banget, Lun…” gumamnya. Luna condong, cium Arhan sambil terus gerak “Karena kamu bikin aku gini…” Orgasme kedua Luna datang, vaginanya mengejang kuat, kristoris muncrat lagi, tubuhnya gemetar hebat “Aku keluar lagi! Han… ahhh!” Arhan ikut crot di dalam, sperma panas menyemprot dalam-dalam, rasanya lega dan hangat.
2305Please respect copyright.PENANAnJ6uKwtexa
Mereka nggak berhenti. Ronde kedua dimulai di bathtub—Luna duduk di pangkuan Arhan, air hangat membasahi tubuh mereka. Arhan masukin lagi dari belakang, tangannya mainin kristorissambil dorong. Air berdesir “splosh splosh”, suara desahan mereka bergema di kamar mandi. Ronde ketiga di sofa dekat jendela, Luna berdiri membungkuk, Arhan dorong dari belakang sambil liat pemandangan kota. Mereka coba segala gaya yang terpikir: standing, spooning, 69—Luna hisap kontol Arhan sambil Arhan jilat vaginanya, suara basah dan desahan saling bersahutan.
2305Please respect copyright.PENANAwfDPt2JgT0
Tiga jam berlalu tanpa terasa. Tubuh mereka basah keringat, bau seks memenuhi kamar—campuran sperma, kristoris, parfum, dan keringat. Luna orgasme berkali-kali, tubuhnya lemas tapi masih minta lagi. Arhan crot tiga kali, terakhir di mulut Luna—dia telan pelan, rasa asin manis sperma bikin dia bergidik nikmat. Mereka akhirnya ambruk di kasur, pelukan erat. Arhan cium kening Luna “Kamu luar biasa, Lun. Gue cinta kamu.” Luna balas peluk erat, “Aku juga, Han.” Emosinya campur: cinta yang tulus, kepuasan fisik, dan sedikit rasa bersalah karena hasrat ekstremnya masih disembunyikan.
2305Please respect copyright.PENANAmLGxI1Lff0
Malam itu berakhir dengan mereka tertidur pelukan, napas saling bercampur. Arhan puas, Luna puas—tapi ini baru permulaan. Rahasia Luna masih aman, dan Arhan belum tahu bahwa cewek polos yang dia cintai ini punya sisi yang jauh lebih liar dari yang dia bayangkan.
2305Please respect copyright.PENANA5f4k9UVUQj
2305Please respect copyright.PENANAZCtub5O0yS


