Bab 2: Hubungan Awal yang Bikin Ketagihan
2257Please respect copyright.PENANAC1zVjHKf9z
Tiga bulan berlalu sejak pertemuan pertama di Brew Haven, dan hubungan Luna dengan Arhan berkembang cepat, seperti api yang menyala pelan tapi pasti. Mereka resmi pacaran dua minggu setelah tukar nomor—Arhan langsung ajak Luna dinner di restoran rooftop fancy di SCBD, lengkap dengan bunga mawar merah dan candle light. Dari situ, hampir setiap akhir pekan mereka habiskan bareng: jalan-jalan di mall besar Jakarta, nonton film di bioskop premium, atau sekadar duduk di taman kota sambil makan es krim sambil ngobrol ngalor-ngidul.
2257Please respect copyright.PENANA0I1dHDIOgs
Arhan selalu romantis. Dia suka kirim good morning text dengan foto sunrise dari balkon apartemennya, pesen makanan favorit Luna pas dia capek kerja, bahkan beliin tas branded yang Luna cuma sebut sekilas di chat. Luna suka banget sisi itu—dia merasa dihargai, dicintai, dan diperhatikan. Tapi di balik senyum manis dan sikap polosnya, Luna mulai merasakan getaran yang lebih dalam setiap dekat Arhan. Cowok itu baik, lembut, tapi tatapannya sering turun ke tubuh Luna dengan cara yang bikin vaginanya berdenyut pelan. Luna tahu, Arhan selalu sange kalau lagi bareng dia.
2257Please respect copyright.PENANAPvY9elc9hm
Suatu sore Minggu, mereka lagi duduk di taman kota dekat apartemen Arhan. Matahari mulai jingga, angin sepoi bawa aroma rumput basah setelah hujan tadi siang. Luna pakai dress putih flowy yang agak ketat di dada, payudara F+ cup-nya terlihat penuh dan menggoda meski kainnya tipis. Bokong bulatnya menonjol pas dia duduk menyandar ke bahu Arhan. Arhan peluk pinggang Luna dari samping, tangannya hangat di kulit langsing yang terbuka sedikit di bagian pinggang dress.
2257Please respect copyright.PENANAG4iAyNYCDH
“Kamu bikin gue nggak bisa berhenti mikirin kamu tiap hari, Lun,” bisik Arhan pelan, nafasnya hangat menyapu telinga Luna. Luna merinding, bulu kuduknya berdiri. Dia balas pelan, “Aku juga, Han. Kamu bikin aku merasa… aman.” Kata-kata itu romantis, tapi dalem hati Luna ada hasrat lain yang bergejolak—dia ingin Arhan lebih kasar, lebih dominan, tapi dia masih jaga image polosnya.
2257Please respect copyright.PENANALAXF1ysfJE
Arhan condong lebih dekat, hidungnya hampir menyentuh leher Luna. Bau parfum vanila Luna bercampur aroma kulitnya yang segar bikin Arhan kontolnya langsung tegang di celana. Dia cium pipi Luna pelan, lalu turun ke sudut bibir. Luna menoleh, mata coklatnya bertemu mata Arhan yang sudah gelap penuh nafsu. Mereka ciuman pertama yang bener-bener dalam. Bibir Arhan lembut tapi lapar, lidahnya menyelinap masuk, rasa manis kopi latte masih tersisa di mulutnya. Luna balas dengan lembut dulu, lalu makin ganas—dia gigit bibir bawah Arhan pelan, suara “mmh” kecil keluar dari tenggorokannya.
2257Please respect copyright.PENANAnyWNP5QTJc
Tangan Arhan naik ke paha Luna, geser pelan ke atas di bawah dress. Kulit Luna halus banget, hangat, dan sedikit lembab karena udara lembab sore itu. Saat jari Arhan hampir menyentuh pinggir celana dalam, Luna pegang tangannya pelan. “Han… pelan-pelan dong,” desahnya, suaranya erotis meski keliatan malu. Arhan tarik napas dalam, “Gue nggak tahan, Lun. Badan kamu enak banget disentuh.” Emosinya campur cinta dan nafsu membara—dia ingin langsung bawa Luna ke apartemen dan nikmati tubuh itu sekarang juga.
2257Please respect copyright.PENANAWiFMFf9VSO
Luna blushing, tapi dalem hati dia seneng banget. Sentuhan Arhan bikin kristoris bengkak, vaginanya mulai basah, kristoris pelan-pelan merembes ke celana dalam. Dia suka rasa tegang ini, rasa ditahan, rasa ingin lebih. Tapi dia masih jaga rahasia—dia takut kalau Arhan tahu sisi gelapnya, cowok baik ini bakal pergi.
2257Please respect copyright.PENANAq5e4mcRWeM
Mereka lanjut ciuman, kali ini lebih panas. Arhan tangannya naik ke payudara Luna dari luar dress, meremas pelan. puting pink Luna mengeras di bawah kain tipis, terasa jelas di telapak tangan Arhan. “Kamu gede banget di sini,” gumam Arhan di sela ciuman, suaranya serak. Luna desah “Ahh… Han…” sambil memeluk leher Arhan lebih erat. Bau keringat tipis Arhan bercampur cologne kayu membuat Luna makin panas. Dia rasakan kontol Arhan yang keras menekan pahanya, panas dan berdenyut.
2257Please respect copyright.PENANA3wHJsEjQl4
Tapi mereka berhenti di situ—Luna tarik diri pelan, napasnya tersengal. “Kita… pulang dulu yuk? Nanti malem aja lanjut,” katanya sambil tersenyum manis, meski matanya penuh janji. Arhan mengangguk, meski susah banget nahan diri. “Oke, tapi janji ya, malem ini gue nggak bakal pelan-pelan lagi.”
2257Please respect copyright.PENANA6cdR24nEpq
Mereka jalan pulang sambil bergandengan, angin malam mulai bertiup. Emosi Arhan penuh cinta dan antisipasi—dia jatuh cinta beneran sama Luna, tapi nafsunya juga nggak bisa bohong. Luna di sampingnya, hati berbunga-bunga tapi juga gelisah. Dia romantis sama Arhan, tapi dalem hatinya hasrat ekstrem mulai berbisik: “Kapan gue bisa nunjukin sisi asli gue? Kapan dia bakal kasar sama gue?”
2257Please respect copyright.PENANAUzGQQqL1C3
Malam itu, mereka pisah di depan apartemen Luna dengan ciuman terakhir yang panjang. Arhan pulang dengan kontol masih tegang, Luna masuk kamar sambil pegang dada yang masih berdegup kencang. Hubungan mereka makin dalam, chemistry sensualnya makin kuat, dan rahasia Luna masih tersimpan rapat—setidaknya untuk sekarang.
2257Please respect copyright.PENANAHb7MP8nvME


