BAB 1: Hari Pertama yang Menggoda
11356Please respect copyright.PENANAY578f9EKyd
Pagi itu Jakarta masih suram, tapi dada Ayu sudah berdegup seperti drum pesta. Dia berdiri di depan cermin apartemen studio barunya di kawasan Kuningan, tangan sedikit gemetar saat mengenakan blazer putih yang sangat ketat di tubuhnya. 25 tahun, 166 cm, kulit putih mulus yang selalu bikin cowok-cowok menoleh dua kali. Rambut hitam panjangnya tergerai lurus sampai pinggang, mata coklatnya berkilau penuh harap dan sedikit gugup. Payudaranya yang E+ cup terasa berat dan penuh di balik kemeja sutra tipis warna krem, setiap napas membuat kain itu menggesek lembut puting-putingnya yang sudah membeku karena udara AC dingin. Bokongnya yang bulat sempurna, tidak terlalu besar tapi pas di genggaman, terbalut rok pensil hitam yang naik sedikit di paha saat dia membungkuk memakai sepatu heel 7 cm.
11356Please respect copyright.PENANAzCujO9IQ56
"Lo bisa, Ayu. Ini perusahaan impian lo. Jangan sampai kacau lagi kayak dulu," gumamnya sendiri sambil tersenyum ke cermin. Bau parfum vanilla manisnya sendiri merusak tubuh, membuatnya merasa seksi dan berani.
11356Please respect copyright.PENANAKAkIaXG7m5
Di lobi gedung kaca 25 lantai PT. Horizon Group, udara beraroma kopi mahal dan karpet baru. Cahaya matahari pagi menyinari marmer mengkilap, membuat Ayu merasa seperti masuk ke film. HRD perempuan paruh baya menyambutnya dengan senyum lebar.
11356Please respect copyright.PENANA2pz3uOtnBP
"Selamat datang, Mbak Ayu! Hari ini kamu training bersama satu orang lagi. Namanya Gita, dari divisi marketing. Kalian berdua freshgraduate, jadi pasti cocok."
11356Please respect copyright.PENANAWiKX05k8jV
Ayu baru mau jawab, pintu lift terbuka pelan.
11356Please respect copyright.PENANAVkhanLe57I
Dan dunia berhenti berputar.
11356Please respect copyright.PENANASh7AHXGGgL
Gita melangkah keluar. Tinggi 170 cm, kulit putih seperti porselen, hijab modis warna krem lembut yang pas banget membingkai wajahnya yang cantik tanpa cela. Mata hitamnya tajam, tapi ada kelembutan yang membuat Ayu langsung ingin tenggelam di dalamnya. Blazer longgarnya tidak bisa menyembunyikan payudara F cup yang menggoda, naik-turun perlahan setiap napas. Rok panjang hitamnya ketat di pinggul, menonjolkan bokong bulat yang sama sempurna dengan milik Ayu. Aroma parfum Gita langsung menyerang hidung Ayu — campuran mawar putih dan musk hangat yang membuat lutut Ayu lemas seketika.
11356Please respect copyright.PENANAFtdVSW16Vk
“Hai… Ayu ya?” suara Gita lembut, gen-z banget, ada nada nakal di ujung kalimat. "Gue Gita. Katanya kita latihan bareng satu bulan. Semangat ya, cantik!"
11356Please respect copyright.PENANAauMH99YlWK
Tangan mereka bersentuhan saat menjabat. Hangat. Lembut. Jari Gita sedikit lebih panjang, kuku manikur telanjang yang rapi. Ayu merasakan listrik kecil dari telapak tangan sampai ke vaginanya yang tiba-tiba terasa hangat dan sedikit basah. Bau tubuh Gita yang begitu dekat, membuat Ayu tanpa sadar menarik napas lebih dalam.
11356Please respect copyright.PENANAa4AR1cBBSQ
“Gue… gue juga seneng ketemu lo,” jawab Ayu, suaranya agak serak. Dia tertawa kecil, mencoba lucu seperti biasa. “Eh hijab lo keren banget. Modis gitu, gue jarang berani coba.”
11356Please respect copyright.PENANAsAwkCJfxVh
Gita tersenyum, mata hitamnya bertambah genit. “Makasih. Lo juga… blazer lo ketat banget sih. Payudara lo keliatan banget, cantik gila.”
11356Please respect copyright.PENANALzYXPY4yGM
Kata-kata itu keluar dengan santai, tapi Ayu merasa puting-putingnya langsung mengeras lagi. Mereka berdua berjalan menyusuri koridor kantor. Setiap langkah, pinggul mereka hampir menyentuh. Ayu bisa merasakan panas tubuh Gita menyebar ke sisi kirinya. Suara heel mereka berdua klik-klik selaras, seperti irama yang sudah lama saling kenal.
11356Please respect copyright.PENANAXhxBMHTkGX
Sepanjang pagi mereka ikut tur gedung. Ruang pertemuan kaca, pantry roti panggang wangi, ruang gym kantor yang terdapat treadmill dan matras yoga. Setiap kali Gita membungkuk menunjukkan sesuatu di rak bawah, roknya sedikit tertarik naik, menampilkan putih mulus dan sedikit paha dalam yang halus. Ayu tidak bisa berhenti memandang. Dalam hati dia membayangkan bagaimana rasanya menyelipkan tangan ke balik rok itu, merasakan kehangatan vagina Gita yang pasti sudah basah seperti miliknya sekarang.
11356Please respect copyright.PENANAsYv5Tmt6zH
Siang harinya mereka makan siang di kantin. Meja pojok, hanya mereka berdua. Gita melepas blazer karena panas, hanya tinggal kemeja satin tipis. Payudara F cup-nya terlihat lebih jelas, bentuk bulat sempurna, puting-putingnya samar terlihat menonjol karena bra tipis. Ayu merasa mulutnya kering.
11356Please respect copyright.PENANAO0y8dvfDmg
“Dari mana asalnya?” tanya Gita sambil menusuk salad.
11356Please respect copyright.PENANA5Wm4MVNJYE
“Bandung. Pindah ke sini buat lupain masa lalu,” jawab Ayu jujur, suaranya pelan. "Dulu… gue pernah pacaran toxic banget. Dia suka rekam gue pas kita lagi… main. Suka kasar, suka hina, suka minta uang juga. Makanya gue kabur."
11356Please respect copyright.PENANAdcLAzjqljC
Gita meletakkan garpu, mata hitamnya penuh empati tapi juga ada kilatan rasa penasaran. “Kasian… tapi sekarang lo aman di sini. Gue janji bakal jagain lo.” Tangannya menggenggam tangan Ayu di atas meja, jempolnya mengusap pelan punggung tangan Ayu. Sentuhan itu seperti api kecil yang menyala di perut Ayu. Bau parfum Gita lagi-lagi menumpuk, bercampur aroma kopi latte yang dia minum.
11356Please respect copyright.PENANABFWdfzcsyK
"Lo sendiri gimana? Hijab tapi keliatan… berani gitu," goda Ayu, mencoba balik.
11356Please respect copyright.PENANAmDYMHIHJsW
Gita tertawa kecil, pipinya merona sedikit. "Gue masih suka... eksperimen. Hijab cuma buat keluarga. Di luar, gue suka yang pembohong. Lo tau nggak, kadang gue bayangin gimana rasanya lengket, digoda lama-lama, sampe gue minta-minta."
11356Please respect copyright.PENANAbjv75lENMk
Kata-kata itu membuat vagina Ayu berdenyut pelan. Cairan hangat mulai merembes ke celana dalamnya yang sudah basah. Dia menggigit bibir bawah, berusaha tidak desah.
11356Please respect copyright.PENANA9zsoJSLRVT
Sore harinya mereka dipisahkan divisi. Ayu ke finance di lantai 12, Gita ke marketing di lantai 15. Sebelum masuk lift, Gita menarik Ayu ke sudut koridor yang sepi. Tubuh mereka hampir menempel. Payudara Gita yang besar menyentuh payudara Ayu, kain sutra bergesekan lembut.
11356Please respect copyright.PENANARV0CDCVKOB
"Nanti malam ngobrol ya? Gue mau cerita banyak tentang gue," bisik Gita, napas hangatnya menyapu telinga Ayu. “Dan… gue suka lo dari tadi.Bau lo enak banget.”
11356Please respect copyright.PENANAqmfCNbZmb6
Ayu hanya bisa mengangguk, tenggorokannya kering. Pintu lift tertutup, meninggalkan Ayu dengan jantung berdegup kencang dan vagina yang sudah banjir.
11356Please respect copyright.PENANAtHU84JJNdb
Di divisi keuangan, Ayu memperkenalkan diri ke tim. Semua ramah, tapi pikiran melayang ke Gita. Sepanjang pertemuan pertama, dia terus membayangkan tangan Gita yang lembut itu meremas putingnya, jari-jarinya masuk ke vaginanya yang sudah licin. Dia harus menahan diri agar tidak menggeliat di kursi.
11356Please respect copyright.PENANA96semRXUQH
Jam pulang tiba. Ayu naik ojek online pulang ke apartemen. Begitu pintu tertutup, dia langsung melepas blazer dan rok, hanya tinggal bra dan celana dalam yang sudah basah kuyup. Tubuhnya panas. Dia berbaring di kasur, tangannya langsung menyusup ke dalam celana dalam.
11356Please respect copyright.PENANAdZgamTiWNh
“Gita…” desahnya pelan.
11356Please respect copyright.PENANACEU1RlGd2z
Jarinya mengusap ceri-nya yang sudah bengkak dan licin. Rasa asin manis cairan tubuhnya sendiri terasa di ujung jari saat dia cicipi. Bau hasratnya sendiri bercampur sisa parfum Gita yang menempel di blazer. Dia membayangkan wajah Gita di antara pahanya, lidah Gita menjilat vaginanya pelan-pelan, mata hitam itu memandangnya penuh nafsu.
11356Please respect copyright.PENANAyPPMlgOkLH
Dua jari masuk pelan ke vaginanya yang sempit dan panas. “Ahh… Gita… lebih dalam…” gumamnya. Gerakannya semakin cepat. Payudaranya naik-turun, puting-putingnya memaksa sampai sakit. Dengan tangan kiri dia meremas sendiri puting kirinya, memilin pelan seperti yang pasti Gita lakukan.
11356Please respect copyright.PENANAbN5JUiUqtb
Bayangan Gita tergeletak di depannya, hijab masih terpasang tapi blazer terbuka, payudara F cup-nya bergoyang saat dia menjilat. Ayu menambah satu jari lagi, tiga jari sekarang mengaduk-aduk vaginanya yang sudah mengeluarkan suara basah “slurp… slurp…”.
11356Please respect copyright.PENANA7MVe5jnXl0
“Gue mau… gue mau lo siksa gue, Gita…” desahnya lebih keras. Tubuhnya melengkung, keringat menetes di leher putihnya. Bau keringat manis bercampur aroma keinginan memenuhi kamar kecil itu.
11356Please respect copyright.PENANAQUb4SXuWrO
Orgasme pertama datang seperti gelombang. vaginanya berdenyut kuat, minyak orgasme menyembur keluar basah. “Aaaahhh… Gitaaa!!” jeritnya pelan, tubuhnya kejang-kejang selama hampir satu menit. Tapi dia belum puas.
11356Please respect copyright.PENANAkD4zsLAV4d
Dia bangun, mengambil vibrator kecil dari laci (peninggalan masa lalu yang belum sempat dibuang). Alat itu langsung menyala pelan. Dia tekan ke ceri-nya yang masih sensitif, sementara tiga jari lagi masuk ke vaginanya. Bayangan sekarang berubah: Gita memakai strap-on, mendorong perlahan ke dalam dirinya, sambil bisik “Lo milik gue sekarang, Ayu.”
11356Please respect copyright.PENANAdj16GQjUwm
Gerakan semakin cepat. Suara vibrator “zzzzz” bercampur desahan Ayu yang semakin pembohong. Keringat mengalir di antara payudaranya. Bau ruangan sudah penuh aroma seks. Dia mencapai orgasme kedua, lebih kuat. Minyak orgasme menyembur lagi, kali ini lebih banyak, membasahi paha sampai ke lutut.
11356Please respect copyright.PENANASMtskVmfi0
“Gita… gue suka lo… gue mau lo kuasai gue…” gumamnya lemah setelah orgasme kedua.
11356Please respect copyright.PENANAsMR19t6sCf
Dia berbaring telentang, napas tersengal. Tubuhnya berkilau keringat. Tanganku masih pelan mengusap vaginanya yang berdenyut pelan. Di ponsel, chat dari Gita masuk.
11356Please respect copyright.PENANApMIaTiNhn7
Gita: "Udah sampe rumah? Gue masih kepikiran lo. Payudara lo tadi keliatan enak banget di balik baju. Besok kita makan siang bareng lagi ya? 😏"
11356Please respect copyright.PENANA8KxPcam5Q8
Ayu tersenyum lemah, tangisnya masih di dalam vaginanya.
“Besok… gue bakal bikin lo nggak bisa jalan, Gita,” balasnya dalam hati.
11356Please respect copyright.PENANAgEmie2wHQH
Malam itu Ayu tidur dengan senyum puas, tubuhnya masih bergetar sisa kenikmatan. Hari pertama di kantor impian ternyata membawa sesuatu yang jauh lebih panas dari yang dia bayangkan. Dan dia belum tahu, di lantai lain, ada mata yang sudah mengawasinya dari jauh — mata Arman yang baru kembali dari cuti besok pagi.
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
11356Please respect copyright.PENANA46ODOKF2M9
11356Please respect copyright.PENANAqOsMMAM2yg


