BAB 2: Arman Kembali, Rasa Tak Asing
9421Please respect copyright.PENANAqIMeZTpJm7
Pagi Senin berikutnya, gedung Horizon Group sudah ramai seperti biasa. Ayu tiba lebih awal, masih membawa sisa getaran dari malam sebelumnya. Tubuhnya terasa ringan setelah dua orgasme yang dia rasakan sendiri sambil membayangkan Gita, tapi ada rasa haus yang belum hilang sepenuhnya. Dia memilih blus sutra biru muda yang agak transparan di bagian dada, bra hitam tipis sengaja dipakai agar puting-putingnya samar terlihat saat cahaya jatuh tepat. Rok span hitam pendek sedikit di atas lutut, tumit yang sama, rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai liar. Bau parfum vanilla-nya lebih kuat hari ini, seperti undangan diam-diam.
9421Please respect copyright.PENANATdtVAs3JMa
Di ruang pertemuan lantai 12, tim keuangan sudah berkumpul. Ayu duduk di pojok, kakinya disilangkan, rok naik sedikit menampilkan paha putih mulus. Dia sibuk membuka laptop saat pintu terbuka pelan.
9421Please respect copyright.PENANAzU5Xssu05v
“Selamat pagi semua. Maaf telat sedikit, potong panjang kemarin bikin aku ketinggalan ritme.”
9421Please respect copyright.PENANAkODqW2FIGx
Suara itu dalam, berat, tapi ada nada santai yang membuat bulu kuduk Ayu berdiri. Dia menoleh.
9421Please respect copyright.PENANA5U3SSTIx2t
Arman berdiri di ambang pintu. 30 tahun, tinggi 170 cm tapi postur tubuhnya tegak sempurna, membuatnya terlihat lebih tinggi. Otot dada dan lengan terlihat jelas di balik kemeja putih yang digulung sampai siku, rambut hitam lurus rapi tapi sedikit acak-acakan di depan, seperti baru bangun dari tidur panjang yang menyenangkan. Senyumnya menawan, tapi mata coklat orang tuanya tajam, seperti sedang diukur setiap orang di ruangan itu. Celana chino hitamnya pas di pinggul, dan Ayu tanpa sadar melirik ke bawah — cetakan samar di selangkangan membuatnya menelan ludah pelan.
9421Please respect copyright.PENANAQtQ1L1UUTR
"Arman! Akhirnya balik juga," sapa kepala divisi sambil menampar bahu Arman. "Ini Ayu, karyawan baru di tim kita. Freshgraduate, tapi langsung ngegas banget laporannya kemarin."
9421Please respect copyright.PENANAujHe6jSjhs
Arman berjalan mendekat. Langkahnya tenang, tapi setiap gerakannya seperti predator yang sedang mengintai. Dia berhenti tepat di depan Ayu, membungkuk sedikit untuk menjabat tangan. Tangan peringatan besar, telapaknya hangat dan kasar di bagian dalam — mungkin dari rutinitas gym. Saat jari mereka bersentuhan, Ayu merasakan getaran listrik yang berbeda dari sentuhan Gita. Ini lebih gelap, lebih menekan.
9421Please respect copyright.PENANAGDnXPIxHL5
"Ayu ya? Senang kenal. Gue Arman, senior di sini. Semoga kita bisa kerja bareng lancar."
9421Please respect copyright.PENANABOLLdbEeIm
Suara dia rendah, hampir berbisik di telinga Ayu. Bau aftershave kayu cendana dan sedikit keringat pria dewasa meresap ke hidung Ayu. Dia menarik napas pelan, vaginanya berdenyut sekali tanpa diundang. Mata Arman menatap langsung ke matanya, tapi sesaat turun ke dada Ayu — ke puting-puting yang samar-samar terlihat di balik sutra tipis. Senyumnya sedikit melebar, seperti menemukan sesuatu yang sudah lama dicari.
9421Please respect copyright.PENANAveDy5agiai
“Gue… gue juga senang, Mas Arman,” jawab Ayu, suaranya sedikit gemetar. Dia mencoba tersenyum lucu seperti biasa. “Semoga Mas Arman bisa bimbing gue ya, soalnya gue masih newbie banget.”
9421Please respect copyright.PENANA1M0cM9nNi3
Arman tertawa kecil, suara itu bergetar di dada Ayu. “Tenang aja.Gue suka bimbing yang…patuh.”
9421Please respect copyright.PENANACclzgMv0NW
Kata “patuh” itu keluar pelan, tapi Ayu merasa seperti ditampar ringan di bokong. Tubuhnya langsung panas. Dia mengangguk cepat, berusaha fokus ke laptop.
9421Please respect copyright.PENANA6ZZYtGVEzr
Rapat berlangsung satu jam. Arman duduk tepat di seberang Ayu. Setiap kali dia bicara, mata Ayu sadar tanpa melirik ke tangan yang besar itu — jari-jari panjang, urat menonjol, seperti bisa mencengkeram leher seseorang dengan mudah. Saat Arman menjelaskan laporan bulanan, suaranya stabil tapi ada nada dominan yang membuat Ayu menggeliat pelan di kursi. Roknya naik lagi, paha dalamnya terasa lengket karena cairan yang mulai merembes pelan.
9421Please respect copyright.PENANACSKbQC5mYm
Sepanjang pertemuan, Arman sesekali menatap Ayu lebih lama dari yang seharusnya. Tidak biasa. Pandangan itu seperti sedang mengingat sesuatu. Wajah Ayu, mata coklatnya, bibir penuhnya, bahkan cara dia menggigit bibir bawah saat gugup. Arman merasa ada sesuatu yang menggelitik di kepalanya. Wajah ini… pernah dia lihat. Bukan di kantor. Bukan di kampus. Di suatu tempat yang lebih gelap.
9421Please respect copyright.PENANAGeTeebzhgO
Saat break kopi, Arman mendekati Ayu di pantry. Ruangan kecil itu sepi, hanya mereka berdua. Ayu sedang menuang air panas ke cangkir, punggung membelakangi Arman. Dia membungkuk sedikit, bokong bulatnya menonjol di balik rok span.
9421Please respect copyright.PENANAlehuP3Y3pE
“Lo satu angkatan sama siapa di kampus dulu?” tanya Arman tiba-tiba, suaranya dekat sekali di belakang Ayu.
9421Please respect copyright.PENANAlOdyssBub1
Ayu menoleh, hampir menumpahkan kopi. Arman berdiri terlalu dekat, dada berototnya hampir menyentuh punggung Ayu. Panas tubuhnya terasa seperti api.
9421Please respect copyright.PENANAYeVg3TiTmv
“Gue angkatan 2018, Mas.Ekonomi di UI.”
9421Please respect copyright.PENANAI2fqPTCwPj
Arman mengangguk pelan. "Gue 2013. Jauh ya. Tapi… gue kayak pernah liat muka lo. Di mana ya?"
9421Please respect copyright.PENANATrLXAR9R8p
Ayu tertawa gugup. “Mungkin di kantin atau acara kampus. Banyak yang mirip kan.”
9421Please respect copyright.PENANAnaFMU4wmJS
Arman tersenyum, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Mungkin. Tapi muka lo… susah dilupain.”
9421Please respect copyright.PENANAqT7I6XzP2A
Dia mengambil cangkir kopi dari tangan Ayu, jari-jarinya sengaja menyentuh jari Ayu lama-lama. Sentuhannya kasar tapi terkendali, seperti sedang mengukur seberapa kuat Ayu bisa menahannya. Ayu merasa vaginanya berdenyut lagi, cairan hangat merembes lebih banyak. Bau aftershave Arman bercampur aroma kopi hitam membuat kepalanya pusing ringan.
9421Please respect copyright.PENANAa34GRNmTfv
hari Sepanjang itu, Arman terus “kebetulan” berada di dekat Ayu. Saat diskusi kecil di meja, tangannya sengaja menyenggol lengan Ayu. Saat lewat di koridor, bahunya menyentuh bahu Ayu pelan. Setiap sentuhan kecil itu seperti percikan api, membuat Ayu semakin gelisah. Dia mencoba fokus kerja, tapi pikirannya melayang: bagaimana rasanya jika tangan besar itu mencengkeram pinggulnya, mendorongnya ke meja, titit besar yang pasti tersembunyi di celana Arman itu masuk perlahan ke vaginanya yang sudah basah.
9421Please respect copyright.PENANAdSLWjcUp7b
Sore harinya, saat jam pulang hampir tiba, Arman memanggil Ayu ke ruangannya. Ruangan pribadi di pojok lantai 12, kaca buram, pintu bisa dikunci dari dalam.
9421Please respect copyright.PENANAq5hnfjDvfB
"Masuk, Ayu. Mohon feedbacknya dari laporan kemarin."
9421Please respect copyright.PENANARnNzkixmlG
Ayu masuk, pintu ditutup perlahan. Klik. Suara kunci berderit kecil. Arman duduk di kursi besarnya, kakinya terbuka lebar, tangan di atas meja. Ayu berdiri di depannya, tangan di depan perut seperti anak kecil yang dihukum.
9421Please respect copyright.PENANA14df6Ar2Ym
"Laporan lo bagus. Tapi ada yang kurang… detail," kata Arman pelan. Matanya turun ke dada Ayu lagi. “Lo suka pakai baju yang… menonjolkan aset ya?”
9421Please respect copyright.PENANA264qHPB23B
Ayu tersipu, tapi ada bagian dirinya yang bersemangat. “Iya, Mas…biar percaya diri aja.”
9421Please respect copyright.PENANAy6ciSgfy6m
Arman bangun, berjalan mendekat. Dia lebih tinggi sedikit, membuat Ayu harus mendongak. Jarak mereka tinggal beberapa senti. Ayu bisa merasakan napas hangat Arman di wajahnya, bau aftershave dan hasrat pria dewasa.
9421Please respect copyright.PENANAcmwcjXb46a
“Percaya diri itu bagus. Tapi kadang… kepercayaan diri berlebih bisa bikin orang lain pengen… menguasai.”
9421Please respect copyright.PENANAKvZf8z9EHp
Kata terakhir itu diucapkan hampir seperti ancaman lembut. Tangan Arman naik, menyentuh dagu Ayu pelan, mengangkat wajahnya sehingga mata mereka bertemu. Jempolnya mengusap bibir bawah Ayu, pelan tapi tegas.
9421Please respect copyright.PENANAzEsvNTEm1z
“Lo pernah… disiksa orang, Ayu?”
9421Please respect copyright.PENANAPmHEBOgf80
Pertanyaan itu datang tiba-tiba. Ayu menelan ludah. Masa lalu toxic-nya muncul lagi: mantan yang suka tampar bokongnya sampai merah, suka tarik rambut saat dari belakang, suka rekam dan panggil dia “pelacur kantor”.
9421Please respect copyright.PENANA5MZGGeP8Zl
“Pernah… sedikit,” jawab Ayu pelan, suara serak.
9421Please respect copyright.PENANA6VqdPQY5DB
Arman tersenyum lebar sekarang. "Bagus. Karena gue suka yang sudah berlatih sedikit. Lebih mudah… diajarin ulang."
9421Please respect copyright.PENANAmFMcZSwv4u
Dia melepaskan dagu Ayu, tapi sebelum mundur, tangan turun menyentuh pinggang Ayu pelan, jari-jarinya menekan kulit di atas rok. Ayu menggigit bibir, menahan desah. vaginanya sudah banjir, celana dalamnya lengket parah.
9421Please respect copyright.PENANAhapNdkl49P
“Besok kita lanjut diskusi lagi. Sendiri. Jangan telat.”
9421Please respect copyright.PENANAXl9XdRx5kH
Arman membuka pintu, membiarkan Ayu keluar. Ayu berjalan pincang kecil ke angkat, kakinya lemas. Di dalam lift sendirian, dia bersandar ke dinding, tangan tanpa sadar menyentuh vaginanya dari luar rok. Hanya usapan pelan, tapi cukup membuatnya mendesah kecil.
9421Please respect copyright.PENANAyL0B3plwD1
Malam itu, di apartemen, Ayu tidak bisa tidur. Tubuhnya panas. Dia melepas semua baju, telanjang bulat di kematian. Lampu redup, cermin besar di depan berbaring memantulkan tubuhnya: payudara E+ cup bergoyang pelan, puting-putingnya merah karena sudah dipilin sendiri tadi siang, vaginanya licin dan bengkak.
9421Please respect copyright.PENANAoXqHkVMcBd
Dia mengambil vibrator lagi, kali ini yang lebih besar — 18 cm, mirip ukuran yang dia bayangkan milik Arman. Dia memperkenalkannya perlahan, merasakan dinding vaginanya meregang. “Ahhh… Mas Arman… lebih keras…” desahnya.
9421Please respect copyright.PENANA54xO7VFyiH
Bayangan Arman muncul: dia mengikat tangan Ayu ke meja kerja, titit besarnya 19 cm masuk kasar dari belakang, tangannya menampar bokong Ayu dengan keras. papan! papan! Suara imajiner itu membuat Ayu menggerakkan vibrator lebih cepat.
9421Please respect copyright.PENANAI61kiZfnr8
"Lo milik gue sekarang, Ayu. Lo cuma toilet sperma gue," bisik imajinasi Arman di telinga.
9421Please respect copyright.PENANA76NLdztyvu
Ayu mencapai orgasme pertama dengan cepat, minyak orgasmenya disiram vibrator dan direndam. Tapi dia melanjutkan. Dia balik badan, posisi berbaring, vibrator masih di dalam. Tangan kirinya meremas puting kirinya keras, memilin sampai sakit enak.
9421Please respect copyright.PENANAV126AoGyrt
“Tampar gue lagi… siksa gue… gue mau jadi budak lo…” jeritnya pelan.
9421Please respect copyright.PENANA5iZjMgqh8Q
Orgasme kedua datang lebih kuat, tubuhnya kejang, minyak orgasme menetes ke paha. Dia ambruk, nafas tersengal, tapi pikiran Arman masih penuh.
9421Please respect copyright.PENANAsHjbFi2L4Y
Di sisi lain kota, Arman duduk di apartemen mewahnya, laptop terbuka. Dia membuka folder lama di hard disk eksternal. Foto-foto dan video dari hp teman dulu — Gani, mantan Ayu. Video Ayu telanjang, berlutut, mulut penuh titit, vaginanya masuk dari belakang sambil ditampar. Wajahnya sama bertahan dengan yang dia lihat hari ini.
9421Please respect copyright.PENANAY7IsHfzPx3
Arman tersenyum gelap. "Akhirnya gue inget. Lo… lo yang dulu jadi mainan Gani. Celana aja gue ngerasa familiar."
9421Please respect copyright.PENANAFF9Cf80esl
Jarinya memutar video terakhir: Ayu orgasme sambil menangis, madu temannya menyembur di wajahnya. Arman merasakan tititnya menggumpal di celana.
9421Please respect copyright.PENANAxLK2BnniOe
"Lo bakal balik lagi ke posisi itu, Ayu. Tapi kali ini… lebih parah. Lo bakal jadi artis gue. Toilet sperma sekantor. Dan lo bakal suka."
9421Please respect copyright.PENANAesWFirUTo4
Dia menutup laptop, tapi senyumnya tidak hilang. Rencana sudah mulai terbentuk di kepalanya. Besok, dia akan mulai menguji seberapa jauh Ayu bisa ditarik kembali ke kegelapan yang dulu dia coba lupakan.
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
9421Please respect copyright.PENANAfarDfn8gvF


