/story/205923/ore-ga-play-shiteita-game-no-sekai-ni-tojikomerareta-kedo-shoutai-wo-kakushite-futsuu-ni-ikiteiku-koto-ni-shita/?load=0
Ore ga Play Shiteita Game no Sekai ni Tojikomerareta kedo, Shoutai wo Kakushite Futsuu ni Ikiteiku Koto ni Shita | Penana
arrow_back
Ore ga Play Shiteita Game no Sekai ni Tojikomerareta kedo, Shoutai wo Kakushite Futsuu ni Ikiteiku Koto ni Shita
more_vert share bookmark_border file_download
info_outline
format_color_text
toc
exposure_plus_1
coins
Search stories, writers or societies
Continue ReadingClear All
What Others Are ReadingRefresh
X
Never miss what's happening on Penana!
PG-13
Ore ga Play Shiteita Game no Sekai ni Tojikomerareta kedo, Shoutai wo Kakushite Futsuu ni Ikiteiku Koto ni Shita
WILLIAM
Intro Table of Contents Top sponsors Comments (0)

Bab 1: Si Putih yang Menyebalkan dan Status yang Pas-pasan


​Kepalaku rasanya seperti dihantam godam raksasa. Pandanganku kabur, dan hal terakhir yang kuingat hanyalah layar monitor yang masih menyala menampilkan layar Game Over setelah aku mencoba melakukan speedrun di game "Academy of Elioth".


​Tapi, tempat ini bukan kamarku yang berantakan.


​Tempat ini... putih. Semuanya putih. Tidak ada lantai, tidak ada atap, hanya hamparan kosong yang membuat mataku perih. Di depanku, berdiri sesosok makhluk yang lebih aneh lagi. Dia tidak memiliki wajah, tidak memiliki pakaian, hanya siluet manusia yang memancarkan cahaya putih menyilaukan.


    ​"Halo, Akane Aizawa. Selamat datang di ruang antara," ucapnya. Suaranya bergema, tenang tapi entah kenapa terasa sedikit mengejek.


​"Siapa kau? Tuhan? Malaikat? Atau jangan-jangan aku mati karena kebanyakan begadang?" tanyaku ketus. Aku tidak punya waktu untuk basa-basi kalau ini hanya mimpi buruk.


    ​"Panggil saja aku William"," jawabnya santai. "Dan ya, kau bisa dibilang 'berpindah'. Aku akan mengirimmu ke dunia game yang sangat kau sukai itu. Sebagai bonus, aku akan memberimu Sistem."


​Dia melambaikan tangannya. Tiba-tiba, sebuah panel transparan muncul di depanku.


    ​"Aku juga memberimu kekuatan Energy Elioth. Gunakan dengan bijak, atau jangan, terserah kau saja. Sampai jumpa di sana!"


    ​"Tunggu! Aku belum set—!"


​Sebelum aku sempat memprotes, lantai di bawah kakiku (kalau itu bisa disebut lantai) menghilang. Aku terjatuh ke dalam lubang hitam yang tak berujung.


​Aku tersentak bangun. Napas asat, keringat dingin membasahi dahiku.


    ​"Hah... hah... mimpi?" gumamku.


​Aku melihat sekeliling. Ini bukan kamar kosku. Ruangan ini rapi, minimalis, dengan seragam sekolah yang tergantung di pintu lemari. Desainnya sangat familiar. Ini adalah asrama tahun pertama di Academy of Elioth.


    ​"Jangan bilang..."


​Aku mencoba memanggil hal yang paling klise dalam situasi seperti ini. "Sistem!"


​Tring!


​Sebuah layar holografis muncul di depan mataku.


​╔══════════════════════════════╗


STATUS WINDOW


╚══════════════════════════════╝


​NAME : Akane Aizawa


AGE : 17


GENDER : Female


TITLE : Academy Elemental Student


​[ CORE STATUS ]


STR : ★★★☆☆☆☆☆☆☆


SPD : ★★★★☆☆☆☆☆☆


INTE : ★★★★★★☆☆☆☆


MANA : ★★★★★★★☆☆☆


LUCK : ★★☆☆☆☆☆☆☆☆


​[ ELEMENT ]


​Metal Control ★★★☆☆☆☆☆☆☆


​Energy Elioth ★★★★☆☆☆☆☆☆


​Aku menghela napas panjang saat melihat bagian keberuntungan.


    ​"Dua bintang? Serius, William? Kau memberiku keberuntungan ampas di dunia yang penuh monster dan bangsawan gila ini?"


​Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah cermin. Wajah di cermin itu memang aku, Akane Aizawa, tapi versi yang jauh lebih "bening". Rambutku tertata rapi, dan mataku terlihat lebih tajam.


    ​"Oke, Akane. Tenang. Kau tahu plot game ini. Kau tahu rahasia-rahasianya," aku mencoba menyemangati diri sendiri. "Tujuanku cuma satu: Bertahan hidup sampai tamat tanpa menarik perhatian para karakter utama yang merepotkan itu."


​Namun, harapanku hancur seketika saat aku melihat daftar siswa di meja belajarku.


​Di sana tertera nama-nama yang seharusnya hanya ada di layar HP-ku:


​Francisco Choi: Si jenius sombong dari keluarga bangsawan yang kecepatannya bisa membuatmu mual hanya dengan melihatnya lewat.


​Jimmy Fendy: Tembok berjalan yang kalau dipukul, malah tanganmu yang patah.


​Roswelia Ziliana: Tokoh utama game ini. Si jenius pedang elit yang kecantikannya setara dengan kengerian teknik pedangnya.


​Alice: Mage berbakat yang sepertinya punya stok Mana tidak terbatas.


    ​"Semuanya ada di kelas yang sama denganku?" aku menjatuhkan kepalaku ke meja. Duk!


    ​"William, kau benar-benar ingin aku mati cepat, ya?"


​Dunia ini bukan lagi sekadar data digital. Aroma kayu di ruangan ini, rasa dingin di lantai, dan energi yang berdesir di ujung jariku saat aku mencoba mengaktifkan Metal Control... semuanya nyata.


​Aku harus mulai bergerak. Kalau tidak salah, hari ini adalah upacara pembukaan. Jika aku ingin hidup tenang, aku harus memastikan tidak menonjolkan diri di depan Francisco atau Roswelia.


    ​"Baiklah, mari kita mulai hidup sebagai figuran yang sangat, sangat biasa saja."


​Aku memakai seragam asrama, mengambil sepatu standar akademi, dan melangkah keluar. Tapi baru saja aku membuka pintu...


​Brakk!


​Seseorang berlari dengan kecepatan yang tidak masuk akal dan hampir menabrakku. Jika aku tidak memiliki refleks dari status SPD bintang empat, wajahku mungkin sudah berciuman dengan lantai.


​"Heh, perhatikan jalanmu, rakyat jelata," ucap pemuda tampan dengan rambut klimis yang berdiri di depanku. Dia menatapku dengan tatapan meremehkan seolah aku hanyalah kerikil di jalanan.


​Itu dia. Francisco Choi.


    ​"Maafkan saya, Tuan Muda Francisco," kataku dengan nada sedatar mungkin, sambil membungkuk sedikit. Sabar, Akane. Jangan gunakan Energy Elioth untuk meledakkan sepatunya.


​Dia mendengus dan menghilang dalam sekejap mata.


    ​"Baru hari pertama dan aku sudah bertemu bos kecil," bisikku sambil mengusap dada. "Keberuntungan bintang dua memang tidak pernah bohong."Bab 1: Si Putih yang Menyebalkan dan Status yang Pas-pasan


​Kepalaku rasanya seperti dihantam godam raksasa. Pandanganku kabur, dan hal terakhir yang kuingat hanyalah layar monitor yang masih menyala menampilkan layar Game Over setelah aku mencoba melakukan speedrun di game "Academy of Elioth".


​Tapi, tempat ini bukan kamarku yang berantakan.


​Tempat ini... putih. Semuanya putih. Tidak ada lantai, tidak ada atap, hanya hamparan kosong yang membuat mataku perih. Di depanku, berdiri sesosok makhluk yang lebih aneh lagi. Dia tidak memiliki wajah, tidak memiliki pakaian, hanya siluet manusia yang memancarkan cahaya putih menyilaukan.


​"Halo, Akane Aizawa. Selamat datang di ruang antara," ucapnya. Suaranya bergema, tenang tapi entah kenapa terasa sedikit mengejek.


​"Siapa kau? Tuhan? Malaikat? Atau jangan-jangan aku mati karena kebanyakan begadang?" tanyaku ketus. Aku tidak punya waktu untuk basa-basi kalau ini hanya mimpi buruk.


​"Panggil saja aku William," jawabnya santai. "Dan ya, kau bisa dibilang 'berpindah'. Aku akan mengirimmu ke dunia game yang sangat kau sukai itu. Sebagai bonus, aku akan memberimu Sistem."


​Dia melambaikan tangannya. Tiba-tiba, sebuah panel transparan muncul di depanku.


​"Aku juga memberimu kekuatan Energy Elioth. Gunakan dengan bijak, atau jangan, terserah kau saja. Sampai jumpa di sana!"


​"Tunggu! Aku belum set—!"


​Sebelum aku sempat memprotes, lantai di bawah kakiku (kalau itu bisa disebut lantai) menghilang. Aku terjatuh ke dalam lubang hitam yang tak berujung.


​Aku tersentak bangun. Napas asat, keringat dingin membasahi dahiku.


​"Hah... hah... mimpi?" gumamku.


​Aku melihat sekeliling. Ini bukan kamar kosku. Ruangan ini rapi, minimalis, dengan seragam sekolah yang tergantung di pintu lemari. Desainnya sangat familiar. Ini adalah asrama tahun pertama di Academy of Elioth.


​"Jangan bilang..."


​Aku mencoba memanggil hal yang paling klise dalam situasi seperti ini. "Sistem!"


​Tring!


​Sebuah layar holografis muncul di depan mataku.


​╔══════════════════════════════╗


STATUS WINDOW


╚══════════════════════════════╝


​NAME : Akane Aizawa


AGE : 17


GENDER : Female


TITLE : Academy Elemental Student


​[ CORE STATUS ]


STR : ★★★☆☆☆☆☆☆☆


SPD : ★★★★☆☆☆☆☆☆


INTE : ★★★★★★☆☆☆☆


MANA : ★★★★★★★☆☆☆


LUCK : ★★☆☆☆☆☆☆☆☆


​[ ELEMENT ]


​Metal Control ★★★☆☆☆☆☆☆☆


​Energy Elioth ★★★★☆☆☆☆☆☆


​Aku menghela napas panjang saat melihat bagian keberuntungan.


​"Dua bintang? Serius, William? Kau memberiku keberuntungan ampas di dunia yang penuh monster dan bangsawan gila ini?"


​Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah cermin. Wajah di cermin itu memang aku, Akane Aizawa, tapi versi yang jauh lebih "bening". Rambutku tertata rapi, dan mataku terlihat lebih tajam.


​"Oke, Akane. Tenang. Kau tahu plot game ini. Kau tahu rahasia-rahasianya," aku mencoba menyemangati diri sendiri. "Tujuanku cuma satu: Bertahan hidup sampai tamat tanpa menarik perhatian para karakter utama yang merepotkan itu."


​Namun, harapanku hancur seketika saat aku melihat daftar siswa di meja belajarku.


​Di sana tertera nama-nama yang seharusnya hanya ada di layar HP-ku:


​Francisco Choi: Si jenius sombong dari keluarga bangsawan yang kecepatannya bisa membuatmu mual hanya dengan melihatnya lewat.


​Jimmy Fendy: Tembok berjalan yang kalau dipukul, malah tanganmu yang patah.


​Roswelia Ziliana: Tokoh utama game ini. Si jenius pedang elit yang kecantikannya setara dengan kengerian teknik pedangnya.


​Alice: Mage berbakat yang sepertinya punya stok Mana tidak terbatas.


​"Semuanya ada di kelas yang sama denganku?" aku menjatuhkan kepalaku ke meja. Duk!


​"William, kau benar-benar ingin aku mati cepat, ya?"


​Dunia ini bukan lagi sekadar data digital. Aroma kayu di ruangan ini, rasa dingin di lantai, dan energi yang berdesir di ujung jariku saat aku mencoba mengaktifkan Metal Control... semuanya nyata.


​Aku harus mulai bergerak. Kalau tidak salah, hari ini adalah upacara pembukaan. Jika aku ingin hidup tenang, aku harus memastikan tidak menonjolkan diri di depan Francisco atau Roswelia.


​"Baiklah, mari kita mulai hidup sebagai figuran yang sangat, sangat biasa saja."


​Aku memakai seragam asrama, mengambil sepatu standar akademi, dan melangkah keluar. Tapi baru saja aku membuka pintu...


​Brakk!


​Seseorang berlari dengan kecepatan yang tidak masuk akal dan hampir menabrakku. Jika aku tidak memiliki refleks dari status SPD bintang empat, wajahku mungkin sudah berciuman dengan lantai.


​"Heh, perhatikan jalanmu, rakyat jelata," ucap pemuda tampan dengan rambut klimis yang berdiri di depanku. Dia menatapku dengan tatapan meremehkan seolah aku hanyalah kerikil di jalanan.


​Itu dia. Francisco Choi.


​"Maafkan saya, Tuan Muda Francisco," kataku dengan nada sedatar mungkin, sambil membungkuk sedikit. Sabar, Akane. Jangan gunakan Energy Elioth untuk meledakkan sepatunya.


​Dia mendengus dan menghilang dalam sekejap mata.


​"Baru hari pertama dan aku sudah bertemu bos kecil," bisikku sambil mengusap dada. "Keberuntungan bintang dua memang tidak pernah bohong."


Show Comments
BOOKMARK
Total Reading Time: 6 minutes
toc Table of Contents
No tags yet.
bookmark_border Bookmark Start Reading >
×


Reset to default

X
×
×

Install this webapp for easier offline reading: tap and then Add to home screen.