Bab 3: Godaan Pertama Sang Kakak Ipar
1341Please respect copyright.PENANApMGuE24kjn
Sakit itu apartemen terasa lebih sepi dari biasanya. Amel terjebak di kantor karena pertemuan mendadak dengan klien besar—dia SMS Riyan bahwa pulang paling cepat jam 9 malam. Ica seharusnya sudah di kampus, tapi hari ini jadwal kuliahnya kosong setelah dosennya sakit. Dia memilih pulang lebih awal, berharap bisa bersantai sendirian di kamar sambil… melanjutkan “eksplorasi” yang semakin sering dilakukan di belakang ini.
1341Please respect copyright.PENANAoPoOXz6rrw
Riyan tahu semua itu. Dari log wifi yang masih aktif, dia sudah melihat Ica membuka situs-situs yang semakin spesifik: “BDSM light for pemula”, “how to submit to dominan man”, bahkan satu video berjudul “step brother seduces step sister hijab”. Riyan tidak langsung bertindak. Dia menunggu momen yang tepat—dan momen itu datang hari ini.
1341Please respect copyright.PENANAYoMYPQpImM
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
1341Please respect copyright.PENANAp5f4hkaHpw
Riyan sengaja memakai celana olahraga ketat dan kaos tanpa lengan hitam yang menampilkan otot lengan dan dada. Dia masuk ke ruang gym kecil di lantai bawah apartemen—ruangan yang jarang dipakai Amel karena dia lebih suka yoga di ruang tamu. Gym itu punya treadmill, bench press, set dumbbell, dan satu cermin dinding besar. Lampu LED putih terang, namun Riyan mematikan sebagian, meninggalkan cahaya kuning hangat yang membuat suasana lebih intim.
1341Please respect copyright.PENANACNhGCscCx9
Dia mulai angkat dumbbell, pura-pura latihan sendirian. Setelah 10 menit, dia sengaja mengeluarkan suara keras—dumbbell jatuh ke lantai dengan *brak* yang menggema.
1341Please respect copyright.PENANAhOPSaHD7Um
Ica yang sedang di kamar, mendengar suara itu. Dia keluar, menusuk dari koridor. Melihat Riyan di gym, tubuhnya berkeringat tipis, otot menonjol setiap kali dia angkat beban. Ica menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. Dia seharusnya balik ke kamar, tapi kakinya malah melangkah mendekat.
1341Please respect copyright.PENANA9Zi0dsRoGo
“Kak Riyan… lagi olahraga ya?” tanya Ica pelan, suaranya hampir bergetar.
1341Please respect copyright.PENANAGl4rRFscSq
Riyan berhenti, letakkan barbel. Dia menoleh, senyum menawan muncul di wajahnya—senyum yang selalu membuat Amel meleleh, dan kini membuat Ica merasa lemas di lutut.
1341Please respect copyright.PENANAmyQiVGX0aO
"Iya, ca. Mau ikut? Kamu kan jarang olahraga di sini."
1341Please respect copyright.PENANAk3wQxVJnAO
Ica menggeleng cepat. “Nggak… aku cuma… penasaran aja suara apa tadi.”
1341Please respect copyright.PENANAutrb50qco3
Riyan tertawa kecil. "Dumbbell jatuh. Maaf kalau gputing. Masuk aja, gak usah malu."
1341Please respect copyright.PENANA6I3osrmCJt
Ica ragu, tapi akhirnya melangkah masuk. Dia masih memakai hijab hitam longgar, kaos oversize putih, dan celana legging ketat yang menampilkan bentuk bokong bulatnya. Payudara E+ cup-nya terlihat menonjol di balik kaos, meski dia berusaha menutupinya dengan tangan.
1341Please respect copyright.PENANAyLIFRDEBkP
Riyan melirik sekilas—tatapan yang cepat tapi cukup untuk membuat Ica merinding. “Kamu terlihat tegang, ca.Duduk dulu di bangku itu.”
1341Please respect copyright.PENANA0cHHZ0sV5L
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
1341Please respect copyright.PENANAQmhBdK8zcW
Ica duduk di ujung bench press, tangan ujung memainkan hijab. Riyan mendekat, berdiri tepat di depannya. Jarak mereka hanya satu lengan.
1341Please respect copyright.PENANA7AkMSXpUXe
“Kamu lagi ada masalah apa?” tanya Riyan lembut, suaranya seperti sedang menggoda tanpa terang-terangan.
1341Please respect copyright.PENANACbBpk6cadP
Ica menggeleng. “Nggak ada… cuma… capek aja.”
1341Please respect copyright.PENANAAnINRNasED
Riyan mengangguk, lalu tiba-tiba meraih tangan Ica. Sentuhan pertama itu seperti listrik—hangat, kuat, tapi tidak kasar. Ica tersentak, tapi tidak menarik tangan.
1341Please respect copyright.PENANAV79AbbnUUI
“Kamu dingin banget tangan. Santai aja, ca. Di sini cuma kita berdua.”
1341Please respect copyright.PENANATgNuJnfP2r
Ica menatap ke bawah. “Kak… ini nggak enak kalau Kak Amel tahu…”
1341Please respect copyright.PENANAlmv4Hlu57E
Riyan tersenyum tipis. "Kak Amel nggak akan tahu. Ini rahasia kita. Kamu kan suka rahasianya, ya?"
1341Please respect copyright.PENANAl5JflV7qf5
Saya terkejut. Bagaimana Riyan tahu? Matanya melebar. “Apa… maksud Kakak?”
1341Please respect copyright.PENANARhXe1gQEEp
Riyan tidak langsung menjawab. Dia malah menarik Ica berdiri pelan, tubuhnya menghadap cermin besar. Dari belakang, Riyan memeluk pinggang Ica—pelukan ringan, tapi cukup membuat tubuh Ica menempel ke dada kerasnya. Ica bisa merasakan panas tubuh Riyan, bahkan bisa merasakan tititnya yang mulai menegang menekan bokongnya melalui celana olahraga.
1341Please respect copyright.PENANATQywtLesLP
“Lihat ke cermin,” bisik Riyan di telinga Ica. Napasnya hangat menyentuh kulit leher.
1341Please respect copyright.PENANARoGiVERHnv
Menurut Ica, matanya bertemu pantulan dirinya sendiri—wajah memerah, mata hitam berbinar campur takut dan penasaran. Riyan di belakangnya, posisi tangan naik pelan ke perut Ica, mengelus lembut di atas kaos.
1341Please respect copyright.PENANAWt11CftTdF
“Kamu sering denger suara Kak Amel malam-malam kan?” lanjut Riyan, suaranya rendah dan dalam. “Dan kamu… suka membayangkan itu kamu yang di situ.”
1341Please respect copyright.PENANAygbhzPp5UE
Ica menggigit bibir bawah. “Kak… jangan bilang begitu…”
1341Please respect copyright.PENANAbX5C6VQLn8
“Tapi bener kan?” Riyan menekan pinggulnya sedikit lebih kuat, membuat Ica merasakan kekerasan tititnya yang sudah tegang penuh. “Kamu basah setiap kali denger desahan kakakmu. Kamu main sendiri di kamar, sambil bayangin tititku yang masuk ke vaginamu.”
1341Please respect copyright.PENANA8rn9l3MR27
Ica menutup mata, napasnya tersengal. “Kak… ini salah…”
1341Please respect copyright.PENANAFF6l004txm
Riyan mencium pelan ke belakang telinga Ica. “Salah kalau kamu nggak nikmatin. Tapi kalau kamu mau… ini bisa jadi rahasia paling enak yang pernah kamu punya.”
1341Please respect copyright.PENANAgULxdRrPGA
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
1341Please respect copyright.PENANAsqXvY7Tn3y
Tangan Riyan naik lebih tinggi, menyentuh bagian bawah payudara Ica dari luar kaos. Dia meremasnya perlahan, merasakan kelembutan dan ukuran yang lebih besar dari Amel. Ica mendesah kecil.
1341Please respect copyright.PENANAUtNoqXvlUn
“Aaah… Kak…”
1341Please respect copyright.PENANA7vpoMK9g60
“Bilang kalau kamu mau berhenti,” bisik Riyan. “Aku akan lepas sekarang juga.”
1341Please respect copyright.PENANAbDx2BDzAA1


