Bab 1: Desahan Malam yang Bikin Penasaran
1698Please respect copyright.PENANAa8JxqqN7bn
Apartemen penthouse di kawasan SCBD Jakarta malam itu terasa lebih hangat dari biasanya. Lampu kota berkilauan di balik kaca besar dari lantai ke langit-langit, tapi di dalam kamar utama, hanya lampu tidur kuning lembut yang menyala, menciptakan bayangan panjang di dinding putih marmer. Amel sudah melepas hijabnya sejak tadi sore, rambut hitam panjangnya tergerai bebas sampai punggung, bergoyang pelan setiap kali dia bergerak. Kulitnya yang putih bersih—warisan keturunan Arab dari ibunya—terlihat semakin glowing di bawah cahaya redup itu.
1698Please respect copyright.PENANAd589wlTsCd
Amel berusia 28 tahun, tinggi 166 cm, tubuh langsing tapi berlekuk di tempat yang tepat. Payudaranya E-cup, penuh dan kencang, selalu jadi favorit Riyan untuk disentuh. Bokongnya tidak terlalu besar, tapi bulat sempurna, membuat setiap celana jeans atau rok yang dia pakai terlihat menggoda. Malam ini dia hanya memakai lingerie hitam tipis berenda, bra-nya setengah cup sehingga puting-puting cokelatnya hampir tumpah keluar. Celana dalamnya juga minim, hanya seutas tali yang terselip di antara vagina yang sudah mulai lembab sejak tadi sore.
1698Please respect copyright.PENANATdHiRhggqh
Riyan masuk kamar dengan langkah pelan, pintu ditutup tanpa suara. Pria 25 tahun itu tinggi 170 cm, tubuh berotot tapi tidak berlebihan—hasil gym rutin dan genetik keluarga kaya yang baik. Rambut hitam lurusnya sedikit acak-acakan setelah mandi, senyum menawannya muncul begitu mata cokelatnya bertemu dengan mata Amel yang sudah memandangnya penuh harap.
1698Please respect copyright.PENANAx0cBojYQSK
“Kamu lama banget sih mandinya,” keluh Amel sambil manyun, suaranya manja tapi ada nada pemarah khasnya. “Aku udah dingin nih.”
1698Please respect copyright.PENANA2HVLleZU7t
Riyan tertawa kecil, suaranya dalam dan menggetarkan. Dia melepas handuk yang melilit pinggangnya, membiarkan tubuh telanjangnya terpampang. kontolnya sudah setengah tegang, panjang 19 cm bahkan dalam kondisi setengah bangun saja sudah terlihat mengintimidasi. Amel menelan ludah pelan, matanya langsung tertarik ke sana.
1698Please respect copyright.PENANAJskGMXk8Gj
“Maaf, sayang. Aku sengaja lama biar kamu tambah penasaran.” Dia mendekat, tangannya langsung meraih pinggang Amel, menarik tubuh istrinya ke pelukannya. “Dan lihat nih, kamu udah basah sebelum aku sentuh.”
1698Please respect copyright.PENANAOPNKgLZ2mU
Amel memukul dada Riyan pelan. “Ih, jangan bilang gitu… malu.”
1698Please respect copyright.PENANA8zBFczmWPS
“Tapi bener kan?” Riyan mencium leher Amel, lidahnya menjilat pelan di bawah telinga. Amel langsung menggelinjang, napasnya tersengal. “Aku bisa cium baunya dari sini.”
1698Please respect copyright.PENANAtSwB4V0Vc4
Dia mendorong Amel pelan sampai punggung istrinya menyentuh dinding kaca dingin. Amel tersentak karena sensasi dingin di kulitnya, tapi Riyan langsung menutupinya dengan tubuh hangatnya. Bibir mereka bertemu, ciuman yang awalnya lembut berubah ganas dalam hitungan detik. Lidah Riyan menari di dalam mulut Amel, mengeksplorasi setiap sudut, sementara tangannya merayap ke atas, meremas payudara Amel dengan kuat tapi penuh perhitungan.
1698Please respect copyright.PENANAZN4sfT7pNY
“Uhh… Riyan…” Amel mendesah di sela ciuman, suaranya sudah bergetar. puting-putingnya mengeras di bawah sentuhan jari Riyan yang memilin pelan, menarik sedikit sampai Amel menggeliat.
1698Please respect copyright.PENANAXrbwlJi9sz
Riyan turun, mencium leher, tulang selangka, lalu turun lagi ke lembah payudara. Dia menarik bra Amel ke bawah dengan gigi, membiarkan payudara besar itu terbebas. Mulutnya langsung menangkap salah satu puting, menghisap kuat sambil lidahnya berputar di sekitar puncak yang sensitif itu. Tangan satunya meremas payudara yang lain, jempolnya menggosok puting yang satu lagi sampai Amel menjerit kecil.
1698Please respect copyright.PENANAdF5giiNdMi
“Aaahh… pelan… ahh… enak banget…”
1698Please respect copyright.PENANABeMxQvZQGh
Riyan tersenyum di antara payudara istrinya. “Pelan? Kamu biasanya minta lebih keras, Mel.”
1698Please respect copyright.PENANAWPWFxjxdU9
Dia menggigit pelan, tidak sampai sakit tapi cukup membuat Amel melengkungkan punggung. Riyan lalu berlutut, tangannya menarik celana dalam Amel ke bawah. vagina Amel sudah basah sekali, bibir vaginanya mengkilap, kristoris kecil di atasnya membengkak dan merah muda. Riyan menatapnya sejenak, seperti sedang mengagumi karya seni.
1698Please respect copyright.PENANAy8KqB59n3l
“Cantik banget milik kamu,” gumamnya. “Setiap kali lihat ini, aku pengen langsung masukin kontolku.”
1698Please respect copyright.PENANAfpNyPBGPgO
Amel malu, tapi nafsunya sudah menguasai. “Jangan ngomong gitu… malu…”
1698Please respect copyright.PENANAjDhmmDkk0y
Riyan tidak peduli. Lidahnya langsung menyentuh kristoris Amel, menjilat pelan dulu, lalu semakin cepat. Amel langsung mencengkeram rambut suaminya, pinggulnya bergoyang tidak karuan.
1698Please respect copyright.PENANAqE4BlNVnvP
“Aaahhh… Riyan… ya Tuhan… enak… jangan berhenti… ahhh!”
1698Please respect copyright.PENANATS3ISUPbbU
Riyan memasukkan satu jari ke dalam vagina Amel, merasakan dinding yang hangat dan licin. Dia menambah satu jari lagi, menggerakkan masuk-keluar sambil lidahnya terus memainkan kristoris. Amel sudah tidak bisa diam, kakinya gemetar, napasnya tersengal-sengal.
1698Please respect copyright.PENANAnyVphSvxPT
“Riyan… aku… mau keluar… ahhh!”
1698Please respect copyright.PENANARNefbNyWyZ
Riyan mempercepat gerakan jarinya, menekan titik sensitif di dalam vagina Amel. Dalam hitungan detik, Amel menjerit keras, tubuhnya menegang, cairan orgasme hangat menyembur keluar membasahi mulut dan dagu Riyan. Orgasme pertama malam itu datang cepat dan kuat, membuat Amel lemas hampir jatuh kalau Riyan tidak menyangganya.
1698Please respect copyright.PENANAOHso6bbV0Z
Riyan berdiri, mencium bibir Amel lagi, membiarkan istrinya mencicipi cairan orgasmenya sendiri. “Enak kan rasanya?”
1698Please respect copyright.PENANATegJxrYKgU
Amel mengangguk lemah, wajahnya merah padam. “Kamu… nakal banget…”
1698Please respect copyright.PENANAwiFbEbAXom
Riyan mengangkat tubuh Amel dengan mudah, membawanya ke ranjang king-size. Dia meletakkan Amel telentang, membuka kakinya lebar-lebar. kontol Riyan sudah keras sempurna sekarang, urat-uratnya menonjol, ujungnya mengkilap karena cairan pra-ejakulasi.
1698Please respect copyright.PENANAvaeBhdmUKx
“Aku masuk ya, sayang,” bisik Riyan sambil menggesekkan kontolnya di bibir vagina Amel.
1698Please respect copyright.PENANAOAwiWhRqbp
Amel mengangguk cepat. “Masuk… aku pengen banget…”
1698Please respect copyright.PENANABylRLfRs3s
Riyan mendorong pelan dulu, hanya ujungnya yang masuk. Amel mendesah panjang. Lalu Riyan mendorong lebih dalam, sampai setengah kontolnya tertelan vagina Amel yang hangat dan ketat.
1698Please respect copyright.PENANAVk2yKt1Ngh
“Aaahhh… besar… penuh… Riyan…”
1698Please respect copyright.PENANABF6PX4wuUb
Riyan mulai bergerak, pelan tapi dalam. Setiap dorongan membuat payudara Amel bergoyang-goyang. Riyan menunduk, mengisap puting Amel lagi sambil pinggulnya terus bergerak lebih cepat.
1698Please respect copyright.PENANA5MkyZ85xYp
“Enak… ya Tuhan… kontolmu… enak banget… ahhh… lebih cepat…”
1698Please respect copyright.PENANAqoCHztN0br
Riyan menurut. Dia menarik keluar hampir sepenuhnya, lalu menusuk dalam-dalam sampai pangkal. Bunyi *plok plok plok* basah terdengar setiap kali kontolnya masuk-keluar vagina Amel. Amel menjerit lagi, kali ini lebih keras.
1698Please respect copyright.PENANAqH5aPVAS5l
“Aaahhh! Riyan! Keras lagi! Aku mau keluar lagi! Ahhh!”
1698Please respect copyright.PENANAcuDRXxaThi
Riyan mengubah posisi, membalik tubuh Amel jadi doggy style. Bokong bulat Amel terangkat sempurna. Riyan memasuki dari belakang, tangannya meremas bokong Amel kuat-kuat, meninggalkan bekas merah.
1698Please respect copyright.PENANAdw6V9eAuT4
*Plak! Plak!* Tamparan ringan di bokong membuat Amel menggelinjang.
1698Please respect copyright.PENANARVRTqeWZuL
“Enak… tampar lagi… ahhh!”
1698Please respect copyright.PENANAi9gehdpSm2
Riyan menampar lagi, lebih keras. *PLAK!* Amel menjerit keenakan. Riyan mempercepat dorongan, kontolnya menghantam dinding dalam vagina Amel berulang-ulang.
1698Please respect copyright.PENANA7kC1XrsnJh
“Aku… mau keluar… Riyan… bareng ya… ahhh!”
1698Please respect copyright.PENANAOy848vq4me
Riyan merasakan vagina Amel mengejang kuat, menjepit kontolnya. Dia tidak tahan lagi. Dengan dorongan terakhir yang dalam sekali, Riyan melepaskan spermanya di dalam vagina Amel, menyemprotkan hangat dan banyak sampai meluap keluar.
1698Please respect copyright.PENANAP08gZSfX2E
Amel orgasme kedua malam itu, tubuhnya bergetar hebat, cairan orgasmenya bercampur sperma Riyan menetes ke sprei. Mereka berdua ambruk ke ranjang, napas tersengal-sengal.
1698Please respect copyright.PENANATNZ0Ex8wnN
“Aku cinta kamu, Mel,” bisik Riyan sambil mencium kening Amel.
1698Please respect copyright.PENANAVPZQJA4SOf
“Aku juga… sayang kamu banget…” Amel tersenyum lemah, matanya setengah tertutup.
1698Please respect copyright.PENANAYFqmgYBr03
Di kamar sebelah, Ica terbangun karena jeritan kakaknya. Gadis 21 tahun itu berusia lebih muda, tapi tubuhnya hampir mirip Amel—tinggi 166 cm, payudara E+ cup yang alami dan selalu membuat baju ketat terlihat penuh, bokong bulat, kulit putih, rambut hitam panjang. Dia masih memakai hijab tidur warna pastel, tapi di bawah selimut, tangannya sudah merayap ke bawah celana dalamnya.
1698Please respect copyright.PENANA7QUzOieDlV
Desahan Amel tadi malam bukan yang pertama kali Ica dengar. Hampir setiap malam, suara kakaknya berteriak keenakan, suara tamparan ringan, suara ranjang berderit—semuanya terdengar jelas melalui dinding tipis. Awalnya Ica cuma penasaran. Tapi malam demi malam, rasa penasaran itu berubah jadi sesuatu yang lebih panas, lebih basah.
1698Please respect copyright.PENANAl7X0QHaumF
Malam ini, setelah mendengar jeritan panjang Amel diikuti desahan puas Riyan, Ica tidak bisa menahan lagi. Jarinya menyentuh kristoris kecilnya yang sudah membengkak. Dia menggosok pelan, membayangkan bagaimana rasanya kalau kontol sebesar milik kakak iparnya itu masuk ke dalam vaginanya sendiri.
1698Please respect copyright.PENANASmihrdKnqk
“Aaahh… kak Riyan…” bisik Ica pelan, hampir tidak terdengar. Matanya tertutup, imajinasinya liar. Dia membayangkan dirinya yang digantikan Amel, yang ditampar bokongnya, yang ditarik rambutnya, yang dipaksa orgasme berkali-kali.
1698Please respect copyright.PENANARWACjLBdTo
Jari Ica bergerak lebih cepat, masuk ke dalam vaginanya yang sudah licin. Dia menahan jeritan dengan menggigit bibir bawah. Dalam hitungan menit, tubuhnya menegang, cairan orgasme hangat menyembur ke jari-jarinya. Orgasme diam-diam, tapi rasanya lebih kuat dari biasanya.
1698Please respect copyright.PENANAZXHJAtBmKT
Ica terbaring lemas, napasnya tersengal. Di kepalanya hanya satu pikiran: “Aku pengen tahu rasanya… beneran…”
1698Please respect copyright.PENANACXchF6tVy2
Di kamar sebelah, Riyan memeluk Amel yang sudah tertidur pulas. Matanya menatap ke arah dinding yang memisahkan kamar mereka dengan kamar Ica. Senyum kecil muncul di bibirnya—senyum yang Amel tidak pernah lihat, senyum licik, penuh rencana.
1698Please respect copyright.PENANA5nEmbpH3dN
Malam itu, benih hasrat baru mulai bertunas. Dan Riyan tahu, dia akan menyiraminya sampai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.
1698Please respect copyright.PENANAtGxeSnBGy0


