6771Please respect copyright.PENANAzk96PzNisa
6771Please respect copyright.PENANAlhOEWLHagh
Rio sebenarnya lagi nggak mood. Tadi siang presentasi skripsi ditolak dosen pembimbing dengan alasan “kurang mendalam”. Ditambah pacarnya yang sudah tiga bulan ini jarang bales chat, akhirnya mutusin mutus lewat pesan singkat: “Kita udah beda visi, Rio. Maaf ya.”
Jadi malam ini Rio cuma ingin mati rasa. Scroll X, scroll TikTok, scroll Instagram, sampai bosan. Akhirnya dia buka aplikasi random video call yang sudah lama nggak disentuh—yang katanya “bisa ketemu orang baru dari seluruh dunia”, tapi kebanyakan isinya orang-orang yang cuma nunjukin kamar gelap atau langsung skip begitu lihat muka Rio.
Dia pencet tombol “Next” berkali-kali.
Cowok gondrong main gitar → skip.
Cewek lagi makan mie instan sambil nangis → skip.
Orang tua lagi marah-marah pake bahasa asing → skip.
Sampai akhirnya… layar berhenti.
Di seberang sana ada seorang perempuan. Rambut panjang hitam legam tergerai sampai bahu, pakai tanktop putih ketat yang agak tipis, dan celana pendek denim yang memperlihatkan paha mulusnya. Lampu kamarnya warm yellow, bikin kulitnya terlihat seperti madu cair. Dia lagi duduk bersila di atas kasur, pegang ponsel dengan satu tangan, tangan satunya mainin ujung rambutnya.
Rio langsung kaku. Jantungnya kayak kena setrum kecil.
“Eh… halo?” suara perempuan itu lembut, agak serak khas orang baru bangun tidur.
Rio buru-buru duduk lebih tegak. “H-halo… aku Rio.”
Dia tersenyum tipis. Bibirnya penuh, ada sedikit lip tint merah muda yang sudah agak luntur. “Aku Heni.”
Seketika Rio sadar betapa berantakannya penampilannya sendiri. Rambut acak-acakan, mata panda karena kurang tidur, dan kaosnya ada noda kecap di bagian dada. Tapi anehnya, Heni nggak langsung skip. Malah dia memiringkan kepala, seolah sedang mengamati Rio dengan serius.
“Kamu lagi di mana?” tanya Heni.
“Semarang. Kost-an biasa. Kamu?”
“Juga Semarang,” jawabnya sambil tertawa kecil. “Seriusan? Kita satu kota?”
Rio nyaris nggak percaya. “Serius? Kamu di daerah mana?”
“Meteseh. Dekat kampus Undip.”
“Aku Tlogosari. Dekat banget dong…” Rio ngerasa pipinya panas. Entah kenapa obrolan yang biasanya cuma basa-basi lima detik ini terasa beda.
Heni menggeser posisi duduknya. Tanktop-nya ikut sedikit naik, memperlihatkan sedikit garis pinggang ramping dan perut rata yang bikin Rio buru-buru mengalihkan pandangan ke atas—ke mata Heni. Tapi mata Heni malah sedang menatapnya intens, seperti sedang membaca sesuatu.
“Kamu lagi kenapa sih mukanya kusut gitu?” tanya Heni tiba-tiba.
Rio tergagap. “Eh… biasa aja. Cape.”
“Bohong,” potong Heni cepat. “Mata orang capek sama mata orang lagi patah hati beda.”
Rio terdiam. Entah kenapa cewek ini bisa langsung baca dia sejelas itu.
Heni menyandarkan punggungnya ke dinding, membuat dadanya yang penuh terlihat lebih menonjol di balik kain tipis tanktop itu. Rio berusaha mati-matian untuk tetap fokus ke wajahnya.
“Aku juga lagi patah hati sih,” kata Heni pelan. “Baru putus dua minggu lalu. Katanya aku terlalu… demanding. Padahal aku cuma minta diperhatiin aja.”
Rio menelan ludah. “Demanding-nya gimana?”
Heni tersenyum nakal. Matanya berbinar. “Misalnya… aku suka kalau cowoknya perhatian banget. Suka dikirimin chat mesra pas lagi kerja. Suka dipanggil sayang. Suka… disentuh mesra. Kamu tipe yang gitu nggak?”
Pertanyaan itu terlalu frontal. Rio merasa tenggorokannya kering.
“Aku… eh… biasanya sih ya… kalau udah sayang ya perhatian.”
Heni menggigit bibir bawahnya pelan. “Buktinya?”
Rio bingung. “Buktinya gimana?”
Heni memajukan wajahnya lebih dekat ke kamera. Suaranya jadi lebih pelan, hampir berbisik.
“Coba panggil aku sayang. Sekarang.”
Rio merasa jantungnya mau copot. Tapi ada sesuatu di tatapan Heni—campuran genit, tantangan, dan… keinginan—yang bikin dia nggak bisa nolak.
“Sayang…” ucap Rio pelan, hampir nggak kedengeran.
Heni tersenyum lebar. Pipinya merona sedikit. “Lagi. Lebih mesra.”
“Sayang… kamu cantik banget malam ini,” kata Rio, kali ini lebih berani.
Heni menutup mulutnya sambil tertawa kecil, tapi matanya nggak lepas dari Rio. “Aduh… kok aku jadi deg-degan ya.”
Obrolan yang tadinya cuma basa-basi random itu perlahan bergeser. Mereka mulai cerita banyak hal. Heni bilang dia mahasiswi semester akhir jurusan Desain Komunikasi Visual, suka gambar digital, tapi akhir-akhir ini lebih suka bikin konten di IG yang “agak berani”. Rio cerita soal skripsinya yang mentok, soal mantan yang ninggalin dia, soal rasa kesepian yang kadang suka datang malam-malam.
Tanpa terasa sudah hampir dua jam mereka video call.
Hujan di luar sudah reda, tinggal suara air menetes dari atap tetangga.
Heni tiba-tiba menguap manja, tangannya naik ke atas kepala, membuat tanktop-nya ikut terangkat lagi—kali ini lebih tinggi, sampai memperlihatkan garis bawah payudaranya yang bulat sempurna.
Rio langsung salah tingkah. Matanya mau ke mana pun susah.
Heni pura-pura nggak sadar. “Aku ngantuk nih… tapi nggak mau matiin call-nya.”
“Kenapa?” tanya Rio, suaranya agak serak.
“Soalnya… enak ngobrol sama kamu,” jawab Heni lembut. “Rasanya… kayak ketemu orang yang bener-bener ngerti.”
Rio tersenyum kecil. “Aku juga.”
Heni memandangnya lama. Lalu dia berbisik, hampir seperti rahasia.
“Rio… kalau aku minta sesuatu yang agak nakal, kamu mau nggak?”
Jantung Rio berdegup kencang sekali.
“Agak nakal… yang gimana?” tanyanya, meski sebenarnya dia sudah bisa menebak.
Heni hanya tersenyum misterius.
“Besok aja ya… lanjutinnya. Aku mau tidur dulu. Tapi janji ya, besok kamu call aku lagi. Jam berapa pun aku pasti angkat.”
6771Please respect copyright.PENANAV3VzsSORAF
Pagi harinya Rio bangun dengan kepala pusing ringan dan perasaan aneh di dada—campuran antara excited dan takut. Dia langsung cek ponsel. Ada satu pesan masuk dari nomor baru yang semalam dia simpan sebagai “Heni VC”.
Heni:
Pagi, cowok kusut. Masih inget janji semalem? 😏
Jangan kabur ya. Aku tunggu call kamu malam ini jam 10. Jangan telat.
Rio baca pesan itu tiga kali. Jantungnya langsung berdegup lagi. Dia balas singkat:
Rio:
Pasti. Jam 10 sharp.
Sepanjang hari Rio nggak bisa konsentrasi. Kuliah online cuma setengah hati didengerin, skripsi dibuka tapi cuma diliatin doang, bahkan makan siang cuma nyantap dua suap. Pikirannya bolak-balik ke Heni: senyumnya yang genit, suara seraknya, tanktop putih yang tipis itu…
Jam 21:45 Rio sudah mandi dua kali, ganti kaos yang paling rapi (yang masih ada baunya sabun colek), rambut disisir, bahkan semprot parfum murah yang biasanya jarang dipake. Dia duduk di depan laptop, lampu kamar dimatikan separuh supaya nggak terlalu terang, tapi cukup biar mukanya kelihatan.
Tepat jam 22:00, notifikasi video call masuk. Nomor Heni.
Rio angkat dengan tangan sedikit gemetar.
Layar menyala.
Heni sudah ada di sana.
Malam ini beda.
Bukan tanktop lagi.
Dia pakai dress hitam tipis model spaghetti strap, panjangnya cuma sampai pertengahan paha. Bahannya satin atau semacamnya—mengkilap lembut setiap dia bergerak. Rambutnya digerai, sedikit bergelombang, dan bibirnya pakai lipstik merah tua yang bikin Rio langsung susah menelan ludah.
“Hai, sayang…” sapa Heni pelan, suaranya lebih dalam dari semalam.
Rio nyaris tersedak udara.
“H-hai… kamu… cantik banget.”
Heni tertawa kecil, suaranya seperti lonceng kecil. Dia geser posisi duduk, sekarang bersandar di headboard kasur, kakinya agak terbuka sedikit sehingga dress-nya naik sampai memperlihatkan garis paha dalam yang mulus.
“Kamu juga lebih rapi dari semalem. Parfum lagi ya? Aku bisa bau dari sini,” goda Heni sambil mengendus-ngendus pura-pura.
Rio tersipu. “Biasa aja… cuma pengen kelihatan layak buat kamu.”
Heni memandangnya lama, matanya menyipit genit.
“Layak banget kok. Malah… aku lagi mikir, kamu kelihatan tipe yang nurut kalau disuruh.”
Rio nggak tahu harus jawab apa. Dia cuma bisa nyengir kaku.
Heni menggigit bibir bawahnya pelan.
“Rio… aku mau minta sesuatu malam ini. Yang semalem aku bilang agak nakal itu.”
Rio mengangguk pelan, napasnya mulai berat. “Apa?”
Heni diam sejenak, seolah menikmati ketegangan di udara. Lalu dia berbisik:
“Aku mau kamu nonton aku… sambil aku cerita hal-hal yang biasanya aku lakuin kalau lagi sendiri. Tapi kamu harus ikut… sentuh diri kamu juga. Sama-sama. Biar adil.”
Rio merasa dunia berhenti berputar sesaat.
“Serius?” suaranya hampir hilang.
Heni mengangguk lambat. Matanya nggak lepas dari Rio.
“Serius. Tapi kalau kamu nggak mau, aku nggak maksa. Cuma… aku lagi pengen banget merasa… dilihat. Dan dilihat sama kamu.”
Rio diam beberapa detik. Pikirannya berantakan. Bagian logisnya bilang ini gila, terlalu cepat, terlalu berisiko. Tapi bagian lain—bagian yang sudah lama kesepian, yang haus perhatian, yang tiba-tiba merasa hidup lagi setelah bertemu Heni—bagian itu menang telak.
“Aku mau,” jawab Rio akhirnya, suaranya lebih tegas dari yang dia kira.
Heni tersenyum lebar, ada kilatan kemenangan di matanya.
“Bagus.”
Dia lalu bangkit pelan dari kasur. Berdiri di depan kamera, badannya terlihat sempurna dari atas sampai bawah. Dress hitam itu menempel ketat di lekuk pinggul dan dadanya yang montok. Dia memutar tubuh pelan, memperlihatkan punggungnya yang terbuka hampir sampai pinggang.
“Kamu suka bagian mana dari tubuh aku?” tanyanya sambil menoleh ke belakang.
Rio menelan ludah. “Semuanya… tapi… dadamu… dan pinggulmu… itu… wow.”
Heni tertawa pelan. Tangannya naik ke tali spaghetti di bahunya, menurunkannya sedikit demi sedikit. Kain satin melorot perlahan, memperlihatkan bahu mulus, tulang selangka yang indah, lalu… garis atas payudaranya yang bulat sempurna, masih tertutup bra hitam renda tipis.
Rio merasa tubuhnya panas sekali. Tangannya tanpa sadar sudah bergerak ke celana pendeknya.
Heni memperhatikan gerakan itu. Matanya berbinar.
“Udah mulai ya? Bagus… jangan buru-buru. Ikutin aku aja.”
Dia lalu duduk lagi di kasur, kali ini kakinya dibuka lebar-lebar, dress-nya tersingkap sampai pinggang. Celana dalam hitam renda yang sama dengan bra-nya terlihat jelas. Heni menggeser satu tangan ke bawah, menyentuh dirinya sendiri pelan di atas kain tipis itu.
“Bayangin ini tangan kamu, Rio…” bisiknya. “Pelan… muter-muter… tekan sedikit…”
Rio mengikuti. Napasnya sudah ngos-ngosan. Dia menurunkan celana pendeknya sedikit, tangannya mulai bergerak mengikuti irama yang Heni tunjukkan.
Heni menarik napas dalam-dalam. Matanya setengah terpejam, tapi tetap menatap layar—menatap Rio.
“Kamu gede ya… aku bisa lihat bentuknya dari situ…” katanya sambil tersenyum nakal.
Rio nggak bisa bicara lagi. Dia cuma mengangguk, gerakannya semakin cepat mengikuti Heni yang sekarang sudah memasukkan tangannya ke dalam celana dalam, gerakannya terlihat jelas meski kain masih menutupi.
Mereka berdua saling pandang lewat layar.
Suara napas berat.
Desahan kecil.
Nama masing-masing dipanggil berulang-ulang dengan suara parau.
“Rio… sayang… aku mau… bareng kamu…”
“Aku juga… Heni… cepet…”
Dan di detik yang sama, keduanya mencapai puncak hampir bersamaan. Tubuh Heni mengejang manis, kepalanya terdongak ke belakang, mulutnya terbuka mengeluarkan erangan panjang yang lembut. Rio juga—matanya terpejam rapat, tubuhnya gemetar hebat.
Beberapa detik hening.
Hanya suara napas tersengal-sengal dari kedua sisi layar.
Heni akhirnya tersenyum lemah, wajahnya merona, rambut menempel di dahi karena keringat.
“Kamu… hebat,” katanya pelan.
“Kamu… luar biasa,” balas Rio, masih terengah.
Heni menarik selimut, menutupi tubuhnya yang masih setengah telanjang. Tapi matanya tetap menatap Rio dengan tatapan yang beda sekarang—bukan cuma genit, tapi ada kehangatan di dalamnya.
“Besok… kita ketemu langsung nggak?” tanyanya tiba-tiba.
Rio terkejut. “Mau?”
Heni mengangguk.
“Aku kasih lokasi. Jam 7 malam. Tempat yang sepi. Aku pengen… rasain kamu beneran. Bukan cuma lewat layar.”
Rio diam sejenak. Lalu dia tersenyum—senyum yang lebar, penuh harap, dan sedikit takut.
“Oke. Aku datang.”
Heni mengirimkan flying kiss terakhir sebelum mematikan kamera.
6771Please respect copyright.PENANAx6ImC1OVNT
Jantungnya berdegup kencang seperti mau lompat keluar.
Semalam setelah video call itu berakhir, Rio hampir nggak bisa tidur. Bayangan Heni—tubuhnya yang bergoyang pelan, desahannya yang lembut, mata yang menatapnya penuh hasrat—terus berputar di kepala. Dia takut ini cuma mimpi, takut Heni nggak datang, takut kalau ketemu langsung malah awkward.
Tapi dia tetap datang.
Pukul 18:58, sebuah motor matic putih berhenti di depan minimarket. Pengendaranya turun, melepas helm full-face hitam glossy. Rambut panjang hitam legam terurai, sedikit acak-acakan karena angin malam. Dia pakai crop top hitam ketat yang memperlihatkan perut rata dan pinggang ramping, dipadukan dengan rok mini denim dan jaket jeans oversized yang dibuka kancingnya. Kakinya panjang, mulus, pakai sneakers putih sederhana.
Heni.
Dia langsung melihat Rio, tersenyum lebar, lalu melambai kecil sambil berjalan mendekat. Rio merasa lututnya lemas.
“Sayang… kamu beneran datang,” kata Heni sambil mendekat. Suaranya sama seperti di video call—lembut, serak, tapi sekarang ada getar nyata di udara.
Rio nyodorin satu gelas es kopi. “Ini… buat kamu. Dingin, biar nggak panas.”
Heni menerima, jari-jarinya sengaja menyentuh jari Rio lebih lama dari yang perlu. Kulitnya hangat. “Makasih. Kamu nervous ya?”
“Banget,” jawab Rio jujur. “Takut kamu nggak datang.”
Heni tertawa kecil, lalu memiringkan kepala. “Aku juga nervous. Tapi lebih takut… kalau kamu nggak suka aku pas ketemu langsung.”
Rio memandangnya dari atas sampai bawah. “Mustahil.”
Heni menggigit bibir bawahnya—kebiasaan yang sudah Rio hafal dari video call. “Mau jalan dulu? Ada taman kecil di belakang kampus, sepi malam-malam gini.”
Rio mengangguk. Mereka berjalan berdampingan, sesekali bahu mereka bersenggolan. Udara malam sejuk, bau tanah basah setelah gerimis tadi sore masih tercium. Heni berjalan pelan, sesekali menoleh ke Rio sambil tersenyum kecil.
Sampai di taman kecil itu—hanya beberapa bangku kayu, pohon-pohon rindang, dan lampu taman yang redup—Heni langsung duduk di bangku paling pojok, yang agak tersembunyi di balik semak. Rio ikut duduk di sebelahnya, jarak mereka cuma sejengkal.
Hening sebentar. Hanya suara jangkrik dan angin malam.
Heni memandang Rio lama. Lalu tangannya naik, menyentuh pipi Rio pelan. “Kamu lebih ganteng dari kamera.”
Rio tersipu. “Kamu… jauh lebih cantik.”
Heni mendekatkan wajahnya. Napasnya terasa hangat di kulit Rio. “Aku kangen rasain kamu… beneran.”
Tanpa menunggu jawaban, Heni mencium bibir Rio. Pelan dulu, cuma sentuhan ringan. Tapi begitu Rio membalas, ciuman itu langsung dalam. Bibir Heni lembut, hangat, ada rasa kopi susu dan sedikit manis lip tint-nya. Tangan Heni merangkul leher Rio, menariknya lebih dekat. Rio memeluk pinggangnya—pinggang yang ramping, kulitnya terasa halus di balik crop top tipis itu.
Mereka berciuman lama, semakin panas. Tangan Rio mulai berani menjelajah—naik ke punggung Heni, merasakan lekuk tulang punggungnya, lalu turun ke pinggul. Heni mendesah kecil di antara ciuman, badannya merapat lebih erat.
“Rio…” bisik Heni di sela napas. “Aku pengen lebih…”
Rio menarik diri sedikit, memandang mata Heni yang sudah berkabut. “Di sini?”
Heni menggeleng pelan. “Nggak… nanti ketahuan. Aku bawa motor. Mau ke tempat aku? Kost-an aku sepi, temen sekamar lagi pulang kampung.”
Rio menelan ludah. “Serius?”
Heni mengangguk, matanya penuh keyakinan. “Aku pengen kamu malam ini. Semuanya.”
Mereka bergegas kembali ke motor Heni. Rio duduk di belakang, tangannya memeluk pinggang Heni erat-erat sepanjang perjalanan. Angin malam menerpa wajah mereka, tapi panas di tubuh Rio nggak reda. Heni sesekali menoleh ke belakang, tersenyum genit, lalu mempercepat laju motor.
Sampai di kost-an Heni—sebuah rumah kontrakan dua lantai di gang sempit Meteseh—mereka langsung naik ke kamar Heni di lantai atas. Pintu dikunci. Lampu kamar dinyalakan redup, hanya lampu meja kecil yang menyala kuning hangat.
Heni langsung mendorong Rio ke dinding, menciumnya lagi dengan ganas. Kali ini tangannya nggak diam—meraba dada Rio, turun ke perut, lalu ke celana jeansnya. Rio membalas, tangannya menarik crop top Heni ke atas, memperlihatkan bra hitam renda yang sama seperti di video call.
“Cantik banget…” gumam Rio sambil mencium leher Heni.
Heni mendesah, kepalanya terdongak. “Lepasin semuanya… aku pengen telanjang buat kamu.”
Mereka saling menelanjangi dengan tergesa-gesa tapi penuh gairah. Baju beterbangan ke lantai. Tubuh Heni terpampang sempurna di depan Rio—kulit sawo matang mulus, payudara penuh dengan puting mengeras, pinggang kecil, pinggul lebar, dan paha yang tebal tapi kencang.
Rio menatapnya takjub. “Kamu… seperti mimpi.”
Heni tersenyum, lalu mendorong Rio ke kasur. Dia naik ke atas tubuh Rio, duduk di panggulnya. Tubuh mereka bersentuhan langsung—panas, lembab, penuh listrik.
“Aku mau kamu masuk sekarang…” bisik Heni sambil menggesekkan dirinya pelan ke Rio.
Rio mengangguk, napasnya tersengal. Tangannya memegang pinggul Heni, membantunya menurunkan tubuh perlahan.
Saat masuk, Heni mengeluarkan erangan panjang yang lembut. Matanya terpejam, mulutnya terbuka. “Ahh… gede banget… pas banget…”
Mereka bergerak bersama, ritme yang semakin cepat. Heni naik-turun, tangannya bertumpu di dada Rio. Payudaranya bergoyang indah setiap gerakan. Rio memandangnya tak berkedip, tangannya meremas pinggul, lalu naik ke dada Heni, memijat lembut.
“Rio… sayang… lebih cepat…” desah Heni.
6771Please respect copyright.PENANAOY7E4TcJVO
tiba-tiba....???
6771Please respect copyright.PENANAHoNcKSbd3n
Rio terbangun dengan kaget di kasur sempit kostannya di Tlogosari. Badannya basah keringat dingin, napasnya masih tersengal-sengal seperti habis lari marathon. Selimutnya kusut parah, bantal jatuh ke lantai, dan celana pendeknya… ya Tuhan, basah dan lengket di bagian depan.
Dia duduk tegak, memegang kepala yang pusing berat. Matanya berkedip-kedip menyesuaikan cahaya pagi yang menyusup lewat celah gorden robek.
“Apa… apa tadi itu?”
Rio menoleh ke laptop tua di meja kecil. Layarnya masih menyala redup, tapi bukan aplikasi video call. Hanya browser yang terbuka di tab porn hub, video paused di tengah-tengah adegan yang mirip sekali dengan apa yang baru saja dia “alami”. Di pojok layar, jam menunjukkan 06:55. Artinya dia baru saja tertidur sekitar jam 2 malam setelah scrolling X dan TikTok sampai mata perih.
Semuanya… mimpi.
Rio menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang masih kencang. Dia ingat jelas: nama Heni, senyum genitnya, tanktop putih tipis, dress satin hitam, ciuman di taman Meteseh, kost-an sepi, tubuh yang saling menempel, desahan yang terasa begitu nyata…
Tapi sekarang, di kamar kecil yang bau apek dan mie instan basi ini, semuanya terasa konyol. Nggak ada pesan masuk dari nomor baru. Nggak ada notifikasi video call. Ponselnya cuma penuh chat grup kuliah yang belum dibaca dan pesan terakhir dari mantan: “Kita udah beda visi, Rio. Maaf ya.”
Rio tertawa kecil sendiri—tawa getir, malu, dan lega sekaligus.
“Gila… mimpi basah level dewa,” gumamnya sambil mengusap wajah.
Dia bangkit, berjalan ke kamar mandi kecil di belakang kost. Air dingin dari ember dituang ke kepala, berharap bisa membilas sisa-sisa bayangan Heni yang masih menempel di pikiran. Saat menggosok badan, dia masih bisa merasakan “sentuhan” itu—lembut, hangat, menggoda—meski tahu itu cuma ilusi otaknya yang kesepian.
Setelah mandi, Rio duduk lagi di depan laptop. Dia buka aplikasi video call random yang kemarin malam dia pakai sebelum ketiduran. Layar menunjukkan “No one online nearby” atau orang-orang yang langsung skip begitu lihat mukanya yang kusut.
Nggak ada Heni.
Nggak ada cewek misterius dari Meteseh yang tiba-tiba bilang “sayang” dengan suara serak.
Rio menutup laptop pelan. Dia menatap langit-langit kamar yang penuh coretan sarang laba-laba.
“Mungkin… aku emang butuh pacar beneran,” katanya pada dirinya sendiri.
Dia ambil ponsel, buka aplikasi kencan yang sudah lama nggak dibuka. Profilnya masih foto selfie lama, bio cuma “Mahasiswa biasa, suka kopi dan skripsi yang nggak selesai-selesai”. Dia edit sedikit, tambah satu foto baru yang diambil kemarin—senyum dipaksa, tapi lumayan rapi.
Lalu dia pencet “Save”.
Sambil menunggu notifikasi match yang mungkin nggak akan datang, Rio berbaring lagi di kasur. Matanya menatap plafon.
Di kepalanya, bayangan Heni masih muncul sekilas—senyum nakal, tubuh seksi, bisikan “Ini baru awal, Rio.”
Tapi kali ini, Rio tersenyum tipis.
“Mimpi doang sih… tapi lumayan seru juga.”
Dia memejamkan mata lagi, kali ini bukan untuk tidur, tapi untuk membayangkan kalau suatu hari nanti, mungkin ada Heni sungguhan di luar sana—bukan dari mimpi, bukan dari layar, tapi dari dunia nyata yang dingin dan sepi ini.
Dan kalau ketemu, Rio janji dalam hati:
Kali ini dia nggak akan cuma nonton lewat video call.
Dia akan berani bilang “hai” duluan.
6771Please respect copyright.PENANAT89501pBq7
"Makasih ya, mimpi. Besok… aku coba cari yang beneran.”
6771Please respect copyright.PENANAVv03xeGfCS
6771Please respect copyright.PENANAB4RCerej3D
6771Please respect copyright.PENANAN4wfWuJGtf


