4236Please respect copyright.PENANA0tGxpdzD2C
4236Please respect copyright.PENANAZurkzbyLgI
Rio duduk selonjoran di kasur, punggung bersandar ke dinding yang catnya sudah mengelupas. Laptop di pangkuan, headphone murah nyantol di telinga.
4236Please respect copyright.PENANAOYc0rFXdp6
Dia lagi buka Discord, join voice channel komunitas kecil “Mahasiswa Semarang Ngabuburit” yang biasanya cuma rame pas weekend. Malam ini sepi, cuma ada 4 orang online: dia, cowok bernama Dika yang suka curhat soal mantan, cewek bernama Naya yang lagi ngerjain tugas desain sambil ngemil keripik, dan satu akun baru yang Nama nya
4236Please respect copyright.PENANA1XNNA2lPWf
"Heni_27” — baru join 10 menit lalu, mic-nya mati, avatar cuma foto hitam-putih cewek lagi pegang kamera polaroid.
Obrolan lagi santai, ngomongin dosen killer di Undip, harga kopi yang naik, sama curhat kecil-kecilan soal hidup mahasiswa akhir yang mentok skripsi.
Dika: “Gue udah males banget ke kampus, mending rebahan aja sampe mati.”
Naya: “Lo emang rebahan mulu, Dik. Skripsi lo udah sampe bab berapa?”
Dika: “Bab 1 doang. Judulnya aja masih diganti-ganti.”
Tiba-tiba mic Heni_27 nyala. Suara perempuan lembut, agak serak, kayak habis minum es teh manis terlalu banyak.
“Halo semua… maaf baru nyala. Aku Heni. Baru join sini.”
Semua langsung diam sebentar. Suaranya beda dari biasanya—bukan tipe cerewet atau genit berlebihan, tapi ada getar hangat yang bikin orang pengen dengerin terus.
Naya: “Hai Heni! Dari mana nih? Kampus mana?”
Heni: “Undip juga, DKV semester akhir. Baru pindah kost ke Meteseh. Kalian pada di mana?”
Rio yang dari tadi cuma dengerin sambil scroll X, tiba-tiba ngerasa jantungnya bergetar kecil. Meteseh. Dekat banget sama Tlogosari-nya.
Dia pencet tombol mic, suaranya agak gugup.
“Eh… halo Heni. Aku Rio. Tlogosari. Dekat dong kita.”
Heni tertawa kecil di ujung sana. Suaranya terdengar senang.
“Serius? Wah, tetangga dong. Lo kuliah di mana, Rio?”
“Undip juga, tapi Teknik. Semester akhir juga, lagi perang sama skripsi.”
Obrolan mulai mengalir. Dika dan Naya masih ikut, tapi lama-lama mereka pada pamit satu-satu: Dika bilang mau tidur, Naya bilang deadline tugas besok pagi. Voice channel tinggal berdua: Rio dan Heni.
Hening sebentar, cuma suara hujan di luar.
Heni bicara duluan, suaranya lebih pelan.
“Rio… kamu lagi sendirian ya malam ini?”
Rio menelan ludah. “Iya. Kost kosong, temen sekamar pulang kampung. Kamu?”
“Sama. Aku lagi di kamar, lampu redup, hujan deras, rasanya… sepi banget.”
Rio nggak tahu kenapa, tapi kata-kata itu bikin dadanya sesak. Dia ingat mimpi semalam—bayangan Heni yang seksi, video call yang keblabasan, pertemuan di taman. Tapi ini nyata. Suara ini nyata.
“Kamu suka hujan nggak?” tanya Rio, cuma buat ngisi hening.
“Suka. Bikin tenang. Tapi kadang bikin pengen… dipeluk orang.”
Rio diam. Jantungnya berdegup kencang.
Heni melanjutkan, suaranya hampir berbisik.
“Aku tadi liat profil Discord kamu. Foto avatar lo lagi duduk di warung kopi, senyum tipis gitu. Lucu.”
Rio tersipu meski nggak kelihatan. “Itu foto lama. Sekarang muka gue lebih kusut.”
Heni tertawa lagi. “Aku nggak keberatan kusut. Malah… kelihatan asli.”
Mereka ngobrol hampir dua jam tanpa sadar. Dari skripsi yang mentok, mantan yang ninggalin, hobi gambar digital Heni, sampai curhat kecil soal kesepian malam-malam. Heni cerita dia suka bikin ilustrasi sensual di akun privat Behance-nya, tapi jarang nunjukin ke orang. Rio cerita dia suka dengerin lagu mellow pas hujan, sambil bayangin hidup yang lebih seru dari sekarang.
Tiba-tiba Heni bilang:
“Rio… boleh nggak kita pindah ke video call? Aku pengen liat muka orang yang udah nemenin aku dua jam ini.”
Rio kaget. Tapi dia nggak nolak.
“Oke. Aku kirim link Discord video call ya.”
Beberapa detik kemudian, layar laptop Rio menampilkan wajah Heni.
Rambut panjang hitam tergerai, pakai kaos oversized abu-abu yang agak melorot di bahu kanan, memperlihatkan tulang selangka mulus. Lampu kamarnya warm yellow, bikin kulitnya terlihat hangat. Dia tersenyum tipis, mata cokelatnya menatap langsung ke kamera.
“Hai… ternyata kamu lebih ganteng dari avatar,” katanya sambil tertawa kecil.
Rio nyengir malu. “Kamu… jauh lebih cantik dari yang aku bayangin.”
Heni memiringkan kepala, rambutnya jatuh menutupi satu sisi wajah.
“Bayangin aku gimana tadi?”
Rio tergagap. “Eh… ya… cantik lah. Biasa aja.”
Heni menggigit bibir bawahnya pelan—kebiasaan yang nanti akan sering Rio perhatikan.
“Jangan bohong. Aku tahu kamu nervous. Mukanya merah tuh.”
Mereka tertawa bareng. Obrolan berlanjut, semakin dalam, semakin nyaman. Heni geser posisi duduk, kaosnya ikut naik sedikit, memperlihatkan garis pinggang ramping. Rio berusaha nggak melirik terlalu lama, tapi Heni kayak sengaja.
“Rio… kalau aku bilang aku lagi pengen sesuatu yang agak nakal malam ini, kamu bakal kabur nggak?”
Rio menelan ludah. Ini mirip banget sama mimpi semalam. Tapi ini nyata. Suara ini, wajah ini, tatapan ini.
“Nggak bakal kabur,” jawabnya pelan.
Heni tersenyum lebar, matanya berbinar.
“Bagus. Karena aku juga nggak mau kamu kabur.”
Dia mendekatkan wajah ke kamera, suaranya jadi lebih rendah.
“Besok malam… kita ketemu langsung yuk. Aku kasih lokasi. Minimarket deket kampus. Jam 7. Aku bawa motor, kita jalan-jalan. Mau?”
Rio diam sejenak. Lalu dia mengangguk, meski Heni nggak bisa lihat gerakan kepalanya dengan jelas.
“Mau. Pasti datang.”
Heni mengirim flying kiss ke kamera, lalu bilang:
“Tidur ya sekarang. Besok aku tunggu. Jangan telat, sayang.”
4236Please respect copyright.PENANAnAy5TNMIhl
Minimarket di pinggir jalan Meteseh sudah mulai ramai anak kuliah yang beli camilan malam. Rio berdiri di dekat tiang listrik, tangan kanan memegang dua gelas es teh manis plastik gede, tangan kiri sibuk ngecek ponsel setiap 10 detik. Jaket hoodie hitamnya agak basah karena gerimis tipis tadi sore, tapi dia nggak peduli. Jantungnya lagi main drum solo di dada.
Tepat jam 19:02, motor matic putih berhenti pelan di depan minimarket. Pengendaranya melepas helm, rambut panjang hitam terurai sedikit acak-acakan karena angin. Heni pakai sweater oversized krem yang lengan panjangnya ditarik sampai menutupi tangan, dipadukan celana jogger hitam longgar dan sneakers putih. Nggak seksi seperti di mimpi Rio kemarin, tapi justru terlihat lebih… nyaman, lebih asli. Wajahnya tanpa make-up tebal, cuma lip balm bening dan sedikit blush alami di pipi.
Dia langsung lihat Rio, senyumnya melebar, lalu melambai kecil sambil berjalan mendekat.
“Sayang… kamu beneran datang duluan,” katanya sambil tertawa ringan.
Rio nyodorin satu gelas es teh. “Ini buat kamu. Dingin, biar nggak gerah.”
Heni ambil gelas itu, jarinya sengaja nyenggol jari Rio sebentar. “Makasih. Kamu nervous ya? Tangan dingin banget.”
Rio nyengir kaku. “Banget. Takut kamu nggak datang.”
Heni memiringkan kepala, matanya berbinar. “Aku juga takut lo nggak datang. Tapi seneng banget sekarang.”
Mereka berdua diam sebentar, cuma saling pandang sambil tersenyum malu-malu. Hujan mulai gerimis lagi, tapi nggak deras.
“Jalan yuk? Aku tahu warung sate taichan deket sini. Enak, murah, tempatnya outdoor tapi ada tenda,” ajak Heni.
Rio mengangguk cepat. “Ayo.”
Mereka jalan berdampingan, bahu sesekali bersenggolan. Heni jalan agak lambat, sesekali menoleh ke Rio sambil cerita kecil.
“Semalem setelah call mati, aku nggak bisa tidur langsung. Mikirin kamu terus,” katanya pelan.
Rio ngerasa pipinya panas. “Aku juga. Sampe mimpi aneh-aneh.”
Heni tertawa. “Mimpi apa? Cerita dong.”
Rio geleng-geleng cepat. “Nggak ah, malu. Nanti aja kalau udah deket banget.”
Heni cuma nyengir nakal, tapi nggak maksa.
Sampai di warung sate taichan—meja kayu sederhana di bawah tenda biru, lampu neon kuning, bau asap bakaran dan sambal pedes menyengat. Mereka duduk di pojok, pesen dua porsi sate taichan level 3 (pedes sedang), plus dua porsi nasi uduk kecil dan es jeruk.
Makanannya datang cepat. Heni langsung ambil satu tusuk, tiup-tiup pelan, lalu masukin ke mulut. Matanya langsung merem nikmat.
“Enak banget… ini bumbunya pas, nggak keasinan,” katanya sambil mengunyah.
Rio ikut makan, tapi matanya lebih sering ke Heni. “Kamu suka pedes ya?”
“Banget. Kalau nggak pedes rasanya kurang greget,” jawab Heni sambil nyodorin tusuk satenya ke arah Rio. “Coba nih, yang ini aku ambilin.”
Rio buka mulut, Heni suapin pelan. Mereka berdua tertawa kecil pas Rio hampir tersedak karena pedes.
“Lo kuat pedes nggak sih?” goda Heni.
“Biasa aja… tapi kalau kamu suapin, tiba-tiba jadi lebih pedes,” balas Rio sambil nyengir.
Obrolan mengalir santai. Mereka cerita soal masa kecil: Heni bilang dia anak tunggal, dulu suka gambar di dinding kamar sampe dimarahin mama. Rio cerita dia anak tengah, dulu sering rebutan remote TV sama kakak-adik. Mereka saling lempar cerita lucu soal dosen killer, temen kuliah yang aneh-aneh, sampai kebiasaan kecil yang bikin mereka ketawa bareng.
“Lo tahu nggak, aku suka banget kalau hujan gini. Rasanya pengen peluk orang terus,” kata Heni tiba-tiba, matanya menatap Rio lembut.
Rio diam sebentar, lalu jawab pelan, “Aku juga. Tapi selama ini cuma peluk bantal doang.”
Heni tersenyum, tangannya meraih tangan Rio di atas meja. Jari-jarinya dingin karena es jeruk, tapi hangat di hati Rio.
“Kita bisa pelukan beneran nanti… kalau kamu mau,” bisiknya.
Rio menggenggam tangan Heni balik. “Mau banget.”
Mereka nggak buru-buru pulang. Setelah makan habis, mereka pesen teh hangat lagi, duduk sambil ngeliatin orang-orang lewat di trotoar. Hujan makin deras, tapi di bawah tenda terasa aman dan hangat.
Heni menyandarkan kepala ke bahu Rio pelan. “Rio… makasih ya malam ini. Aku seneng banget.”
Rio memeluk pundak Heni ringan. “Aku juga. Ini… lebih dari yang aku bayangin.”
Heni mendongak, matanya bertemu mata Rio. “Besok… kita lanjut lagi ya? Nggak usah buru-buru ke yang lain. Cukup gini aja dulu. Makan bareng, ngobrol, ketawa. Aku suka banget rasanya.”
Rio mengangguk, tersenyum lebar. “Deal. Besok aku jemput kamu di kost. Kita cari tempat makan enak lagi. Atau… nonton bioskop kalau kamu mau.”
Heni menggeleng pelan. “Nggak usah bioskop. Aku lebih suka ngobrol sama kamu daripada nonton film. Kita bisa jalan-jalan aja, cari angkringan, atau duduk di taman sambil makan jagung bakar.”
Rio tertawa kecil. “Kamu romantis banget ternyata.”
“Kalau sama orang yang bikin aku nyaman, iya,” jawab Heni sambil mengedip genit.
Mereka pulang sekitar jam 21:30. Heni anter Rio sampai pinggir jalan deket kost-annya pake motor. Sebelum Rio turun, Heni peluk Rio erat sebentar dari belakang—pelukan hangat, nggak terlalu lama, tapi cukup bikin Rio deg-degan.
“Besok jam 6 sore ya. Jangan telat,” pesan Heni.
“Pasti,” jawab Rio sambil nyengir.
Heni kasih flying kiss dari helmnya, lalu gas motor pelan menghilang di ujung gang.
Rio berdiri di trotoar, tangan masih pegang gelas es teh kosong yang tadi dibagi dua sama Heni. Dia tersenyum sendiri, ngerasa dunia malam ini lebih cerah dari biasanya.
4236Please respect copyright.PENANAQDNQaUFMlC
gerimis kemarin sore meninggalkan udara segar dan bau tanah basah yang khas. Rio berdiri di depan gang kost-an Heni di Meteseh, tangan kanan memegang dua bungkus rokok kretek yang dia beli tadi siang—bukan buat dirinya (dia jarang ngerokok), tapi Heni semalam bilang suka sesekali ngerokok kretek pas lagi santai di angkringan.
Dia pakai kemeja flanel biru tua lengan digulung sampai siku, celana chino hitam, dan sepatu sneakers putih yang masih agak basah karena nyebrang genangan tadi. Rambutnya disisir rapi, bahkan semprot parfum lagi—kali ini lebih banyak, berharap Heni suka baunya.
Tak lama, Heni keluar dari gang sambil dorong motor matic putihnya. Malam ini dia pakai hoodie abu-abu oversized yang kebesaran banget sampai lengan menutupi tangan, dipadukan celana pendek olahraga hitam dan kaus kaki tinggi putih. Rambutnya diikat ponytail tinggi, beberapa helai jatuh ke pipi. Wajahnya fresh, cuma pakai lip balm merah muda tipis dan maskara ringan.
“Wah, cowokku rapi banget malam ini,” goda Heni sambil tersenyum lebar.
Rio nyengir, langsung nyodorin bungkus rokok kretek. “Ini buat kamu. Katanya suka kretek pas lagi angkringan.”
Heni ambil bungkus itu, matanya berbinar. “Aduh, inget! Makasih ya, sayang. Kamu manis banget sih.”
Dia langsung peluk Rio sebentar—pelukan hangat yang bikin Rio deg-degan lagi. Bau shampoo vanila dari rambut Heni langsung nyebar ke hidungnya.
“Kita naik motor aja ya? Aku anter kamu malam ini,” kata Heni sambil naik ke motor duluan.
Rio duduk di belakang, tangannya langsung memeluk pinggang Heni pelan. “Ke mana nih rencananya?”
“Angkringan deket Simpang Lima yang biasa aku datengin. Jagung bakar enak, wedang ronde-nya juga juara. Dan… sepi kalau weekday gini.”
Perjalanan nggak lama, cuma 15 menit. Sepanjang jalan mereka ngobrol kecil, sesekali Heni nyanyi-nyanyi pelan lagu mellow yang lagi diputar di radio motornya. Rio cuma bisa tersenyum, ngerasa ini terlalu sempurna buat kehidupan mahasiswa akhir yang biasanya penuh deadline dan skripsi mentok.
Sampai di angkringan—meja bambu panjang di bawah tenda plastik bening, lampu gantung kuning redup, bau arang dan jagung bakar menyengat. Mereka duduk di pojok paling belakang, yang agak terpisah dari meja lain. Pesan dua porsi jagung bakar madu keju, satu porsi sate usus, dua wedang ronde, dan satu termos teh panas.
Jagung datang duluan. Heni langsung ambil satu, tiup-tiup pelan, lalu gigit kecil-kecil sambil matanya merem nikmat.
“Enak banget… manisnya pas, kejunya meleleh,” katanya sambil nyodorin jagung ke arah Rio. “Coba, gigit dari sini.”
Rio gigit dari tempat yang sama. Mereka berdua ketawa kecil pas bibir mereka hampir bersentuhan di tongkol jagung.
“Romantis banget ya kita,” goda Heni sambil nyengir.
“Lebih romantis dari bioskop,” balas Rio.
Mereka makan pelan-pelan, sambil ngobrol yang makin dalam. Heni cerita soal mimpi masa kecilnya pengen punya studio gambar sendiri, tapi sekarang skripsinya mentok di bab 3 karena dosen pembimbingnya suka revisi tanpa alasan jelas. Rio cerita soal mantannya yang ninggalin dia karena “beda visi”, padahal sebenarnya cuma karena Rio jarang ajak jalan gara-gara sibuk kerja part-time.
“Aku dulu mikir, mungkin aku emang nggak pantas punya pacar yang perhatian,” kata Rio pelan sambil tatap wedang ronde di gelasnya.
Heni diam sebentar, lalu tangannya meraih tangan Rio di bawah meja. Jarinya dingin karena pegang gelas es tadi, tapi genggamannya hangat.
“Kamu pantas banget, Rio. Kamu perhatian, lucu, dan… bikin aku nyaman. Aku nggak bohong pas bilang aku seneng banget ketemu kamu.”
Rio menatap mata Heni. Di bawah lampu kuning, matanya kelihatan lebih lembut.
“Aku juga. Kayak… nemu tempat pulang yang lama hilang.”
Heni tersenyum tipis, lalu mendekatkan wajahnya. Mereka berciuman pelan—ciuman pertama malam ini, ringan, manis, cuma bibir bertemu bibir selama beberapa detik. Nggak buru-buru, nggak ganas. Cuma penuh perasaan.
Setelah ciuman itu, Heni menyandarkan kepala ke bahu Rio. Mereka diam sebentar, cuma dengerin suara orang-orang di angkringan, deru motor lewat, dan suara hujan gerimis yang mulai turun lagi di atap tenda.
“Rio… aku pengen bilang sesuatu,” kata Heni pelan.
“Apa?”
“Aku nggak mau buru-buru ke yang… lebih jauh. Aku suka gini. Makan bareng, ngobrol, pelukan kecil, ciuman manis. Rasanya… aman. Dan bahagia.”
Rio mengangguk, tangannya membelai rambut Heni pelan. “Aku juga. Kita nikmatin aja dulu. Nggak usah buru-buru. Yang penting… kamu ada di sini.”
Heni mendongak, matanya berkaca-kaca sedikit—bukan sedih, tapi bahagia.
“Makasih ya, sayang. Kamu bener-bener beda.”
Mereka habisin malam itu sampai jam 21:45. Jagung habis, wedang ronde tinggal ampas, rokok kretek Heni cuma nyala dua batang—satu dibagi dua sama Rio. Mereka pulang pelan-pelan, Heni anter Rio sampai depan kost-annya lagi.
Sebelum Rio turun, Heni peluk dia erat dari belakang motor. “Besok lagi ya? Aku kangen kalau nggak ketemu kamu.”
Rio balik peluk, cium kening Heni pelan. “Besok pasti. Aku jemput kamu. Kita cari menu baru.”
Heni tersenyum lebar. “Deal. Selamat malam, cowokku.”
“Selamat malam, sayang.”
ns216.73.217.15da2


