Bab 4: Hari Kedua: Rangsangan yang Tak Tertahankan
1724Please respect copyright.PENANABLRX8XRJsl
Pagi kedua di villa mewah Bali terasa seperti neraka yang dibungkus surga—matahari tropis menyinari pantai biru di luar jendela, burung-burung bernyanyi manis, tapi tubuh Rahmi terasa seperti api yang tidak pernah padam. Dia bangun dengan tubuh lemas tapi masih bergetar dari rangsangan semalam, vibrator rendah yang Ali pasang di klitorisnya sepanjang malam bikin dia hampir tidak tidur. Tubuh montoknya, dengan payudara besar yang sekarang agak bengkak karena permainan kemarin, bokong bulat yang merah karena pencahayaan berulang, dan kulit putih mulusnya yang berkilau keringat, terasa hipersensitif. Rambut hitam panjang ikalnya menempel di wajah basah, hidung mancungnya menghirup aroma laut yang seharusnya menenangkan, tapi mata cokelatnya memikat sekarang penuh campuran emosi: kelelahan yang bikin dia ingin nangis, rasa penasaran yang masih menyala karena sensasi baru, dan marah yang mulai mendidih karena *gue nggak boleh tidur beneran? Ini gila!*. kepribadian lucunya mencoba muncul untuk bertahan: *Yah, setidaknya gue dapet pemandangan pantai gratis, meskipun lagi ikatan kayak ayam potong.* Tapi dalem hati, emosinya bergolak lebih dalam—dia merasa seperti mainan manusia, terhina tapi juga ketagihan dengan kenikmatan yang tidak pernah berhenti, bikin dia bertanya-tanya apakah ini pilihan yang salah atau petualangan terbaiknya.
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
ns216.73.217.22da2


