Bab 2: Acara Perusahaan dan Pertemuan Pertama
1978Please respect copyright.PENANAotnYoj4GGT
Malam itu terasa spesial bagi Amanda. Sudah seminggu dia deg-degan mikirin acara tahunan perusahaan Indra. Bukan karena takut bosan—dia tahu Indra bakal nemenin dia sepanjang malam—tapi karena penasaran sama Yoga, bos besar yang sering diceritain Indra. "Bos Yoga itu orangnya tegas tapi fair, sayang. Dia yang bikin aku naik jabatan," kata Indra kemarin sambil nyengir bangga. Amanda cuma bisa senyum, tapi dalam hati ada rasa penasaran yang aneh. Katanya Yoga ganteng buat ukuran pria 45 tahun, berotot, dan punya aura yang bikin orang segan sekaligus tertarik.
1978Please respect copyright.PENANAChinmBm2iJ
Amanda berdiri di depan cermin kamar, memeriksa penampilannya untuk kesekian kalinya. Dia memilih gamis panjang berwarna emerald gelap yang elegan, bahan satin yang jatuh sempurna di tubuh langsingnya. Hijabnya matching, dililit rapi dengan sedikit aksen brokat di pinggir, membuat wajahnya terlihat lebih cerah. Payudaranya yang E cup terlihat proporsional di balik kain tebal, bokongnya yang kencang menonjol halus saat dia berputar. Kulit putihnya kontras indah dengan warna gelap gamis, rambut hitam panjangnya tersembunyi rapi di balik hijab, tapi beberapa helai lepas membuatnya terlihat lebih hidup. Mata cokelatnya dipoles tipis eyeliner, hidung mancungnya terlihat sempurna. "Cantik banget, sayang," puji Indra dari belakang, memeluk pinggangnya.
1978Please respect copyright.PENANA1RIJ1jwFXD
Indra tampil gagah dalam setelan jas hitam slim fit, kemeja putih, dan dasi biru tua. Tubuh berototnya terlihat pas di balik baju, senyum menawannya bikin Amanda meleleh. "Kamu juga ganteng banget malam ini," balas Amanda sambil mencium pipinya. Mereka berpelukan sebentar, aroma parfum Indra yang maskulin bercampur dengan wangi floral Amanda. Ada sentuhan ringan di pinggang, jari Indra merayap pelan, tapi mereka buru-buru berhenti. "Nanti aja di rumah, ya. Malam ini kita fokus nikmatin acara," goda Amanda sambil tertawa kecil.
1978Please respect copyright.PENANAfzvaLM4OiB
Mereka tiba di hotel bintang lima di pusat kota sekitar pukul 19.00. Ballroom utama sudah ramai, lampu kristal berkilauan, meja-meja bundar ditata rapi dengan centerpiece bunga segar. Musik jazz lembut mengalun, para karyawan dan pasangan mereka berpakaian formal—banyak wanita berhijab seperti Amanda, tapi ada juga yang memilih dress modern. Indra menggandeng tangan Amanda masuk, langsung disambut rekan kerjanya.
1978Please respect copyright.PENANAfDZOS0vWrj
"Indra! Akhirnya bawa istri juga," sapa salah satu teman kantor. Amanda tersenyum manis, memperkenalkan diri dengan kepribadian lucunya. "Halo, aku Amanda. Jangan kasih tahu Indra kalau aku suka marah-marah ya," candanya, bikin orang sekitar tertawa. Indra cuma geleng-geleng kepala sambil memeluk pinggang istrinya protektif.
1978Please respect copyright.PENANA7DfwBGvDgG
Tak lama, sorotan mata tertuju ke pintu masuk utama. Yoga muncul, pria 45 tahun dengan postur tegap 170 cm, tubuh berotot terlihat jelas di balik jas tailor-made abu-abu gelap. Rambut hitam lurusnya disisir rapi, senyum menawannya langsung menyapa semua orang. Dia berjalan dengan percaya diri, menyapa karyawan satu per satu. Saat matanya bertemu Indra, dia langsung mendekat.
1978Please respect copyright.PENANAb88UPdiCpJ
"Indra, bagus kamu datang. Dan ini pasti istrinya yang terkenal cantik itu," kata Yoga dengan suara dalam yang hangat. Matanya langsung tertuju pada Amanda. Ada sesuatu di tatapannya—bukan sekadar sopan, tapi seperti predator yang menemukan mangsa berharga. Amanda merasa pipinya memanas, tapi dia tetap tersenyum. "Terima kasih, Pak Yoga. Senang akhirnya bertemu," jawabnya sopan, suaranya sedikit gemetar karena aura pria itu begitu kuat.
1978Please respect copyright.PENANAdn0WpktPgi
Yoga mengulurkan tangan, Amanda menjabatnya. Sentuhan itu hangat, jarinya kuat tapi lembut. "Panggil Yoga aja, nggak usah formal. Indra sering cerita soal kamu, katanya kamu desainer grafis berbakat." Amanda tertawa kecil, "Ah, Indra lebay. Cuma freelance biasa kok." Yoga tersenyum lebar, matanya tak lepas dari wajah Amanda. "Kamu terlalu rendah hati. Malam ini kamu bikin ballroom ini lebih cerah."
1978Please respect copyright.PENANAfFaXcT6nlC
Indra bangga, tapi tak sadar ada ketegangan halus di udara. Yoga mengajak mereka ke meja VIP. Di sana sudah ada dua pria lain: Ahmad, rekan bisnis dari Arab, tubuh atletis, kulit sawo matang, mata tajam seperti sedang menganalisis segalanya. Dan Amari, pria Afrika dengan badan atletis tinggi, senyum lebar tapi ada sesuatu yang gelap di baliknya. Mereka menyapa Indra ramah, tapi mata mereka juga langsung ke Amanda.
1978Please respect copyright.PENANA9JubZlxoWf
"Indah sekali istri kamu, Indra," kata Ahmad dengan aksen Arab yang kental. "Keturunan mana?" Amanda jawab, "Ayah saya Arab, ibu Indonesia." Amari menimpali, "Kombinasi sempurna. Kamu pasti sering bikin orang iri." Amanda cuma tersenyum malu-malu, tapi dalam hati merasa tatapan mereka berbeda—bukan sekadar pujian, tapi seperti menilai nilai.
1978Please respect copyright.PENANAtqXoqpL9ps
Acara dimulai dengan sambutan Yoga. Dia berdiri di panggung, suaranya menggelegar penuh karisma. "Terima kasih semua sudah hadir. Tahun ini perusahaan kita mencapai target luar biasa, berkat kerja keras kalian. Dan malam ini, kita rayakan bersama keluarga." Tepuk tangan meriah. Saat turun panggung, Yoga langsung kembali ke meja mereka.
1978Please respect copyright.PENANA4bE0QjFTvZ
Makan malam disajikan: hidangan fusion Indonesia-Internasional, wine untuk yang mau, jus segar untuk yang lain. Obrolan mengalir santai. Indra cerita soal proyek terbarunya, Yoga mendengarkan sambil sesekali melirik Amanda. "Amanda, kamu suka traveling nggak?" tanya Yoga tiba-tiba. "Suka banget, Pak. Tapi sekarang lebih banyak di rumah karena kerja remote." Yoga mengangguk, "Bagus. Kadang butuh istirahat dari rutinitas. Kalau boleh saran, suatu saat coba liburan ke tempat yang... eksotis."
1978Please respect copyright.PENANAtLY9Vrj8Yp
Ada nada ambigu di kata 'eksotis' itu, bikin Amanda merinding halus. Indra tak sadar, malah cerita, "Iya, Pak. Kami lagi nabung buat honeymoon kedua." Yoga tertawa pelan, "Bagus. Pasangan seperti kalian pantas dimanjakan."
1978Please respect copyright.PENANAmb3gEXleMz
Setelah makan, ada sesi hiburan: live music, dance floor ringan. Beberapa pasangan mulai berdansa. Indra mengajak Amanda, "Mau dansa nggak, sayang?" Amanda mengangguk, mereka ke lantai dansa. Gerakan mereka lambat, romantis. Indra memeluk pinggang Amanda, bisik di telinganya, "Kamu cantik banget malam ini. Pengen cepet pulang." Amanda tertawa genit, "Sabar dong. Nanti di rumah aku kasih bonus."
1978Please respect copyright.PENANAGKBbJL9Vly
Dari meja VIP, Yoga memperhatikan mereka. Matanya tajam, seperti sedang merencanakan. Ahmad mendekat, bisik, "Itu dia yang kamu ceritain? Benar-benar batu berharga." Amari menimpali, "Tubuhnya pas untuk dimodif. Kulit putih, bentuk bagus. Kita bisa bikin masterpiece." Yoga tersenyum tipis, "Sabar. Kita mulai dari jebakan dulu. Indra terlalu loyal, mudah dimanfaatkan."
1978Please respect copyright.PENANAJ8R5JtuMp0
Amanda kembali ke meja, pipinya merah karena dansa. Yoga langsung menyodorkan minum. "Ini jus mangga segar. Cocok buat kamu." Amanda minum, tak sadar ada tatapan lapar di mata pria itu. Obrolan berlanjut, Yoga cerita soal bisnisnya—perusahaan multinasional dengan cabang di berbagai negara. "Kadang butuh orang terpercaya untuk proyek spesial," katanya sambil melirik Indra, tapi matanya kembali ke Amanda.
1978Please respect copyright.PENANAhAWcC2qHPD
Malam semakin larut. Saat foto bersama karyawan, Yoga sengaja berdiri di samping Amanda. Saat kamera klik, tangannya menyentuh punggung bawah Amanda sekilas—sentuhan yang terlihat tak sengaja, tapi bikin Amanda tersentak. "Maaf," katanya pelan, tapi senyumnya bilang lain. Amanda cuma tersenyum kaku, hati berdegup kencang.
1978Please respect copyright.PENANAotucrcpQzo
Di akhir acara, Yoga berpamitan. "Senang bertemu kamu, Amanda. Semoga kita sering ketemu lagi." Matanya menatap dalam, seperti janji tersirat. Amanda mengangguk, "Iya, Pak. Terima kasih atas acara malam ini." Indra memeluk istrinya, "Pulang yuk, sayang. Capek nggak?"
1978Please respect copyright.PENANATOMvPIW00x
Di mobil pulang, Amanda diam sebentar. "Bos kamu orangnya ramah ya," katanya. Indra mengangguk, "Iya, dia baik kok. Kamu suka?" Amanda tersenyum, "Lumayan. Tapi tatapannya... agak intens." Indra tertawa, "Mungkin karena kamu cantik banget." Mereka pulang, malam itu berakhir dengan sesi intim panas di kamar—Indra lebih agresif dari biasa, mungkin terpengaruh suasana malam. Amanda menikmatinya, tapi diam-diam bayangan tatapan Yoga muncul sekilas di pikirannya.
1978Please respect copyright.PENANAQ7WjowfNx7
Sementara itu, di penthouse Yoga, pria itu duduk dengan Ahmad dan Amari. "Mangsa bagus," kata Yoga sambil menuang whiskey. "Kita mulai rencana. Indra harus dijebak dulu. Setelah itu... Amanda milik kita." Mereka tertawa pelan, mata penuh nafsu. Malam itu, benih perbudakan mulai ditanam.
1978Please respect copyright.PENANAPqC0aT5jAa


