13009Please respect copyright.PENANAmi89IJbhpW
13009Please respect copyright.PENANA5cHkfPr0j4
Hujan deras kembali mengguyur setelah kajian selesai, tapi kami tak beranjak dari bangku taman belakang masjid. Air mengalir deras di wajah kami, membasahi baju sampai menempel ketat di kulit. Nadia sudah tak lagi menangis—matanya sekarang gelap, liar, seperti binatang yang sudah terlalu lama dikurung.
“Kak…” suaranya serak, hampir seperti growl. “Aku nggak bisa pulang gini. Aku basah banget. Bukan cuma hujan. Aku basah karena kakak. Karena tadi kakak cium aku kayak orang kelaparan. Aku nggak tahan lagi. Kalau aku pulang sekarang, aku bakal coli di kamar mandi, sambil jerit nama kakak, tapi itu nggak cukup. Aku butuh kakak. Sekarang.”
Dia maju tiba-tiba, naik ke pangkuanku tanpa permisi. Rok panjangnya naik sampai paha atas, celana dalam putihnya sudah tembus pandang karena basah. Aku bisa merasakan panas dan kelembaban langsung di selangkanganku yang sudah keras menyiksa.
“Nadia… ini masjid. Kita—”
“Masjid sudah sepi. Semua pulang. Cuma kita. Dan hujan nutupin suara. Kak… aku nggak minta halal sekarang. Aku minta kakak kasar. Brutal. Aku pengen kakak kasar sama aku malam ini. Aku pengen ngerasain sakit yang enak. Aku pengen kakak rampas aku kayak aku milik kakak.”
Kata-katanya seperti bensin di api. Aku sudah tak bisa berpikir lagi. Tangan kananku langsung naik ke lehernya, cengkeram pelan tapi tegas—bukan mencekik, tapi cukup membuat dia tersentak dan mengerang.
“Kamu yakin minta gini, Nad? Kalau aku mulai, aku nggak bakal berhenti pelan-pelan.”
Dia mengangguk cepat, matanya berkilat. “Kasar aja, Kak. Aku mau. Aku pengen nangis karena enaknya. Aku pengen kakak bikin aku jerit.”
Aku tarik leher bajunya ke bawah dengan kasar, sampai kancing atas lepas. Bra putih sederhana terlihat, putingnya sudah mengeras menembus kain tipis. Aku langsung gigit lehernya keras—bukan cium, gigit sampai meninggalkan bekas merah. Dia menjerit kecil, tapi langsung tutup mulut sendiri.
“Ahh… sakit… tapi enak… lagi, Kak…”
Aku gigit lagi, lebih dalam, sambil tangan kiriku naik ke dada kanannya, remas kasar dari luar bra. Dia menggeliat, pinggulnya bergoyang liar di atas selangkanganku, menggesek keras ke tonjolan celanaku.
“Kak… buka celanamu… aku mau pegang… aku mau ngerasain kerasnya kakak…”
Aku buka resleting dengan satu tangan, tarik keluar yang sudah tegang maksimal. Dia langsung pegang dengan tangan dingin karena hujan, tapi gerakannya panas—naik turun cepat, kasar, jempolnya menekan ujung yang sudah basah.
“Gede banget, Kak… panas… aku pengen ini masuk ke aku… sekarang…”
Aku tarik celana dalamnya ke samping dengan kasar—kainnya hampir robek. Dia sudah licin sekali, cairannya menetes ke pahaku. Aku masukkan dua jari langsung tanpa persiapan, dorong dalam-dalam sampai buku jari.
Dia menjerit keras, punggung melengkung, kuku mencakar bahuku sampai berdarah kecil.
“Kak… ahhh… sakit… tapi jangan berhenti… tusuk lagi… lebih keras…”
Aku gerakkan jari masuk-keluar brutal, sambil ibu jari menekan klitorisnya keras. Tubuhnya berguncang hebat, air matanya bercampur hujan.
“Kak… aku… aku mau keluar… tapi aku pengen kakak yang bikin… masukin… please… masukin sekarang…”
Aku angkat pinggulnya sedikit, posisikan ujungku tepat di mulut vaginanya yang sudah terbuka lebar karena basah dan terangsang.
“Kamu yakin, Nad? Ini nggak bisa balik lagi.”
Dia pegang leherku, tarik wajahku dekat, bisik di telingaku dengan suara gemetar tapi penuh nafsu.
“Masukin, Kak. Robek aku kalau perlu. Aku rela. Aku pengen kakak jadi yang pertama… dan terakhir. Masukin kasar. Aku mau ngerasain sakitnya kakak.”
Aku dorong sekali keras—masuk separuh. Dia menjerit panjang, tubuhnya menegang, kakinya menggigil hebat.
“Ahhhh… sakit… gede banget… tapi enak… dorong lagi, Kak… semua…”
Aku tarik keluar sedikit, lalu dorong lagi lebih dalam—sampai habis. Dia menjerit lagi, tapi kali ini campur erangan kenikmatan. Darah tipis bercampur cairannya menetes ke pahaku—bukti dia masih perawan.
“Kak… gerak… kasar… aku mau kakak hancurkan aku malam ini…”
Aku mulai dorong masuk-keluar dengan brutal, tangan kananku cengkeram pinggulnya keras sampai meninggalkan bekas jari, tangan kiriku remas dada kirinya kasar, cubit putingnya sampai dia menjerit.
Dia ikut gerak pinggul, naik-turun liar, mengejar irama. Suaranya tak lagi ditahan.
“Kak… lebih cepat… tusuk aku dalam-dalam… aku mau keluar… aku mau squirt di kakak…”
Aku percepat, dorong lebih keras, lebih dalam. Tubuh kami beradu basah karena hujan dan keringat. Dia mulai menegang hebat, kakinya mengunci pinggangku.
“Kak… aku… aku keluar… ahhhh…!”
Dia orgasme brutal—cairannya menyemprot deras, membasahi celanaku, bangku, tanah di bawah. Tubuhnya kejang-kejang, matanya membelalak, mulut terbuka lebar tanpa suara beberapa detik.
Aku tak berhenti. Aku terus dorong, semakin cepat, semakin kasar.
“Nadia… aku mau keluar… di dalam…”
Dia mengangguk lemah, masih tersengal.
“Keluarin di dalam, Kak… isi aku… aku mau ngerasain panasnya kakak…”
Aku dorong terakhir keras—keluar di dalamnya, panas dan banyak. Dia mengerang lagi, tubuhnya ambruk ke dadaku, masih bergetar.
Kami diam lama, hanya napas tersengal dan hujan yang mulai reda.
Dia angkat wajah pelan, matanya penuh air mata, tapi senyum kecil.
“Kak… aku… aku udah nggak perawan lagi. Dan aku nggak nyesel. Karena kakak yang ambil.”
Aku peluk dia erat, rasa bersalah dan puas bercampur jadi satu.
“Besok pagi aku ke rumah kamu. Kita ceritain semuanya ke orang tua. Kita nikah secepatnya. Aku nggak mau kamu sendirian lagi. Dan mulai sekarang… setiap malam, kamu boleh minta kasar. Sebanyak yang kamu mau. Tapi cuma sama aku.”
Dia mengangguk di dadaku, suaranya pelan.
“Iya, Kak. Mulai sekarang… aku milik kakak sepenuhnya. Dan kakak… boleh kasar sama aku kapan aja. Aku suka.”
Hujan berhenti total.
Kami bangun pelan, baju basah kuyup, tubuh penuh bekas gigitan, cakaran, dan cairan.
Tapi di mata kami berdua, ada kepastian baru—kami sudah melewati garis, dan sekarang tak ada jalan kembali kecuali menuju halal.
13009Please respect copyright.PENANAwF2P8P9r5M
Nadia sudah tak lagi seperti gadis sholehah yang duduk rapi di baris depan kajian. Matanya liar, pupil melebar, bibir bawahnya digigit sampai memutih, napasnya pendek-pendek seperti orang yang baru lari marathon nafsu.
Dia naik ke pangkuanku tanpa ragu, lututnya menjepit pinggulku keras. Rok panjangnya tersingkap kasar sampai pinggul, celana dalam putih tipisnya sudah transparan total—air hujan bercampur cairan kental yang menetes deras ke pahaku. Aku bisa mencium bau amis manis yang kuat dari selangkangannya, bau nafsu mentah yang selama ini dia sembunyikan di balik wangi mawar parfumnya.
“Kak… aku basah banget sampai nempel ke celana dalam. Rasanya lengket, panas, gatal… aku pengen kakak robek semuanya sekarang,” bisiknya dengan suara bergetar, hampir seperti menggeram.
Aku tak lagi bisa menahan. Tangan kananku langsung melingkar di lehernya dari belakang—cengkeram kuat sampai urat lehernya terasa berdenyut di bawah jari-jariku. Bukan mencekik sampai sesak, tapi cukup membuat kepalanya terdongak, urat nadi berdenyut cepat, napasnya tersengal pendek-pendek.
“Kalau aku kasar sekarang, kamu nggak bisa mundur lagi, Nad. Aku bakal bikin kamu sakit. Bikin kamu jerit. Bikin kamu nangis karena enaknya campur perih.”
Dia mengangguk cepat, matanya berkilat basah. “Aku mau sakitnya, Kak. Aku mau kakak bikin aku ngerasa kayak barang milik kakak. Rampas aku. Hancurkan aku malam ini.”
Aku tarik kerah tuniknya ke bawah dengan satu tarikan kasar—kancing atas copot dua butir, bra putih polosnya terbuka separuh. Putingnya sudah mengeras keras, cokelat muda, menonjol seperti ingin digigit. Aku langsung menunduk, gigit puting kiri dengan gigi depan—bukan pelan, tapi tekan sampai dia menjerit tajam, tubuhnya melengkung ke belakang, kuku mencakar bahuku sampai kulit terasa perih dan hangat darah menetes tipis.
“Ahhh… sakit… gigit lagi… lebih keras…”
Aku gigit lebih dalam, tarik putingnya keluar dengan gigi sambil lidah menjilat ujungnya yang sudah bengkak. Rasa asin darah kecil bercampur manis kulitnya. Tangan kiriku naik ke dada kanan, remas kasar sampai payudaranya tertekan ke sela jari-jariku, cubit putingnya keras sampai dia menggeliat liar, pinggulnya bergesek brutal ke tonjolan celanaku.
“Kak… buka… aku mau pegang… aku mau ngerasain kerasnya kakak di tangan aku…”
Aku buka resleting dengan satu gerakan kasar, tarik keluar yang sudah tegang maksimal—urat-uratnya menonjol, ujungnya basah bening, berdenyut keras. Nadia langsung pegang dengan kedua tangan—dingin karena hujan, tapi gerakannya panas dan ganas. Dia naik-turun cepat, jempolnya menekan kepala yang licin, kuku jarinya menggores pelan di batang sampai aku mendesis kesakitan campur nikmat.
“Gede banget… panas… keras kayak batu… aku pengen ini masuk… robek aku dari dalam…”
Aku tarik celana dalamnya ke samping dengan kasar—kainnya robek sedikit di sisi, suara kecil “cret” terdengar di antara deru hujan. Mulut vaginanya sudah terbuka lebar, bibir luarnya bengkak merah, cairannya mengalir deras seperti air terjun kecil, menetes ke pahaku dan ke bangku kayu yang basah.
Aku masukkan tiga jari sekaligus tanpa peringatan—dorong dalam-dalam sampai buku jari menyentuh dinding dalamnya. Dia menjerit panjang, punggung melengkung ekstrem, kakinya menggigil hebat seperti kesetrum.
“Kak… ahhh… penuh… sakit… tapi jangan cabut… gerakkin… tusuk aku dalam-dalam…”
Aku gerakkan jari masuk-keluar brutal, melengkung ke atas mencari titik sensitifnya, tekan keras sambil ibu jari menekan klitoris yang sudah bengkak. Setiap dorongan membuat suara licin “crot… crot…” terdengar jelas, cairannya menyemprot kecil-kecil ke tanganku. Nadia mulai menggerakkan pinggulnya sendiri, naik-turun ganas mengikuti irama, kuku mencakar leherku sampai berdarah.
“Kak… aku… aku mau squirt… tekan lagi… lebih keras…”
Aku tambah kecepatan, jari-jariku seperti piston—masuk keluar cepat, dalam, kasar. Tubuhnya menegang hebat, perutnya bergetar, lalu tiba-tiba dia menjerit panjang:
“Ahhhh… keluar… kak… aku squirt…!”
Cairannya menyemprot deras, hangat dan banyak, membasahi celanaku, pahaku, bangku, tanah di bawah. Tubuhnya kejang-kejang hebat, matanya membelalak putih, mulut terbuka lebar tanpa suara beberapa detik, lalu ambruk ke dadaku sambil tersengal.
Tapi aku belum selesai. Aku angkat pinggulnya tinggi, posisikan ujungku tepat di mulut vaginanya yang masih berdenyut dan terbuka lebar.
“Kamu minta kasar, Nad. Aku kasih.”
Aku dorong sekali keras—masuk separuh dalam satu hentakan. Dia menjerit lagi, kuku mencakar punggungku dalam-dalam, darah terasa hangat mengalir.
“Sakit… gede banget… robek… tapi enak… dorong lagi… semua…”
Aku tarik keluar sedikit, lalu tusuk lagi lebih dalam—sampai habis, pangkalnya menempel ketat di bibir vaginanya. Rasa sempit, panas, licin, dan denyutan dinding dalamnya membungkusku erat. Darah tipis bercampur cairannya menetes ke pahaku—dia memang masih perawan, tapi sekarang sudah robek karena aku.
Aku mulai gerak—dorong masuk-keluar brutal, setiap hentakan membuat tubuhnya terlonjak, payudaranya bergoyang liar, air hujan bercampur keringat menetes dari dagunya. Tangan kananku cengkeram pinggulnya keras sampai meninggalkan bekas memar biru, tangan kiriku remas lehernya lagi—tekan cukup untuk membuat napasnya tersengal pendek-pendek, matanya setengah terpejam nikmat.
“Kak… lebih cepat… hancurkan aku… aku mau kakak isi aku… keluarin di dalam…”
Aku percepat irama, dorong lebih dalam, lebih keras—setiap hentakan membuat suara benturan kulit basah terdengar “plak… plak… plak…” bercampur erangan dan jeritan kecilnya. Dia mulai mengejang lagi, kakinya mengunci pinggangku erat, tumitnya menekan pantatku.
“Kak… aku keluar lagi… ahhhh…!”
Dia orgasme kedua—lebih hebat, cairannya menyemprot lagi, vaginanya berdenyut kuat mencengkeram batangku seperti ingin memeras habis. Aku tak tahan lagi.
“Nadia… aku keluar… di dalam…”
“Keluarin… isi aku… panasin aku dari dalam…”
Aku dorong terakhir—dalam sekali, keras sekali—lalu meledak di dalamnya. Panas, banyak, berdenyut-denyut, mengisi ruang sempitnya sampai terasa meluap keluar. Dia mengerang panjang, tubuhnya kejang lagi, matanya berkaca-kaca campur lega dan puas.
Kami diam lama, hanya napas tersengal dan hujan yang mulai mereda. Nadia masih di pangkuanku, tubuhnya lemas, vaginanya masih berdenyut pelan mengelilingiku yang mulai melemas di dalam.
“Kak… aku… aku udah nggak perawan. Dan aku ngerasain semuanya. Sakitnya, enaknya, panasnya, penuhnya… semuanya karena kakak.”
Aku peluk dia erat, cium keningnya yang basah keringat dan hujan.
“Besok pagi aku ke rumah kamu. Kita ceritain ke orang tua. Kita nikah secepatnya. Dan setelah halal… setiap malam, kamu boleh minta lebih kasar lagi. Sebanyak yang kamu mau. Aku bakal kasih semuanya.”
Dia tersenyum lemah, tapi matanya penuh api baru.
“Iya, Kak. Mulai sekarang… aku milik kakak. Dan kakak… boleh hancurkan aku kapan saja. Aku suka sakitnya kalau dari kakak.”
Kami bangun pelan, baju robek di beberapa tempat, kulit penuh bekas gigitan merah keunguan, cakaran berdarah tipis, memar biru di pinggul dan leher. Cairan kami bercampur menetes ke tanah, bau seks mentah masih menempel kuat di udara basah.
13009Please respect copyright.PENANAOUR5yOftW4
Pagi setelah malam itu, Nadia bangun dengan tubuh yang terasa seperti habis dihantam truk—setiap gerakan kecil membuat pinggulnya nyeri menusuk, paha dalamnya memar biru kehitaman, leher dan dada penuh bekas gigitan merah keunguan yang masih panas dan bengkak. Tapi di antara rasa sakit itu, ada sensasi lain yang jauh lebih kuat: rasa kosong yang menganga di antara pahanya. Vaginanya masih berdenyut pelan, seperti mengingat setiap dorongan brutal malam tadi, setiap denyut panas sperma Agus yang mengisi rahimnya sampai meluap.
Dia duduk di tepi kasur kosannya, tangan kanannya tanpa sadar turun ke bawah rok tidur tipis. Jari-jarinya menyentuh bibir vaginanya yang masih bengkak—masih licin, masih sensitif. Sentuhan sekecil itu saja membuatnya mengerang pelan, punggung melengkung. “Kak Agus… kontol kakak…” gumamnya sendiri, suara serak karena malam tadi terlalu banyak menjerit.
Dia tak bisa menahan. Jari tengah dan telunjuk langsung masuk pelan—masih perih, tapi perih itu malah membuatnya tambah basah. Dia gerakkan jari masuk-keluar lambat, membayangkan batang Agus yang tebal, urat-uratnya yang berdenyut, kepalanya yang besar menyodok dinding dalamnya. “Ahh… gede banget… panas… keras… isi aku lagi, Kak…” bisiknya sambil menutup mata, pinggulnya mulai bergoyang mengikuti irama jarinya sendiri.
Tapi tak cukup. Jari-jarinya terlalu kecil, terlalu lembut dibandingkan kontol Agus yang kasar, yang brutal, yang membuatnya merasa penuh sampai perut bawahnya tertekan. Dia tambah satu jari lagi—tiga sekarang—dorong lebih dalam, tapi tetap tak sama. Rasa kosong itu semakin menggila. Dia ambil bantal, lipat dua, lalu gesekkan selangkangannya ke sudut bantal yang keras sambil membayangkan pinggul Agus yang menabrak pantatnya dari belakang.
“Kontol kakak… aku pengen lagi… aku pengen kakak tusuk aku dari belakang… dorong sampai rahim… keluarin di dalam lagi…” erangannya semakin keras, sampai dia harus gigit bantal supaya ibunya di kamar sebelah tak mendengar.
Orgasme datang cepat, tapi dangkal—cairannya menyemprot kecil ke bantal, tubuhnya kejang sebentar, lalu ambruk. Tapi rasa haus itu tak hilang. Malah tambah parah. Dia merasa seperti pecandu yang baru mencicipi barang bagus sekali, lalu langsung ketagihan berat.
HP bergetar. Pesan dari Agus.
13009Please respect copyright.PENANAydKz2gfKTw
Pagi sayang… aku lagi di jalan ke rumah kamu. Udah siap cerita ke ayah ibu? Aku bawa buah tangan, mau minta maaf dan minta restu sekaligus percepat nikah. Kamu baik-baik aja kan? Badan sakit nggak?
Nadia baca pesan itu sambil tersenyum getir. Tangannya masih di antara paha, jarinya masih basah.
13009Please respect copyright.PENANA9o2Oz7caGW
Pagi Kak… badan aku sakit semua. Pinggul memar, leher penuh bekas gigitan, dalam aku masih perih… tapi aku pengen lagi, Kak. Aku nggak bisa mikir yang lain selain kontol kakak. Dari tadi aku coli sendiri di kasur, tapi nggak cukup. Aku ketagihan. Ketagihan banget. Buruan datang… aku nggak tahan nunggu malam lagi.
Agus baca pesan itu di motor, hampir oleng. Dadanya berdegup kencang. Dia tahu ini bahaya—mereka belum halal, tapi api yang sudah dinyalakan malam tadi tak bisa dipadamkan begitu saja.
Dia sampai di rumah Nadia sejam kemudian. Ayah dan ibu Nadia menyambut dengan wajah bingung tapi sopan. Agus langsung sujud minta maaf—cerita semuanya, tanpa detail kotor tentu saja, hanya bilang “kami sudah kelewatan batas, kami menyesal, kami ingin bertanggung jawab secepat mungkin.”
Ayah Nadia diam lama, lalu menghela napas. “Kalian sudah dewasa. Kalau sudah saling cinta dan mau bertanggung jawab, kami restui. Tapi percepat. Dua minggu lagi akad. Nggak boleh lebih.”
Nadia di kamarnya mendengar dari balik pintu—air matanya jatuh karena lega, tapi di antara air mata itu, ada senyum nakal. Dua minggu lagi… dua minggu lagi dia bisa merasakan kontol Agus setiap hari, setiap malam, tanpa rasa bersalah.
Sore itu, setelah orang tua Nadia keluar ke pasar, Nadia tarik Agus ke kamarnya diam-diam. Pintu dikunci, gorden ditutup rapat.
“Kak… aku nggak bisa nunggu dua minggu,” bisiknya sambil langsung jongkok di depan Agus, tangannya membuka resleting celana dengan gemetar.
Agus pegang kepalanya. “Nad… orang tua kamu—”
“Mereka nggak akan balik sebelum Maghrib. Kak… aku ketagihan. Dari tadi pagi aku coli tiga kali, tapi tetap kosong. Aku pengen kontol kakak di mulut aku… di dalam aku… sekarang.”
Dia tarik keluar batang Agus yang langsung mengeras di udara sejuk kamar. Nadia menatapnya seperti orang kelaparan—mata berkilat, bibir terbuka, air liur menetes pelan.
Dia langsung masukkan ke mulut—dalam sekali, sampai kepala menyentuh tenggorokan. Agus mendesis, tangannya mencengkeram rambut Nadia dari balik jilbab yang masih terpasang rapi. Nadia menggerakkan kepala maju-mundur ganas, lidahnya menjilat urat-urat di bawah, tangannya memijat bola-bola di bawah sambil mengerang pelan.
“Kak… enak… panas… bau kakak… aku suka… aku pengen telan semuanya…”
Agus tarik kepalanya pelan, lalu dorong lagi lebih dalam—sampai Nadia tersedak kecil, air mata menetes, tapi matanya justru semakin liar. Dia tak berhenti—malah tambah cepat, mulutnya seperti vakum yang panas dan basah.
Agus tak tahan lama. “Nad… aku mau keluar…”
“Keluarin di mulut aku, Kak… aku mau minumnya…”
Agus dorong terakhir—meledak di tenggorokan Nadia. Panas, banyak, berdenyut. Nadia menelan semuanya, tak ada yang tumpah—lidahnya menjilat bersih ujung yang masih berdenyut.
Setelah itu dia berdiri, tarik Agus ke kasur, buka roknya sendiri.
“Sekarang giliran dalam aku, Kak. Aku masih perih dari malam tadi… tapi aku pengen lebih perih lagi. Tusuk aku kasar. Bikin aku jerit pelan supaya tetangga nggak dengar.”
Agus naik ke atasnya, posisikan batang yang masih keras di mulut vaginanya yang sudah banjir lagi. Satu dorongan keras—masuk habis. Nadia menjerit kecil, langsung tutup mulut sendiri dengan bantal, punggung melengkung, kakinya melingkar erat di pinggang Agus.
“Kak… gerak… hancurkan aku… aku ketagihan kontol kakak… aku nggak bisa hidup tanpa ini lagi…”
Agus mulai dorong brutal—masuk keluar cepat, dalam, setiap hentakan membuat kasur berderit pelan. Nadia menggigit bantal keras, erangannya tertahan, tapi tubuhnya bergoyang liar mengikuti. Vaginanya mencengkeram kuat, denyutannya semakin cepat.
“Kak… aku keluar… lagi… ahh…!”
Dia orgasme hebat—cairannya menyemprot lagi, membasahi sprei. Agus terus dorong, sampai akhirnya keluar di dalam—panas, banyak, mengisi rahimnya yang sudah penuh bekas malam tadi.
Mereka ambruk berpelukan, napas tersengal.
“Kak… dua minggu lagi… aku bakal minta setiap hari. Tiap pagi, tiap sore, tiap malam. Aku ketagihan kontol kakak. Ketagihan banget.”
Agus cium keningnya, suara berat. “Aku juga, Nad. Aku juga nggak bisa lepas dari kamu. Dua minggu lagi… kita halal. Dan setelah itu… kamu boleh minta sebanyak yang kamu mau. Aku bakal kasih semuanya.”
Nadia tersenyum, matanya masih berkaca karena nikmat dan haus yang tak pernah puas.
“Iya, Kak. Mulai sekarang… aku budak kontol kakak. Dan kakak… tuanku.”
13009Please respect copyright.PENANAauAXkpIBOx
Dua minggu menuju akad terasa seperti hukuman sekaligus hadiah paling kejam yang pernah ada. Setiap hari Nadia semakin tenggelam dalam ketagihan yang tak terkendali. Kontol Agus bukan lagi sekadar bagian tubuh—baginya sekarang itu adalah obat, candu, satu-satunya hal yang bisa membuat rasa kosong di antara pahanya reda, meski hanya sementara.
Pagi-pagi buta, sebelum ayah ibunya bangun, Nadia sudah kirim pesan ke Agus.
13009Please respect copyright.PENANAtkfIkmfxWl
Kak… aku bangun dari mimpi basah lagi. Dalam mimpi kakak dorong aku dari belakang di dapur, kontol kakak masuk dalam-dalam sambil aku pegang wastafel. Bangun-bangun celana dalam aku basah kuyup. Aku lagi coli di kamar mandi sekarang, tapi jari aku nggak cukup. Aku pengen kontol kakak yang beneran. Panasnya, uratnya, denyutnya… aku ketagihan banget, Kak. Hari ini ketemu di mana?
Agus baca pesan itu sambil mandi air dingin di kosan—tapi dinginnya tak membantu. Batangnya langsung keras lagi hanya karena membaca kata-kata Nadia.
13009Please respect copyright.PENANApHeALTH2Ge
Sayang… aku juga nggak bisa tidur nyenyak. Tiap tutup mata bayangin kamu jerit pelan pas aku tusuk dalam. Hari ini jam 10 siang di gudang belakang perpustakaan kampus yang jarang dipake. Pintu belakangnya aku bawa kunci cadangan dari temen. Datang pakai rok panjang yang mudah dinaikin. Jangan pakai celana dalam.
Nadia datang tepat waktu. Jilbab baby blue rapi, tunik putih longgar, rok panjang abu-abu tua seperti biasa—tapi di bawahnya memang tak ada apa-apa. Begitu masuk gudang yang pengap dan berdebu itu, dia langsung tutup pintu, kunci dari dalam.
“Kak…” suaranya sudah gemetar. “Aku dari tadi basah terus. Jalan ke sini aja rasanya lengket di paha dalam. Aku nggak tahan.”
Agus tarik Nadia ke dinding gudang yang dingin, angkat roknya langsung sampai pinggang. Nadia tak pakai apa-apa di bawah—vaginanya sudah mengkilap, bibirnya bengkak karena pagi tadi dia coli dua kali sambil nunggu jam. Cairannya menetes pelan ke lantai beton.
Agus pegang leher Nadia dari belakang—cengkeram kuat seperti malam itu—lalu dorong tubuhnya membungkuk, tangan kirinya menahan pinggul agar tak jatuh.
“Kamu ketagihan kontol aku ya, Nad? Bilang.”
“Iya, Kak… aku ketagihan. Ketagihan banget. Tiap hari aku coli minimal tiga kali, tapi tetap pengen kontol kakak yang beneran. Yang gede, yang keras, yang bisa isi aku sampai perut bawah tertekan. Aku nggak bisa mikir yang lain lagi. Aku budak kontol kakak sekarang.”
Agus buka celananya, keluarkan batang yang sudah tegang maksimal—urat-uratnya menonjol tebal, ujungnya basah bening. Dia gesekkan kepala batangnya ke bibir vaginanya yang licin—pelan dulu, menggoda.
Nadia menggeliat, pinggulnya maju mundur sendiri. “Jangan goda, Kak… masukin… please… aku pengen ngerasain penuhnya lagi…”
Agus dorong sekali keras—masuk habis dalam satu hentakan. Nadia menjerit kecil, langsung tutup mulut sendiri dengan tangan. Rasa sempit, panas, licin langsung membungkus batang Agus erat. Dinding dalamnya berdenyut kuat, seperti menyambut “pulang”.
“Kak… ahh… gede banget… perut aku penuh… gerak… kasar lagi…”
Agus mulai dorong masuk-keluar brutal—setiap hentakan membuat tubuh Nadia terlonjak ke depan, payudaranya bergoyang di balik tunik, punggungnya melengkung. Tangan Agus cengkeram pinggulnya keras sampai memar baru bertambah di bekas lama. Suara benturan kulit basah “plak… plak… plak…” bergema pelan di gudang pengap.
Nadia mulai bergumam tak karuan, suara tertahan di telapak tangannya sendiri.
“Kak… kontol kakak… enak banget… panas… keras… isi aku… tusuk rahim aku… aku pengen keluar… lagi… lagi…”
Agus percepat irama—dorong lebih dalam, lebih cepat. Nadia mengejang hebat, kakinya gemetar, vaginanya mencengkeram kuat seperti catok besi panas.
“Aku keluar, Kak… ahhh…!”
Cairannya menyemprot deras, membasahi paha Agus, lantai gudang. Tubuhnya kejang-kejang, tapi Agus tak berhenti—malah dorong lebih ganas, sampai akhirnya dia meledak di dalam—panas, banyak, berdenyut-denyut, mengisi rahim Nadia yang sudah penuh bekas pagi tadi.
Mereka ambruk ke lantai gudang, napas tersengal. Nadia masih gemetar, vaginanya berdenyut pelan mengelilingi batang Agus yang mulai melemas di dalam.
“Kak… aku nggak bisa berhenti mikirin ini. Tiap jam aku pengen lagi. Besok pagi ketemu lagi ya? Di mobil kakak, di parkiran kampus yang sepi. Aku mau nyedot kontol kakak sambil kakak nyetir pelan.”
Agus cium keningnya, suara berat. “Besok pagi jam 07.00. Aku jemput di depan gang. Pakai rok lagi, tanpa apa-apa di bawah. Dan Nad… dua minggu lagi kita akad. Setelah itu… kamu boleh minta kapan aja, di mana aja. Tiap pagi bangun, tiap malam tidur, tiap siang kosong. Aku bakal kasih semuanya.”
Nadia tersenyum, matanya masih berkaca karena nikmat yang tak pernah cukup.
“Iya, Kak. Dua minggu lagi aku bakal jadi istri kakak. Dan mulai malam pertama… aku nggak akan tidur sebelum kontol kakak isi aku berkali-kali. Aku ketagihan. Ketagihan selamanya.”
Malam itu, di kamar masing-masing, mereka coli lagi—sendiri—sambil chat mesra penuh janji kotor. Nadia pakai jari tiga sekaligus, bayangin kontol Agus. Agus pegang batangnya sendiri, bayangin mulut Nadia yang panas dan rakus.
Dua minggu itu bukan penantian biasa.
Itu adalah neraka manis penuh hasrat yang membara, menunggu hari di mana mereka boleh membiarkannya meledak tanpa batas, tanpa rasa bersalah.
Dan ketika hari akad tiba, Nadia berdiri di pelaminan dengan jilbab putih rapi, senyum polos seperti gadis sholehah—tapi di balik senyum itu, matanya berbisik pada Agus:
“Malam ini, Kak… aku mau kontol kakak sampai pagi. Sampai aku nggak bisa jalan. Sampai aku jerit nama kakak berkali-kali.”
13009Please respect copyright.PENANAyCLs1p3h0D
KELANJUTANYA DI LINK🔗 DI BAWAH 👇
https://lynk.id/besfrindkita
ns216.73.216.75da2


