14277Please respect copyright.PENANAMhcdT8IJUR
Pagi di Semarang selalu punya ritme yang sama, seperti lagu lama yang diputar ulang setiap hari. Jam 04.30, adzan Subuh dari Masjid Agung Jawa Tengah mengalun lembut, menyusup lewat celah jendela kosanku di daerah Tembalang.
14277Please respect copyright.PENANARumJX96XrW
Aku langsung bangun, wudhu dengan air dingin yang bikin mata langsung melek, lalu sholat Subuh berjamaah di masjid kampus yang cuma lima menit jalan kaki dari kosan.
14277Please respect copyright.PENANAM1hnWjaoLL
14277Please respect copyright.PENANABmrtmUCI1a
Setelah sholat, aku biasanya duduk sebentar di teras masjid, baca wirid pagi sambil dengar suara burung gereja yang mulai ribut.
14277Please respect copyright.PENANA0afpeGJbv6
Baru sekitar jam 05.15 aku balik ke kosan, mandi air dingin lagi (kebiasaan biar nggak ngantuk), lalu siap-siap ke warung Mbok Sari. Sarapan selalu nasi kucing porsi sedang, tambah telur ceplok setengah matang, kerupuk, dan teh poci panas yang diseduh pakai daun teh tubruk murah.
14277Please respect copyright.PENANAQpQfhZBIsI
Mbok Sari sudah hafal pesananku: “Yang biasa ya Mbok, tambah sambelnya banyak.”14277Please respect copyright.PENANAD1T695f4Eu
14277Please respect copyright.PENANAWaxwSNYRXX
Sambil makan, HP-ku bergetar. Pesan dari Nadia, tepat jam 05.30 seperti jam mekanik.
14277Please respect copyright.PENANAXq6e2LlacT
14277Please respect copyright.PENANAfAcxfbgMYh
“Assalamualaikum kak Agus, sudah sholat Subuh? Aku baru selesai baca Al-Qur’an juz 30 tadi. Semangat sarapan dan kuliahnya ya. Jangan lupa bawa jaket, pagi ini dingin katanya.
14277Please respect copyright.PENANAwLdJhc65He
14277Please respect copyright.PENANAmGnTUQ7Bbm
Aku senyum sendiri sambil balas:14277Please respect copyright.PENANAY3z2C6JjmG
14277Please respect copyright.PENANAxOAdgKDcZb
“Waalaikumsalam sayang. Sudah sholat, lagi sarapan di Mbok Sari. Juz 30 lancar? Bekal sudah siap belum? Hati-hati jalan ke kampus ya, jangan buru-buru.”
14277Please respect copyright.PENANAE712rVb7av
14277Please respect copyright.PENANA2eV5HRu6a7
“Alhamdulillah lancar kak. Bekal sudah, nasi liwet + telur balado + timun segar. Nanti ketemu di perpus jam 10 ya? Aku kangen suara kakak… hehe.”
14277Please respect copyright.PENANAJ3M4XUIEpd
14277Please respect copyright.PENANA5H6aKZerTQ
Kata “kangen” itu selalu bikin dadaku bergetar pelan. Padahal kemarin sore kami masih ketemu di taman belakang fakultas ekonomi, duduk di bangku kayu sambil bahas materi kajian Rabu lalu.
14277Please respect copyright.PENANAFi9xV4dBke
Tapi entah kenapa, setiap pagi seperti ini rasanya kangennya muncul lagi.
14277Please respect copyright.PENANAwVABWIsnJQ
14277Please respect copyright.PENANAQMZcgRGd1t
Setelah sarapan, jam 06.30 aku sudah di kampus. Kuliah pertama jam 07.00, mata kuliah Ekonomi Islam. Aku duduk di baris tengah, catat materi sambil sesekali cek HP—Nadia kirim foto bekalnya tadi, captionnya:
14277Please respect copyright.PENANAPNb75JhQyr
"Buat kakak satu porsi, nanti makan bareng ya di perpus.”
14277Please respect copyright.PENANAgq7HqqeFEE
14277Please respect copyright.PENANAwwYzRO6bF0
Jam 09.45 kuliah selesai. Aku langsung ke perpustakaan lantai dua, pojok dekat jendela yang sudah jadi “tempat spesial” kami. Meja kayu cokelat tua, dua kursi yang agak goyang kalau digoyang-goyang, dan pemandangan pohon mahoni yang daunnya bergoyang pelan kalau angin kencang.
14277Please respect copyright.PENANAOg6RTm308J
14277Please respect copyright.PENANA6zDLLpgP9D
Tepat jam 10.00 Nadia datang. Jilbab segi empat warna baby blue hari ini, dipadukan tunik putih polos dan rok panjang abu-abu tua. Tas selempang kecil warna krem, dan kotak bekal pink pastel yang selalu dia bawa.
14277Please respect copyright.PENANAJ3D1rcR02v
Dia tersenyum lebar begitu melihatku dari kejauhan, lalu berjalan pelan sambil menjaga adab—tidak terburu-buru, tidak berisik.
14277Please respect copyright.PENANAe5igLvivY8
14277Please respect copyright.PENANAEWXWXsLTN9
“Assalamualaikum lagi kak,” bisiknya sambil taruh tas di kursi sebelah.
14277Please respect copyright.PENANAhx1zD5bqHU
14277Please respect copyright.PENANAS6DCXi7AhW
“Waalaikumsalam. Bekalnya mana? Udah laper nih,” godaku pelan.
14277Please respect copyright.PENANAun9ShavNNp
14277Please respect copyright.PENANAtGKJjFGzw1
Dia buka kotak bekalnya dengan hati-hati. Aroma nasi liwet langsung menyebar—bau pandan, serai, dan santan. Ada telur balado yang warnanya merah cantik, timun iris tipis, dan sedikit sambal terasi di samping.
14277Please respect copyright.PENANAUurKCiVfr1
14277Please respect copyright.PENANAbzcqbQDWCt
“Ini buat kakak satu porsi penuh. Aku cuma makan setengah aja, nanti kegedean badannya,” katanya sambil tertawa kecil, pipinya merona sedikit.
14277Please respect copyright.PENANARiwbCdCEoO
14277Please respect copyright.PENANAwiNzPUpQhH
Kami makan bergantian suap. Aku suapi dia dulu satu suap, dia membuka mulut pelan sambil menutup mulut dengan tangan kiri—kebiasaan kecil yang bikin aku gemas.
14277Please respect copyright.PENANAofV4ibxDti
Lalu gantian dia suapi aku. Kadang kami saling pandang, tersenyum, lalu lanjut makan tanpa banyak bicara. Suasana perpustakaan yang sepi membuat momen kecil itu terasa istimewa.
14277Please respect copyright.PENANAz0MEYCZWYp
14277Please respect copyright.PENANAVfEP6yETpP
Setelah makan, kami buka buku masing-masing. Nadia lagi ngerjain tugas fiqih muamalah tentang akad ijarah, aku lagi nyusun kerangka bab dua skripsi tentang implementasi ekonomi syariah di UMKM.
14277Please respect copyright.PENANAxAZxTI2mlD
Kadang tangan kami senggolan di meja—cuma sedikit, jari kelingking hampir bersentuhan—lalu saling pandang dan tersenyum malu-malu. Itu saja sudah cukup bikin jantung berdegup lebih cepat.
14277Please respect copyright.PENANAdluQPL7dkp
14277Please respect copyright.PENANArp75OmbCjA
Jam 11.45 kami istirahat sebentar. Nadia keluarkan botol air mineral dari tasnya, minum dulu, lalu menawarkan padaku.
14277Please respect copyright.PENANA2GAgjIYzt8
14277Please respect copyright.PENANAorHv4Gy3Un
“Minum dulu kak, tadi makan nasi liwet banyak, nanti haus.”
14277Please respect copyright.PENANAoLXOrbF7Kb
14277Please respect copyright.PENANAlorJARwVq6
Aku ambil botolnya, minum sedikit, lalu balikin. Bibir kami tidak pernah bersentuhan dengan tempat yang sama—aturan tak tertulis yang kami jaga ketat.
14277Please respect copyright.PENANAPMdf2CR2s7
14277Please respect copyright.PENANAMiitIsTkNA
Jam 12.30 kami keluar perpustakaan bareng. Nadia bilang mau ke masjid sholat Dzuhur. Aku anter sampai depan pintu masuk putri.
14277Please respect copyright.PENANAcDqFYLLL82
14277Please respect copyright.PENANA35EzkNeJ4M
“Jangan lupa minum air putih lagi ya kak setelah ini,” pesannya sambil menunjuk botol air di tas ranselku.
14277Please respect copyright.PENANAuxI9jcCl0V
14277Please respect copyright.PENANAMy9i0YvEEA
“Iya Bu Guru,” jawabku sambil nyengir.14277Please respect copyright.PENANABTA1py42Dj
14277Please respect copyright.PENANAHAelY87vhF
Dia cemberut manja, tapi matanya berbinar. “Aku serius loh.”
14277Please respect copyright.PENANAEaFIK62BJa
14277Please respect copyright.PENANAD3fAF63EKF
“Ya iya sayang. Nanti sore ketemu lagi di kajian Rabu malam?”
14277Please respect copyright.PENANAgf1DfrXomX
14277Please respect copyright.PENANAE5Dak0nEVf
“Iya. Aku bawa buku catatan kajian minggu lalu, ada yang kakak tanyain soal hukum riba kan? Nanti aku jelasin lagi.”
14277Please respect copyright.PENANAyzTtQD51U5
14277Please respect copyright.PENANAg97ZmtgBEg
Aku mengangguk. “Makasih ya. Hati-hati pulangnya, jangan main HP sambil jalan.”
14277Please respect copyright.PENANAtsb0OajeDq
14277Please respect copyright.PENANApZWGQjxT41
Dia melambai kecil dengan tangan yang tertutup lengan panjang tuniknya, lalu masuk ke area putri. Aku berdiri sebentar di situ, memperhatikan punggungnya yang tertutup rapat sampai hilang di balik pintu masjid.
14277Please respect copyright.PENANAu7IH4gdYUE
14277Please respect copyright.PENANAlteeT97gck
Sore harinya, setelah Ashar, aku biasanya ke lapangan futsal kampus—main bola sebentar sama temen-temen, cuma satu jam biar badan gerak. Nadia tahu kebiasaan ini, kadang dia kirim pesan:
14277Please respect copyright.PENANA3Wcj7b94YM
“Jangan kecapekan ya kak, nanti capek sholat tarawihnya (kalau bulan Ramadhan) atau sholat Isya-nya.”
14277Please respect copyright.PENANABrnUlvrey3
14277Please respect copyright.PENANAhhpwzzVJPi
Setelah maghrib, aku pulang ke kosan, mandi, sholat, lalu makan malam—biasanya nasi sama lauk sisa ibu kos atau beli di warteg dekat kosan.
14277Please respect copyright.PENANAMBx4rwb83H
Jam 19.30-20.00 kami video call kalau Nadia nggak ada kegiatan tambahan. Lampu kamarnya selalu redup, dia duduk di kasur sambil pegang bantal, bicara pelan soal hari ini, rencana besok, atau sekadar saling baca doa sebelum tidur bareng lewat telpon.
14277Please respect copyright.PENANA8qpyjefmfw
14277Please respect copyright.PENANAeN17SEFCxY
“Ya Allah, lindungilah kami dari segala marabahaya, mudahkanlah urusan kami, dan satukanlah hati kami dalam kebaikan. Amin.”14277Please respect copyright.PENANAyYESURrxa9
14277Please respect copyright.PENANAcRasngbqii
Dia selalu akhiri video call dengan doa itu, lalu tersenyum manis.
14277Please respect copyright.PENANAbGpIEY8YFQ
14277Please respect copyright.PENANAGhP5Y8KdIy
“Selamat malam kak. Mimpi indah ya. Jangan lupa sholat tahajud kalau bangun.”
14277Please respect copyright.PENANAD0V3GOREht
14277Please respect copyright.PENANAJbHKpnI2ZK
“Selamat malam sayang. Kamu juga. Love you… dalam artian sayang yang halal ya.”14277Please respect copyright.PENANAdk4wYIf43B
14277Please respect copyright.PENANATCKP2GYdfQ
Dia tertawa kecil. “Iya kak. Love you too… halal version.”
14277Please respect copyright.PENANAOKFi2u6RUZ
14277Please respect copyright.PENANAPDbX0c1Gp3
Lalu panggilan berakhir.14277Please respect copyright.PENANAiK6qGsb5eN
14277Please respect copyright.PENANAlShEtnFQxi
Begitulah hari-hariku bersama Nadia. Rutinitas yang sederhana, teratur, penuh batasan, dan terasa damai.
14277Please respect copyright.PENANA1yKyQiNbaJ
Tidak ada drama besar, tidak ada godaan yang mengguncang, hanya kebiasaan kecil yang menumpuk jadi rasa nyaman yang dalam.
14277Please respect copyright.PENANAID73izAYZR
14277Please respect copyright.PENANA8uNytwahIZ
Aku sering berpikir dalam hati: “Kalau ini terus begini sampai nikah, rasanya akan tenang sekali hidupku nanti.”
14277Please respect copyright.PENANAaiOv0DwLEn
14277Please respect copyright.PENANAE5b7qRd9fs
14277Please respect copyright.PENANA9nnmAkQ3VP
Pagi di Semarang selalu terasa seperti awal puisi yang belum selesai ditulis. Jam 04.30, suara adzan Subuh dari Masjid Agung Jawa Tengah menyusup lembut ke kamar kosanku di Tembalang.
14277Please respect copyright.PENANAmao00lJuK3
Aku bangun dengan senyum kecil yang tak bisa kutahan—karena aku tahu, di ujung pagi ini, pasti ada pesan darinya.
14277Please respect copyright.PENANABOIM44FBvN
14277Please respect copyright.PENANAlfm28OkMW3
Setelah sholat Subuh berjamaah, aku duduk di teras masjid sebentar, angin pagi membelai wajah, dan aku membaca wirid sambil diam-diam membayangkan Nadia yang juga sedang duduk di sajadahnya, bibirnya bergerak pelan membaca doa pagi.
14277Please respect copyright.PENANAxa6PLv5GJK
Aku sering membayangkan itu: rambutnya yang tersembunyi rapi di balik jilbab, mata yang tertunduk khusyuk, dan senyum tipis yang muncul setiap kali dia selesai membaca Al-Qur’an.
14277Please respect copyright.PENANAZ8fhiApESb
14277Please respect copyright.PENANAkYiksiktXg
Jam 05.30 tepat, HP bergetar. Pesan darinya selalu datang seperti jam mekanik, tapi setiap kali tetap terasa spesial.
14277Please respect copyright.PENANA3PzHbwCeO4
14277Please respect copyright.PENANA3dOqQXKQyP
“Assalamualaikum kak Agus… pagi ini aku bangun lebih awal, sempat tahajud sebentar. Doain aku ya, supaya hari ini bisa lebih sabar menunggu kakak. Sudah sarapan belum? Jangan lupa jaket, dingin loh. Aku kangen suara kakak dari pagi… ♡”
14277Please respect copyright.PENANApyqrnvcGsq
14277Please respect copyright.PENANAxWOKdiviiX
Aku baca pesan itu sambil tersenyum lebar sampai pipi terasa panas. Jari-jariku langsung mengetik balasan, pelan-pelan, seolah setiap kata harus sempurna.
14277Please respect copyright.PENANAD1W6tVsPmE
14277Please respect copyright.PENANA3LJUzsLRkn
“Waalaikumsalam sayangku… aku juga tahajud tadi, doain kamu terus. Sudah sarapan di Mbok Sari, nasi kucing + telur setengah matang seperti biasa.
14277Please respect copyright.PENANA0ILiHRtM6r
Kamu sudah sarapan? Bekal hari ini apa? Aku kangen juga… kangen banget malah. Nanti ketemu di perpus ya, aku janji duduk di pojok kita, nunggu kamu datang sambil senyum seperti biasa.”
14277Please respect copyright.PENANAdHk9tMl3Dq
14277Please respect copyright.PENANAfpVh6w1Y09
Aku kirim, lalu tarik napas panjang. Entah kenapa, kata-kata sederhana seperti itu terasa seperti ungkapan cinta yang paling dalam.14277Please respect copyright.PENANA38wE73wnnl
14277Please respect copyright.PENANAG3m5klMRxS
Di kampus, kuliah pagi berlalu seperti biasa.
14277Please respect copyright.PENANAm9JdN5xcgW
Tapi pikiranku setengah melayang ke perpustakaan. Jam 09.45 kuliah selesai, aku langsung ke lantai dua, meja pojok dekat jendela yang sudah jadi saksi bisu banyak cerita kami.
14277Please respect copyright.PENANA10sgkThuB3
Aku taruh tas, buka laptop pura-pura baca jurnal, tapi sebenarnya mataku sesekali melirik pintu masuk—menunggu sosok yang selalu membuat jantungku berdegup tak beraturan.14277Please respect copyright.PENANAAwcKT1rDuZ
14277Please respect copyright.PENANAXz8UU6ugz1
Tepat jam 10.00, dia muncul.
14277Please respect copyright.PENANARcQFyHlftX
14277Please respect copyright.PENANAjwl3fpgl3W
Jilbab baby blue hari ini terlihat lebih lembut di bawah cahaya pagi yang masuk lewat jendela. Tunik putihnya rapi, rok panjang abu-abu tua mengalir pelan mengikuti langkahnya yang ringan. Dia melihatku dari kejauhan, lalu senyumnya mekar—senyum yang selalu membuat dunia terasa lebih cerah.
14277Please respect copyright.PENANA3f4HJeEyRH
14277Please respect copyright.PENANAU1anystAKy
“Assalamualaikum lagi, kak…” bisiknya sambil mendekat, suaranya lembut seperti hembusan angin.
14277Please respect copyright.PENANANsH6gJZ1jv
14277Please respect copyright.PENANAgPogVYjRwO
“Waalaikumsalam, sayang…” jawabku pelan, hampir tak terdengar orang lain.
14277Please respect copyright.PENANA7zhzANMuvX
14277Please respect copyright.PENANA3MH0LeVHyH
Dia taruh tas, lalu duduk di sebelahku. Jarak kami hanya satu kursi kosong, tapi rasanya seperti ada jarak yang tak terlihat—jarak yang kami jaga dengan penuh cinta dan takut kepada Allah.
14277Please respect copyright.PENANAuhkzrev2Pp
14277Please respect copyright.PENANAl0v5VnsZkJ
Dia buka kotak bekalnya perlahan. Aroma nasi liwet langsung memenuhi udara di antara kami.14277Please respect copyright.PENANAY25ngFq8aH
14277Please respect copyright.PENANAzpEsg3zwn8
“Ini buat kakak… aku tambahin telur balado yang pedasnya pas, seperti yang kakak suka. Dan ada timun segar biar seger.”
14277Please respect copyright.PENANA7vohpUBEg6
14277Please respect copyright.PENANA3InJ6NiwUV
Aku ambil sendok plastik, lalu suapi dia dulu—kebiasaan kecil yang selalu membuat pipinya merona.
14277Please respect copyright.PENANAbQEHhqWA46
14277Please respect copyright.PENANA4x8YFMRtrw
“Buka mulutnya, sayang…” kataku pelan.14277Please respect copyright.PENANA0B931RVUlv
14277Please respect copyright.PENANAQdN49oI1Z5
Dia membuka mulut kecil-kecil, tangan kirinya menutup mulut setelah menerima suapan. Matanya menatapku penuh syukur.
14277Please respect copyright.PENANApACQWk3CGf
14277Please respect copyright.PENANAafqYuZS0O5
“Enak nggak?” tanyanya lembut.14277Please respect copyright.PENANAFQFQwehrNj
14277Please respect copyright.PENANAeT8tyUTlQg
“Enak banget… tapi yang paling enak adalah karena kamu yang masak dan suapin aku.”14277Please respect copyright.PENANAFK7vkbtpkA
14277Please respect copyright.PENANAWszGhYhO9R
Dia tertawa kecil, suaranya seperti lonceng kecil yang berdenting di hati.
14277Please respect copyright.PENANAyHq90gRlWI
14277Please respect copyright.PENANACxd0idKilP
Setelah makan, kami buka buku. Tapi sesekali, ketika tangan kami senggolan di meja—cuma jari kelingking yang hampir bersentuhan—kami saling pandang. Tatapan itu penuh makna:
14277Please respect copyright.PENANAxXbiC5AKfF
“Aku sayang kamu”, “Aku sabar menunggu”,
14277Please respect copyright.PENANAMgBr6vOtsE
“Aku ingin selamanya bersama kamu dalam halal”.
14277Please respect copyright.PENANAUYNkSEKyxf
14277Please respect copyright.PENANABwT8lLcsoI
Jam 11.45, Nadia keluarkan botol air mineralnya.
14277Please respect copyright.PENANATcjXBlELzL
14277Please respect copyright.PENANA2LRMpnEq02
“Minum dulu kak… tadi makan banyak, nanti haus.”
14277Please respect copyright.PENANAqNYlrOkn0q
14277Please respect copyright.PENANAWucFWd7oCA
Aku ambil botol itu, minum sedikit, lalu balikin dengan hati-hati. Bibir kami tak pernah bersentuhan di tempat yang sama—tapi setiap kali aku minum dari botol yang sama, rasanya seperti mencium jejak bibirnya secara halal.
14277Please respect copyright.PENANA0CETV9hA3j
14277Please respect copyright.PENANA9vL6Ky1vVn
“Terima kasih, sayang… kamu selalu ingat hal-hal kecil begini.”
14277Please respect copyright.PENANAzD0Pjlc6L9
14277Please respect copyright.PENANABPVZZ5kxYS
Dia tersenyum malu. “Karena aku sayang kakak… aku ingin kakak sehat, bahagia, dan… nanti kalau kita sudah menikah, aku bisa rawat kakak setiap hari.”
14277Please respect copyright.PENANAf1FJ1WKx2k
14277Please respect copyright.PENANAX0PHNv2njW
Kata “menikah” itu selalu membuat kami berdua diam sejenak, saling pandang, lalu tersenyum sambil menunduk—seperti berbagi mimpi yang sama.
14277Please respect copyright.PENANArzrViDqa0Q
14277Please respect copyright.PENANAqBZMFz7TAS
Jam 12.30 kami keluar perpustakaan. Aku anter dia sampai depan pintu masjid putri. Angin siang bertiup pelan, membuat ujung jilbabnya berkibar lembut.
14277Please respect copyright.PENANAOkt35oiYBb
14277Please respect copyright.PENANAWzoMlsMAwX
“Sholat Dzuhur dulu ya… nanti sore ketemu lagi di kajian,” kataku.
14277Please respect copyright.PENANAfeXIzjtbr7
14277Please respect copyright.PENANAC7hxraIwIA
“Iya kak. Doain aku ya, supaya bisa konsentrasi dengerin materi. Aku mau catat semuanya rapi, biar nanti bisa aku ajarin kakak lagi.”
14277Please respect copyright.PENANA1f9fAq42S9
14277Please respect copyright.PENANAHGXvaew9jE
Aku mengangguk, lalu tanpa sadar tangan kananku hampir terulur ingin merapikan jilbabnya yang sedikit bergeser karena angin. Tapi aku tahan, hanya tersenyum.
14277Please respect copyright.PENANApePnrKoMqx
14277Please respect copyright.PENANA33o9BR0nXT
“Hati-hati ya, sayang. Jangan main HP sambil jalan. Aku tunggu kamu di kajian nanti… dari baris belakang, aku akan lihat kamu duduk di depan, cantik sekali seperti biasa.”14277Please respect copyright.PENANA2PF8M5q3Gp
14277Please respect copyright.PENANA3wXQl4H1Wv
Dia menunduk, pipinya semakin merah.
14277Please respect copyright.PENANAhFBD17RS0i
14277Please respect copyright.PENANAU6tzTlmZMZ
“Kak… jangan bilang gitu, aku malu.”
14277Please respect copyright.PENANAYWYU9qDEo9
14277Please respect copyright.PENANAt9bIsXVymK
“Tapi beneran. Kamu cantik banget… cantiknya yang bikin aku ingin cepat-cepat halal sama kamu.”
14277Please respect copyright.PENANAC0EIwJvPSK
14277Please respect copyright.PENANA4SpkMki2bl
Dia menggigit bibir bawahnya pelan, lalu melambai kecil.
14277Please respect copyright.PENANApBCctNyDMK
14277Please respect copyright.PENANAjoS5aCcqa3
“Assalamualaikum… aku masuk dulu ya.”14277Please respect copyright.PENANAItupKUZlLG
14277Please respect copyright.PENANAQFy9oDkwrK
“Waalaikumsalam… aku sayang kamu, Nadia.”
14277Please respect copyright.PENANAVAfGHHSZA7
14277Please respect copyright.PENANAiw7ATGw90W
Dia berbalik sebentar, matanya berkaca-kaca bahagia.
14277Please respect copyright.PENANAoEzzpXq3Ob
14277Please respect copyright.PENANAUmpvU03BO3
“Aku juga sayang kakak… sangat-sangat sayang.”
14277Please respect copyright.PENANALs5D98lKmw
14277Please respect copyright.PENANA3A3JnyLotU
Lalu dia masuk, meninggalkan aroma mawar samar di udara.
14277Please respect copyright.PENANAnQadVPdAXS
14277Please respect copyright.PENANAf6791IYgyD
Aku berdiri di situ beberapa saat, memandang pintu masjid yang baru saja tertutup. Dadaku penuh. Penuh rasa syukur, penuh harap, penuh cinta yang masih dijaga rapat-rapat.
14277Please respect copyright.PENANA8M9ti2EWgA
14277Please respect copyright.PENANA6ZIeoUw5Sd
Sore nanti di kajian, aku akan duduk di belakang, memperhatikannya dari jauh. Melihat dia mengangkat tangan dengan sopan saat bertanya, mendengar suaranya yang lembut menjawab, dan diam-diam berdoa dalam hati:
14277Please respect copyright.PENANAwJC68cHJIB
14277Please respect copyright.PENANAIyRL91tZ0e
“Ya Allah… kalau dia memang jodohku, pertemukan kami dalam kebaikan. Kalau bukan, jauhkan aku dari rasa ini… tapi tolong jangan, karena aku takut kehilangan dia.”
14277Please respect copyright.PENANAomxs8UUmtI
14277Please respect copyright.PENANACLfC9bnUhD
Jam 04.30, adzan Subuh mengalun pelan dari Masjid Agung Jawa Tengah, menyusup ke kamar kosanku di Tembalang. Aku bangun dengan dada yang sudah penuh rasa syukur—karena aku tahu, di ujung pagi ini, ada doa yang akan kubacakan khusus untuknya.
14277Please respect copyright.PENANARCgE6YK8Pj
14277Please respect copyright.PENANAg2YJNJpWvU
Setelah sholat Subuh berjamaah, aku duduk di teras masjid yang masih sepi. Angin pagi membelai wajah, burung gereja mulai bernyanyi, dan aku menutup mata, mengangkat tangan pelan.
14277Please respect copyright.PENANAHW601TOsac
14277Please respect copyright.PENANAONFpESUo47
“Ya Allah… Engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Nadia, hamba-Mu yang sholehah. Jagalah hatinya dari segala keraguan, kuatkan imannya, dan mudahkanlah langkahnya menuju ridha-Mu. Ya Rabb, jika dia memang bagian dari takdirku, satukanlah kami dalam kebaikan, dalam pernikahan yang diberkahi, dan jadikanlah cinta kami sebagai ibadah yang Engkau ridhai. Lindungilah dia dari segala marabahaya, dari godaan dunia, dan dari rasa sakit yang tak pernah dia ceritakan. Amin ya Rabbal ‘alamin… dan ya Allah, izinkan aku mencintainya dengan cara yang halal, dengan cara yang membuat-Mu tersenyum.”
14277Please respect copyright.PENANA5jWMDU6YmC
14277Please respect copyright.PENANALUyY8IV1CZ
Aku diam sejenak setelah doa itu, merasakan hangat yang menjalar di dada. Lalu HP bergetar tepat jam 05.30—pesannya datang seperti biasa, tapi setiap kata terasa seperti pelukan dari jauh.
14277Please respect copyright.PENANAeBBJyy2VH4
14277Please respect copyright.PENANAZehEJ0GAbw
“Assalamualaikum kak Agus… aku baru selesai tahajud. Tadi aku doain kakak panjang-panjang, doain supaya kakak selalu diberi kekuatan menjaga hati, dan supaya kita bisa saling menjaga sampai halal. Sudah sarapan belum? Jangan lupa jaket ya, pagi ini dingin. Aku kangen suara kakak dari subuh tadi… ♡”14277Please respect copyright.PENANAyeZ58DrIzv
14277Please respect copyright.PENANAAzmPTcEeHl
Aku tersenyum lebar, pipi terasa panas. Jari-jariku langsung mengetik balasan, pelan dan penuh perasaan.
14277Please respect copyright.PENANAPQYeiIsw9b
14277Please respect copyright.PENANAe64Tub6rIE
“Waalaikumsalam sayangku… aku juga baru selesai doa khusus buat kamu tadi di teras masjid. Doain kamu supaya selalu dijaga Allah, supaya hatimu tetap tenang menunggu aku, dan supaya suatu hari nanti kita bisa sholat berjamaah di rumah kita sendiri.
14277Please respect copyright.PENANAez57VqTFND
Sudah sarapan di Mbok Sari nih, nasi kucing + telur setengah matang. Kamu sudah sarapan? Bekal hari ini apa? Aku kangen juga… kangen banget sampai rasanya ingin buru-buru lulus, kerja, lalu langsung ke orang tuamu minta restu.”
14277Please respect copyright.PENANADmuPCNssCv
14277Please respect copyright.PENANAoFtKdoeZhw
Di kampus, kuliah pagi berlalu seperti biasa. Tapi setiap jeda, pikiranku melayang ke perpustakaan. Jam 09.45 kuliah selesai, aku langsung ke lantai dua, meja pojok dekat jendela. Aku taruh tas, buka laptop, tapi mataku tak lepas dari pintu masuk—menunggu sosok yang selalu membuat duniamu terasa lebih berwarna.
14277Please respect copyright.PENANAy85cd6EOtx
14277Please respect copyright.PENANARZDhwrqtSC
Jam 10.00 tepat, dia muncul. Jilbab baby blue lembut, tunik putih rapi, rok panjang abu-abu tua mengalir anggun. Senyumnya mekar begitu melihatku, seperti bunga yang baru mekar di pagi hari.
14277Please respect copyright.PENANAzVVQBnCAZr
14277Please respect copyright.PENANAsreycngwOU
“Assalamualaikum lagi, kak…” bisiknya sambil mendekat.14277Please respect copyright.PENANAgFZRVD2oON
14277Please respect copyright.PENANAauBlaBepiq
“Waalaikumsalam, sayangku…” jawabku pelan, hampir tak terdengar orang lain.
14277Please respect copyright.PENANADzKWkJm496
14277Please respect copyright.PENANAkIbs9f5CzR
Dia duduk, taruh tas, lalu buka kotak bekalnya. Aroma nasi liwet langsung memenuhi udara.
14277Please respect copyright.PENANAYKf0AkcYTx
14277Please respect copyright.PENANAco1GRdP6dI
“Ini buat kakak… aku tambahin telur balado pedas pas, sama timun segar biar seger. Tadi pagi aku doain masakannya jadi berkah buat kakak.”
14277Please respect copyright.PENANAJdPxaerGO1
14277Please respect copyright.PENANALA5hQAgiIF
Aku ambil sendok, suapi dia dulu. “Buka mulutnya, sayang…”
14277Please respect copyright.PENANAtJIvSx77F6
14277Please respect copyright.PENANAPWElVspzRV
Dia membuka mulut kecil-kecil, tangan kirinya menutup, matanya menatapku penuh syukur.14277Please respect copyright.PENANAdvLSGqkAgn
14277Please respect copyright.PENANAs93YzTlEUK
Setelah makan, kami buka buku. Tapi sesekali jari kelingking kami hampir bersentuhan di meja. Tatapan kami bertemu—tatapan yang penuh doa tak terucap:
14277Please respect copyright.PENANAEwMjjK0lFQ
“Aku sabar menunggu kamu”, “Aku ingin selamanya dengan kamu dalam ridha Allah”.
14277Please respect copyright.PENANAamsHyfVFyL
14277Please respect copyright.PENANAX37d5CfHTV
Jam 11.45, Nadia keluarkan botol airnya.14277Please respect copyright.PENANAhbbDugWnlU
14277Please respect copyright.PENANA4b3HvbjIWh
“Minum dulu kak… aku doain airnya jadi obat buat badan kakak.”
14277Please respect copyright.PENANAskWolnuxyB
14277Please respect copyright.PENANApPouW1sb6V
Aku minum sedikit, balikin dengan hati-hati. “Terima kasih, sayang… setiap hal kecil yang kamu lakukan terasa seperti doa yang hidup.”14277Please respect copyright.PENANAelnlAGF1vb
14277Please respect copyright.PENANAw0RRJHGIa1
Dia tersenyum malu.
14277Please respect copyright.PENANAL8FK9fNlsD
“Karena aku sayang kakak… aku ingin setiap detik kita penuh berkah.”
14277Please respect copyright.PENANALUVnmW5c0x
14277Please respect copyright.PENANAlyKPOvSz48
Jam 12.30 kami keluar perpustakaan. Aku anter sampai depan masjid putri. Angin siang bertiup, ujung jilbabnya berkibar lembut.14277Please respect copyright.PENANADQILZBjyum
14277Please respect copyright.PENANAzC0Ra634RX
Sebelum dia masuk, aku pegang tangannya sebentar—cuma ujung jari, lalu lepaskan lagi.
14277Please respect copyright.PENANAKzU1iD2J6Q
14277Please respect copyright.PENANAk5rubg9cau
“Nadia… sebelum kamu masuk, aku mau doain kamu lagi ya, di sini.”
14277Please respect copyright.PENANA3HJhoEnrZE
14277Please respect copyright.PENANAbMagY7MjS1
Dia mengangguk, matanya berkaca-kaca.14277Please respect copyright.PENANArcb3KHjPhg
14277Please respect copyright.PENANA1JwvI92shp
Aku angkat tangan pelan, suara hampir bergetar.
14277Please respect copyright.PENANA4y0qtSnAjb
14277Please respect copyright.PENANA5ea45qSvQJ
“Ya Allah… lindungilah Nadia di setiap langkah sholatnya. Jadikan sholat Dzuhurnya diterima, hatinya tenang, dan pikirannya selalu tertuju pada-Mu. Ya Rabb, jika Engkau ridha, pertemukan kami dalam ikatan suci yang Engkau berkahi.
14277Please respect copyright.PENANAWMcxCXNY8n
Berikan kami kekuatan untuk saling menjaga sampai hari itu tiba. Dan ya Allah… izinkan aku mencintainya dengan cinta yang membuat-Mu bangga. Amin ya Rabbal ‘alamin.”
14277Please respect copyright.PENANAYxNxkr0iJd
14277Please respect copyright.PENANA0R4Y1dcUbN
Dia menunduk, air mata menetes pelan ke pipinya.
14277Please respect copyright.PENANAGy5gmKRtVT
14277Please respect copyright.PENANAqYcTVQq0fP
“Amin… kak Agus, terima kasih. Aku juga doain kakak setiap hari… supaya kakak jadi imam yang sholeh, yang bisa memimpin aku ke surga.”
14277Please respect copyright.PENANAgnGTTPGtoO
14277Please respect copyright.PENANAuYWhiUHK8F
Aku tersenyum, dada penuh.
14277Please respect copyright.PENANAjcLbFmlhsI
14277Please respect copyright.PENANARnlDGfUWEC
“Assalamualaikum… aku tunggu kamu di kajian nanti, dari baris belakang, sambil lihat kamu yang paling cantik di baris depan.”14277Please respect copyright.PENANAZFYuSWj877
14277Please respect copyright.PENANAcRESNRfbW8
“Waalaikumsalam… aku sayang kakak… sangat-sangat sayang.”
14277Please respect copyright.PENANAUY7ptz272s
14277Please respect copyright.PENANAtWPwrEzi1Q
Dia masuk, meninggalkan aroma mawar dan doa yang masih bergema di hatiku.14277Please respect copyright.PENANAxjOChMvMZn
14277Please respect copyright.PENANAJ9m78LmtE7
Sore nanti di kajian, aku akan duduk di belakang, memperhatikannya dari jauh. Melihat dia mengangkat tangan sopan, mendengar suaranya lembut, dan diam-diam berdoa lagi dalam hati:
14277Please respect copyright.PENANAlT0vMSKCos
14277Please respect copyright.PENANAiOQQ5b43v2
“Ya Allah… jangan pisahkan kami kecuali dalam ridha-Mu. Jadikan cinta kami jalan menuju-Mu.”14277Please respect copyright.PENANAWuvicwwwsp
14277Please respect copyright.PENANAuz69JgIQxn
aku bangun dengan dada yang sudah penuh doa untuknya. Setelah sholat dan duduk di teras masjid, aku angkat tangan pelan:
14277Please respect copyright.PENANA3paq25VIAl
“Ya Allah… lindungilah Nadia di setiap detiknya. Kuatkan hatinya menunggu, jagalah imannya, dan jika Engkau ridha, jadikanlah kami pasangan yang saling mengingatkan kepada-Mu. Amin ya Rabbal ‘alamin.”
14277Please respect copyright.PENANAZZNmJlhA7G
Tepat jam 05.30, pesannya datang seperti biasa—tapi hari ini terasa lebih panjang, lebih hangat.
14277Please respect copyright.PENANAV9ZAIqMOG3
Assalamualaikum kak Agus… aku baru selesai tahajud tadi. Doain kakak panjang-panjang loh, supaya kakak selalu diberi kekuatan menjaga hati, supaya kakak sehat terus, supaya mimpi kakak malam ini indah dan penuh harapan buat kita. Sudah sarapan belum? Jangan lupa jaket ya, dingin banget pagi ini. Aku kangen suara kakak dari subuh tadi… ♡
14277Please respect copyright.PENANALnvomR2rXF
Aku baca sambil tersenyum lebar, lalu balas dengan jari yang sedikit gemetar karena perasaan.
14277Please respect copyright.PENANAXiXwMYmAH3
Waalaikumsalam sayangku… aku juga baru selesai doa khusus buat kamu di teras masjid tadi. Doain kamu supaya selalu tenang, supaya setiap langkahmu diberkahi, supaya suatu hari nanti kita bisa bangun pagi bareng, sholat Subuh berjamaah, lalu aku suapi kamu nasi liwet yang kamu masak sendiri. Sudah sarapan di Mbok Sari nih, nasi kucing + telur setengah matang + sambel banyak. Kamu sudah sarapan? Bekal hari ini apa? Aku kangen juga… kangen banget sampai rasanya ingin buru-buru lulus, kerja, lalu langsung ke rumahmu minta restu sama ayah ibumu.
14277Please respect copyright.PENANAze1Wj5Uzy4
Alhamdulillah kak, aku sudah sarapan bubur ayam dari ibu. Bekal hari ini nasi liwet + telur balado pedas pas seperti yang kakak suka, sama timun segar biar seger. Kak… tadi pas tahajud aku nangis loh. Bukan sedih, tapi… bahagia banget bayangin kalau suatu hari kita sudah halal. Aku bayangin kakak pulang kerja, aku sambut di pintu, lalu kita sholat Maghrib berjamaah. Kakak imam, aku makmum. Lalu kakak bilang “Makasih ya sayang, hari ini capek tapi senang pulang ke kamu.” Aku nangis kak… karena rasanya terlalu indah untuk aku yang cuma cewek biasa.
14277Please respect copyright.PENANAoEvdkxdDeG
Nad… jangan bilang gitu. Kamu bukan cewek biasa. Kamu cewek yang Allah kirim buat aku biar aku belajar sabar, belajar sayang yang bener-bener murni. Aku juga sering nangis diam-diam pas tahajud, bayangin hari itu. Aku bayangin kita punya rumah kecil, dindingnya putih, ada rak Al-Qur’an di ruang tamu, ada foto pernikahan kita di dinding—kamu pakai kebaya putih, aku pakai beskap. Lalu tiap pagi aku bangunin kamu pelan-pelan, “Sayang… Subuh nih, ayo sholat bareng.” Kamu ngantuk tapi tersenyum, lalu kita sholat berdua. Setelah itu aku peluk kamu dari belakang sambil bilang, “Alhamdulillah… akhirnya halal.” Nad… aku nggak sabar. Tapi aku juga takut kalau terlalu buru-buru, malah jadi dosa. Makanya aku sabar. Demi kamu, demi kita, demi Allah.
14277Please respect copyright.PENANAlhmO9PqpHv
Kak… aku juga takut. Takut kalau nanti kita nikah, aku nggak bisa jadi istri yang baik. Takut kalau aku masih suka marah kecil-kecil, takut kalau masakannya nggak seenak ibu kakak. Tapi tadi pas doa, aku minta sama Allah: “Ya Allah, jadikan aku istri yang sholehah buat Agus. Ajari aku sabar, ajari aku ikhlas, ajari aku mencintai dengan cara yang Engkau ridhai.” Kak… janji ya, kalau nanti kita sudah nikah, kakak mau ajarin aku terus. Kalau aku salah, tegur pelan-pelan. Kalau aku capek, peluk aku. Kalau aku nangis, usap air mataku sambil baca doa. Janji ya kak?
14277Please respect copyright.PENANAqv385QPUTr
Janji, sayang. Janji dengan nama Allah. Aku akan jadi suami yang sabar, yang ingatkan kamu sholat, yang bantu cuci piring kalau kamu capek, yang baca Al-Qur’an bareng kamu tiap malam sebelum tidur. Kalau kamu nangis, aku akan peluk kamu erat-erat, lalu bisikin doa: “Ya Allah, lapangkan dada Nadia, hilangkan kesedihannya, dan jadikan aku sebab kebahagiaannya.” Nad… kamu nggak perlu takut. Karena aku juga manusia biasa. Kita sama-sama belajar. Yang penting, kita saling ingatkan ke jalan yang lurus. InsyaAllah.
14277Please respect copyright.PENANA1fcdH6gecc
Amin ya Rabbal ‘alamin… Kak, makasih ya. Makasih udah mau nerima aku apa adanya. Makasih udah sabar nunggu. Makasih udah doain aku tiap hari. Aku janji, aku akan jadi yang terbaik buat kakak. Nanti di perpus ya jam 10, aku bawa bekal, kita makan bareng, lalu aku ceritain lagi mimpi-mimpi kecilku. Aku kangen banget kak… kangen lihat senyum kakak, kangen denger suara kakak bilang “sayang”.
14277Please respect copyright.PENANAWcYgdCRXwy
Aku juga kangen banget, Nad. Nanti di pojok perpus, aku duduk nunggu kamu sambil baca doa kecil dalam hati: “Ya Allah, pertemukan kami dalam kebaikan.” Jam 10 ya, aku janji datang duluan, taruh tas di kursi sebelah biar tempatnya aman buat kamu. Aku sayang kamu… sangat-sangat sayang. Sampai jumpa nanti, sayangku.
14277Please respect copyright.PENANAQLNvEKONH8
Aku juga sayang kak Agus… sangat-sangat sayang. Sampai jumpa ya kak. Jangan lupa sarapan yang bener, jangan buru-buru ke kampus. Hati-hati di jalan. Assalamualaikum ♡
14277Please respect copyright.PENANAwLUZMWDK2w
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, sayangku.
Jam 10.00 di perpustakaan, Nadia datang dengan senyum yang lebih lebar dari biasanya. Begitu duduk, dia langsung bisik pelan:
“Kak… tadi pagi chat kita bikin aku senyum-senyum sendiri di kamar. Ibu sampe nanya, ‘kenapa senyum-senyum?’ Aku cuma bilang, ‘lagi inget kak Agus, Bu’.”
Aku tertawa kecil. “Aku juga senyum-senyum pas naik motor tadi. Hampir nabrak tiang gara-gara kebawa mimpi kita.”
Dia menunduk malu, lalu buka kotak bekalnya.
“Makan dulu yuk kak… sambil kita lanjutin cerita tadi pagi. Aku masih pengen denger lagi kakak bilang ‘sayang’.”
Aku suapi dia satu suap, lalu bisik:
“Sayang… makasih ya udah jadi bagian dari hidupku. Makasih udah sabar nunggu. Makasih udah doain aku setiap hari.”
Dia mengunyah pelan, matanya berkaca-kaca bahagia.
“Kak… aku yang makasih. Karena kakak, aku belajar mencintai dengan benar. Dengan doa, dengan sabar, dengan harap ke Allah.”
Kami diam sejenak, saling pandang, lalu tersenyum—senyum yang penuh janji, penuh doa, penuh cinta yang masih dijaga rapat-rapat.
Hari itu berlalu seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda di udara sore menjelang kajian Rabu malam. Langit Semarang sudah gelap lebih cepat karena awan mendung tebal, hujan gerimis mulai turun tipis-tipis saat aku parkir motor di depan masjid kampus. Aku lihat Nadia sudah datang lebih dulu—dia berdiri di bawah atap teras masjid putri, memegang payung kecil berwarna krem, jilbabnya sedikit basah di ujung karena angin yang membawa cipratan air.
Aku mendekat, tapi tetap jaga jarak dua meter seperti biasa.
“Assalamualaikum, sayang… udah lama nunggu?” tanyaku pelan.
Dia menoleh, senyumnya muncul tapi ada yang aneh—matanya sedikit berkaca, napasnya terlihat lebih cepat dari biasanya.
“Waalaikumsalam, kak… baru lima menit kok. Tadi hujan deras bentar, aku buru-buru lari dari halte bus. Jadi agak basah nih,” katanya sambil menunjuk ujung rok panjangnya yang sedikit lembab.
Aku ingin sekali mengulurkan tangan menyeka air hujan di pipinya, tapi aku tahan. Cuma bilang,
“Masuk dulu yuk, nanti masuk angin. Aku ambil tempat duduk di belakang ya, seperti biasa.”
Dia mengangguk, tapi sebelum berbalik masuk, dia berhenti sejenak.
“Kak… nanti setelah kajian, boleh nggak kita ngobrol sebentar di taman belakang? Cuma sebentar. Aku… ada yang mau aku ceritain.”
Suara dia pelan sekali, hampir tertelan suara hujan. Aku langsung merasa ada yang tidak biasa.
“Boleh dong. Apa sih? Serius banget mukanya.”
Dia menggeleng pelan, tersenyum tipis.
“Nanti aja ya kak. Aku takut kalau sekarang… aku nggak bisa nahan.”
Dia masuk ke area putri. Aku berdiri di situ beberapa detik, dada berdegup lebih kencang. Ada firasat aneh—seperti ada sesuatu yang selama ini disembunyikan, dan malam ini akan terbuka.
Kajian malam itu tentang “Menjaga Pandangan dan Hati di Era Digital”. Ustadzah bicara panjang lebar soal batasan pacaran, bahaya chat malam-malam yang kelewat mesra, dan pentingnya menjaga aurat hati sebelum aurat badan. Aku duduk di baris belakang cowok, sesekali melirik ke depan. Nadia duduk di baris kedua dari depan, seperti biasa. Tapi malam ini dia tidak mengangkat tangan sekali pun. Kepalanya agak menunduk, tangannya memainkan ujung jilbab dengan gelisah.
Setelah kajian selesai, hujan sudah reda jadi gerimis halus. Aku menunggu di taman belakang masjid—tempat favorit kami dulu, bangku kayu di bawah pohon mahoni yang daunnya lebat. Nadia datang pelan-pelan, payungnya masih dibawa tapi tidak dibuka. Dia duduk di ujung bangku, jarak sekitar satu meter dari aku.
“Kak…” suaranya bergetar.
“Iya, sayang. Apa yang mau kamu ceritain? Dari tadi mukanya tegang banget.”
Dia tarik napas panjang, lalu menatapku langsung—mata yang biasanya selalu tertunduk malu sekarang menatapku dengan intensitas yang membuat bulu kudukku berdiri.
“Aku… aku capek, Kak.”
Aku bingung. “Capek kenapa? Kuliahnya banyak? Atau lagi nggak enak badan?”
“Bukan itu.” Dia menggeleng keras. “Aku capek… jaga image. Jaga ‘sholehah’-nya. Jaga semuanya supaya orang bilang ‘Nadia itu baik banget, cocok buat Agus’. Aku capek pura-pura setiap hari.”
Aku terdiam. Dadaku tiba-tiba sesak.
“Nadia… maksud kamu apa?”
Dia tertawa kecil, tapi tawanya getir, hampir seperti isak.
“Kak tahu nggak… tiap malam setelah video call sama kakak, aku matiin lampu, lalu aku… aku suka pegang sendiri. Bayangin kakak yang lagi pegang aku. Bayangin suara kakak yang bilang ‘sayang’ di telingaku, tapi bukan cuma kata-kata manis. Aku bayangin kakak… lebih dari itu. Aku bayangin kakak cium leherku, tangan kakak masuk ke balik bajuku, kakak… masukin ke aku. Dan aku orgasme sambil bisik nama kakak pelan-pelan supaya nggak kedengeran ibu di kamar sebelah.”
Aku membeku. Napasku terhenti.
“Nadia…”
“Jangan bilang aku gila, Kak. Aku tahu aku salah besar. Aku tahu ini dosa. Tapi aku nggak bisa bohong lagi. Setiap kali kakak bilang ‘sabar ya, nanti kita nikah’, aku malah tambah basah. Aku benci diri sendiri. Aku benci karena aku nggak bisa seperti cewek sholehah yang orang-orang bilang. Aku… aku gila akan seks, Kak. Dan yang aku pengen cuma kakak. Cuma kakak yang aku bayangin setiap malam.”
Air matanya jatuh. Bukan satu-dua, tapi deras. Dia menutup wajah dengan kedua tangan.
“Aku takut kakak ninggalin aku kalau tahu. Tapi aku juga takut kalau aku terus gini, nanti aku beneran jatuh ke zina beneran sama orang lain. Aku cuma pengen kakak. Tapi aku nggak kuat lagi nunggu.”
Aku diam lama. Otakku berputar kencang. Di satu sisi, aku terkejut. Di sisi lain… ada bagian dalam diriku yang justru terbakar. Ternyata cewek yang selama ini aku anggap suci, yang aku jaga banget-banget, punya sisi liar yang disembunyikan rapat-rapat.
Aku geser lebih dekat—masih jaga jarak, tapi cukup dekat sampai aku bisa dengar napasnya yang tersengal.
“Nadia… lihat aku.”
Dia angkat wajah pelan. Matanya merah, pipinya basah.
“Aku nggak ninggalin kamu,” kataku pelan tapi tegas. “Aku kaget, iya. Tapi aku nggak jijik. Aku nggak marah. Malah… aku ngerasa bersalah. Karena selama ini aku pikir kamu nyaman sama batasan kita. Ternyata kamu menderita sendirian.”
Dia menggeleng. “Bukan salah kakak. Aku yang nggak bisa kontrol nafsu. Aku yang… kotor.”
“Kamu nggak kotor.” Aku angkat tangan, ingin menyeka air matanya, tapi berhenti di udara. “Kamu manusia. Kamu punya nafsu. Dan nafsu itu… Allah kasih buat kita. Yang salah adalah kalau kita lepaskan tanpa kendali. Tapi kamu masih nahan, Nad. Kamu masih jaga batas sama aku. Itu artinya kamu kuat. Kamu masih berjuang.”
Dia menatapku lama. Lalu suaranya bergetar lagi.
“Kak… kalau aku minta sesuatu sekarang… kakak mau nggak?”
Aku tahu pertanyaan ini akan datang. Dadaku berdegup kencang.
“Minta apa?”
Dia menelan ludah. Matanya turun ke bibirku, lalu kembali ke mataku.
“Cium aku. Cuma sekali. Di sini. Di bawah pohon ini. Kalau kakak nggak mau, aku ngerti. Aku akan pergi dari hidup kakak besok pagi. Tapi malam ini… aku mohon. Aku pengen tahu rasanya bibir kakak. Aku pengen tahu… apakah kakak juga ngerasain panas yang sama kayak aku.”
Hujan mulai turun lagi, lebih deras. Kami berdua basah, tapi tak ada yang bergerak.
Aku tarik napas dalam-dalam.
Lalu aku maju pelan.
Bibir kami bertemu.
Bukan ciuman sopan. Bukan ciuman pertama yang lembut seperti di film-film Islami. Ini ciuman lapar, ganas, penuh nafsu yang selama ini kami tahan. Lidahnya menyambut lidahku dengan rakus, tangannya mencengkeram kerah bajuku, pinggulnya bergoyang pelan seolah ingin lebih dekat. Aku pegang pinggangnya dari luar tunik—cuma di situ, tapi rasanya seperti menyentuh api.
Kami berciuman lama, sampai napas habis. Lalu kami pisah, saling tatap dengan mata yang sudah gelap oleh hasrat.
“Kak…” bisiknya, suara serak. “Aku… aku basah banget sekarang.”
Aku menggigit bibir bawahku sendiri. “Aku juga… keras banget, Nad.”
Dia tertawa kecil, tapi tawanya penuh getar.
“Kita… kita harus berhenti di sini ya? Kalau nggak… aku takut nggak bisa nahan lagi.”
Aku mengangguk, meski badanku gemetar.
“Iya. Kita berhenti. Tapi besok… besok pagi aku ke rumah kamu. Aku mau ketemu ayah ibumu. Aku mau bilang, aku serius. Kita percepat. Aku nggak mau kamu menderita lagi sendirian. Kita nikah secepatnya.”
Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini karena lega.
“Serius, Kak?”
“Serius. Demi Allah.”
Dia memelukku erat—pelukan pertama yang benar-benar rapat, meski masih berlapis baju basah hujan.
“Ya Allah… makasih ya. Aku nggak nyangka kakak masih mau nerima aku yang… begini.”
Aku balas pelukannya, bisik di telinganya.
“Aku sayang kamu, Nadia. Semuanya. Termasuk sisi liar kamu yang selama ini disembunyiin. Mulai sekarang… kamu boleh gila. Tapi cuma sama aku. Dan cuma setelah halal.”
Dia mengangguk di dadaku, tubuhnya masih gemetar.
“Iya, Kak. Mulai sekarang… aku cuma gila sama kakak.”
Hujan semakin deras.
Tapi di bawah pohon mahoni itu, kami berdua merasa… akhirnya bebas jujur.
14277Please respect copyright.PENANAOijZwmMK1e
Hujan semakin deras setelah kajian selesai. Kami berdua masih duduk di bangku taman belakang masjid, basah kuyup, tapi tak ada yang bergerak untuk mencari tempat berteduh. Napas Nadia tersengal-sengal, dadanya naik-turun cepat di balik tunik yang menempel ketat karena air hujan. Matanya merah, tapi bukan lagi karena menangis—sekarang ada api di sana, api yang selama ini dia kubur dalam-dalam.
“Kak…” suaranya serak, hampir pecah. “Aku nggak bisa pulang malam ini kalau gini. Aku… aku takut sendiri di kamar. Takut aku… lakuin lagi yang kemarin-kemarin. Sendiri. Sambil bayangin kakak.”
Aku menelan ludah. Badanku sudah panas sejak ciuman tadi. Celanaku terasa sesak, kerasnya sudah tak bisa disembunyikan lagi.
“Nadia… kita harus pulang. Ini bahaya. Kalau ada yang lihat—”
“Siapa yang lihat? Semua orang sudah pulang. Masjid sepi. Hujan deras. Kakak… aku mohon.” Dia maju lebih dekat, lututnya menyentuh lututku. “Cuma malam ini. Aku nggak minta semuanya. Cuma… biarin aku rasain kakak lebih dari ciuman. Aku nggak tahan lagi. Tiap detik rasanya kayak ada yang nyiksa di bawah sini.”
Dia pegang tanganku pelan, lalu tarik ke bawah—ke arah pahanya sendiri. Aku bisa merasakan panasnya melalui rok basah yang menempel.
“Kak… sentuh aku. Cuma di luar. Aku janji nggak akan minta lebih. Aku cuma pengen… lega. Sekali aja.”
Aku gemetar. Otakku berperang. Satu sisi berteriak: “Ini zina! Kamu janji menjaga!” Sisi lain berbisik: “Dia menderita. Kamu juga. Kalau kamu tolak, dia bisa jatuh ke yang lebih buruk.”
Aku tarik napas dalam-dalam, lalu tanganku bergerak. Perlahan. Jari-jariku menyentuh paha dalamnya dari luar rok. Dia langsung menggelinjang, mengerang pelan, kepalanya terdongak ke belakang.
“Kak… lebih dalam…”
Aku angkat roknya sedikit—cuma sampai pertengahan paha. Celana dalam putihnya sudah basah sekali, bukan karena hujan. Aku menyentuhnya dari luar kain, tekan pelan di bagian yang paling sensitif.
Dia langsung mencengkeram lenganku keras. “Ahh… kak… gitu… jangan berhenti…”
Aku gerakkan jari lebih cepat, melingkar, menekan. Napasnya semakin cepat, pinggulnya ikut bergoyang mengikuti irama tanganku. Air matanya jatuh lagi, campur antara rasa bersalah dan kenikmatan.
“Kak… aku… aku mau keluar… tapi aku takut… takut dosanya besar…”
Aku berhenti sejenak. “Nad… kita bisa berhenti sekarang. Aku nggak mau kamu menyesal.”
Dia menggeleng keras. “Jangan berhenti! Kalau berhenti sekarang, aku bakal gila beneran. Kak… aku rela dosa ini. Aku rela neraka. Asal kakak yang lakuin. Bukan orang lain. Bukan sendiri. Cuma kakak.”
Kata-katanya seperti pisau. Aku tahu ini salah. Tapi badanku sudah tak bisa berpikir jernih. Aku tarik celana dalamnya ke samping pelan—cuma sedikit, cukup untuk jari-jariku menyentuh langsung kulitnya yang licin dan panas.
Dia menjerit kecil, langsung tutup mulut sendiri dengan tangan. “Kak… masukin… satu jari aja… please…”
Aku masukkan satu jari perlahan. Dia langsung menegang, punggungnya melengkung, kakinya menggigil. “Ahhh… kak… lebih dalam… lebih cepat…”
Aku gerakkan jari masuk-keluar, tambah satu lagi. Dia mulai menggerakkan pinggulnya sendiri, mengejar irama. Suaranya semakin keras meski ditahan.
“Kak… aku… aku mau… keluar… kak… pegang aku erat…”
Aku peluk pinggangnya dengan tangan kiri, tarik tubuhnya lebih dekat. Jari-jariku semakin cepat, ibu jari menekan klitorisnya. Tubuhnya menegang tiba-tiba, kakinya menggigil hebat, lalu dia orgasme dengan keras—mulutnya tertutup tangan sendiri, tapi erangan panjangnya masih terdengar samar di antara deru hujan.
Setelah itu dia lemas di pelukanku, napas tersengal-sengal. Air matanya jatuh ke bahuku.
“Kak… maaf… aku… aku bikin kakak ikut dosa…”
Aku diam. Badanku masih tegang, kerasnya menyiksa. Tapi aku cuma peluk dia erat.
“Nggak apa-apa, Nad. Kita berdua salah. Tapi… aku nggak nyesel. Karena aku tahu, ini bukan akhir. Besok pagi aku ke rumah kamu. Aku akan minta maaf sama ayah ibumu kalau perlu. Kita percepat nikah. Aku nggak mau kamu menderita lagi. Dan aku… aku juga nggak mau lagi nahan ini sendirian.”
Dia angkat wajah, matanya penuh harap dan rasa bersalah.
“Kak… beneran mau nerima aku? Setelah tahu aku… gini?”
Aku cium keningnya pelan. “Aku nerima kamu apa adanya. Termasuk sisi ini. Mulai sekarang, kita berjuang bareng. Kita taubat bareng. Dan setelah halal… kamu boleh minta apa aja dari aku. Semuanya. Tanpa batas.”
Dia tersenyum kecil, meski masih menangis.
“Janji ya kak… setelah nikah, kakak nggak boleh nolak aku. Aku… aku bakal gila banget. Tiap malam. Tiap pagi. Aku pengen kakak habis-habisan.”
Aku tertawa pelan, meski dadaku masih berdegup kencang.
“Janji. Habis-habisan. Tapi sekarang… kita pulang dulu. Hujan reda bentar lagi. Kamu harus ganti baju, mandi, sholat taubat. Aku juga.”
Dia mengangguk, lalu peluk aku lagi erat.
“Kak… makasih. Makasih udah nggak ninggalin aku. Makasih udah… kasih aku lega malam ini.”
Kami bangun pelan. Hujan sudah reda jadi gerimis. Kami jalan berdua ke arah gerbang kampus, tangan saling bergandengan—kali ini tidak cuma kelingking, tapi seluruh tangan. Basah, dingin, tapi hangat.
Di dalam hati aku berdoa diam-diam:
“Ya Allah… ampuni kami. Kami lemah. Tapi kami ingin kembali kepada-Mu. Mudahkan kami menuju halal. Jangan biarkan kami jatuh lagi sebelum itu.”
Tapi di sisi lain, ada bisikan kecil yang tak bisa kuhentikan:
“Besok pagi… aku akan ke rumahnya. Dan sebentar lagi… aku akan punya dia sepenuhnya.”
Malam itu berakhir dengan kami berpisah di depan halte bus. Nadia naik angkot pulang, aku naik motor ke kosan. Tapi sepanjang jalan, badanku masih bergetar. Rasa bersalah, rasa takut, dan rasa haus yang belum terpuaskan bercampur jadi satu.


