“Aku membangun kerajaan,” katanya perlahan. “Aku menyerang Surabaya, Madura, pesisir utara. Aku ingin Jawa satu di bawah satu kekuasaan. Tapi kain ini… menunjukkan bahwa sebelum ada kerajaan, sudah ada Jawa.”
Sekar tidak berani menjawab.
“Ajarkan tarian ini kepada penari istana,” perintah Sultan Agung tiba-tiba. “Bukan hanya geraknya. Ajarkan kisahnya.”
Patih Singaranu terkejut. “Kanjeng Sultan, penari istana terbiasa dengan pakem Mataram. Tarian pesisir bisa dianggap kasar, terlalu bebas.”
183Please respect copyright.PENANAb4kJlNKCjo
183Please respect copyright.PENANAkm3G8NQBf3
183Please respect copyright.PENANAPcbqnIxKs3
183Please respect copyright.PENANAbzfT4ZnrD0
“Justru itu,” jawab Sultan Agung. “Aku tidak ingin kerajaanku hanya mengingat dirinya sendiri. Aku ingin ia mengingat sebelum dirinya ada.”
Sekar menunduk dalam-dalam. Ia merasa dadanya bergetar oleh sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan: bahwa tarian desanya, yang dulu hanya disaksikan nelayan dan anak-anak kecil, kini akan menjadi bagian dari istana terbesar di Jawa.
183Please respect copyright.PENANA6yPW9MTMdm
Namun tidak semua orang senang.
183Please respect copyright.PENANAUQJnjXIwqX
Di paviliun selir, bisik-bisik mulai terdengar. Selir utama, Nyai Ratu Ayu Lintang, seorang perempuan bangsawan dari keluarga tua Mataram, memandang kolam teratai dengan wajah dingin.
183Please respect copyright.PENANAF3EbmgYoRZ
“Penari pesisir itu terlalu cepat naik,” katanya kepada dayangnya. “Raja bahkan meminta selendangnya.”
Dayang itu menunduk. “Mungkin hanya ketertarikan budaya, Kanjeng.”
183Please respect copyright.PENANAAIgc1hLd02
“Tidak ada ketertarikan yang netral di keraton,” jawab Lintang pelan. “Jika raja melihatnya dua kali, maka politik sudah mulai bergerak.”
183Please respect copyright.PENANAUFbPKbTisR
Ia menatap ke arah paviliun penari yang tampak kecil dari kejauhan. Dalam pikirannya, Sekar bukan lagi gadis desa, tetapi benih gangguan yang bisa tumbuh menjadi badai.
183Please respect copyright.PENANA2Mgubaddsf
Malam hari, Sekar kembali membuka selendangnya di kamar. Ia mencoba menari pelan, mengikuti motif kain itu. Di setiap gerak, ia merasa seolah ada suara perempuan-perempuan masa lalu yang berbicara melalui tubuhnya.
Ia teringat ibunya, neneknya, perempuan-perempuan pesisir yang tidak pernah tercatat dalam sejarah, tetapi menjaga laut, doa, dan cerita.
183Please respect copyright.PENANAZas3WUTLYv
Dan kini, seorang raja pedalaman mendengarkan mereka.
183Please respect copyright.PENANAGeirdswGPb
Sekar merasa takut sekaligus bangga.
ns216.73.216.67da2


