Ruang pribadi Sultan Agung kali ini berbeda. Ia duduk di dekat meja kayu besar, di atasnya terbentang peta Jawa yang digambar tangan, dengan tanda-tanda merah di wilayah pesisir yang sering diserang VOC. Di sampingnya berdiri Patih Singaranu, seorang lelaki tua dengan janggut putih dan mata yang selalu berhitung.
172Please respect copyright.PENANAJh1gyZ42ox
Sekar masuk, bersujud, lalu menyerahkan selendang itu dengan kedua tangan.
172Please respect copyright.PENANAlwuHGGyFx9
Sultan Agung menerima kain itu dengan hati-hati, seolah memegang sesuatu yang rapuh sekaligus sakral. Ia membentangkannya perlahan, memperhatikan motifnya dengan teliti.
172Please respect copyright.PENANA9BcCz7KnIn
“Ini bukan motif Mataram,” katanya. “Bukan pula motif Demak.”
“Ini motif pesisir lama, Kanjeng,” jawab Sekar. “Ibu hamba berkata ini dari zaman sebelum Demak.”
172Please respect copyright.PENANAYQ1ICIN0xo
Patih Singaranu mendekat. “Ada simbol-simbol yang mirip relief Majapahit,” gumamnya. “Namun bercampur dengan motif laut yang jarang ditemukan di pedalaman.”
172Please respect copyright.PENANAwaR4eD5aRh
Sultan Agung mengangkat selendang itu, membiarkannya terkena cahaya matahari yang masuk melalui jendela. “Laut dan gunung bertemu di kain ini,” katanya pelan. “Seperti Jawa yang selalu terpecah antara pesisir dan pedalaman.”
172Please respect copyright.PENANAbB4BNAtESs
Sekar menunduk. Ia tidak mengerti politik, tetapi ia tahu bahwa perpecahan itu nyata. Di Jepara, orang-orang pesisir sering berkata bahwa raja-raja pedalaman tidak mengerti laut. Di Mataram, orang-orang keraton sering berkata bahwa pesisir terlalu dekat dengan orang asing.
172Please respect copyright.PENANAvcnWvIMJws
“Siapa yang mengajarkan gerak yang kau tarikan tadi malam?” tanya Sultan Agung.
172Please respect copyright.PENANAgiljhnXVeE
“Ibu hamba, Kanjeng. Ia belajar dari neneknya, dan neneknya dari ibunya lagi.”
172Please respect copyright.PENANA6LHbM7bVJW
“Jadi tarian itu lebih tua dari kerajaan ini?”
172Please respect copyright.PENANAJ2uncHZVMb
Sekar ragu sejenak, lalu mengangguk. “Gerak tubuh lebih tua dari kerajaan.”
172Please respect copyright.PENANA5oYfkufT1k
Patih Singaranu tersenyum tipis. “Raja, mungkin inilah yang disebut orang tua sebagai tradisi yang tidak bisa ditaklukkan.”
172Please respect copyright.PENANAlwEAhWxVn8
Sultan Agung terdiam lama. Ia memandang Sekar dengan sorot mata yang tidak lagi hanya ingin tahu, tetapi juga seolah menemukan sesuatu yang selama ini hilang dalam pikirannya.
ns216.73.217.39da2


