Pendapa Karta perlahan kosong setelah pertunjukan usai. Para bangsawan beringsut pergi, selir-selir menarik selendang mereka dan menghilang ke balik tirai, prajurit kembali ke pos penjagaan. Hanya suara jangkrik dan gemerisik daun yang tersisa di halaman keraton. Sekar masih duduk bersimpuh di lantai kayu, telapak tangannya menempel di dada, jantungnya berdetak seperti kendang yang lupa berhenti.
Ia mengira pertunjukan telah berakhir, bahwa ia bisa kembali ke paviliun penari dan menangis diam-diam karena rindu rumah. Namun suara langkah berat terdengar mendekat. Seorang abdi dalem tua membungkuk di depannya. “Gadis Jepara,” katanya pelan, “Kanjeng Sultan memanggilmu.”
Kata-kata itu membuat udara di paru-parunya terasa hilang. Ia berdiri dengan lutut gemetar, mengikuti abdi dalem melewati lorong-lorong keraton yang dipenuhi ukiran kayu dan bayangan lampu minyak. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas air yang tak pernah ia pelajari cara mengapungnya.
Ruang pertemuan pribadi Sultan Agung tidak luas, namun dindingnya tebal dan penuh simbol: peta Jawa yang digambar tangan, lukisan gunung dan laut, serta keris-keris pusaka yang disimpan di rak kayu cendana. Sang Sultan berdiri di dekat jendela terbuka, memandang malam. Cahaya bulan memantul di wajahnya, memperlihatkan garis-garis kelelahan seorang penguasa yang jarang diketahui rakyatnya.
“Masuk,” katanya tanpa menoleh. Suaranya rendah, namun memiliki bobot seperti bumi yang berbicara.
Sekar melangkah masuk dan langsung bersujud, keningnya menyentuh lantai batu yang dingin. “Ampun, Kanjeng Sultan,” ucapnya dengan suara nyaris tak terdengar.
“Bangunlah,” kata Sultan Agung. “Aku tidak memanggilmu untuk menghukummu.”
Perlahan Sekar bangkit, tetapi tetap menunduk. Tangannya menggenggam ujung selendang seolah kain itu bisa melindunginya dari tatapan raja. Sultan Agung berbalik, menatapnya lama. Tidak ada kemarahan di wajah itu, hanya rasa ingin tahu yang dalam—seperti seorang penjelajah yang menemukan peta kuno.
187Please respect copyright.PENANA21oNnT9BuH
“Siapa namamu?”
ns216.73.217.39da2


