Nama gadis itu Nala Sekar Arum, dipanggil Sekar oleh orang-orang keraton yang tak pernah tahu bahwa nama itu adalah doa terakhir ibunya sebelum wafat di pesisir Jepara. Ia datang ke Mataram bukan sebagai bangsawan, bukan pula sebagai selir, melainkan sebagai persembahan budaya—hadiah dari adipati pesisir untuk sang Sultan yang tengah mengukuhkan kebesaran kerajaannya. Di usia tujuh belas tahun, Sekar telah menari di depan laut, di depan para nelayan, di depan pasar, namun belum pernah di depan seorang raja yang seluruh Jawa takuti dan hormati.
Malam itu, pendapa Karta memantulkan cahaya keemasan. Lampu-lampu minyak berjajar di tiang kayu jati, obor-obor menyala seperti bintang yang turun ke bumi. Gamelan dibunyikan pelan, bukan untuk pesta, melainkan untuk upacara penghormatan. Bau dupa, kayu cendana, dan bunga kenanga bercampur dengan udara malam yang lembap. Para bangsawan duduk berjajar, selir-selir berbisik di balik selendang sutra, sementara prajurit berdiri tegak di sisi pendapa.
Nala Sekar melangkah ke tengah lantai kayu dengan telapak kaki telanjang. Selendang tenun Jepara melingkar di pinggangnya, kain batik pesisir dengan motif ombak membalut kakinya. Rambutnya disanggul sederhana, dihiasi melati dan sejumput bunga laut yang sudah mengering, kenangan kampung halamannya. Saat kendang mulai bertalu pelan, ia mengangkat tangannya, jemarinya membuka perlahan seperti bunga yang takut pada matahari.
Gerakannya tidak megah seperti penari istana, tidak pula penuh simbol perang. Ia menari seperti seseorang yang sedang bercerita kepada angin. Setiap langkahnya seolah menapaki pasir basah, setiap putaran tubuhnya mengingatkan pada pusaran ombak. Di balik senyumnya yang tipis, ada kerinduan pada rumah, ada doa agar ia tidak dilupakan oleh leluhur yang pernah mengajarinya menari di bawah bulan.
Dari singgasana tinggi berlapis ukiran naga dan sulur tumbuhan, Sultan Agung memandang tanpa berkedip. Jubahnya gelap, wajahnya tegas, sorot matanya tajam seperti bilah keris. Ia telah melihat ratusan penari dari Demak, Surabaya, Cirebon, bahkan dari Bali yang ditaklukkan. Namun malam itu, tubuhnya terasa diam lebih lama dari biasanya.
Ia melihat bukan hanya tarian, tetapi sejarah yang bergerak di tubuh seorang gadis desa. Setiap lengkungan tangan Sekar mengingatkannya pada relief candi-candi tua yang pernah ia kunjungi. Setiap hentakan kakinya mengingatkannya pada bumi Jawa yang ingin ia satukan. Tarian itu tidak meminta tepuk tangan; tarian itu seperti doa yang dibacakan dengan tubuh.
Para selir memperhatikan dengan rasa tak nyaman. Mereka terbiasa melihat Sultan Agung mengangguk singkat atau berbicara dengan patihnya saat pertunjukan, namun kali ini sang Sultan duduk tegak, matanya mengikuti setiap gerak Sekar. Seorang selir berbisik, “Penari pesisir itu seperti punya ilmu gaib.” Yang lain menjawab pelan, “Atau raja kita yang terlalu lama memandang laut dalam tubuhnya.”
Nala Sekar sendiri tak berani menatap singgasana. Ia hanya tahu bahwa udara di pendapa terasa berat, seolah banyak mata yang mengukur nilainya. Namun ia menari seperti yang diajarkan ibunya: jika kau takut, jadikan takut itu doa. Jika kau rindu, jadikan rindu itu gerak.
Ketika musik berhenti, Sekar menunduk, lututnya menyentuh lantai kayu, selendangnya menjuntai seperti ombak yang kehilangan angin. Pendapa sunyi sejenak sebelum tepuk tangan bangsawan terdengar ragu-ragu. Sultan Agung tidak bertepuk tangan. Ia hanya berdiri perlahan, turun satu anak tangga dari singgasananya, lalu berkata dengan suara rendah yang membuat semua orang terdiam, “Siapa nama gadis ini?”
Malam itu, tak seorang pun tahu bahwa pertanyaan sederhana itu akan mengubah nasib seorang penari desa dan menggoreskan kisah yang tak pernah ditulis dalam bab-bab resmi sejarah Mataram.
208Please respect copyright.PENANAdIc8JDjsar


