Pak Gandi tak memberi kesempatan untuk berpikir. Lengannya melingkar di pinggang Umi Siska, menariknya erat hingga dada mereka menempel. Tubuh lelaki itu terasa keras, hangat, dan berbau maskulin—campuran sabun mandi pagi dan aroma hasrat yang pekat.
Ia menunduk, bibirnya menyentuh cuping telinga Umi Siska, napasnya menggelitik. “Mau tambah lagi obat awet mudanya, Sayang?” bisiknya, kata “Sayang” itu terucap lembut tapi penuh kepemilikan.
Tubuh Umi Siska gemetar hebat. Hasrat semalam seperti api yang baru disiram bensin, langsung membara lagi. Tapi rasa bersalah juga menyengat tajam, menusuk dada. Dapur yang sempit ini tiba-tiba terasa terlalu penuh: bau masakan pagi masih samar, suara kipas angin berdengung pelan, dan napas mereka berdua yang semakin berat.
Tanpa menunggu jawaban, tangan Pak Gandi yang satunya bergerak cepat. Resleting celana seragamnya terbuka dengan suara “ziiip” yang terdengar sangat keras di telinga Umi Siska. Celana melorot hingga lutut, memperlihatkan celana dalam hitam yang sudah menggembung parah, bentuk penisnya menonjol jelas, tegang dan siap.
Umi Siska terkesiap pelan, matanya terbelalak. Pandangannya tak bisa lepas dari tonjolan itu—besar, tegang, dan sudah membasahi kain celana dalam di bagian ujung. Hasrat dan ketakutan bercampur jadi satu, membuat lututnya lemas.
Pak Gandi menekan bahu Umi Siska dengan lembut tapi tegas, membimbingnya turun hingga berjongkok tepat di depan selangkangannya. “Obat awet muda buat kamu, masih tersedia banyak. Coba sekarang isep sendiri, Sis,” katanya serak, suaranya berat penuh perintah yang tak bisa ditolak.
Ia menurunkan celana dalamnya sendiri. penisnya terlepas, tegak sempurna, memerah gelap, urat-uratnya menonjol, ujungnya sudah mengkilap oleh cairan bening yang menetes pelan. Aroma maskulinnya langsung memenuhi hidung Umi Siska—hangat, asin, dan memabukkan.
Pak Gandi memegang batangnya, lalu menyentuhkan ujung penis itu pelan ke pipi Umi Siska. Sensasi kulit yang panas, kenyal, dan sedikit lembap itu seperti sengatan listrik kecil yang langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. Pipinya terasa terbakar, napasnya tersendat.
“Pasti kecantikanmu makin membahana,” lanjutnya sambil menekan lebih dekat. Ujung penis itu kini menyentuh bibir Umi Siska yang sedikit terbuka karena terkejut. Hangatnya terasa di bibir bawah, sedikit asin, sedikit manis, membuat lidahnya refleks menjulur menyentuh.
Sekujur tubuh Umi Siska bergetar hebat. Bibirnya perlahan membuka lebih lebar, lidahnya menyapu kepala penis yang terasa kenyal, licin, dan berdenyut pelan. Rasa asing itu seketika memicu desiran aneh di perut bawahnya—jijik sempat muncul, tapi langsung tenggelam oleh gairah yang lebih kuat. Aroma dan rasa itu justru membuatnya semakin basah di bawah gamis.
Pak Gandi mendesah pelan, suara “ssshhh…” yang dalam dan puas. Tangannya mengelus rambut Umi Siska, mendorong kepalanya sedikit lebih dalam. “Bagus, Bu… hisap… isep seperti permen,” bisiknya.
Umi Siska menurut. Bibirnya melingkupi kepala penis, lalu perlahan menurun, mengisap dengan gerakan canggung tapi penuh keingintahuan. Lidahnya melingkar di sekeliling, merasakan setiap urat yang berdenyut, setiap denyut yang semakin kuat. Batang itu besar, memenuhi mulutnya hingga rahang terasa meregang, tapi justru sensasi penuh itu yang membuatnya ketagihan.
Ia mulai bergerak naik-turun, ritmis, rambut panjangnya bergoyang mengikuti irama. Setiap isapan membuat penis itu berdenyut lebih keras di mulutnya. Tangannya tanpa sadar meremas paha Pak Gandi yang keras, kuku-kukunya mencengkeram kain celana yang masih melorot.
“Aaah… nikmat sekali, Sis…” desah Pak Gandi, suaranya parau, kepalanya terdongak menahan kenikmatan.
Umi Siska semakin dalam, semakin rakus. Lidahnya menari di sepanjang batang, bibirnya menyedot kuat, mencoba menelan lebih banyak. Rasa asin semakin pekat, cairan bening semakin banyak mengalir di lidahnya. Rahangnya mulai pegal, tapi ia tak mau berhenti—sensasi ini terlalu enak, terlalu baru, terlalu memabukkan.
Pak Gandi mendesah panjang, napasnya tersengal. “Cukup, Bu… cukup,” katanya tercekat, suaranya hampir putus asa menahan klimaks.
Dengan gerakan cepat, ia menarik Umi Siska berdiri lalu membalikkan tubuhnya. Dalam sekejap, Umi Siska sudah tengkurap di atas meja dapur yang dingin. Payudaranya menekan permukaan kayu, pantatnya terangkat tinggi. Pak Gandi menarik gamis hingga pinggang, menurunkan celana dalam hingga paha, memperlihatkan bokong bulat yang sudah berkilau oleh cairan hasratnya sendiri.
Tanpa jeda, ia memposisikan penisnya yang basah dan berdenyut di pintu masuk Umi Siska. Dengan satu dorongan kuat, ia masuk sepenuhnya.
“Ahh… Paaaak…!” jerit Umi Siska pelan, suaranya campur kaget dan nikmat. Sensasi penuh dari belakang terasa lebih dalam, lebih liar dari semalam. penis itu menghantam titik-titik sensitif yang membuat pandangannya berkunang-kunang.
Pak Gandi mulai menggenjot—kadang pelan, mengocok perlahan sambil merasakan setiap kontraksi dinding dalam Umi Siska, kadang cepat dan keras, menghantam hingga meja bergoyang pelan. Setiap hentakan mengeluarkan bunyi basah yang memalukan tapi memabukkan.
“Ooooh… memekmu makin nikmat aja, Sayang…” lenguh Pak Gandi vulgar, tangannya mencengkeram pinggul Umi Siska erat.
Umi Siska mengerang tanpa henti, tangannya mencengkeram tepi meja hingga buku jarinya memutih. Tubuhnya bergetar hebat, keringat membasahi punggungnya. Setiap dorongan membuatnya merasa dikuasai sepenuhnya, dan ia menyukainya.
Saat puncak hampir tiba—tubuh Umi Siska mulai kejang, vaginanya berdenyut kuat menjepit—Pak Gandi tiba-tiba mencabut. Ia membalikkan tubuh Umi Siska, membuatnya berjongkok lagi.
“Obat awet muda lagi, Sis!” bisiknya serak.
Penis yang basah oleh lendir Umi Siska sendiri kini diarahkan ke mulutnya. Umi Siska terkesiap, tapi hasratnya terlalu kuat. Bibirnya kembali terbuka, melingkupi penis itu, mengisap dengan rakus. Rasa dirinya sendiri bercampur dengan rasa Pak Gandi—asin, hangat, memabukkan.
Pak Gandi mendesah keras. Tubuhnya menegang, lalu meledak. Cairan hangat membanjiri mulut Umi Siska, menyemprot kuat hingga ia harus menelan berulang kali. Kehangatan itu mengalir di tenggorokannya, membuatnya gemetar hebat. Bahkan setelah penis itu keluar dari vaginanya, ia tak merasa jijik—malah merasa itu bagian dari “obat” yang kini ia idamkan.
Setelah ledakan itu reda, Pak Gandi masih berdiri di depan Umi Siska yang berjongkok, napasnya tersengal pelan, tubuhnya berkilau keringat tipis. penisnya yang baru saja meledak masih setengah tegang, mengkilap oleh campuran cairan mereka berdua. Umi Siska tetap di posisi itu sebentar, mulutnya terasa penuh, tenggorokan hangat dan sedikit perih, tapi ada kepuasan aneh yang membuat dadanya naik-turun cepat.
Pak Gandi menunduk menatapnya. Matanya tak lagi penuh godaan liar seperti tadi—sekarang ada kelembutan yang tak terduga, sesuatu yang lebih dalam. Tanpa kata, tangannya meraih dagu Umi Siska dengan lembut, mengangkat wajah wanita itu hingga mata mereka bertemu. Jempolnya menyapu sudut bibir Umi Siska, membersihkan sisa cairan putih yang menetes pelan di sana.
“Kamu luar biasa, Sis…” bisiknya, suaranya parau tapi hangat.
Umi Siska tak sempat menjawab. Pak Gandi menariknya berdiri perlahan, tangannya melingkar kembali di pinggangnya, menarik tubuh Umi Siska hingga menempel erat. Dada mereka bertemu lagi, detak jantung Pak Gandi terasa kuat di dada Umi Siska. Lalu, tanpa tergesa, ia menunduk dan mencium bibir Umi Siska.
Ciuman itu berbeda dari segalanya yang baru saja terjadi. Bukan ciuman rakus atau penuh nafsu mentah seperti tadi—ini lambat, dalam, mesra. Bibir Pak Gandi menekan lembut, lidahnya menyelinap masuk dengan penuh perasaan, mengeksplorasi mulut Umi Siska yang masih terasa asin dan hangat oleh sisa-sisa “obat awet muda” tadi. Umi Siska terkejut sejenak, tapi kemudian matanya terpejam, tangannya naik merangkul leher Pak Gandi, menariknya lebih dekat.
Mereka berciuman lama, saling mengecap, saling menikmati. Lidah mereka saling bertaut, napas bercampur, dan di antara ciuman itu Umi Siska merasakan sesuatu yang selama ini tak pernah ia dapatkan dari suaminya: kelembutan setelah badai gairah. Suaminya selalu berhenti begitu selesai—tak ada pelukan panjang, tak ada ciuman mesra yang membuatnya merasa diinginkan sebagai manusia, bukan hanya sebagai tubuh. Tapi sekarang, Pak Gandi menciumnya seperti ingin menghafal setiap sudut bibirnya, seperti ingin bilang bahwa ini bukan sekadar permainan.
Umi Siska membalas ciuman itu dengan penuh perasaan. Tangannya mengelus tengkuk Pak Gandi, jari-jarinya menyisir rambut pendek yang basah keringat. Dadanya terasa sesak—bukan karena malu atau bersalah lagi, tapi karena kehangatan yang mengalir pelan, menggantikan sisa-sisa getaran orgasme tadi. Air mata hampir menetes di sudut matanya, tapi ia tahan, malah semakin memperdalam ciuman.
Pak Gandi memutus ciuman itu pelan, tapi bibirnya masih menyentuh bibir Umi Siska, berbisik di antara hembusan napas. “Kamu pantas dapat yang lebih dari ini setiap hari, Sayang…”
Umi Siska tak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menempelkan dahinya ke dahi Pak Gandi, mata terpejam, menikmati sisa kehangatan bibir itu, sisa rasa yang masih tertinggal di mulutnya, dan pelukan yang membuatnya merasa—untuk pertama kalinya dalam waktu lama—benar-benar diinginkan.
Dapur yang sempit itu kembali hening, hanya terdengar napas mereka yang perlahan tenang, dan suara kipas angin yang masih berdengung pelan di sudut ruangan.
^*^
Jika ingin membaca cerita-cerita seru, silahkan klik link ini (Gratis) 3928Please respect copyright.PENANAHFvEH4l5AK
https://victie.com/novels/istriku-yang-alim-ternyata
Karena kisahnya akan semakin mendebarkan, maka biar makin seru, saya akan melanjutkan kisah ini jika followernya sudah mencapai 50+. Buat sahabat yang belum follow, ditunggu ya, biar kita makin cepat menyelesaikan cerita gratis ini.
Terima kasih.
ns216.73.217.22da2


