Pagi menyapa Kampung Cikulat dengan lembut, sinar matahari pagi menyusup melalui celah tirai kamar, membangunkan Umi Siska dari tidur yang gelisah dan terputus-putus. Ia membuka mata perlahan, tubuhnya terasa berat dan lemas, seperti habis didera badai panjang.
Kenikmatan luar biasa malam tadi masih membekas, sebuah sensasi yang tak terbayangkan, lima kali orgasme dalam semalam, sesuatu yang bahkan tak pernah ia bayangkan. Umi Siska bangkit pelan, berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, air dingin yang mengalir tak cukup mendinginkan gejolak batinnya.
Pagi itu, seperti biasa, ia mengenakan gamis dan jilbab rumahan yang longgar, mengambil sapu lidi, dan mulai membersihkan halaman depan rumah. Gerakannya teratur, seolah ingin menyapu bersih juga pikiran-pikiran kacau yang masih bercokol di benaknya. Namun, ada yang berbeda.
Ia merasa semua tetangga yang melihatnya seolah heran. Beberapa ibu-ibu yang lewat sambil membawa bakul belanjaan, atau sekadar menyiram tanaman di pekarangan, bukan hanya bertanya basa-basi seperti biasa. Mereka malah semakin terbuka memuji, bahkan mendekat dengan senyum lebar.
"Umi, pagi ini kok beda banget ya? Lebih cerah, lebih cantik!" kata Bi Inar sambil menepuk lengan Umi Siska.
"Mukanya berseri-seri, kayak pengantin baru!" sambung Mbak Nadi, yang juga sedang menyapu halaman.
Lesti ikut mengangguk setuju, "Subhanallah, Mi. Auranya!"
Umi Siska agak heran mendengar semua pujian itu. Wajahnya terasa hangat, tapi ia tak tahu kenapa. Saat ia merasa lelah dan batinnya terguncang, tapi kenapa orang-orang melihatnya begitu berbeda? Apakah ini pengaruh semalam?
Pikirannya melayang pada detik-detik terakhir gairah bersama Pak Gandi. Pada putaran terakhir, saat kenikmatan mencapai puncaknya, Pak Gandi dengan gerakan tiba-tiba menumpahkan spermanya di mulut Umi Siska.
"Telan, Sis. Ini obat awet muda, bikin cantik luar dalam," bisiknya mesra, sebuah permintaan gila yang Umi Siska turuti dalam keadaan setengah sadar. Dan itulah sperma laki-laki yang baru pertama ia telan seumur hidupnya.
Apakah benar itu yang membuat wajahnya tampak lebih cerah?
Tak hanya para ibu-ibu, beberapa lelaki yang lewat, pemuda-pemuda yang biasa nongkrong, atau bapak-bapak yang hendak ke sawah pun matanya makin menyala seperti serigala saat memandang Umi Siska. Tatapan mereka terlalu lama, terlalu intens, membuat Umi Siska salah tingkah sendiri. Ia buru-buru memeriksa pakaiannya, merapikan jilbabnya, takut ada yang salah dengan penampilannya atau dirinya sendiri. Tapi semua baik-baik saja.
Umi Siska melanjutkan menyapu, namun kini dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa malu, sedikit bangga, dan juga was-was. Apakah efek "sperma obat awet muda" itu begitu nyata hingga mengubahnya di mata orang lain? Atau apakah ini hanya ilusi dari perasaannya yang belum stabil? Kampung Cikulat terasa makin asing dan penuh teka-teki.
Setelah sarapan dan menyelesaikan pekerjaan rumah, Umi Siska masuk ke kamarnya. Tirai jendela disibak lebar, membiarkan cahaya matahari siang membanjiri ruangan. Ia berdiri di depan cermin besar di kamarnya, entah mengapa, kali ini ada dorongan kuat untuk melihat pantulan dirinya sendiri. Wajahnya yang biasa terlihat sedikit lelah setelah aktivitas pagi, kini memang memancarkan aura yang berbeda.
Ia mendekat, meneliti setiap detail di cermin. Benar saja, dia baru menyadari ternyata wajahnya memang sangat cerah dan bersinar, seolah ada cahaya internal yang memancar dari kulitnya. Gurat kurang tidur memang terlihat samar di bawah matanya, menjadi saksi bisu malam panjang yang penuh gairah, namun hal itu tak mengurangi sedikit pun pancaran kecantikannya.
Ia masih tak percaya, hingga berlama-lama mematut diri depan cermin, memutar tubuhnya perlahan dari berbagai sudut.
Semua pujian Pak Gandi tentang dirinya yang bukan saja cantik tapi seluruh tubuhnya seksi menggemaskan, kini terngiang jelas di telinganya. Umi Siska meneliti satu per satu. Ia membuka gamisnya perlahan, membiarkan kain itu meluncur jatuh ke lantai.
Di depan cermin, kini ia berdiri hanya dengan pakaian dalam, menatap pantulan tubuhnya. Pinggul yang penuh, paha yang padat, payudara yang montok, semuanya terlihat begitu menggoda. Ia mengakui ucapan Pak Gandi tak salah. Bahkan ia menyentuh perutnya, pinggangnya, merasakan setiap lekuk tubuhnya yang memang terasa begitu 'hidup' setelah malam itu.
Namun, di tengah pengakuan atas kecantikan dan keseksian dirinya itu, sebuah pertanyaan pahit muncul, menusuk ulu hatinya.
“Mengapa suamiku tak pernah memujiku seperti itu? Tak pernah menatapku dengan kekaguman yang sama, tak pernah memberikan pengakuan atas tubuhku, atau bahkan sekadar bisikan mesra tentang betapa cantiknya istrinya?”
Kerinduan yang selama ini ia pendam, kini berubah menjadi rasa kecewa yang mendalam terhadap suaminya. Kenapa harus orang lain yang melihat dan mengakui kecantikannya, sementara orang yang seharusnya paling menghargai, justru abai?
Cermin itu kini menjadi saksi bisu dari pergulatan batin Umi Siska, antara kepuasan terlarang, pengakuan diri yang baru ditemukan, dan kekecewaan yang kian membesar terhadap pernikahannya.
Setelah momen intimnya di depan cermin, Umi Siska masih berdiri tertegun, bergulat dengan berbagai emosi yang berkecamuk di dalam hatinya. Kekecewaan terhadap Ustadz Fahmi mulai menancap kuat, sementara kenikmatan dan pujian Pak Gandi terasa begitu nyata dan menghidupkan. Ia masih sibuk menatap pantulan dirinya, mencoba memahami perubahan yang terjadi.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan namun berirama terdengar dari pintu dapur.
Tok! Tok! Tok!
Jantung Umi Siska langsung mencelos. Pikirannya kalut. Siapa? Apakah itu salah satu tetangga yang ingin pinjam sesuatu? Atau bahkan Adnan? Dengan panik, ia buru-buru memakai kembali gamis dan jilbabnya yang tadi ia lepas, merapikan rambutnya dengan terburu-buru. Wajahnya masih memerah, dan ia berusaha keras menenangkan napasnya sebelum membuka pintu.
Ia melangkah cepat ke dapur, mendekati pintu. Ketukan kembali terdengar, kali ini lebih jelas dan sedikit tidak sabar. Dengan tangan gemetar, Umi Siska membuka pintu.
Dia benar-benar tercengang. Di ambang pintu, berdiri Pak Gandi, lengkap dengan seragam ASN-nya yang gagah. Kemeja tangan pendek cream bersih, celana warna senada dan sepatu hitam mengkilat. Rambutnya yang sedikit berubah pun tampak klimis, memancarkan aura wibawa seorang kepala sekolah. Tatapannya tajam, senyumnya hangat penuh makna.
Sebelum Umi Siska sempat berkata apa-apa, atau bahkan mempersilakan, Pak Gandi sudah melangkah masuk tanpa membuka sepatunya. Dengan gerakan cepat dan tanpa basa-basi, ia melewati ambang pintu, seolah rumah itu adalah miliknya sendiri, meninggalkan Umi Siska yang masih mematung, tercengang melihat kehadirannya yang tak terduga dan aksinya yang begitu berani.
Pak Gandi tercengang berdiri mematung menatap Umi Siska, matanya melebar seolah melihat sesuatu yang luar biasa.
"Masya Allah, Siska, kamu cantik sekali pagi ini. Kamu pakai bedak apa?" tanyanya kagum, suaranya rendah dan penuh kekaguman yang tulus, tatapannya menyusuri wajah Umi Siska yang memang berseri-seri setelah malam penuh gairah.
Umi Siska langsung salah tingkah, wajahnya memanas, tangannya buru-buru merapikan jilbab yang sudah rapi. Ia tak menyangka Pak Gandi akan muncul begitu saja, apalagi dengan pujian langsung seperti itu.
"Eh... nggak pake bedak apa-apa, Pak. Biasa saja," balasnya tergesa, suaranya bergetar, berusaha mundur selangkah tapi punggungnya sudah menyentuh meja dapur.
Pak Gandi mendekati dengan langkah pelan, tapi setiap tapak sepatunya terasa seperti detak jantung yang semakin dekat. Senyumnya melebar, mata hitamnya menatap Umi Siska dengan tatapan yang penuh rahasia dan hasrat yang tak lagi disembunyikan.
“Apa gara-gara minum obat awet muda tadi malam?” godanya pelan, suaranya rendah, bergetar seperti hembusan angin panas di telinga.
Wajah Umi Siska langsung merona. Panas naik dari leher hingga pipi, campuran antara rasa bangga karena tubuhnya dipuji, senang karena akhirnya ada yang benar-benar memperhatikan, dan malu yang membakar karena rahasia malam tadi kini terulang di siang bolong. Jantungnya berdegup tak karuan, napasnya tersengal pendek, dan di antara paha terasa denyut hangat yang kembali bangkit, basah dan mengkhianati.
^*^
ns216.73.217.22da2


