Sebelum melangkah lebih jauh, aku kenalan dulu sedikit.
Nama lengkapku Sabrina Mirnawati, berdarah Sunda-Arab, di sekolah lebih sering dipanggil Bu Sabrina, atau Bu Ustadzah, walau aku bukan guru agama, namun karena akulah satu-satunya guru yang memakai jilbab dalam keseharian. Usiaku empat puluh tahun terasa seperti titik di mana hidup berjalan lebih pelan, tapi juga lebih jujur.
Suamiku Jason Donovan, empat puluh lima tahun, seorang pebisnis yang ulet dan tak banyak mengeluh. Ia makelar serba bisa, terbiasa bertemu banyak orang, membaca peluang, dan bekerja tanpa lelah. Usahanya alhamdulillah terus berkembang, cukup untuk membuat kami sering dimintai bantuan oleh tetangga atau rekan, pinjaman kecil, tanpa bunga, tanpa desakan. Bukan karena kami merasa lebih, hanya karena rezeki memang terasa lebih ringan saat dibagi.
Aku mengajar di sebuah SMK swasta di kecamatan pinggiran. Letaknya jauh dari hiruk-pikuk kota, tapi justru itulah yang kusukai. Sekolah berdiri di tepi sawah, dengan danau kecil yang tenang di belakangnya. Setiap pagi, pemandangan itu menyambutku lebih dulu sebelum suara bel masuk berbunyi.
Dulu aku tak pernah bercita-cita menjadi guru atau tenaga pengajar. Latar belakang pendidikanku ekonomi, dan bertahun-tahun aku lebih sibuk mengurus rumah dan dua anak kembar kami Aldan dan Aldin. Sampai akhirnya, setelah pindah ke kota ini, Pak Gun, paman Mas Jason yang mengelola yayasan, menawariku mengajar.
Awalnya hanya mencoba, tapi perlahan aku jatuh cinta. Mengajar perdagangan dan ekonomi, melihat mata murid-murid berbinar saat mulai paham, memberi kepuasan yang tak pernah kuduga sebelumnya.
Aldan-Aldin kini sudah kuliah. Mereka tinggal di Bandung bersama neneknya dari pihakku, lebih dekat ke kampus. Sejak kecil mereka memang dekat dengan neneknya, dan rumah itu selalu terasa lebih ramai jika mereka ada. Saat libur, justru aku dan Mas Jason yang sering menyusul ke Bandung, menikmati kebersamaan dengan cara kami sendiri.
Keseharianku sederhana. Postur tubuhku luamayan padat, pakaian muslim yang nyaman, tidak mencolok. Meski orang sering bilang kami berkecukupan, aku tak pernah merasa perlu menunjukkan apa pun. Hidup, bagiku, bukan tentang seberapa banyak yang dimiliki, tapi seberapa tenang hati menjalaninya. Dan untuk itu, aku selalu bersyukur.
Sampai suatu hari, hujan membawa kabar yang mengubah banyak hal.
Mas Jason mengalami kecelakaan di jalan raya. Kata orang, tabrakannya tidak besar. Tubuhnya selamat, alhamdulillah. Tapi ada sesuatu yang tak kembali seperti semula. Keperkasaanya. Keintiman kami perlahan berubah, bukan hilang, hanya terasa jauh. Malam-malam menjadi lebih sunyi, pelukan tetap ada, tapi tak lagi utuh.
Kami berusaha. Dokter, obat, klinik, semua dicoba. Harapan sempat tumbuh, lalu mengempis lagi. Pada akhirnya, kami hanya bisa menerima. Mas Jason tetap bekerja, tetap bertanggung jawab, tetap menjadi suami yang baik. Tapi aku tahu, di dalam dirinya ada rasa gagal yang tak pernah ia ucapkan.
Aku pun belajar diam. Di depannya, aku tetap tersenyum, tetap menggenggam tangannya seperti biasa. Tak pernah satu keluhan pun keluar. Namun di dalam diri, ada ruang kosong yang kian terasa. Nafkah batin yang dulu hadir alami, kini jarang menyapa. Aku rindu, tapi juga takut mengakui rindu itu.
Aku sungguh bersyukur atas keluarga, pekerjaan, dan cinta yang masih ada. Tapi pada malam-malam tertentu, saat rumah benar-benar hening, rasa hampa itu datang tanpa permisi.
^*^
Pagi itu Bu Rosita tiba-tiba dirawat di rumah sakit, suasana ruang guru berubah.
Sepulang mengajar, beberapa dari kami sepakat menjenguk. Semuanya terasa biasa, sampai pada pertanyaan sederhana yang tak pernah kupikirkan sebelumnya.
“Bu Sabrina ikut sama siapa?” tanya Bu Nia sambil bersiap.
Aku melihat ke parkiran. Mobil sudah penuh, motor lain tak lagi menyisakan tempat, dan aku memang berangkat sekolah diantar Mas Jason jadi tidak membawa mobil sendiri. Tinggal satu pilihan.
“Saya bawa motor, Bu,” kata Hendi dari dekat pintu. Seragam penjaga sekolahnya masih melekat, peluit kecil tergantung di leher. “Kalau Bu Sabrina nggak keberatan.”
Aku ragu sebentar, sangat singkat. Menolak justru terasa aneh dan obrolan Rinah tentang toilet belakang sekolah, tentang sebesar pisang ambon, tiba-tiba kembali menyusup dalam ingatanku.
“Tidak apa-apa,” jawabku akhirnya.
Hendi berdiri di samping motor dengan sikap yang tenang. Usianya baru dua puluh enam, aku tahu itu dari obrolan singkat beberapa waktu lalu. Ia sudah berkeluarga, bahkan memiliki seorang anak kecil, meski anak dan istrinya tinggal di kampung halaman mereka di Sukabumi.
Seragam penjaga sekolah yang dikenakannya tampak terlalu sederhana untuk tubuhnya yang tegap dan wajahnya yang bersih; ada kesan rapi dan gagah yang membuat orang mudah lupa pada batas-batas peran dia sebagai Penjaga Sekolah, bahkan lebih gagah dibanding semua guru laki-laki di sekolah ini. Pikiran itu melintas begitu saja, cepat, lalu kucoba singkirkan.
Aku duduk di jok belakang, menjaga jarak sewajarnya. Tanganku berpegangan pada sisi jok, bukan padanya. Hendi memastikan helmku terpasang, gerakannya cekatan, seperti kebiasaan orang yang sering mengurus banyak hal tanpa disorot. Lalu motor melaju. Tak banyak bicara.
Perjalanan itu sebenarnya singkat, tapi entah mengapa terasa lebih panjang dari biasanya.
Motor melambat ketika kami mendekati area rumah sakit. Lampu-lampu pelataran mulai menyala, memantul di aspal yang masih lembap oleh sisa hujan siang. Suara klakson, langkah kaki, dan pintu mobil yang dibuka-tutup perlahan menarikku kembali ke kenyataan, seperti sentuhan halus yang mengingatkan: cukup.
Hendi memarkir motor di sudut yang agak sepi. Ia turun lebih dulu, lalu berdiri sedikit menjauh, memberi ruang sebagaimana sejak awal ia menjaga jarak. Aku melepas helm dan mengucapkan terima kasih singkat.
“Sama-sama, Bu,” katanya pelan.
Kami berjalan masuk tanpa banyak bicara. Aroma khas rumah sakit—obat, pendingin ruangan, dan sesuatu yang sulit dijelaskan—menggantikan bau jalanan sore tadi. Di depan ruang perawatan, kami bertemu rekan-rekan guru lain. Sapaan kecil terdengar, perhatian kembali tertuju pada Bu Rosita dan keadaannya.
Di tengah keramaian itu, perasaanku perlahan menepi. Apa pun yang sempat bergejolak di sepanjang jalan akibat obrolan Rinah beberapa waktu lalu, kini mengecil, tersimpan rapi di sudut hati. Aku kembali menjadi Bu Sabrina, seorang guru senior yang datang menjenguk dengan niat baik.
Namun sambil menatap pintu kamar Bu Rosita yang tertutup, satu kesadaran pelan-pelan muncul di dadaku. Ada batas yang bisa kujaga di depan orang lain. Ada batas yang harus kutegakkan lewat sikap. Tapi ada perjalanan-perjalanan pendek dalam hidup, tak pernah panjang, tak pernah melanggar, yang cukup untuk menggeser sesuatu di dalam diri.
Dan aku takut, bukan pada langkah berikutnya, melainkan pada kenyataan bahwa aku mulai terbiasa dengan getaran aneh itu.
“Sebenarnya Bu Rosita itu bukan cuma capek fisik, Bu” bisik Bu Nia yang duduk si sampingku. “Tapi tekanan batin.”
Ia melanjutkan tanpa menunggu jawabanku. “Masalah rumah tangga. Semua dipendam. Dia sering cerita ke saya, bahkan ke Hendi juga, katanya. Soalnya ya… Hendi itu kan memang tipe pendengar setia dan cukup dewasa ternyata.”
Dadaku mengeras mendengar nama Hendi padahal dia ada di dekatku, entah kenapa.
“Orang kayak Hendi, sering nggak dianggap penting,” lanjut Bu Nia. “Padahal tiap hari dia yang buka gerbang, nutup gerbang, bantu ini-itu. Tapi justru orang-orang kayak gitu biasanya paling ngerti rasa capek yang nggak kelihatan.”
Aku makin terdiam.
Di ujung ruang tunggu, pandanganku tanpa sengaja bertemu dengan Hendi. Ia duduk terpisah, seragamnya masih rapi, kedua tangannya terlipat di pangkuan. Wajahnya tenang, terlalu tampan untuk sekedar disebut ‘Kasep’ tapi kesunyiannya terasa nyata.
Aku segera memalingkan muka.
Tak lama kemudian, kami menjenguk Bu Rosita sebagaimana mestinya, beberapa menit berbincang ringan, menyampaikan doa, lalu pamit agar ia bisa beristirahat. Tidak ada yang janggal. Tidak ada yang berlebihan.
Saat rombongan mulai berpencar untuk pulang, aku kembali berada di posisi yang sama seperti saat berangkat: Dibonceng Hendi.
Aku tidak menolak.
Di tengah perjalanan, perutku berbunyi pelan.
“Belum makan ya, Bu?” tanyanya.
“Belum.”
“Kita mampir sebentar, ya. Soto Yasmin.”
Aku mengangguk.
Kedai itu ramai dan hangat seperti biasa. Kami duduk di sudut. Tidak terlalu dekat, tidak berjauhan.
“Aneh ya,” katanya pelan, “Bu Rosita kelihatan kuat.”
“Yang kuat biasanya paling lama menahan,” jawabku agak datar berharap Yigas tak melanjutkan karena aku merasa tersinggung, apa yang dialami Bu Rosita sepertinya memang tidak jauh, ‘kesepian akut.’
Ia tersenyum tipis. “Kesepian juga begitu.” katanya tiba-tiba. Kalimat itu jatuh tanpa maksud, tapi terasa jujur dan menohok.
Saat kami pulang, aku tahu satu hal dengan jelas: ini bukan sekadar kebersamaan yang kebetulan. Sesuatu telah bergeser, pelan, hampir tak terasa, dan justru karena itu, aku harus mulai berhati-hati. Apa jangan-jangan Bu Nia memang sengaja mengaur skenarionya?
^*^
ns216.73.217.14da2


